Saturday, June 30, 2012

Lelah

Bisa minta waktu sebentar?
Kenapa?
Aku ingin meluruskan hal yang belum terselesaikan
Baiklah. Apa yang ingin kamu tahu?
Alasan kepergianmu yang terlalu tiba-tiba
Kamu tahu alasan utama aku meninggalkanmu?
Hmm... bosan?
Bukan. Aku lelah karena kamu terlalu mengandalkanku



Kita terdiam. Saya sibuk dengan pikiran saya dan kamu sibuk dengan pikiranmu. Saya tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Kamu lelah karena terlalu seringnya saya mengandalkanmu. Ya, kamu pergi dengan alasan yang membuat saya begitu merasa amat bersalah. Saya tidak pernah berpikir bahwa saya terlalu mengandalkanmu. Saya hanya berpikir kamu tidak akan keberatan untuk selalu berada di samping saya. Saya tidak pernah bermaksud memanfaatkanmu atau bahkan membuatmu lelah karena menghabiskan waktu dengan saya. Kita masih terdiam. Hati saya sakit mendengar alasan mengapa kamu meninggalkan saya. Lelah. Kamu lelah dengan saya. Alasan yang bahkan tidak pernah saya duga. Airmata saya mengalir tanpa henti. Bukan, bukan karena saya terlalu lemah menyikapi perpisahan. Bukan karena saya yang terlalu rindu dengan kehadiranmu setelah sekian lama kamu menghilang. Namun, lebih karena alasan mengapa kamu pergi. Kamu lelah dengan saya. Seharusnya saya dapat memahaminya. Saya bingung harus bagaimana menyikapinya. Lelahmu. Lelahmu akan saya. Kamu lelah karena saya terlalu mengandalkanmu. Kamu lelah karena kemana pun saya pergi saya pasti akan kembali padamu. Kamu lelah dengan semua hal yang kita jalani. Kamu lelah dengan saya. Saya berpikir banyak dalam diam. Jika kamu lelah dengan saya, seharusnya saya juga bisa dengan mudah lelah karena kamu. Saya melakukan hal yang sama denganmu. Menghabiskan waktu bersama denganmu. Kemana pun kamu pergi, kamu akan kembali kepada saya. Jika dilihat seperti itu, seharusnya saya juga bisa lelah padamu. Saya seharusnya juga bisa mengatakan bahwa kamu terlalu mengandalkan saya untuk terus berada di sampingmu. Namun, saya berpikir kembali. Mungkin saya lelah denganmu. Mungkin saya merasa terlalu diandalkan olehmu, tetapi saya tidak peduli. Hal yang saya tahu adalah hal itu lah yang seharusnya saya lakukan untukmu. Sudah sejak awal saya katakan padamu. Saya tidak memiliki apa-apa untuk saya banggakan. Saya bukan orang yang baik. Bukan orang yang dapat sepenuhnya bisa menolongmu dengan ini-itu. Saya hanya saya. Saya tidak pernah memintamu untuk selalu berada di samping saya, tetapi kamu yang melakukannya lebih dulu. Saya hanya berpikir itulah yang ingin kamu lakukan. Itulah yang ingin kamu tunjukkan kepada saya. Kamu ada untuk saya dan saya ada untuk kamu. Saya berpikir seperti itu. Saya pikir kamu juga berpikir seperti itu. Hal yang sederhana dan seharusnya dapat sesederhana itu kamu pahami. Hal sederhana yang kemudian menjadi rumit karena setelah sekian banyak hal yang kita lewati bersama, kamu berkata lelah akan hal itu. lLelah akan segala hal mengenai saya. Lelah karena saya.


by Dita Oktamaya

Friday, June 29, 2012

Formalitas

Apa kamu baik-baik saja?
Iya, aku baik-baik saja. Kamu?
Baik-baik juga.


Selesai. Perbincangan kita terhenti di situ. Satu sama lain bingung ingin membicarakan apa. Satu sama lain bingung memulai pembicaraan darimana. Entah terlalu banyak yang harus diceritakan atau terlalu sulit mencari bahan pembicaraan. Hanya formalitas. Kamu teman saya dan saya temanmu. Satu sama lain hanya bisa bertanya kabar. Itu sudah. Tidak ada cerita macam-macam yang membuat suasana menjadi nyaman. Bukan kita tidak mau berusaha membuat nyaman satu sama lain. Ya, kita bingung. Seperti tidak ada kepentingan untuk dibicarakan. Hanya formalitas untuk saling mengingatkan bahwa satu sama lain masih berteman. Formalitas. Tidak lebih. Seharusnya bisa lebih karena pertemanan lebih dari itu. Namun, salah satu di antara kita belum ada yang sanggup. Mungkin nanti akan sanggup atau mungkin tidak karena yang kita jalani hanya formalitas. Hanya suatu keharusan, bukan keinginan. Semoga ketika kamu berbicara kamu baik-baik saja itu benar adanya. Saya? Tidak tahu. Saya tidak sempat berpikir saya baik-baik saja atau tidak baik-baik saja, tetapi saya ingin kamu tahu bahwa saya dalam keadaan baik-baik saja. Saya penasaran bagaimana saya membuat otakmu berpikir bahwa saya adalah benar-benar temanmu, bukan sekedar formalitas. Sudahlah. Saya tidak akan bisa mengubah otakmu. Saya menerimamu yang seperti itu untuk menjadi teman saya. Ini bukan formalitas. Ini kesungguhan saya karena ingin terus berteman baik denganmu. Semoga kamu benar-benar dalam keadaan baik karena harapan saya tentang dirimu yang dalam keadaan baik bukan sekedar formalitas. Saya peduli padamu. Peduli yang kamu anggap hanya formalitas. Tidak. Saya benar-benar peduli padamu. Ini ketulusan saya untuk berteman dengan siapapun. Hanya kadar peduli saya padamu saja yang berbeda. Ini bukan formalitas. Kamu seharusnya tahu dan saya tahu bahwa kamu sudah tahu. Kita berteman. Berteman dekat dengan kadar kedekatan yang hanya kita dan Tuhan yang tahu. Seharusnya bisa sesederhana itu kamu pahami yang kemudian menjadi begitu rumit karena apa yang kita jalani selama ini, bagimu hanya sekedar formalitas.

by Dita Oktamaya

Thursday, June 28, 2012

Selamat Tinggal Semester Terabsurd

Selamat tinggal semester terabsurd!


Ya, akhirnya hari ini Ujian Akhir Semester berakhir juga!

Semester enam ini adalah semester terabsurd dalam sejarah perkuliahan saya. Kenapa? Karena beberapa mata kuliah yang saya pilih ternyata jauh dari apa yang saya bayangkan sebelumnya.

Semester ini hanya ada 3 mata kuliah wajib yang harus saya ambil, sisanya adalah mata kuliah pilihan yang (dengan nekat) saya pilih untuk memenuhi jumlah SKS pada riwayat akademik saya.

Saya mengambil 3 mata kuliah pilihan, sebenarnya saya tidak mau menyebut saya salah mengambil mata kuliah pilihan, hanya saja rasanya unik sekali karena perkiraan (dan harapan) saya terhadap mata kuliah pilihan ini (agak) melenceng jauh.

Dengan pengambilan 3 mata kuliah pilihan itu, keabsurdan semester enam ini pun dimulai.

Mata kuliah pilihan pertama yang saya pilih adalah Bahasa Thai, saya memilih mata kuliah ini karena bahasa ini memiliki huruf yang unik, meliuk-liuk seperti cacing dan (entah mengapa) saya yakin kalau kelas ini akan sangat (terasa) menyenangkan, tetapi ternyata tidak (terlalu). Saya bahkan (agak) bingung menggunakan bahasa Thai, sampai perkuliahan ini selesai pun saya masih (agak) bingung bagaimana cara menuliskan nama saya sendiri dengan huruf Thai.

Well, kelas ini tidak terlalu buruk, kecuali si Bapak dosen yang notabennya adalah orang Indonesia, tetapi (agak) kesulitan menggunakan bahasa Indonesia karena sudah terlalu lama tinggal di Thai. Ah, baiklah, bahasa Indonesia memang sulit, jadi saya (masih) maklum. Kelas ini tidak (terlalu) buruk, kami mengadakan acara masak masakan Thai bersama dan makan bersama, mencapai keakraban yang baik. Saya suka acara-acara seperti itu, suka sekali dan ini adalah nilai tambah (yang menyenangkan) untuk mata kuliah Bahasa Thai dan alasan mengapa saya (agak) kesulitan jika saya mengatakan saya salah memilih mata kuliah pilihan ini.

Sisi terabsurdnya adalah ujian akhir semester Bahasa Thai dilaksanakan satu bulan sebelum jadwal pelaksanaan ujian yang sebenarnya karena Bapak Dosen harus kembali ke Thailand, itu keabsurdan yang pertama karena saya sama sekali belum mengerti sepenuhnya dan belum siap untuk menghadapi ujian, tetapi mau tidak mau saya harus bisa. Keabsurdan yang kedua, Ujian Tengah Semester yang (tadinya) kata Bapak Dosen tidak diadakan, tiba-tiba diadakan dan Ujian Tengah Semester yang seharusnya dilaksanakan sebelum Ujian Akhir Semester menjadi ujian yang dilaksanakan setelahnya.

Mata kuliah pilihan ke dua yang saya ambil adalah Manajemen Media. Satu-satunya kelas yang membuat saya pulang paling sore pada hari senin karena kuliah baru dimulai pada pukul 16.00 WIB. Tidak ada keanehan yang berarti pada mata kuliah ini, semuanya baik-baik saja sampai Ujian Akhir Semester yang mewajibkan saya membuat proposal penerbitan majalah dan menggunakan contoh covernya menggunakan corel draw atau sejenisnya. Saya sama sekali tidak mengerti bagaimana cara menggunakan corel atau lainnya, jadi saya memohon bantuan dari teman saya. Menurut saya ini (agak) janggal karena tugas yang seharusnya saya buat sendiri, tiba-tiba dibantu oleh orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan nilai yang saya raih. Anyway, terima kasih kamu yang sudah membantu membuat contoh cover majalah saya, kamu baik sekali :)

Mata kuliah pilihan ke tiga yang saya ambil adalah Jurnalisme Media Cetak, ini adalah mata kuliah yang membuat hidup saya tidak tenang dalam satu semester ini dan membuat hari selasa saya tidak pernah menyenangkan karena harus selalu begadang untuk menyelesaikan tugas-tugas yang setiap minggu pasti ada untuk dikerjakan dan dikumpul pada hari Rabu. Awalnya, ketika saya mengambil mata kuliah ini adalah karena saya ingin belajar bagaimana menulis berita, berita apapun, tetapi pada mata kuliah ini berita yang harus ditulis (sebagian besar) adalah berita mengenai politik, saya tidak (terlalu) mengerti dan sulit untuk mengerti tentang politik sampai setiap menulis berita saya merasa mual dan pusing.

Saya berusaha bertahan untuk menyelesaikan mata kuliah pilihan yang satu ini sampai akhir, hingga pada Ujian Akhir Semester kemarin saya diharuskan menulis 4 berita yang ditulis berdasarkan hasil reportase 2x24 jam dengan tema tertentu yang baru diberikan dua hari sebelum ujian dikumpulkan. Rasanya ingin tidur di tengah jalan raya melihat ketentuan-ketentuan tulisan berita yang harus dikumpulkan. Berkeliling Jogja, mencari berita kesan-kemari dan menulisnya menjadi lebih dari 50 paragraf membuat saya muak dan berpikiran untuk mengatakan saya salah memilih mata kuliah pilihan ini. Namun, di sisi lain dengan berpergian keliling Jogja, wawancara narasumber, dan menulis dengan teliti dan sabar, saya menjadi kesulitan untuk mengatakan saya telah salah memilih mata kuliah pilihan ini.

Saya banyak belajar, banyak mengenal orang, menjadi tahu tempat-tempat tertentu di Jogjakarta, memiliki pengalaman mewawancarai orang dan berdiskusi dengan orang agar orang tersebut setuju untuk menjadi narasumber, terbangun selama 24 jam tanpa tidur untuk konsisten terhadap deadline, bekerja di bawah tekanan, dan mengetik berita hingga jungkir balik. Semua yang telah saya dapatkan itu bagi saya adalah pengalaman yang sungguh sulit untuk saya lupakan. Pada akhirnya (dan sejak dulu) saya menjadi sangat salut dengan orang-orang media yang mengejar berita hingga banyak mengorbankan waktu dan kepentingan pribadi, kalian benar-benar luar biasa, Kawan :)

Dua mata kuliah pilihan terakhir yang saya sebutkan adalah mata kuliah pilihan yang saya ambil dengan cara lintas fakultas. Di kampus saya, kesempatan mengambil mata kuliah di fakultas lain itu terbuka sangat lebar karena sesuatunya selalu dimudahkan, saya berterima kasih untuk itu dan saya menjadi sangat cinta kepada kampus saya.

Oh ya, hari ini adalah hari terakhir ujian pada semester enam ini (dilanjut skripsi pada semester tujuh nanti) dan hari ini adalah hari upacara pelepasan peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) di kampus saya. KKN akan dilaksanakan dari tanggal 9 Juli-15 Agustus 2012, doakan saya lancar menjalaninya ya. Sejujurnya, saya agak khawatir karena saya tidak pernah tahu keadaan di sana (tempat KKN saya, Jawa Timur) seperti apa, tetapi saya berusaha untuk berpikir positif agar semua yang saya jalani dapat berjalan lancar dan tidak menjadi beban.

Pada upacara KKN tersebut kami (para peserta KKN, seluruh mahasiswa dari seluruh fakultas di kampus saya) diwajibkan memakai kaos KKN dan mengenakan jas almamater. Melihat begitu banyak mahasiswa kampus saya berkumpul di auditorium kampus (di kampus saya disebut GSP) membuat saya teringat kembali pada tiga tahun yang lalu saat kami melakukan hal yang sama. Bedanya, 3 tahun lalu adalah upacara penerimaan mahasiswa baru dan kami mengenakan kemeja putih dan rok/celana warna hitam, serta jas almamater.

"3 tahun yang lalu kita belum saling mengenal loh, aku jadi deg-degan karena bahkan setelah 3 tahun kemarin itu, sekarang aku melakukan hal yang sama dengan teman-teman baru yang berbeda-beda fakultas."

itu hal yang saya ucapkan kepada teman satu tim KKN saya, Arin. Arin hanya tertawa dan mengiyakan perkataan saya yang sepanjang acara lebih dari 5 kali saya ucapkan.

Tidak terasa sudah 3 tahun saya berkuliah di Jogja, rasanya waktu berjalan begitu cepat. Saya bertemu dengan orang-orang baik dan mendapatkan pelajaran menarik dari pengalaman-pengalaman luar biasa di sini. Saya suka sekali berkuliah di kampus saya, saya suka sekali berada di lingkungan menyenangkan yang terdapat banyak seniman dengan ketulusan mereka yang apa adanya. Saya bersyukur karena Tuhan memilih saya untuk belajar berdiri sendiri di Jogja. Saya suka sekali Tuhan dan untuk seni yang Kau ciptakan, ya saya suka sekali dengan seni, saya suka berkesenian, terima kasih telah menciptakan keindahan dunia itu, terima kasih, Tuhan.


-----


NB : Malam ini saya menonton konser kecil seorang gitaris bernama Jubing Kristianto, beliau keren sekali, jari-jarinya seperti bisa lepas dari tangannya untuk memainkan senar pada gitar. Bagus sekali. Saya suka, suka sekali.


-----

PS : Sepertinya hanya saya yang tidak mengecilkan jas almamater yang sudah jelas-jelas kebesaran di badan saya -,-


by Dita Oktamaya

Monday, June 25, 2012

Inspirator Sibuk, Novel Saya Mentok

Hari ini saya berkeliling Jogja, melakukan observasi dan reportase mencari berita tentang perkembangan industri di Indonesia. Rasanya ingin marah-marah saja karena bingung berita macam apa yang akan saya sajikan sebagai ujian akhir semester saya ini.

Awalnya saya pikir, berkeliling mencari berita akan menjadi hari yang sangat melelahkan, ternyata tidak terlalu. Hari ini saya banyak tertawa dan mendapat teman baru. Wajah saya juga di-sketch di kartu nama teman yang tergabung di dalam perkumpulan Indonesia's Sketcher Jogjakarta. Saya, khususnya, tidak pernah tahu atas keberadaan perkumpulan para sketcher itu di Jogja karena saya sama sekali tidak ahli dalam menggambar atau sketch atau lain sebagainya.

Saya benar-benar tidak pandai, tetapi kamu berbeda dengan saya. Kamu pandai, Inspirator Kesayangan. Kamu pandai sekali bermain dengan drawing pen atau apapun namanya itu. Menggambar di sketchbook milikmu atau di dinding kamarmu yang menjadikan saya betah berlama-lama memandanginya.

Kamu apa kabar belakangan ini? Saya jadi semakin susah menggapaimu di minggu Ujian Akhir Semester ini. Kamu tahu? Novel saya mentok, susah dilanjutkan karena inspiratornya (kamu) sibuk sekali dengan dunianya. Saya pikir kamu bosan bermain dengan saya, jadi untuk sementara saya (berusaha keras) hilang dari hadapanmu. Ternyata (sepertinya) kamu tidak bosan bermain dengan saya, kemarin kamu mengajak saya mengunjungi sebuah pameran seni bersama teman yang tidak kamu sebutkan siapa namanya dan darimana asalnya dan hal yang paling menyebalkan adalah saya tidak bisa pergi bersamamu karena tugas Ujian Akhir Semester yang membelit saya hingga hampir pingsan.

Tadi pagi saya melihatmu berjalan dengan teman-temanmu (teman-teman kita), saya memanggilmu dengan suara keras karena terlalu senang bertemu denganmu setelah beberapa hari kamu menghilang dari pandangan mata saya, tetapi kamu sepertinya masih setengah sadar karena Ujian Akhir Semester yang (mungkin) juga membuatmu hampir pingsan.

Kamu jangan terlalu sibuk ya, Inspirator Kesayangan. Jangan terlalu tidak peduli dengan saya. Kamu teman kesayangan sekaligus inspirator kesayangan yang saya punya, saya tidak tahu harus berbuat apa jika kamu susah peduli dengan saya. Kamu pernah mengatakan bahwa kamu ingin membantu saya untuk menyelesaikan novel saya dengan lebih sering bermain dengan saya. Sekarang novel saya mentok, saya butuh menghabiskan waktu denganmu.

Dulu, kamu (sepertinya) berusaha keras untuk memenuhi perkataanmu itu, berusaha meluangkan waktu untuk sekedar menyapa saya atau bermain sebentar bertukar cerita, tetapi sekarang saya berkata seperti apapun, kamu (sepertinya) susah untuk peduli dengan saya. Kamu (sepertinya) malas menggerakan tubuhmu untuk sekedar bertemu saya dan mendengar cerita-cerita tidak penting yang saya punya. Saya rindu dirimu yang dahulu mengatakan senang mendengar cerita saya dan minta diingatkan ketika kamu lupa. Memang segala hal sulit berjalan sama persis, ya?

Saya tahu kamu orang yang mudah bosan dengan suatu hal, tapi saya bukan suatu hal, saya manusia, saya temanmu. Saya tidak menyalahkanmu karena saya tahu setiap orang pasti membutuhkan "me time" dalam menjalani hari-harinya. Mungkin saya hanya iri denganmu yang bisa memiliki "me time" di rumah karena "me time" saya pasti di kamar kotak tanpa canda tawa dari keluarga saya. "me time" yang saya miliki bahkan membuat saya semakin bosan, sehingga saya banyak mengganggumu dengan pesan singkat tidak bermakna tentang hal apa saja yang saya lakukan dan hal apa saja yang baru pertama saya lalui.

Ah, sudahlah. Semakin saya menulis lebih lanjut semakin saya ingin bermain denganmu. Seberapa seringnya kamu menghilang dari pandangan saya, tetap ingat ya, saya selalu menunggu untuk dihubungi olehmu dan menunggu ajakan bermain bersama denganmu. Pasti kamu berpikir kenapa bukan saya yang mengajakmu bermain terlebih dahulu atau menghubungimu lebih dulu? Sederhana saja, karena kamu adalah inspirator kesayangan yang sibuk, setiap saya melakukannya lebih dulu jawabannya dapat dipastikan 90% penolakan. Saya jadi bingung jika mengajakmu harus di waktu yang bagaimana hingga tepat sasaran di mood-mu yang bagus untuk bergerak dan bermain bersama.

Sehat terus ya kamu, istirahat yang cukup meskipun kesibukanmu banyak menguras waktu dan pikiranmu. Makan yang baik karena saya tidak ingin kamu terserang maag seperti saya. Ah, saya jadi rindu kamu yang dulu sering mengingatkan saya makan, sekarang kamu benar-benar tidak melakukannya sama sekali. Biarlah. Sibukmu itu lebih minta perhatian daripada teman manja yang selalu merengek diajak main. Jaga kondisimu baik-baik ya, simpankan cerita-ceritamu untuk saya karena jika kamu bosan mendengar cerita tidak mutu saya, saya selalu bersedia menjadi telinga yang mendengarkanmu ketika kamu rasa tidak seorang pun ingin mendengarnya.


by Dita Oktamaya

Saturday, June 23, 2012

Bukan Saya Tidak Suka

Saya tidak tahu apakah kamu sebaik ini juga terhadap orang lain
Kamu baik. Baik sekali
Tapi, saya mohon...
Jangan terlalu menjadi orang yang bisa saya andalkan
Jangan terlalu rela berkorban untuk saya
Saya bukan tidak suka dengan kebaikanmu
Saya bukan tidak menghargai keinginanmu untuk baik kepada saya
Saya suka. Suka sekali. Suka teramat sangat
Tapi kamu tahu tidak?
Baikmu buat saya menjadi takut
Takut nanti saya terlanjur nyaman bersamamu
Takut nanti saya terlalu mengandalkanmu
Takut nanti saya terlalu bergantung padamu
Mungkin kamu akan berkata tidak apa-apa
Mungkin kamu akan berkata bahwa segalanya akan baik-baik saja
Mungkin kamu akan berkata tidak merasa direpotkan oleh saya
Tapi justru itu yang saya takutkan...
Saya tahu segalanya tidak akan berjalan sama persis
Di setiap harinya, walau sedikit, beberapa hal pasti akan berubah
Ya, saya takut kamu berubah
Berkata yang tadinya tidak apa-apa menjadi apa-apa
Berkata yang tadinya segalanya baik-baik saja menjadi sebaliknya
Berkata tidak direpotkan menjadi merasa direpotkan
Jika sudah begitu siapa yang bisa disalahkan?
Saya suka kebaikanmu. Suka sekali. Suka saya banyak
Tapi saya takut kamu pergi
Ya, pergi meninggalkan saya dan berkata kamu lelah dengan saya
Saya akan merasa begitu amat bersalah karena membuatmu lelah
Lelah karena saya terlalu mengandalkanmu
Lelah karena saya terlalu nyaman bersamamu
Lelah karena saya terlalu membutuhkanmu
Kamu boleh melakukan apa yang ingin kamu lakukan
Selama kamu menganggap itu baik untukmu, untuk sekitarmu
Jika boleh pun saya tidak ingin melarangmu menjadi baik kepada saya
Karena yang saya rasakan adalah rasa takut, tapi bukan berarti saya tidak suka
Saya suka. Suka sekali.


by Dita Oktamaya

Friday, June 22, 2012

Kamu Sudah Besar, Jaga Mereka Baik-baik

"Selamat ulang tahun, Jakarta. Kamu adalah kota yang (jika bisa) ingin saya hindari, tetapi kenangan yang kamu punya dan orang-orang penting dalam hidup saya yang terlanjur terbiasa denganmu, membuat saya selalu kembali."



Itu benar Jakarta, kamu adalah kota yang 'menakutkan' bagi saya, entah apanya.

Luasnya? Macetnya? Ketidakramahannya? Polusinya? Entahlah. Saya terkadang bingung apa yang bisa saya banggakan darimu, mall? Jangan bercanda, saya bahkan lelah dengan bangunan super megah yang hiruk pikuk itu. Dalam otak saya, kamu adalah seburuk-buruknya kota. Rasanya ingin memakimu yang lebih terkenal oleh kesombongannya daripada kesuksesannya.

Kamu tahu geger budaya macam apa yang saya alami selama saya tinggal di Jogja? Saya lebih banyak mendapat senyum, lebih tepat memperhitungkan waktu kepergian dan waktu kedatangan karena tidak ada macet di kota ini, menjadi lebih mengerti arah mata angin, lebih mengenal budaya Indonesia karena keragaman yang ditawari Jogja adalah budaya dalam wujud sesungguhnya, bukan wujud abstrak yang ditawari olehmu dengan keragaman dalam individualitas metropolitan.

Kamu semakin jauh untuk saya gapai, Jakarta. Semakin jauh dan semakin menakutkan.

Saya lahir, tumbuh, dan berkembang di kotamu. Saya akui, berbagai macam kenangan telah saya lewati. Dari saya yang terlalu pengecut untuk keluar rumah, menjadi saya yang bisa menjadi begitu galak dengan orang-orang iseng yang mengganggu kenyamanan saya setiap saya berjalan kaki. Dari saya yang berjalan menunduk, menjadi saya yang berjalan dengan satu jengkal meninggikan dagu. Dari saya yang sering menatap teduh, menjadi saya yang menatap tajam kepada siapapun.

Kamu tidak ramah, makanya saya kesulitan untuk bersikap ramah kepadamu.

Tapi apa kamu tahu? Saya tidak bisa menghindar darimu, meskipun saya mau. Saya tidak bisa terlepas darimu, meskipun saya ingin. Saya butuh kamu karena di tempatmu lah orang-orang penting dalam hidup saya berkumpul. Orang-orang penting dalam hidup saya tersebut sudah terbiasa dan sudah cukup kebal dengan ketidakramahanmu, Jakarta.

Mereka adalah orang yang paling baik dalam hidup saya, tidak bisa kah kamu ramah sedikit kepada mereka?

Saya benci mengatakan ini padamu, tetapi tolong jaga mereka. Kamu sudah besar, sudah 485 tahun, bersikap baiklah kepada mereka. Jangan buat mereka terlalu lelah dan jenuh terhadap keadaan yang kamu tawarkan. Jangan terlalu menyebalkan dengan waktu yang terasa selalu berjalan terlalu cepat setiap mereka melakukan kegiatan.

Pikirkan ini baik-baik, Jakarta. Jika bukan mereka yang membuat saya tertawa dan merasa dibutuhkan, saya pasti akan meninggalkanmu. Jika bukan mereka yang mengajarkan saya mengendarai sepeda agar ramah terhadap alammu, saya pasti tidak akan peduli denganmu. Jika bukan mereka yang menawarkan saya untuk mencoba jajanan pasar yang menarik perhatian saya dengan nama unik seperti kue pancong, kue cubit, kue apem, dan kue-kue lainnya, saya pasti akan mengolok-olokmu. Tanpa mereka di kotamu, saya dapat pastikan saya sulit merindukanmu, Jakarta. Jadi, tolong jaga mereka baik-baik.

Saya tahu, terlalu susah untuk dikaitkan dengan logika jika saya berharap keterlepasanmu akan macet dapat terwujud, tetapi saya sangat berharap kehidupanmu dapat lebih baik dari itu. Kamu tahu kamu nyaris kehilangan simpati saya karena keangkuhanmu, kan? Tapi ingatlah, Jakarta, sampai kapanpun saya tidak akan bisa terlepas darimu. Meskipun sekarang saya bilang saya benci kamu dan kamu adalah seburuk-buruknya kota yang ada, saya tetap tidak akan terlepas darimu karena 18 tahun dari 485 tahunmu adalah milik saya yang saya habiskan dengan orang-orang penting dalam hidup saya.

Saya sangat berterima kasih karena kamu tidak pernah mengeluh atas keberadaan saya di kotamu selama 18 tahun. Saya harap kamu selalu dapat menjaga orang-orang penting dalam hidup saya itu. Kamu sudah besar, jadi pasti sudah bisa menjaga mereka dengan baik. Jangan marah atas perkataan saya yang banyak mencelamu dan mengatakan betapa saya menganggapmu sebagai seburuk-buruknya kota karena satu hal yang terlupa untuk saya katakan kepadamu adalah saya benci mengatakan benci padamu, Jakarta.


by Dita Oktamaya

Tuesday, June 19, 2012

Seandainya Saya (Boleh) Memberitahumu

Kamu adalah teman yang bahkan inisial namanya pun tidak berani saya sebutkan di sini. Entahlah, mungkin karena saya akan menulis tulisan yang bukan untuk menyanjungmu, tetapi menulis tulisan tentang hal yang membuat saya merasa begitu amat bersalah kepadamu.

Kamu tahu? Kamu adalah gadis yang cantik. Cantik, makanya saya dengan sangat gamblang selalu memanggilmu cantik dan kamu malah marah dan mengatakan saya berbohong. Kamu bilang di dunia ini yang sering memanggilmu cantik hanya ada tiga orang, yaitu, ibumu, pacarmu, dan saya. Saya tidak percaya karena banyak orang di luar sana yang sering terpesona dengan cantikmu itu. Saya tahu itu dan kamu pasti juga tahu itu.

Kamu tahu? Kamu adalah teman yang paling berpengaruh dalam hidup saya tiga tahun belakangan ini. Mungkin kamu beranggapan bahwa saya orang yang sangat tidak peduli sekitar dan jarang mendengarkan apa yang orang lain katakan, tetapi tidak kalau yang berbicara itu adalah teman macam kamu.

Kamu dulu pernah berkata bahwa pada awal masuk kuliah kamu tidak suka dengan cara saya berteman dan pernah sangat begitu bosan berteman dengan saya, makanya selama setahun kamu tidak pernah mau menyapa dan bahkan sebisa mungkin kamu tidak berurusan dengan saya. Kamu tahu? Kamu adalah teman yang menyenangkan, saya benar-benar tidak mau kehilangan teman macam kamu, tetapi saya benar-benar tidak dapat melakukan apa-apa.

Saya sangat kesepian. Kesepian sekali, tetapi saya berpikir kamu mungkin tidak akan mau tahu tentang rasa sepi saya yang benar-benar sendirian dan lepas dari keluarga, saya berdiri sendiri di Jogja. Saya senang dapat menemukanmu di kota asing ini, saya senang berteman denganmu, tetapi kamu (sepertinya) tidak senang berteman dengan saya. Jadi saya membiarkanmu melakukan apa yang ingin kamu lakukan karena saya tahu setiap orang punya cara masing-masing untuk membuat dirinya nyaman.

Seandainya saya (boleh) memberitahumu dari awal, saya adalah tipe orang yang sulit terbuka dengan orang lain, orang yang sulit berbicara dengan leluasa, orang yang tidak mudah diajak gila bersama. Saya orang yang kaku, mungkin itu yang membuatmu tidak bisa tahan berada lama di samping saya. Saya tidak memiliki ekspresi yang macam-macam yang bisa membuat teman seperti kamu merasa senang berada di samping saya. Saya orang yang datar yang merespon dengan hanya satu dua kata saja.

Namun, apa kamu tahu? Saya (berusaha) belajar ketika tahu kamu tidak suka dengan cara saya berteman, saya berusaha memperbaiki cara saya bicara, cara saya memperlakukan orang lain, cara saya merespon orang lain. Saya mencari teman sebanyak-banyaknya agar dapat mendengar banyak cerita dari mereka, sehingga ketika kamu berkata kamu tidak bosan lagi berteman dengan saya, saya bisa menceritakan cerita teman-teman saya itu kepadamu.

Seandainya saya (boleh) memberitahumu dari awal, saya adalah tipe orang yang tingkat ketakutannya sangat tinggi, ketakutan dengan hal yang tidak biasa saya lakukan, ketakutan dengan orang-orang baru, ketakutan dengan lingkungan baru, ketakutan dengan segala sesuatu yang baru, yang paling utama di sini adalah saya takut mengendarai kendaraan bermotor. Saya takut, tetapi saya tidak mau mengatakannya karena saya merasa orang lain tidak berhak untuk tahu rasa takut saya yang tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain.

Namun, apa kamu tahu? Saya (nekat) memohon kepada orangtua saya untuk memperbolehkan saya mengendarai motor di Jogja karena teringat pesanmu yang mengatakan bahwa jika saya tidak berkendaraan akan sulit bagi saya untuk ikut kegiatan ini dan itu, kamu bilang saya harus bisa mengendarai kendaraan bermotor, setidaknya untuk kepentingan saya. Saya tidak bilang kepadamu saya takut naik kendaraan bermotor, tetapi saya ingin membuktikan padamu bahwa saya tidak ingin merepotkanmu untuk minta dibonceng ketika pergi ke sana-sini.

Seandainya saya (boleh) memberitahumu dari awal, saya bukan tipe orang yang terbiasa memeluk teman atau mengecup pipi teman lain dengan begitu mudahnya. Saya juga bukan tipe orang yang mudah terbujuk ajakan untuk mengambil mata kuliah yang sama dengan teman lain karena merasa bahwa hidup yang saya jalani adalah hidup saya sendiri dan kuliah yang saya jalani adalah tanggung jawab saya sendiri.

Namun, apa kamu tahu? Saya senang memberi salam kepadamu dengan cara memelukmu, saya senang menggodamu dengan mengecup pipimu karena saya seperti melihat kakak saya yang kewalahan membersihkan pipinya segera setelah saya mengecup pipinya hingga basah, saya mengikuti ajakanmu dengan mengambil beberapa mata kuliah pilihan yang sama denganmu. Jika kamu tanya alasannya mengapa, saya akan menjawab tidak tahu. Hanya saja ucapan teman sepertimu tidak pernah terasa omong kosong bagi saya.

Kamu tahu? Saya banyak ikut kegiatan ini-itu, melakukan hal ini, melakukan hal itu. Teman yang ingin saya bagi cerita lebih sering salah satunya adalah kamu. Saya pernah memiliki keinginan agar kamu tidak hanya mendengar cerita tentang saya yang melakukan ini, tentang saya yang melakukan itu, tetapi kamu juga terlibat di dalamnya. Setidaknya melihat secara langsung apa yang temanmu yang seperti saya ini lakukan.

Belakangan ini hubungan pertemanan kita semakin baik. Kamu tahu? Rasanya ingin menangis berkali-kali karena merasa begitu bersyukur ketika pada suatu hari saya tiba-tiba terserang demam dan kamu ada menemani saya tidur di kos. Kamu tiba di kos saya sangat lama sampai akhirnya kamu memberikan obat sebagai penjelasan mengapa kamu tiba-tiba menghilang tadi di jalan saat menuju kos saya. Kamu membeli obat untuk saya, kamu peduli akan saya. Rasanya ingin menangis berkali-kali ketika pada hari saya sakit itu kamu seperti mama, memaksa saya makan dan setelah saya selesai makan kamu meraba kening dan leher saya kemudian mengucap syukur karena demam saya turun. Hari itu saya sangat senang kamu berada di samping saya. Senang sekali. Saya bersyukur sekali dan berterima kasih sekali kamu ada untuk mempedulikan saya.

Beberapa minggu lalu adalah debut saya bersama grup duo saya, saya tidak tahu apakah kamu mengingat nama duo yang saya bentuk dengan salah seorang teman kesayangan saya itu atau tidak, saya juga tidak tahu apakah kamu percaya akan kemampuan saya dalam menyanyi dan bermain ukulele atau tidak, saya juga tidak tahu apakah kamu berminat untuk tahu atau tidak hal-hal yang saya lakukan dalam hidup saya (yang menurut saya adalah hal penting). Karena sejauh saya (berusaha) berkarya ; menulis novel, menulis buku, saya tidak melihat ketertarikanmu pada semua yang saya lakukan, padahal saya sangat butuh senyummu yang mengatakan kamu bangga memiliki teman seperti saya. Bukan karena saya ingin mendapat pujianmu, tetapi saya ingin melihatmu melihat saya sebagai teman yang tidak pernah sekali pun menganggap omonganmu adalah omong kosong.

Saya kaget membaca pesan singkatmu yang meminta maaf karena tidak dapat menonton debut saya karena ada hal yang sangat jauh lebih penting untuk kamu lakukan. Tidak, saya tidak pernah menyalahkanmu, makanya saya mengatakan jika kamu berkata kamu lupa pun saya tidak akan apa-apa, tetapi kamu marah karena perkataan saya itu. Ya, saya akui itu salah. Saya tidak seharusnya berkata seperti itu. Maafkan saya.

Seandainya saya (boleh) memberitahumu dari awal, kamu tahu apa yang saya pikirkan pada malam saya debut? Saya melihat partner saya dengan teman-temannya, sedangkan saya dengan tiga orang junior baik di samping saya. Tanpa teman yang saya punya jika kamu mengatakan bahwa teman-teman partner saya adalah teman saya juga, tetapi tetap saja rasanya berbeda.

Iri? Ya, saya iri. Iri sekali. Iri saya besar, sehingga rasanya dada saya sesak saat itu ketika mengingatmu tidak ada di sana untuk tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah saya dan meneriakan nama saya dengan bersemangat. Jujur, saya hampir menitikan air mata setelah turun dari panggung karena menyadari kamu tidak ada untuk mengkritik penampilan saya, tetapi saya (berusaha keras) menerima karena tahu pasti kamu memiliki hal yang lebih penting yang harus dilakukan daripada melihat saya kepanikan karena memiliki vokal pas-pasan tapi nekat naik ke panggung.

Mungkin menurutmu itu adalah debut duo grup biasa yang tidak akan dosa jika tidak ditonton karena toh kami belum jadi apa-apa, tetapi seandainya saya (boleh) memberitahumu dari awal, debut itu adalah hal baru bagi saya, ingat kan? Saya takut akan hal baru yang tidak biasa saya lakukan, maka dari itu saya butuh teman macam kamu yang bisa menyemangati saya karena omonganmu tidak pernah menjadi omong kosong buat saya.

Saya minta maaf jika perkataan saya banyak menyakitimu selama kamu menjadi teman saya, hingga kamu (mungkin) berkata kembali bahwa kamu terkadang tidak cocok dengan cara saya berteman. Saya tidak menyalahkanmu, saya menyalahkan diri saya sendiri kenapa saya tidak bisa membuatmu cocok dengan cara saya dan kenapa saya tidak bisa membuatmu mengetahui dan mengerti bahwa inilah saya. Saya sering memutar otak agar kamu mau menerima saya menjadi teman baik yang kamu punya, tetapi saya lebih sering gagal karena pasti cara saya berteman denganmu sering tidak cocok dengan keinginanmu.

Tolong jangan menjauh lagi seperti yang kamu lakukan dulu selama setahun, bersikap tidak peduli dengan saya. Saya ingin berteman denganmu, menjadi teman baik yang kamu punya. Mungkin setelah kamu membaca tulisan ini kamu akan mengatakan bahwa tidak usah sampai segitunya mencari cara untuk menemukan kecocokan dalam pertemanan, tetapi saya ingin mempertahankan teman seperti kamu dalam hidup saya agar tidak seperti dulu. Saya tidak suka memiliki hubungan yang tidak baik denganmu. Saya minta maaf jika kamu merasa tidak cocok dengan cara saya. Seandainya saya bisa lebih dari ini, tetapi saya hanya bisa menjadi teman yang seperti ini. Ini porsi saya. Maafkan saya.


by Dita Oktamaya