Showing posts with label dariku yang tak sempat terucap. Show all posts
Showing posts with label dariku yang tak sempat terucap. Show all posts

Saturday, February 16, 2013

Terima Kasih Sudah Hadir

Halo kalian, apa kabar? Apa kalian masih berada pada keadaan baik-baik saja? Maaf belakangan ini saya memiliki berbagai macam hal yang harus dilakukan, sehingga jarang dapat berbagi cerita di sini. 

Ah, tidak terasa tinggal beberapa hari lagi saya berada di kota istimewa ini. Saya bingung bagaimana saya harus mengungkapkannya. Rasanya senang karena saya dapat kembali ke kampung halaman dengan gelar kebaikan setelah 3,5 tahun menempuh pendidikan di kota orang, tetapi rasanya juga sedih karena saya akan meninggalkan teman-teman yang telah tumbuh bersama saya dengan berbagai kenangan.

Saya banyak memikirkan bermacam hal yang tidak akan sama dan tidak akan bisa dilalui bersama dengan mereka setelah saya kembali ke kota kelahiran saya. Sedih. Ya, rasanya sedih. Saya bersyukur dapat bertemu dengan mereka dan mengenal mereka dengan baik, tetapi saya bersedih karena menyadari bahwa fase kehidupan seorang manusia bertemu dengan manusia lain pada akhirnya hanya memilki sebuah kenangan, hanya itu.

Belakangan ini banyak hal yang membuat saya tersadar untuk menghargai apa yang telah saya miliki dan menghargai mereka yang selalu menghargai keberadaan saya. Saya jadi ingin menulis tentang mereka dan berterima kasih kepada mereka yang sudah begitu baik karena bersedia memamerkan senyumnya setiap kali saya merasa lelah akan beberapa hal yang membuat pikiran saya tidak nyaman.

Tiara and Me
Ya, kamu yang dahulu pernah dengan terang-terangan pergi meninggalkan saya karena beberapa hal yang membuatmu tidak cocok berteman dengan saya atau lebih tepatnya terpengaruh untuk tidak merasa cocok dengan saya. Maaf begitu banyak hal dari saya yang jarang terduga dan jarang bisa kamu terima. Saya bukan teman yang seru yang bisa kamu ajak tertawa keterlaluan atau menari keterlaluan atau berekspresi keterlaluan hingga membuatmu senang hanya dengan melihat saya. Saya lega, setelah berbagai macam hal yang terjadi saya sudah bisa membiasakan diri saya menghadapimu dan saya rasa kamu pun seperti itu, sehingga setelah sekian banyak hal yang terjadi, pertemanan di antara kita bisa terjalin semakin erat. Saya akan banyak merindukanmu, merindukan makan bersamamu, merindukan berdiskusi bersama denganmu, merindukan naik motor dan berbincang dari belakang punggungmu. Saya akan sangat merasa kehilangan teman yang baik sepertimu, yang sering menyebutkan nama setiap orang yang tidak saya kenal dalam semua ceritamu. Saya akan sangat merasa kehilangan teman yang tidak pernah segan menceritakan cita-citanya, impian-impian masa depannya kepada saya. Saya akan banyak merindukanmu, merindukan perhatianmu terhadap saya yang tinggal sendiri di kota istimewa ini, merindukan omelanmu mengenai saya yang cuek dan kurang peka sebagai seorang wanita. Saya akan banyak merindukan tatapanmu setiap kali kamu bingung atas beberapa hal terduga yang telah saya lakukan. Saya akan banyak banyak banyak sekali merindukanmu. Saya harap kamu selalu berada dalam keadaan baik-baik saja, jangan bersedih lagi, jangan merasa sendirian lagi. Jogja dan Jakarta hanya berjarak 512km dan hanya butuh beberapa waktu untuk menjangkaunya. Terima kasih karena hal seburuk dan sekonyol apapun yang saya lakukan, kamu selalu berusaha untuk menghargainya.


Arindya and Me
Saya tidak pernah menyangka bisa berhubungan sedekat ini denganmu. Kita tidak punya kesibukan yang sama, dunia yang kita geluti hampir dapat dipastikan seratus persen berbeda, tetapi jika sudah bercerita denganmu, rasanya saya tidak ingin berhenti berbicara. Kamu adalah orang yang paling sulit saya temui, setelah (mungkin) presiden dan setiap kali saya menemukan waktu untuk menemuimu, saya tidak pernah tega  untuk menyia-nyiakannya. Maaf saya selalu manja jika sedang berhadapan denganmu, entah mengapa saya seperti menemukan sosok seorang kakak ketika bersamamu. Maaf jika selama beberapa bulan yang lalu, selama 1,5 bulan saya banyak melakukan hal tidak berguna dan merepotkanmu. Saya akan banyak merindukanmu, merindukan makan es krim bersamamu, merindukan berbelanja bersamamu, merindukan memasak bersamamu. Saya akan merasa sangat kehilangan sosok kakak yang bisa saya ajak cerita panjang lebar tentang banyak hal, saya akan merasa sangat kehilangan sosok kakak yang rela begadang untuk terus mendengarkan cerita atau bercerita dengan saya. Kamu benar, airmata tidak ada yang jual, jadi kalau saya mengeluarkannya dengan mudah, saya akan repot mendapat gantinya. Maaf saya selalu cengeng saat dihadapkan dengan perpisahan, saya hanya sulit menerima kenyataan bahwa kehidupan saya tidak akan lagi berjalan sama dengan hal yang sudah membuat saya terbiasa. Saya harap kamu selalu berada dalam keadaan baik-baik saja, saya harap kamu dapat meraih apapun yang kamu inginkan.

Terima kasih untuk kalian yang sudah begitu baik bersedia bertukar pikiran dengan saya dan melakukan berbagai macam hal bersama saya. Saya tidak tahu apakah mengenal saya menjadi salah satu hal yang kalian syukuri, tetapi saya ingin kalian tahu bahwa saya senang dapat membuat banyak kenangan bersama kalian, kalian adalah orang-orang baik yang keberadaannya di hidup saya akan selalu saya pertahankan. Saya senang bisa mengenal kalian dengan baik. Saya senang kalian berada di hidup saya. Senang sekali.


by Dita Oktamaya

Sunday, February 3, 2013

Selamat Bertambah Umur, Black Giraffe :)


"Aku hanya ingin memberikan sebuah kenangan, karena kenangan yang terkumpul bersamamu selama 365 hari adalah inspirasi untukku dan aku tidak akan pernah bisa melupakanmu. Bagiku, mengenalmu adalah titik gemar yang menjadi candu untuk menjalani hidup lebih baik lagi, selamat ulang tahun, Sahabatku."



Maaf saya lupa membeli lilin, hingga kamu tidak bisa meniup lilin ulang tahun seperti seharusnya manusia berulang tahun lainnya. Maaf saya merepotkanmu dengan tiba-tiba hadir di rumahmu dan membuat kegaduhan yang tidak seharusnya seorang manusia lakukan di rumah manusia yang lain. Maaf saya tidak bisa memberimu banyak kebaikan, hingga (sepertinya) kamu merasa begitu sengsara bersahabat dengan saya. Maaf karena terlalu banyak kesalahan dan kerepotan yang saya timbulkan, hingga kamu merasa gemas kepada saya. Maaf atas waktu yang terlalu sedikit, hingga kita tidak punya cukup ruang untuk menghabiskannya bersama. Maafkan atas segala kekonyolan, kebodohan, dan ketidakpekaan saya terhadap hal yang kamu inginkan.

Selamat ulang tahun, Sahabat yang tiada duanya, semoga di ulang tahunmu yang kesekian tahun ini membuatmu lebih bahagia dan bisa membahagiakan orang-orang yang berada di sampingmu dengan setia, membuatmu lebih menjadi pribadi yang selalu berhati nyaman seperti Jogjakarta, membuatmu lebih pandai merasa, membuatmu lebih banyak bersyukur atas apa yang ada. Sehat terus ya kamu, jadi nanti setelah berbagai hal yang memaksa kita untuk tidak bertemu dalam waktu yang lama terlalui, saya masih bisa melihatmu tersenyum bahagia dan tertawa bersama yang selalu membuat saya nyaman bersahabat denganmu *peluk erat*


by Dita Oktamaya

Thursday, January 10, 2013

Terima Kasih, Tuhan

Hari ini saya dinyatakan lulus sebagai Sarjana Sastra, Program Studi Bahasa Korea, Universitas Gadjah Mada. 

Terima kasih, Tuhan, karena segala hal berjalan dengan baik di awal tahun.

Semoga tahun ini menjadi tahun yang baik untuk meneruskan langkah menghasilkan karya yang baik untuk menghargai hidup yang telah Kau berikan. 

Terima kasih, Tuhan, karena banyak orang-orang hebat dan baik yang mengelilingi.

Terima kasih, Tuhan, karena ketentuan-ketentuan yang Kau buat memberikan banyak pelajaran untuk menjadi manusia lebih baik dalam hidup.

Terima kasih, Tuhan., untuk kedewasaan yang perlahan timbul agar semua orang mendapat kebaikan dan kebahagiaan.

Terima kasih untuk segala-galanya, Tuhan. Terima kasih sudah menjadi Pencipta yang baik yang memberikan keseimbangan untuk semua. Semoga berkahmu terus berjalan setiap waktu, Aamiin.



by Dita Oktamaya

Saturday, December 22, 2012

Selamat Hari Wanita Hebat, Mama

Mama, selamat hari ibu, semoga mama selalu dalam keadaan baik-baik saja, semoga mama panjang umur dan selalu sehat, semoga mama bisa selalu mendampingi dede dimana pun dede berada, semoga mama tidak pernah lelah jadi inspirasi untuk dede.

Mama adalah orang yang benar-benar menerapkan perilaku "talk less, do more" kepada dede. Mama yang selalu bilang kepada dede untuk "bekerja tanpa suara dan bekerja tanpa bau". Dede selalu ingat itu Ma, selalu.

Mama, selamat hari ibu, selamat hari wanita hebat. 

Ma, sehat terus ya, sampai 100 tahun lagi, nanti setelah 100 tahun berikutnya, mama terus sehat lagi, kita hidup sama-sama, bahagia. Biar nanti mama bisa menikmati gaji dede, biar nanti tetap bisa mendampingi wisuda S2, S3 dan berbagai macam gelar dan karya yang dede raih. Sehat terus ya, Ma. Dede sayang mama.



by Dita Oktamaya

Friday, December 7, 2012

I Do This For You, Sis

Mungkin belakangan ini orang-orang sering melihat saya tergopoh-gopoh berjalan sambil membawa komputer jinjing dan mondar-mandir keluar-masuk perpustakaan kampus. Melihat saya terbengong tiba-tiba sambil memeluk gitar dan sesekali memainkannya dengan tidak sabar. Melihat saya duduk terdiam seperti tidak memiliki daya untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ya, saya belakangan ini seperti itu. 

Teman-teman mengatakan saya seperti anak ayam yang kehilangan induknya, seperti tubuh yang dipasang mesin kemudian dikendalikan oleh remote kontrol yang bergerak, tetapi tidak berekspresi. Saya menolak beberapa pekerjaan sukarela yang saya sukai untuk satu kewajiban saya. Kewajiban terakhir saya di Jogjakarta sebelum akhirnya saya kembali pulang ke Jakarta. Saya menolak, menolak beberapa hal yang menjadikan diri saya terkurung dengan berbagai macam pikiran membuat saya tidak tenang, menolak dengan berbagai macam pikiran bahwa saya tidak akan mendapat kesempatan yang sama untuk kedua kalinya. Ya, saya menolak hal yang saya sukai untuk kewajiban yang harus saya penuhi. Saya tidak menyesal, tetapi menolak sesuatu selalu membuat perasaan saya tidak baik, apalagi hal itu adalah hal yang saya sukai.

Bukan tanpa alasan.

Saya melakukan semua ini demi kamu, demi membuktikan bahwa apa yang kamu harapkan dari saya, bisa saya penuhi dengan baik. Saya melakukan semua ini demi membuat kamu merasa tidak sendirian lagi di kota metropolitan yang menyebalkan karena tahu saya akan kembali pulang ke sana. Saya melakukan semua ini demi kamu, demi memelukmu ketika kelelahan dan rasa ingin menyerah menghadangmu, demi menjadi samsak ketika kemarahan dan rasa gemas menghantuimu, demi menjadi pendengarmu ketika kebosanan dan kegundahan menyelimutimu. Saya melakukan semua ini demi kamu yang menginginkan saya cepat kembali pulang ke Jakarta. Ya, saya akan segera pulang, tidak lama lagi.

Kamu tidak banyak menghubungi saya belakangan ini karena begitu banyak hal yang harus kamu lakukan untuk kelulusan bidang profesimu. Saya pun begitu. Kita sama-sama tidak saling menghubungi. Sampai tiba beberapa hari yang lalu, saya membaca berita tentang seorang wanita yang mengalami kecelakaan di daerah dekat kampusmu. Saya panik, saya tidak bisa tidur karena khawatir, takut bahwa wanita itu adalah kamu. Saya mengirimkan sebuah pesan ke tempat obrolan online tempat kita sering bercerita dari jauh. Namun, itu sudah malam dan kamu tidak membalasnya. Saya berusaha menenangkan diri saya, mencoba menutup mata saya dan berharap pagi nanti kamu membalas pesan saya. 

Paginya kamu membalas pesan saya, saya lega. Kamu bertanya kenapa saya menghubungimu selarut itu, saya hanya berkata iseng karena tidak mungkin saya mengatakan alasan konyol yang membuat tidur saya tidak tenang. Kamu menggoda saya, mengatakan bahwa saya merindukanmu, saya berkelit dengan gengsi untuk tidak mengiyakan itu.

Mungkin iya. Saya rindu kamu.

Kamu adalah satu-satunya orang yang saya punya untuk berbagi berbagai macam hal, ketika saya tahu mama dan papa kesulitan untuk menyeimbangkan pikiran saya yang sering keluar dari jalur yang seharusnya. Kamu adalah satu-satunya orang yang saya punya untuk mejadi semangat saya agar dapat menyelesaikan kewajiban saya dengan baik. Kamu adalah satu-satunya orang yang saya punya ketika saya merasa tidak ada orang yang bisa saya ajak susah atas kekurangan saya. 

Kamu adalah orang tercerewet dan menyebalkan yang pernah saya temui di dunia ini, orang yang selalu banyak mau tahu tentang kehidupan pribadi saya, orang yang selalu banyak menyalahkan saya ketika ada beberapa hal tidak bisa kamu tangani dengan baik sendirian. Kamu adalah orang terjahil yang sering menggoda saya ketika saya sedang ingin banyak marah-marah. Kamu adalah orang yang selalu balik marah dengan lebih besar ketika saya memarahi kamu. Kamu adalah orang dengan segudang ketidaknyamanan yang anehnya selalu membuat saya nyaman berada di samping kamu.

Kamu adalah satu-satunya kakak yang saya punya. 

Saya tahu, kita harus banyak berkorban untuk menyelesaikan berbagai macam hal yang menjadi kewajiban kita, untuk membuktikan bahwa kita layak disebut sebagai manusia yang baik. Kamu selalu berkata saya bisa, kamu bisa, kita bisa. Kamu sering mengatakan bangga terhadap saya, terhadap karya-karya saya, terhadap apapun hal yang saya lakukan dan ya bagi saya, kamu adalah orang yang perkataannya selalu mempengaruhi jalan pikiran saya, kamu adalah acuan saya.

Di sini saya sedang berjuang untuk menyelesaikan tugas akhir saya dengan baik dan secepat yang saya bisa. Saya lakukan ini karena saya tahu kamu melakukan hal yang sama di sana. Maaf selama tiga tahun ini saya meninggalkanmu untuk menempuh pendidikan tinggi saya di Jogjakata, maaf tiga tahun lalu saya memutuskan semangatmu untuk berkuliah di tempat yang sama dengan saya, maaf jika banyak harapanmu akan saya belum saya penuhi dengan baik. Sekarang saya sedang berusaha keras untuk bisa sesegera mungkin kembali berkumpul bersama-sama lagi. 

I do this for you, Sis.
 
Sekarang tunggulah dengan manis, saya tidak akan pergi kemana-mana, karena seberapa jauh pun saya pergi, saya akan tetap kembali, saya akan pulang. Sesegera yang saya bisa.


by Dita Oktamaya

Saturday, November 24, 2012

Saya Yakin Kamu Bisa Lebih Dari Itu

Hal yang paling sulit saya hadapi adalah ketika seseorang yang saya kenal dengan sangat baik, ditinggalkan untuk selama-lamanya oleh orang yang paling ia sayangi. Ketika dihadapi dengan situasi seperti ini rasanya saya menjadi orang yang paling tidak berdaya sedunia.

Saya percaya dan sangat yakin bahwa ia sanggup menghadapi kondisi seburuk apapun seperti sekarang ini, tetapi justru saya lah yang kewalahan karena tidak tahu harus berkata apa untuk membuatnya nyaman dengan kenyataan yang sama sekali tidak nyaman untuk dirasakan.

Adik yang manis, dahulu, saya pernah berada di posisimu ketika kakek dan nenek yang saya sayangi meninggal dunia, tetapi saya pikir pasti rasanya sangat berbeda jauh dengan kondisimu sekarang ini. Sudah sangat jelas karena yang meninggalkanmu sekarang adalah salah satu dari orangtuamu yang darahnya mengalir langsung di dalam tubuhmu. Maka saya simpulkan bahwa saya tidak tahu harus berkata apa untuk sekedar menenangkanmu.

Ya, saya payah, Adik yang manis. Mungkin nama saya adalah nama yang ke seratus sekian yang muncul di kepalamu ketika kamu membutuhkan teman yang bahunya ingin kamu pinjam untuk bersandar. Namun, meskipun saya orang ke seratus, ketahuilah bahwa saya tidak akan pernah lelah untuk mengantri di belakang sembilan puluh sembilan temanmu yang lain untuk membuatmu kembali tersenyum.

Saya sangat percaya bahwa kamu adalah orang yang tegar, jadi teruslah bersemangat seperti sebagaimana dirimu biasanya. Segalanya tidak lagi sama, saya tahu dan itu berarti ketegaranmu tidak lagi sama seperti sebelumnya. Ya, saya yakin kamu bisa lebih dari itu.


by Dita Oktamaya

Friday, November 23, 2012

Berkah Dari Langit



Dulu saya punya sebuah mimpi. Mimpi melihat orang-orang tersenyum senang atas apa yang saya lakukan. Saya suka membuat orang-orang senang, siapapun itu, kenal tidak kenal, dekat tidak dekat, tahu nama tidak tahu nama, kenal muka tidak kenal muka, semua orang. Saya senang melihat semua orang merasa senang dan nyaman atas apa yang saya lakukan. 

Kemudian mimpi itu seolah disukai juga oleh langit, langit mengirim Anda untuk saya. Langit mempertemukan kita seolah tahu kita punya kesukaan yang hampir seratus persen sama. Bagi saya, anda adalah salah satu dari beribu berkah yang langit titipkan kepada saya. Anda yang membuat salah satu dari beribu mimpi saya membuat orang-orang senang melihat apa yang saya lakukan menjadi nyata.

Ya, pada akhirnya saya dan Anda memutuskan untuk berkarya bersama, membuat orang-orang tersenyum senang dengan lantunan nada. Anda adalah salah satu dari beribu berkah yang langit titipkan kepada saya dan saya selalu berterima kasih kepada langit untuk itu.

Kalau diperbolehkan, saya mau terus berkarya bersama Anda. Sampai habis suara karena baya, hingga habis waktu karena tiada.


by Dita Oktamaya

Monday, October 15, 2012

Selamat Ulang Tahun!

Selamat ulang tahun! 

Iya, hari ini ulang tahun saya. Iya, saya tambah tua. Iya, saya seharusnya berpenampilan sesuai dengan usia saya. Iya, saya masih kaget ternyata saya sudah berumur sedemikian adanya. Iya, tanggung jawab semakin banyak di depan mata. Iya, saya takut menyadari hal itu. Iya, saya belum siap jadi orang yang dianggap 'dewasa' karena usia yang semakin bertambah. Iya, saya banyak mengiyakan tetapi sesungguhnya itu beban untuk saya. 

Hari ini saya dibangunkan oleh telepon dari mama saya yang berada di Jakarta. Mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya dengan nada yang ceria, sedangkan saya dengan malas-malasan menerima telepon dari mama karena pada jam sedemikian paginya, saya masih tertidur. 

Setelah mama menelepon, beberapa menit kemudian papa juga menelepon. Sama seperti mama, papa menelepon mengucapkan selamat ulang tahun, tetapi papa dengan nada sedih kemudian terdengar sedikit terisak. Saya bingung hal apa yang membuat papa sedemikian sedih hingga menangis saat mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya. Saya hanya mampu menenangkan sekedarnya karena pikiran saya masih kacau antara bingung dan mengantuk, memang bukan anak yang baik. 

Kemudian kakak saya menelepon saya, dengan nada suara yang ceria tanpa beban, seperti biasa. Mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya, mengatakan ini-itu. Untungnya saya sudah benar-benar terjaga dari tidur saya, jadi saya dapat merespon kakak saya dengan baik dan benar.

Selanjutnya teman-teman yang datang menghampiri saya yang berantakan (meskipun sudah mandi), memberikan kue ulang tahun, menyanyikan lagu ulang tahun, berbincang bersama, tertawa bersama, dan menentukan hari kapan makan bersama padahal yang berulang tahun adalah saya.

Berikutnya teman kesayangan saya yang sampai detik ini saya juga heran mengapa dia bisa menjadi teman kesayangan saya, Damar, seorang perempuan bernama laki-laki. Dia mengirimkan pesan singkat, menanyakan keberadaan saya dan meminta saya untuk mengambil hadiah ulang tahun darinya. Sungguh, saya bingung mengapa Damar bisa menjadi teman kesayangan saya, padahal dia dengan sebegitu cueknya malah meminta saya menghampirinya untuk mengambil hadiah ulang tahun, bukan dia yang datang menghampiri saya dan mengucapkan selamat ulang tahun dengan baik dan benar, persahabatan yang unik. Memang pada akhirnya dia singgah ke kos saya, seperti biasa, mengacaukan kamar saya yang sudah kacau. (Hampir) makan kue ulang tahun di atas kasur saya, mencoret-coret time table saya, mempermainkan ukulele saya, dan membuat video untuk saya (yang ini tidak bisa dipublikasi karena merupakan konsumsi pribadi :D)

Lalu teman lelaki saya, manajer WEBG (saya pernah menulis tentang WEBG di postingan sebelum-sebelumnya) dia datang, kemudian hujan turun. Kami terjebak hujan. Dia memberikan hadiah ulang tahun kepada saya, kemudian kami menghabiskan bensin motor dengan cuma-cuma karena berkeliling kota Jogja tanpa arah dan tujuan.

Yang terakhir, teman saya, Alin. Dia menelepon saya, menyanyikan lagu ulang tahun dengan sangat baik. Dia bernyanyi, lewat telepon, karena sekarang dia berkuliah di Solo.

Ada banyak hal yang ingin saya katakan kepada mereka, terima kasih yang banyak banyak banyak banyak tak terhingga sampai saya bingung bingung bingung bingung bagaimana mengungkapkannya. 

Untuk mama dan papa : Terima kasih untuk dukungan dan doa yang selalu diberikan kepada saya dan selalu menyerahkan pilihan kepada saya dengan alasan yang penting saya suka menjalankannya, sampai akhirnya saya selalu ikhlas menjalani apapun karena saya menyukainya. Terima kasih karena kalian tidak pernah menuntut saya untuk jadi ini atau jadi itu. Saya akan berusaha untuk selalu membuat kalian bangga dengan apa yang saya lakukan. Dengan karya-karya saya, dengan cita-cita saya. Tolong jangan pernah berhenti mendoakan saya karena doa kalian selalu jadi semangat yang tidak pernah buat saya merasa sendirian di tempat jauh ini.

Untuk Kakak (Kak Tami) : Terima kasih untuk dukungan dan doa yang tidak pernah habis untuk saya. Terima kasih karena ketika banyak orang tidak percaya dengan kemampuan saya, kamu masih percaya. Terima kasih sudah menjadi teladan yang paling baik untuk adik macam saya. Saya tahu, menjadi anak pertama adalah hal yang tersulit dan membebankan karena harus menjadi contoh yang baik untuk adiknya, tapi sesulit apapun itu kamu selalu berhasil jadi contoh yang baik untuk saya. dan selalu bisa jadi penyemangat terbaik saya. Terima kasih untuk doa-doa baik yang kamu kasih untuk saya, karena doa-doa itu lah saya mampu bertahan sendirian di 512 km jauhnya dari rumah.

Untuk teman-teman (Tiara, Jessica, Febi, Fitri, Ayi) : Terima kasih sudah jadi teman yang suka tertawa, hal itu yang selalu berhasil menghibur saya ketika saya berada di sekitar kalian. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk memberikan kejutan untuk saya, kalian teman yang baik.

Untuk Damar : Kamu adalah satu-satunya teman yang selalu ingin saya ceritakan apapun itu. Maafkan saya jika saya selalu banyak merepotkanmu dengan segala bentuk permintaan ini-itu. Terima kasih karena kamu selalu bersedia menyediakan rumah untuk saya berteduh ketika saya merasa haus akan keberadaan saya di rumah saya yang sesungguhnya. Terima kasih telah memperkenalkan saya dengan hal-hal baru yang sebelumnya tidak pernah saya kira saya menyukainya. Terima kasih karena kamu telah menjadi teman yang menyenangkan. Saya tahu saya bukan teman yang baik, yang selalu ditunggu kedatangannya, yang selalu diharapkan keberadaannya, tetapi saya suka sekali karena seperti apapun saya, kamu masih bersedia menjadi teman saya, sahabat saya, soul sister saya, partner bermusik dan segala bentuk kesenian saya, teman diskusi saya, teman tertawa saya, teman menangis saya, teman menggila saya, teman melakukan hal konyol dengan imajinasi yang berlebih. Terima kasih, Dam, kamu telah berusaha memahami saya dan menutupi segala kekurangan saya sebagai temanmu. Maafkan saya jika banyak hal yang saya lakukan menyakitimu dan membuat dirimu merasa tidak baik, maafkan saya teramat sangat. Jika kamu masih mempertanyakan mengapa saya menjadikanmu teman kesayangan saya, sampai saat ini pun saya tidak tahu pasti kenapa saya begitu menyayangimu, yang saya tahu sangat jelas adalah saya senang berteman denganmu karena kamu membuat saya membuat sesuatu.

Untuk Herry : Terima kasih sudah menjadi teman (dan manajer) yang baik dengan tingkat baik berlebihan sampai kamu rela meluangkan waktu untuk menemani saya ini-itu. Maaf jika saya banyak merepotkanmu, semoga kamu selalu diberi keberkahan karena telah menjadi orang baik.

Untuk Alin : Terima kasih nyanyian selamat ulang tahunnya. Kamu selalu bisa mengingatkan saya bahwa jarak bukanlah halangan seseorang untuk terus berteman, menjalin tali silaturahmi. Terima kasih kamu telah mengajari saya banyak hal tentang pandangan-pandanganmu tentang masa depan. Terima kasih kamu selalu berusaha meluangkan waktu untuk menemui saya ketika kamu mampu. Kamu teman yang baik.

Dan untuk teman-teman lain yang memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada saya, terima kasih banyak  karena kalian telah bersedia meluangkan waktu untuk itu. Semoga hari kalian selalu menyenangkan, semoga keberkahan hadir di antara kalian. Semoga di usia saya yang bertambah ini, saya masih bisa terus berada di hati kalian. Semoga kita selalu diberi kesehatan dan kemudahan dalam menjalani berbagai macam hal dalam hidup kita. Semoga Allah selalu memberkahi setiap langkah kita. Semoga.


by Dita Oktamaya

Tuesday, September 25, 2012

Sangat Baik

Hari ini mama saya menelepon saya. Bertanya apa saya berada dalam keadaan baik-baik saja karena beliau tahu keadaan saya di Jogja sudah menjadi manusia setengah pengangguran karena sibuk berkutat dengan skripsi, tetapi tidak melakukan hal lain yang membuat seluruh badan saya bergerak.

Saya menceritakan kepada mama saya, mengenai salah seorang dosen yang pada hari ini mengajak saya bertemu dengan seorang sutradara film. Dunia yang sejak dulu saya minati, tetapi sulit untuk saya raih karena keseganan saya dalam memulai.

Saya suka dunia perfilman, suka menjadi bagian dari mereka (jika saya bisa). Saya suka berada di belakang layar, sibuk berjalan ke sana ke mari, menjadi crew yang bertanggung jawab ini itu. Saya suka pekerjaan yang membuat seluruh badan saya bergerak. 

Saya pernah mendengar cerita salah seorang teman SMP saya yang terjun langsung menjadi asisten sutradara. Dulu sekali, ketika kami sama-sama berada di bangku kelas 2 SMP (atau sekarang kelas 8). Hal itu yang menarik minat saya, berada di belakang layar, bergerak, sibuk, dan hal-hal lainnya yang membuat saya jadi manusia berguna. Penghasil karya. Penghibur orang lain. Bertemu banyak orang baru. Saya berterima kasih dengan dosen saya karena beliau mengajak dan memperkenalkan dunia baru kepada saya. Saya menjadi menemukan dunia yang sejak dulu saya cari. Semua jadi (agak) lebih terlihat jelas, apa yang ingin saya lakukan kelak, setelah saya menyelesaikan skripsi saya. 

Saya menceritakan rencana-rencana saya, bagaimana selanjutnya hal yang saya inginkan ketika saya sudah lulus strata 1 nanti kepada mama saya. Mama terasa mendengarkan dengan baik kata demi kata yang saya ucapkan. Setelah saya menyudahi cerita saya, mama pun memberikan respon yang jauh dari apa yang saya bayangkan.

"Pokoknya yang kamu percaya baik untuk kamu dan kamu suka menjalaninya, ya lakukan saja. Asal ingat satu hal, jangan lupa Tuhan."

Respon mama yang begitu sederhananya membuat saya tersadar bahwa sejak dahulu, orang tua saya tidak pernah menekan saya untuk menjadi ini, menjadi itu. Mereka selalu membiarkan saya memilih apa yang saya suka, apa yang membuat saya nyaman menjalaninya. Orang tua saya membiarkan saya masuk ke jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial ketika SMA karena mereka tahu saya menyukainya, padahal pada saat itu Ilmu Pengetahuan Alam menjadi jurusan favorit di sekolah saya, hingga terjadi penambahan kelas.

Orang tua saya membiarkan saya memilih jurusan bahasa Korea karena mereka tahu saya menyukainya, padahal pada saat itu bisa saja mereka menyuruh (memaksa) saya memilih untuk masuk ke jurusan ekonomi atau jurusan yang dapat dikatakan lebih memiliki ketenaran yang lebih baik lainnya, tetapi mereka tidak melakukannya. Bahkan sampai sejauh 512 km saya berada jauh dari mereka hanya untuk menyelesaikan hal yang saya sukai, mereka membiarkan saya memilih pilihan untuk berdiri sendiri di sini, di Jogja. 

Orang tua saya memberikan saya gitar, memberikan saya keyboard, memberikan saya ukulele, dan  memberikan alat musik lainnya kepada saya hanya karena saya menyukainya, padahal bisa saja mereka menolak permintaan saya yang tidak pernah becus memainkan alat musik macam apapun. Bahkan sampai detik ini.

Saya jadi membenahi kembali rencana-rencana apa yang akan saya lakukan nanti, setelah saya lulus dari strata 1. Saya ingin memberi pembuktian kepada mereka bahwa mereka tidak akan kecewa dengan menaruh kepercayaan mereka sepenuhnya kepada saya. Saya ingin membuktikan kepada mereka bahwa saya bisa dipercaya, bahwa yang mereka lakukan dengan mengembalikan semua pilihan kepada saya itu benar. Saya ingin melihat mereka tersenyum bangga kepada saya yang selalu bisa menikmati apa yang dilakukan karena saya menyukainya. 

Izinkan saya berterima kasih karena saya selalu merasa bisa diandalkan karena kalian selalu memberi kepercayaan kepada saya. Izinkan saya berterima kasih, meskipun saya tahu rasa terima kasih ini tidak akan pernah bisa menggantikan apa yang telah kalian lakukan untuk saya. Kalian orang tua terbaik, sangat baik. Kalian orang tua yang selalu menjadi semangat saya melakukan berbagai macam hal. Terima kasih karena kalian selalu menerima saya seperti apa pun cara yang saya lakukan dalam menjalani hidup saya. Saya beruntung memiliki kalian. Beruntung sekali. 


-----


NB : Dedicated to lovely mom and dad, you're always be a part of me. Semoga kalian selalu sehat dan berada dalam keadaan baik-baik saja ya. Jangan bersedih karena saya berada di sekian banyak kilometer untuk meraih cita-cita saya. Ingatlah seberapa jauhnya saya, saya akan selalu kembali kepada kalian. Jadi, bersabarlah dan tunggu saya pulang :)

by Dita Oktamaya

Tuesday, September 18, 2012

Saya Hanya Sedang Teringat

Entah sudah berapa lama kamu menahan ketidaknyamananmu untuk menjaga perasaan saya.

Bukan ingin mengeluh, tetapi setiap saya teringat perkataanmu terhadap sikap saya, rasanya saya jadi kembali merasa bersalah.

Saya jadi mempertanyakan bagaimana tulus itu seharusnya.

Maaf jika banyak sikap saya yang tanpa saya duga telah menyakitimu.

Saya tahu saya bukan orang baik, bukan orang yang setiap saat diharapkan kehadirannya.

Maaf jika saya terlalu banyak membuatmu tidak nyaman dengan keberadaan saya di sekitarmu.

Maaf jika banyak sulit saya menunjukkan tulus saya, hingga kamu merasa terpaksa melakukan hal yang berkaitan dengan saya.

Saya tidak tahu yang mana hal yang kamu lakukan terhadap saya dengan suka rela, yang katamu jadi terasa tidak tulus karena kamu lakukan dengan ketidaknyamananmu menyesuaikan saya.

Saya tidak tahu paksaan macam apa atau mungkin hanya dirimu yang sekedar ingin menjaga perasaan saya hingga kamu pun melakukannya terhadap saya.

Namun, apapun itu, selama kamu yang melakukannya saya selalu berusaha untuk tetap baik-baik saja.

Semuanya sudah selesai.

Saya menulis ini bukan karena saya mempermasalahkannya.

Kamu tahu saya, saya akan ingat meskipun saya tidak ingin mengingatnya.

Sekarang saya hanya sedang teringat, kemudian menulis untuk membuat diri saya nyaman atas ingatan yang selalu datang meski saya tidak berusaha mengingatnya, itu cara saya.

Dan maaf jika kamu tidak merasa bisa menyesuaikan dengan cara saya yang seperti ini.

Ada beberapa hal yang saya ingin katakan, hanya sekedar mengatakan.

Saya tidak bermaksud komplain atau memintamu menyesuaikan saya, hanya sekedar ingin bercerita.

Sesungguhnya saya bukan orang yang terbiasa mendominasi pembicaraan.

Menjadi orang yang cerewet dan banyak bercerita adalah hal yang melelahkan bagi saya.

Namun, saya pikir tidak apa jika saya melakukannya bersamamu karena saya ingin semua berjalan baik-baik saja.

Saya pikir saya harus bersikap seperti itu agar keanehan tidak hadir di antara kita.

Saya mengatakan ini bukan untuk mengkomplain atau memintamu menyesuaikan saya, bukan.

Saya terkadang hanya lelah menjadi yang paling dominan ketika kita sama-sama diam, kehabisan kata.

Namun, ketika saya berpikir kembali, sudah seharusnya saya melakukan itu jika ingin suasana di antara kita dan perasaan masing-masing kita terjaga.

Jangan terlalu memikirkannya, saya hanya sekedar bercerita.

Sekarang biar saya memperbaiki semuanya.

Memperbaiki semua hal yang membuatmu banyak berkorban untuk menyesuaikan saya.

Maaf atas ketidaknyamanan yang saya timbulkan selama saya berada di sekitarmu.

Sekarang sudah saatnya memulai semua dari awal.

Dengan kamu yang tanpa beban bertemu dengan saya, apa adanya dirimu,

dan saya yang apa adanya saya, saat saya bersama kamu.



by Dita Oktamaya

Wednesday, September 12, 2012

Kejutan (?)

Hari ini cukup banyak kejutan yang saya dapatkan, setelah beberapa hari sebelumnya saya merasa terpuruk dan merasa tidak berguna karena tidak melakukan hal berarti yang membuat saya jadi belajar tentang sesuatu.

Kejutan pertama adalah pengumuman bahwa para mahasiswa tingkat akhir yang bermaksud menyusun skripsi pada semester ini, akan dikumpulkan dan diberikan pengarahan pada tanggal 17 September 2012 depan. Ah, akhirnya kami diberi kepastian setelah beberapa hari digantungkan hidupnya karena tidak ada pengumuman tentang kelanjutan studi kami. Dan ya, Saya berharap saya bisa memanfaatkan waktu sebelum pengarahan skripsi tersebut untuk mematangkan proposal skripsi yang menjadi penentu tema skripsi yang akan saya tulis.

Kejutan kedua adalah saya mendapati teman saya yang menceritakan tentang kehidupannya yang belakangan disadari sedikit (atau banyak, entahlah, dia yang merasakan) terkekang dengan sang pacar yang agak lebih suka mendominasi hidup manusia yang pada dasarnya belum menjadi istrinya.

Begini, saya akui saya adalah orang yang cuek (meskipun beberapa orang sering bilang, jika saya sudah memberi perhatian kepada seseorang, orang lain yang melihat akan merasa luluh dan iri secara bersamaan, entahlah, saya tidak terlalu mengerti maksud mereka itu bagaimana, ya kira-kira seperti itu), tetapi jika saya merasa saya berteman baik dengan seorang teman (karena ketika kita berteman dan merasa dekat dengan seorang teman, tidak menutup kemungkinan bahwa teman tersebut memiliki rasa kedekatan yang sama, tetapi bisa jadi malah sebaliknya, tidak merasa dekat sama sekali) apa yang dia rasakan, menjadi apa yang saya rasakan (meskipun saya tahu saya tidak berada pada posisinya).

Maksudnya begini, ambil satu contoh beberapa waktu lalu ketika teman dekat saya semasa KKN (sampai saat ini saya harap kami akan terus berteman dekat) kemarin, Arin, diberi kuasa oleh koordinator mahasiswa unit, untuk mengurusi ini-itu mengenai laporan program kegiatan KKN, saya merasa khawatir. Bukan, bukan karena saya merasa bahwa Arin tidak bisa diandalkan (justru dia sangat bisa diandalkan), tetapi karena saya merasa itu akan sangat merepotkan Arin yang hanya tinggal seorang diri di Jogja, sementara teman-teman yang lain sudah berada di kampung halaman masing-masing untuk merayakan hari raya idul fitri. Padahal, jika dilihat dari ekspresi wajah Arin, dia terlihat tidak keberatan diberi tugas yang sedemikian menjengkelkannya. Namun, saya masih merasa tidak rela, masih merasa bahwa tidak seharusnya Arin direpotkan. Dia sudah terlalu banyak membantu dalam banyak hal, dia terlalu baik.

Lalu seperti hari ini yang tiba-tiba saya bertemu dengan teman saya, yang mulai menyadari hidupnya terkekang dengan segala macam bentuk peraturan yang dibuat oleh pacarnya. Saya tahu, saya tidak akan pernah menjadi dia, tetapi saat dia menceritakan perasaan yang sesungguhnya (setelah sekian banyak tekanan yang pada akhirnya membuat pertahanan dirinya roboh) saya ingin sekali memeluknya dan mengatakan bahwa saya ada untuk dia.

Saya ingin sekali mengatakan bahwa segalanya akan baik-baik saja, tetapi saya tidak bisa karena saya tahu saya akan sulit menjamin hal itu menjadi nyata. Saya hanya berpikir bahwa saya ingin membuat dirinya tenang, ingin mengusap bahunya untuk mengatakan bahwa dia tidak sendirian. Saya hanya ingin dia tahu bahwa ada teman yang bersedia mengangkatnya kembali ketika dirinya roboh oleh tekanan dari sana-sini, sehingga dia tidak takut untuk berjalan tegak kembali.

Masalah komitmen, bertahan pada satu hal yang justru hal itu yang membuatnya makin terpuruk. Saya tidak akan pernah berhak untuk mengatakan padanya agar menyerah saja dan mengatakan di ujung sana ada seseorang yang lebih baik. Tidak. Saya tidak pernah punya hak untuk mengatakan itu. Saya tahu siapa diri saya, saya hanya seorang teman, seorang pendengar yang hatinya tertampar karena salah satu teman dekatnya diperlakukan sebegitu tertekannya, hingga bahkan sulit untuk bernapas.

Masalah cinta, jika berpikiran untuk mencari cinta yang lebih baik sesungguhnya tidak akan pernah selesai, tidak akan berujung. Saya tidak pernah berani membicarakan soal cinta. Hanya berani membicarakan suka dan sayang yang bahkan kedua hal itu adalah hal tersulit yang saya ceritakan kepada orang. Saya mengatakan padanya, saya tidak tahu apa-apa masalah cinta, tidak pernah memiliki pengalaman yang cukup baik mengenai kata yang terdiri dari lima huruf itu. Namun, sejauh ini, dari beberapa hal yang saya yakini adalah ketika kamu memilih untuk mencintai seseorang adalah ketika kamu tidak merasa terganggu untuk berbagi dengan orang itu. Apapun itu. Seberapa buruknya keadaanmu, keadaannya, keadaan kalian berdua. Ketika kamu sudah memilih untuk mencintai seseorang adalah ketika kamu sudah bisa menerima kenyataan bahwa di dunia ini kamu tidak hanya hidup untuk dirimu sendiri. Hanya hal itu yang saya tahu, yang saya yakini kebenarannya. Saya tidak tahu apa yang dia pikirkan sekarang, saya hanya ingin nanti dia memiliki keputusan yang tepat untuk melanjutkan hidupnya dan bebas dari kekangan. Saya tidak ingin hal buruk terjadi padanya dan saya harap dia dapat menyelesaikan masalahnya dengan (sangat) baik.

Hari ini saya juga banyak bercerita dengan junior-junior dan senior-senior saya di kampus. Banyak hal yang saya respon hanya dengan satu dua kata, tetapi beberapa hal masuk ke dalam pikiran saya dan saya pelajari baik-baik. Saya bukan orang yang mudah mengungkapkan berbagai macam hal melalui lisan. Melalui tutur kata karena terkadang banyak hal yang terlupa untuk diucapkan sehingga banyak orang menjadi salah paham. Menyadari hal itu saya merasa bahwa saya sering menjadi orang yang sangat amat merepotkan, menjadi orang yang sangat amat egois karena ingin didengar, tetapi apa yang saya maksudkan sulit terungkap dari kata yang terucapkan.

Dulu, sebelum saya disadarkan oleh seorang teman yang tidak cocok dengan cara saya berteman, saya tidak pernah berpikir tentang cara saya, cara dia, atau cara-cara orang lain yang digunakan dalam berteman. Hal yang saya pikirkan, ketika saya ingin melakukan suatu hal kepada seorang teman adalah saya melakukannya apa adanya saya, dengan bekal 'karena saya ingin melakukan hal itu'. Ya, terkadang ketika kita merasa nyaman berteman dengan seorang teman, kita jadi sulit untuk memikirkan kenyamanan teman tersebut terhadap kita.

Saya tidak marah jika orang lain merasa tidak cocok dengan cara saya berteman, saya malah menjadi merasa amat bersalah dan merasa amat egois karena menyadari bahwa sebelum dia mengatakan tidak cocok berteman dengan saya, pastinya dia berusaha mati-matian untuk menyeimbangkan cara saya. Dia mati-matian melakukan apa yang saya mau. Dia mati-matian membuang rasa ketidaknyamanannya karena tahu saya melakukan hal yang justru malah membuat dia tidak nyaman. Saya merasa menjadi teman yang amat tidak berguna.

Banyak hal yang saya pelajari dari semua hal yang belakangan ini terjadi dalam hidup saya. Saya jadi menyadari bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa dipaksakan seberapa pun besar ketulusan yang saya tawarkan. Saya jadi mengingatkan diri saya sendiri bahwa setiap saya bertemu dengan satu teman baru maka ada satu pemikiran baru yang memiliki cara berbeda meskipun sama-sama berujung kebaikan. Saya tahu dan sadar bahwa semua orang pada dasarnya adalah baik, hanya kadarnya saja yang berbeda.

Ya, begitulah, semua orang memang memiliki cara masing-masing dalam melakukan sesuatu, saya tidak perlu menyukai semuanya, saya hanya perlu menghargainya. Sesederhana itu.




by Dita Oktamaya

Monday, September 3, 2012

Sibuk

Kamu yakin bisa meluangkan waktu untuk bertemu malam ini?
Yakin. Aku bisa meluangkan waktu, tetapi aku harus bertugas tiba-tiba, maaf.
Jadi malam ini kita tidak bisa bertemu?
Iya, maaf ya. Kamu ada waktu lain untuk bertemu?
Aku tidak tahu. Aku tidak mau menentukan, takut kamu sibuk dan ternyata tidak bisa bertemu lagi. Nikmati saja kesibukanmu, jaga kesehatan.


Aku menyudahi pesan singkat yang awalnya kukirim ragu padamu. Ya, sibuk. Kita selalu punya kesibukan masing-masing. Kesibukan yang tidak pernah sama. Dulu, ketika banyak aku bisa menghabiskan waktu bersamamu, kukira hanya aku yang bisa sibuk. Kesana-kemari melakukan berbagai macam hal hingga kamu pun menggelengkan kepala melihatku dikejar deadline ini-itu. Kamu yang dulu sering bertanya, meminta waktuku untuk dibagi. Kini, aku membaca pesanmu berulang kali, mulai menyadari meskipun ingin meluangkan waktu, manusia pasti selalu bisa kalah dengan kesibukannya. Selalu. Aku mengusap pelan dada sebelah kiri yang entah sejak kapan menjadi kebiasaanku saat hal yang kurang nyaman mengganggu perasaanku. Jauh hari sebelum kuinjakkan kaki di kota istimewa, kakakku pernah berpesan untuk selalu menjadi orang baik. Orang baik yang dapat mengatur perasaannya. Orang baik yang tidak mengganggu perasaan orang lain seburuk apapun perasaanku. Jadi kusimpulkan bahwa aku harus menjadi orang baik yang hidup dengan baik. Aku pun memesankan pesan itu padamu, untuk menjadi orang baik yang hidup dengan baik. Banyak cerita pernah kita bagi, tidak, bukan kita, tetapi aku. Kamu biasanya hanya mendengar, tersenyum, mengangguk, mengiyakan. Kamu yang selalu menurut perkataanku, meskipun sering aku bilang jangan. Kamu yang selalu berkata rindu ingin bertemu, tetapi tanpa daya menemukan waktu. Kamu yang tidak pernah terlibat dalam satu kesibukan yang sama denganku. Aku dengan kesibukanku dan kamu dengan kesibukanmu. Banyak kata yang sulit terucap hingga kamu tidak pernah tahu bahwa kamu adalah satu dari berbagai orang yang ingin kutemui ketika kesibukan mulai membuatku ingin menangis. Kamu adalah satu dari berbagai orang yang wajahnya ingin kulihat saat tanpa kira kudapati berita baik. Kamu adalah satu dari berbagai orang yang nomor kontaknya selalu ingin kukirimi pesan singkat untuk hanya sekedar sapaan selamat pagi. Semua itu tidak terucap. Tidak terucap karena kebodohanku dalam mengatakan apa yang ingin diungkap. Aku merindukanmu. Aku merindukan waktu yang kita habiskan bersama untuk bercerita, bertukar pikiran, dan tertawa. Sibuk itu selalu bisa merebut waktumu dariku. Tidak. Aku tidak pernah berani menyalahkan apapun atau siapapun. Seperti yang sering kukatakan, pada akhirnya manusia memiliki kesibukannya masing-masing. Aku hanya iri dengan orang yang banyak memiliki kesibukan yang sama denganmu. Iri dengan mereka yang memiliki waktu lebih banyak bersamamu. Iri ini juga tidak terucap. Rasa iri yang cukup untukku saja. Tidak apa. Jangan khawatir. Aku hanya sekedar iri, bukan iri yang berarti, hanya iri karena jauh dari yang aku bayangkan aku banyak merindukanmu. Seharusnya bisa dengan mudah rindu ini terselesaikan. Aku merindukanmu, kamu merindukanku. Penyelesaiannya hanya bertemu. Ya, seharusnya bisa sesederhana itu yang kemudian menjadi rumit karena sibuk terlalu pelit untuk memberi kita waktu untuk bertemu.


by Dita Oktamaya

Thursday, August 30, 2012

Jangan Pergi Tiba-tiba. Jangan Diam Tiba-tiba.


Meminta maaf dan memaafkan itu mudah, yang tersulit adalah melupakan persoalan dan bertindak seolah tidak terjadi apa-apa.



Saya membaca tulisan itu di sebuah jejaring sosial. Membacanya baik-baik. Kemudian saya teringat beberapa minggu yang lalu, ketika kesalahpahaman terjadi antara saya dengan teman saya. Saya menyebutnya Soul Sister dan teman-teman yang lain menyebut dia sebagai Soul Sister saya karena menurut saya (dan teman-teman lain pun mengakui) sebutan Soulmate terlalu mainstream.

Dia teman yang baik, teman yang sangat baik. Seharusnya saya bisa menjaga perasaannya, tetapi saya terlalu ceroboh untuk menitikkan satu salah yang membuat hatinya sakit (mungkin, saya tidak tahu karena saya tidak pernah bisa menjadi dia). Saya salah, salah yang berawal dari masalah yang sangat kecil. Salah yang membuat dia selama seminggu menghindari kontak mata dengan saya. Salah yang selama seminggu membuat dia tidak mau berbicara dengan saya. Salah yang selama seminggu membuat dia terlihat merasa terusik dengan kehadiran saya di sekitarnya. Salah yang saya perbuat. Kesalahan konyol yang membuat saya kehilangan perhatiannya yang seperti biasa.

Salah yang terjadi pada sore hari, dengan beberapa jam saya diam karena saya merasa kesal. Jujur, saya bukan kesal karena dia, tetapi saya kesal dengan diri saya sendiri karena tidak bisa menjadi teman yang bisa dia andalkan. Maka dari itu saya diam, saya tidak berani melihat matanya. Saya merasa bersalah karena saya teman yang terlalu lemah, sedangkan dia terlalu tegar. Saya merasa marah pada diri saya sendiri karena saya tidak dapat berbuat apa-apa ketika dia sedang lelah. Saya marah pada diri saya sendiri dan merasa sungkan dengan dia karena dia tidak bisa mengandalkan saya. Saya bukan marah kepada dia, tetapi saya tidak mengatakannya. Ketika saya ingin menjelaskan apa yang saya rasakan, dia sudah menarik hatinya, dia diam, tidak ingin melihat saya.

"Mungkin akunya aja kali yang lagi pengen diem kayak gini. Kamu juga tadi diem kayak gini aku enggak protes, kan? Sekarang aku diem kayak gini, kenapa kamu protes?"

Saya jadi sesak napas mendengar perkataannya pada saat itu. Ya, dia benar. Saya tidak sepantasnya protes dengan aksi diamnya karena kebodohan saya dalam menjelaskan perasaan saya, sehingga terjadi kesalahpahaman yang membuat hubungan kami menjadi tidak baik. Saya diam, hati saya seperti ditempeleng tanpa ampun, saya merasa bodoh. Pada saat itu ingin rasanya saya menjelaskan apa yang saya rasakan, tetapi saya tidak berani. Ya, dia belum tentu ingin mendengarkan saya.

Saya tidak tenang dengan situasi yang berada di antara kami. Saya mencari waktu untuk berbicara berdua dengannya, kalian tahu? Memiliki kesalahpahaman dengan orang yang kalian anggap teman adalah hal yang tidak mengenakan, apalagi jika kalian menganggap teman itu adalah teman dekat yang menjadi semangat kalian dalam menjalani kehidupan seperti karantina relawan.

"Ini bukan masalah minta maaf, aku enggak melarang kamu minta maaf. Hanya saja mungkin aku bukan tipe yang kayak kamu. Orang yang bisa marah, kemudian diam trus beberapa jam kemudian seperti biasa lagi, seperti enggak pernah terjadi apa-apa. Aku enggak kayak gitu, jadi biar aja aku diem kayak gini, mungkin emang akunya yang lagi pengen diem jadi ya biarin aja."

"Trus kamu mau diem sampai kapan? Jangan lama-lama ya."

"Ya, enggak tau. Mungkin besok aku udah biasa lagi, mungkin juga lusa, atau minggu depan, atau dua minggu lagi, atau kapan aku enggak tahu."

Saya terdiam mendengar perkataannya ketika saya menanyakan lagi kenapa dia diam dan meminta maaf atas kesalahan konyol yang saya perbuat. Entahlah, saya tidak sebaik itu, saya bukan tipe yang bisa marah, diam, dan beberapa jam kemudian kembali seperti biasa seperti tidak terjadi apa-apa. Tidak. Saya tidak sebaik itu, hal yang pada saat itu saya lakukan adalah saya menekan ego saya, menekan rasa kesal saya terhadap diri saya, menekan ekspresi diam saya, menekan perasaan tidak baik saya untuk membuktikan kepada dia bahwa saya tidak marah padanya, untuk membuktikan bahwa saya menganggap dia tidak memiliki salah apa-apa pada saya.

Selama seminggu dia diam kepada saya. Saya tidak tahu harus berbuat apa, benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Saya jadi sering bengong dan tidak bersemangat melakukan sesuatu. Berlebihan, memang, tetapi saya jamin kalian pasti akan merasakan hal yang sama ketika teman yang kalian anggap teman dekat, menghindari kalian bagaimana pun caranya. Rasanya di kepala kalian tidak terisi pikiran seperti apapun, kosong.

Melihat saya yang pada saat itu terkatung-katung, ada satu teman yang tidak tega melihat saya yang menurutnya seperti orang tidak punya tulang. Tidak bisa diajak berdiri tegak. Dia menatap saya yang pada saat itu sedang membantunya (merecoki, lebih tepatnya) mencuci piring.

"Aku harus gimana lagi ya? Biar bisa dimaafin? Biar dia kembali seperti semula." ketika itu katanya saya menatap tempat cuci piring tanpa kedip, kemudian menggaruk-garuk rambut, kemudian terdiam.

"Masih belum bisa cair ya dia? Mau dimediasiin biar kita ngomong bertiga?" dia mengambil gelas yang daritadi saya pegang, kemudian meletakkannya di tempat yang seharusnya diletakkan.

"Ah, enggak usah. Ngapain pake mediasi segala, jadi berasa dukun, ngeri."

"Ya terus mau sampe kapan kalian diem-dieman? Aku seneng loh lihat kalian yang biasanya bareng-bareng cerita berdua, kayaknya cuma kalian yang tau, seru gitu, kayak beneran liat ada kakak-adek lagi curhat-curhatan."

"Ya, katanya dia butuh waktu. Jadi, kasih dia waktu aja. Biar dia melakukan apa yang dia mau, aku enggak mau buat dia enggak nyaman dengan ngomong bertiga. Enggak apa-apa ya enggak dimediasiin? Ini masalah kami jadi ya sudah, biar kami aja yang ngerasain. Enggak apa-apa ya?"

"Ya enggak apa-apa sih, kan aku cuma menawarkan. Tapi kamunya enggak apa-apa? Udah enggak enak bergerak gitu, enggak ada semangatnya, kita juga pengen liat dita yang dulu, dita yang semangat."

"Enggak apa-apa kok. Kalau dia bilang butuh waktu, ya aku tinggal nunggu. Semua akan baik-baik aja kok, dia kan teman yang baik."

"Kamu juga teman yang baik kok, Dit."

"Oh ya? Tapi dia marah sama aku. Ya sudah, semoga bener aku teman yang baik."

Ya, pada saat itu saya benar-benar berharap kalau saya adalah teman yang baik untuk dia. Saya juga tidak ingin membuat dia tidak nyaman dengan mediasi yang saya tidak tahu akan bagaimana ujungnya. Saya bukan tipe orang yang suka mengumbar-umbar jika sedang memiliki masalah, tetapi ketika ada beberapa orang yang menyadari masalah yang saya hadapi, saya memberi ruang untuk mereka agar mengetahuinya, tetapi tidak membiarkan mereka masuk untuk menyelesaikannya.

Ini salah saya, ini masalah saya, jadi ini tanggung jawab saya. Kalian tidak seharusnya saya repotkan untuk menyelesaikan masalah yang saya timbulkan, tetapi terima kasih karena kalian menjaga perasaan teman dekat saya itu, sehingga dia nyaman meskipun bercanda tanpa saya.

Saya senang karena beberapa hari setelah perbincangan cuci piring itu, dia sedikit-sedikit kembali seperti dia yang dulu. Dia yang mau bercerita dengan saya. Dia yang menggoda saya karena saya selalu pakai segala sesuatu kegedean. Dia yang membalas lelucon saya untuk menjadikan seorang teman lain sebagai objeknya. Dia yang partner in crime saya. Dia yang soul sister saya. Dia yang seperti biasanya.

Saya tidak tahu apakah kamu ingat perbincangan kita sebelum kita tinggal bersama dengan enam orang lainnya di tempat yang belum kita datangi sebelumnya itu. Dulu saya mengatakan padamu jangan heran jika kamu mendapati kebingungan orang lain melihat perhatian saya kepada teman yang saya anggap teman dekat saya.

Enam orang itu menganggap perhatian saya kepada kamu, seperti perhatian adik yang menyayangi kakaknya, saya tidak mengerti bagaimana perhatian saya terhadapmu terlihat oleh mereka, tetapi begitulah yang dikatakan semua orang ketika saya memberikan perhatian kepada orang-orang yang saya pedulikan. Orang-orang yang saya anggap teman dekat saya. Maaf jika cara saya membuatmu tidak nyaman, jika memang ada hal yang membuatmu tidak nyaman, katakanlah. Jangan pergi tiba-tiba, Jangan diam tiba-tiba. Karena jika kamu melakukan hal itu, saya tidak tahu bagaimana cara memperbaiki cara saya yang tidak kamu suka. Jika kamu melakukan hal itu, saya tidak tahu bagaimana cara mempertahankan kamu menjadi teman saya.

Saya tidak tahu apakah kamu ingat ketika kamu mengajak saya membeli kue ulang tahun untuk timmu, tetapi tidak menanyakan persetujuan saya mengikutimu atau tidak. Pada saat itu saya senang, saya senang karena kamu tidak sungkan meminta persetujuan saya. Saya senang karena kamu mengajak saya. Senang, karena pada saat itu saya merasa kamu mengakui keberadaan saya.

Saya tidak tahu apakah kamu ingat perbincangan kita di toko kue ulang tahun, saat kamu sibuk memilih kue dan saya sibuk mengamati merk coklat yang dipajang di sana.

"Trus, Dit. Kok kamu enggak marah kalau aku ngomong kamu kecil, sering pake baju kegedean, dan lain-lainnya yang sering aku omongin? Teman-temanku bilang aku ini orangnya ceplas-ceplos loh, trus bilang kalau ada teman yang enggak terlalu kenal aku, pasti bakalan sebel dan sakit hati. Kamu kok enggak marah?"

"Ah, aku sih enggak apa. Selama kamu bisa jadi teman yang baik."

Kamu tahu? Pada saat itu saya tidak hanya asal bicara. Ya, saat itu saya sangat percaya kalau kamu adalah teman yang baik. Saya sangat percaya kalau kamu nantinya dapat menjadi teman baik yang saya punya.

Meskipun beberapa minggu setelah mengatakan itu, selama seminggu kamu menghindari saya hingga saya guling-guling, mencari cara bagaimana kamu mau melihat mata saya lagi. Meskipun beberapa minggu setelah mengatakan itu, kamu diam seribu bahasa karena kamu ngambek dengan saya. Sampai saat saya mengetik blog ini pun, saya masih percaya kamu dapat menjadi teman baik yang saya punya. Maaf jika saya banyak merepotkanmu, banyak membuatmu jengkel, banyak membuatmu risih dengan segala kekurangan saya sebagai temanmu. Maaf jika banyak kata yang sulit terucap hingga kesalahpahaman terjadi di antara kita. Maaf jika begitu banyak saya mengandalkanmu, hingga kamu lelah dengan saya. Maaf dan terima kasih, karena setelah berbagai kesalahan yang saya lakukan terhadapmu, kamu mau memulainya dari awal dan menjadi dirimu seperti semula lagi.


-----


NB : Dedicated to Arindya Ciptasari, saya ingin mempertahankanmu sebagai teman saya, sebagai teman baik yang saya punya. Jika kamu tanya alasannya, saya tidak tahu pasti. Yang saya tahu, ketika saya sedang pusing memikirkan kuliah saya, tugas saya, persiapan untuk KKN dan segala hal yang membuat saya merasa sendirian. Kamu dengan mudahnya mengajak saya pergi, membuat saya merasa tidak sendirian dengan berbagai cerita yang kamu bagi dan hal itu yang membuat saya percaya kamu adalah teman yang baik dan saya ingin mempertahankanmu menjadi teman baik yang saya punya. Saya akan berusaha semampu yang saya bisa agar kesalahpahaman tidak terjadi lagi di antara kita, karena mendapati teman macam kamu cemberut tanpa mau melihat mata saya adalah hal yang banyak mengusik pikiran saya. You've been a very kind friend to me when i had none and i would never want to make you unhappy.


by Dita Oktamaya

Thursday, August 16, 2012

Jangan Bersedih Karena Berpisah


Mereka yang telah membuat saya mengerti keindahan dalam berbagi

-----

Aku mengenal dikau
Tak cukup lama…separuh usia ku
Namun begitu banyak..pelajaran
Yang aku terima

(Padi - Harmoni)

-----
Hai apa kabar? Apa kalian sedang dalam keadaan baik-baik saja? Saya rindu bercengkrama dan bercerita ini-itu dengan kalian. Masih menyimpan banyak hal untuk diceritakan kepada saya? Kalau saya, banyak. Maaf sebelumnya karena sebulan ini saya tiba-tiba menghilang. Saya harus mengabdikan diri kepada masyarkat, membangun desa demi pembangunan negara. Agak berlebihan memang, tetapi sepertinya hal itulah yang menjadi tujuan kegiatan yang saya ikuti ini. Semoga saja benar-benar bermanfaat, saya sangat berharap untuk itu.

Seperti yang sudah pernah saya ceritakan di postingan sebelum-sebelumnya. Mengenai KKN, Kuliah Kerja Nyata yang harus saya lakukan sebagai salah satu syarat kelulusan di kampus saya. Awalnya saya tidak terlalu minat untuk memfokuskan diri untuk menjalani KKN ini, tidak ada hasrat karena pada masa mengurusi ini-itu mengenai KKN, saya juga masih harus mengurusi perkuliahan saya yang tingkat keabsurdannya terlalu berlebihan.

Saya tidak banyak mengenal teman-teman satu unit saya yang keseluruhan ada 23 orang, yang saya tahu adalah mereka semua orang yang baik, tetapi tidak semuanya bisa saya kenal dengan dekat. Kami dibagi per subunit, pada tim saya terdapat 3 subunit, masing-masing subunit ada 8 atau 7 orang.

Sejujurnya saya adalah orang yang sangat terbuka menghadapi sesuatu yang baru, tetapi terkadang saya takut, takut saya tidak sanggup melebur dengan mereka dan takut mereka sulit untuk bisa menerima saya menjadi bagian dari mereka. Hanya sekedar takut, saya tidak mengumbarnya apalagi menunjukkan dengan jelas ketakutan saya itu. Saya bukan tipe pengeluh seperti itu. Hanya dirasakan, cukup saya saja.

Banyak teman bilang saya adalah orang yang cuek dan tidak peka, yang merespon dengan hanya satu dan dua kata. Namun, setelahnya mereka akan bingung ketika saya menyebutkan hal-hal apa yang mereka suka dan tidak suka, cerita apa saja yang pernah mereka katakan kepada saya, yang tetap mereka ceritakan, meskipun mereka mendapat respon hanya satu dua kata. Well, cuek dan tidak peka bukan berarti saya tidak peduli, kan? :)

Saya adalah tipe orang yang sering tebak-tebak tidak pasti mengenai watak seseorang dan anehnya tebakan itu sebagian besar lebih sering terbukti benar daripada terbukti salah.

Tibalah saya ditempatkan di salah satu subunit dengan 7 orang lainnya yang tidak secara keseluruhan saya kenal dengan baik. Selama satu setengah bulan saya hidup dengan mereka dan di sinilah semua bermula...

ini kami berdelapan (kiri-kanan : Reno, Eviyan, Ajeng, Dita, Mba Anggun, Arin, Reza, Seno)

Awalnya saya hanya berpikir bagaimana bisa menyelesaikan tugas saya di KKN ini dengan baik dan cepat agar bisa dengan cepat pula saya pulang ke rumah dan liburan. Namun, lama kelamaan karena keterbiasaan satu sama lain, mereka pun memiliki peran tersendiri dalam keseharian saya. Saya merasa senang mengenal mereka yang pada dasarnya memang orang-orang yang menyenangkan.

Oh ya, apa saya sudah bilang KKN saya dilaksanakan di lereng semeru? Ya, di sana dingin sekali. Saya sampai harus menjerit-jerit kedinginan setiap kali harus mandi dengan air yang diambil langsung dari mata air pegunungan (kenapa terbaca seperti iklan suatu produk minuman ya? =.=).

Dinginnya udara di lereng semeru bisa begitu mudah ditutupi oleh kehangatan sebuah keluarga kecil subunit yang saya huni. Mereka teman-teman yang baik, ah apa saya perlu memperkenalkan mereka satu-satu? Baiklah jika begitu...


kami yang baru saja memberi surprise untuk Mba Anggun yang berulang tahun

Arindya, meskipun seumuran, saya menemukan sosok seorang kakak pada diri Arin. Rasanya nyaman setiap kali bercerita banyak hal dengan dia. Saya sering memanggil dia dengan sebutan Arinski atau Rinski. Dia adalah orang yang fokusnya sering terpecah dan orang yang mudah bosan jika melakukan sesuatu, hingga saya sering menemukan dia tertidur atau terbengong tiba-tiba. Teman-teman subunit sering mengatakan bahwa dia orang yang judes dan antagonis, tetapi menurut saya tidak, dia orang yang menyenangkan dan membuat nyaman. Arin pernah bilang bahwa manusia yang hidup di dunia ini seperti lolipop besar yang berbentuk bundar, warna dalam lolipop itu ibarat manusia yang memiliki warna tersendiri dalam dirinya dan lolipop yang bundar itu ibarat bumi yang bulat. Manusia dengan berbagai warna menjadi satu di dunia dan bersatunya manusia dengan berbagai warna dapat membawa keselarasan yang indah di bumi, sehingga jadi terasa manis seperti permen lolipop. Analogi yang unik, saya suka.


Ajeng, jika buat saya Arin adalah sosok seorang kakak, kali ini ajeng adalah sosok seorang ibu. Saya lebih sering memanggil dia Jengski atau Momski. Dia adalah teman yang sangat pandai memasak. Dia bisa tiba-tiba membuka kulkas dan memandanginya sangat lama sampai terduduk di depannya. Dia adalah orang yang banyak mengalami kepanikan tersendiri terhadap sesuatu dan jika sudah begitu saya bingung harus meninggalkannya dalam keadaan panik atau harus menenangkan dirinya yang sangat sulit untuk ditenangkan.


Anggun, saya lebih sering memanggil dia Mba Anggunski, dia adalah korban pem-bully-an saya dengan Arin. Sebenarnya dia adalah senior satu tingkat di atas kami, tetapi mengambil KKN di tahun yang sama dengan kami. Karena senior satu tingkat, maka kami semua memanggil dia dengan sebutan Mba. Dia sering menyebut saya dan Arin adalah partner in crime tukang mem-bully orang-orang yang lemah seperti dia. Kalau boleh jujur, Mba Anggun ini adalah orang yang sangat sabar karena di-bully seperti apapun dia akan tetap dengan lapang dada membiarkan kami melanjutkannya. Kalau kata Arin, Mba Anggun memiliki selera humor yang rendah, analoginya : bahkan melihat pulpen yang jatuh tidak sengaja pun dia bisa tertawa.


Reno, semua orang di subunit ini bilang saya dan dia seperti bapak dengan anak. Panggilan saya terhadap dia adalah papski. Namun, kalau boleh mengkonfirmasi lebih jelas, jika bersama Arin saya menemukan sosok seorang kakak perempuan, jika bersama Reno saya bisa menemukan sosok seorang kakak laki-laki. Bila sudah berbincang dengan Reno, banyak hal yang dengan sendirinya keluar, tertumpahkan, terceritakan, hampir sama ketika saya menghabiskan waktu bersama Arin. Kalau kata Ajeng, di subunit ini hanya ada 2 orang yang sangat menjadi perhatian saya, yang pertama selalu Arin dan yang kedua Reno. Saya tidak pernah tahu seperti apa perhatian yang saya berikan kepada mereka, tetapi ketika saya peduli dan memberikan perhatian kepada seseorang, itu karena saya benar-benar ingin melakukannya dan benar-benar peduli akan orang itu, bukan sekedar basa-basi atau pura-pura.


Eviyan, saya memanggilnya dengan sebutan omski, dia adalah sosok teman yang sangat mudah diajak bercanda. tingkah laku yang unik dan suka melakukan berbagai kegiatan di luar hal yang sewajarnya dapat menimbulkan berbagai kebingungan tersendiri bagi orang-orang yang tidak terbiasa bersamanya. Dia memiliki panggilan sebenarnya Eep dan sering digoda oleh teman-teman satu subunit menjadi Eep di celana, Eep di sarung, atau hal-hal absurd lainnya. Namun, meskipun unik dan suka bercanda, Eep adalah sosok teman dengan tingkat kepedulian yang tinggi dan ya, dia teman yang menyenangkan.


Seno, dia adalah sosok tetua, sering saya menyebutnya pakdhe, tapi teman-teman sering menyebutnya mbah karena memang fisiknya yang tidak terlalu leluasa untuk mengerjakan pekerjaan yang agak berat. Meskipun begitu dia adalah orang pintar dengan berbagai prestasi dan pengalaman yang baik. Saya banyak mendengar ceritanya dan banyak belajar darinya. Dia pernah mengaku memiliki trauma tersendiri terhadap orang judes dan orang cerewet, sehingga dia meminta maaf kepada Arin karena tidak berani untuk memulai pembicaraan lebih dulu karena merasa bahwa Arin adalah orang yang judes. Kata-kata andalannya ketika terjadi hal tidak baik menimpanya adalah 'aseng' dan orang yang paling bisa menirukan cara bicaranya dengan sangat baik adalah Arin.


Reza, dia adalah orang yang mungkin bisa tidur lebih dari 24 jam dan sepertinya dia bisa tidur dimana saja. Saya memanggilnya Paklek. Dia adalah seorang gitaris yang baik, saya banyak belajar darinya mengenai musik. Saat melaksanakan kegiatan KKN, dia berkenalan dengan seorang gadis, anak dari pemilik toko depan homestay saya. Entah hanya bercanda atau memang perasaannya sudah berkata iya. Saya berharap yang baik untuk dia dan si mba warung depan rumah pondokan itu. Semoga langgeng :D
Saya mengenal mereka tidak cukup lama, tetapi 1,5 bulan berada di atap yang sama dengan mereka dan rutinitas yang membuat saya terbiasa menghadapi perilaku mereka (yang terkadang berada di luar akal sehat saya) membuat saya banyak belajar tentang perbedaan.
Seperti yang sering saya katakan, semua orang punya cara masing-masing dalam melakukan sesuatu, saya tidak pernah punya hak untuk marah, untuk menyalahkan, untuk meremehkan karena saya juga punya cara tersendiri.
Saya bukan tipe orang pemaksa agar orang lain bersedia menerima cara saya, yang terpenting bagi saya adalah ketika orang lain berteman dengan saya, orang tersebut merasa nyaman berinteraksi dengan saya dan tidak merasa terganggu dengan keberadaan saya di sekitarnya.


Jika diberi pilihan saya lebih memilih meleburkan diri untuk mengikuti cara mereka, tetapi itu bukan berarti saya tidak punya cara tersendiri, justru itulah cara saya, melebur dengan mereka, membiarkan mereka masuk dengan cara mereka ke dalam diri saya.


Sekarang kegiatan KKN sudah berakhir, saya tidak tahu harus bagaimana saya ungkapkan perasaan saya karena tahu saya telah berpisah dengan mereka. Keluarga kecil yang membuat saya lebih bisa menata apa yang berada di dalam diri saya. Keluarga kecil yang membuat saya bisa menekan rasa ego saya, sehingga saya menyadari tidak semua hal bisa berjalan sesuai dengan keinginan saya. Keluarga kecil yang membuat saya hangat di tengah dinginnya angin semeru yang menusuk kulit hingga saya malas mandi. Keluarga kecil yang membuat saya tidak pernah berpikiran untuk meninggalkan sholat satu kali pun. Keluarga kecil yang menambahkan banyak tawa di kosongnya hati saya ketika saya merindukan orang-orang rumah di Jakarta.


Saya suka sekali berada di antara kalian. Saya suka makan bersama kalian, menggelar sajadah bersama dan sholat berjamaah dengan kalian, saya suka nonton tv dan mengomentari setiap hal yang ditayangkan di tv bersama kalian. Saya suka ketika saya membuka mata di pagi hari saya menemukan kalian sedang asik bercengkrama satu sama lain membicarakan agenda yang harus dijalani hari itu, saya suka berwisata dengan kalian, saya suka bersenda gurau dengan kalian, saya suka cara kalian memperlakukan saya dan membuat saya tertawa senang.


Kalian orang-orang baik yang menyenangkan. Maaf jika selama 1,5 bulan kalian berada di atap yang sama dengan saya, saya merupakan orang yang susah diatur, orang yang masih kekanak-kanakan, orang yang tidak memiliki keahlian apa-apa, orang yang sering membuat masalah, orang yang menyebalkan, orang yang manja, dan orang yang merepotkan.


Maaf saya hanya bisa menjadi saya yang seperti ini dengan berbagai kecerobohan dan ketidakpastian pemikiran. Terima kasih karena kalian telah bersedia menerima saya yang seperti ini, terima kasih karena kalian begitu baik meninggalkan kenangan yang baik untuk saya.


Nanti, setelah kalian tidak sibuk, saya tidak sibuk, kita sama-sama tidak sibuk, saya ingin kembali bertemu dengan kalian. Saya ingin ketika bertemu dengan kalian, saya masih bisa melihat senyum yang sama menyenangkannya, cerita yang masih sama serunya, dan tawa yang masih sama cerianya.


Sehat terus ya kalian, kalian adalah orang yang baik, jadi seperti hal yang saya pesankan kepada kalian, orang baik harus hidup dengan baik.

Sampai bertemu di waktu yang berbeda dengan pemikiran yang lebih dewasa. Tetaplah seperti kalian yang semenyenangkan seperti sekarang ini, saya mohon jangan berganti. Jika memang harus berganti, jadilah kalian yang beberapa langkah lebih maju dan kalian yang beberapa tingkat lebih baik. Sampai tiba waktunya kita bertemu lagi, selama itu saya akan banyak sekali merindukan kalian.


-----


NB : Dedicated to Subunit 1 Wonorejo, terima kasih kalian sudah menjadi teman sekaligus keluarga yang begitu baik terhadap saya. Maaf jika begitu banyak kesalahan yang telah saya lakukan, jika ada hal yang tidak berkenan di hati kalian, katakanlah. Jangan tiba-tiba pergi meninggalkan saya. Apapun kesalahan itu, please let me know, because i'll try my best to fix it.

by Dita Oktamaya