Showing posts with label Dita's Words. Show all posts
Showing posts with label Dita's Words. Show all posts

Sunday, February 3, 2013

Selamat Bertambah Umur, Black Giraffe :)


"Aku hanya ingin memberikan sebuah kenangan, karena kenangan yang terkumpul bersamamu selama 365 hari adalah inspirasi untukku dan aku tidak akan pernah bisa melupakanmu. Bagiku, mengenalmu adalah titik gemar yang menjadi candu untuk menjalani hidup lebih baik lagi, selamat ulang tahun, Sahabatku."



Maaf saya lupa membeli lilin, hingga kamu tidak bisa meniup lilin ulang tahun seperti seharusnya manusia berulang tahun lainnya. Maaf saya merepotkanmu dengan tiba-tiba hadir di rumahmu dan membuat kegaduhan yang tidak seharusnya seorang manusia lakukan di rumah manusia yang lain. Maaf saya tidak bisa memberimu banyak kebaikan, hingga (sepertinya) kamu merasa begitu sengsara bersahabat dengan saya. Maaf karena terlalu banyak kesalahan dan kerepotan yang saya timbulkan, hingga kamu merasa gemas kepada saya. Maaf atas waktu yang terlalu sedikit, hingga kita tidak punya cukup ruang untuk menghabiskannya bersama. Maafkan atas segala kekonyolan, kebodohan, dan ketidakpekaan saya terhadap hal yang kamu inginkan.

Selamat ulang tahun, Sahabat yang tiada duanya, semoga di ulang tahunmu yang kesekian tahun ini membuatmu lebih bahagia dan bisa membahagiakan orang-orang yang berada di sampingmu dengan setia, membuatmu lebih menjadi pribadi yang selalu berhati nyaman seperti Jogjakarta, membuatmu lebih pandai merasa, membuatmu lebih banyak bersyukur atas apa yang ada. Sehat terus ya kamu, jadi nanti setelah berbagai hal yang memaksa kita untuk tidak bertemu dalam waktu yang lama terlalui, saya masih bisa melihatmu tersenyum bahagia dan tertawa bersama yang selalu membuat saya nyaman bersahabat denganmu *peluk erat*


by Dita Oktamaya

Friday, September 21, 2012

Itu Saja

Kita bertemu lagi dalam sapa hangat seperti dulu.

Banyak tawa terbagi karena butuh kuungkapkan semua cerita seperti janji.

Tidak ada kata yang tidak terucap, semua meluap seolah menuturkan kata menjadi ahliku.

Aku tidak ingin diam, menjadikan pertemuan sia-sia.

Membiarkanmu bosan karena sama-sama kehabisan kata.

Aku bercerita, dengan dirimu yang mengangguk dan mengiyakan kata demi kata agar leluasa aku tertawa.

Bukan ego yang merajai masing-masing kita.

Namun, paham untuk saling berinteraksi bertukar cerita.

Begitulah kita dengan berbagai cara.

Aku dengan bercerita, kamu dengan tertawa.

Interaksi yang begitu sulit ditentukan karena imajinasi kata tidak merata.

Namun, kita tetap nyaman. Itu cara kita.

Cara kita untuk mempertahankan kita.

Cara kita untuk tidak kehilangan kita.

Menyesuaikanmu adalah hal tersulit bagiku.

Tentu tak kuungkapkan karena kutahu sulit bagimu menyesuaikanku.

Namun, Kuleluasakan dirimu untuk menjadi apa adanya saat bersamaku.

Itu caraku.

Karena inginku semua berjalan dengan kenyamanan yang apa adanya.

Tanpa dirimu yang menjadi orang lain.

Itu saja.


by Dita Oktamaya

Friday, September 14, 2012

Mungkin Saya Belum Beruntung

Hari ini banyak janji yang harus sedikit ditunda karena berbagai kesibukan masing-masing beberapa orang di sekitar saya. Padahal saya sudah menunggu waktu untuk berbincang-bincang dan menghabiskan waktu bersama mereka dengan sangat bersemangat. Salah satu janji bahkan hingga sampai terbawa mimpi karena terlalu kangennya saya terhadap salah satu teman saya itu.

Namun, semua hal harus dijalani sesuai dengan prioritas masing-masing. Mereka memiliki kewajiban yang sudah sangat sepantasnya dijadikan prioritas utama demi kelangsungan kegiatan mereka yang jauh dari urusan saya. Saya tidak boleh menyalahkan, tidak boleh protes, dan tidak akan pernah punya hak untuk mengeluhkannya kepada mereka karena mereka pun pada dasarnya sudah ingin berusaha meluangkan waktu untuk bertemu saya, meskipun ada sedikit kecewa karena merasa janji itu terbengkalai begitu saja.

Semua orang memiliki skala prioritas dalam melakukan kegiatannya. Mungkin kali ini saya saja yang masih belum beruntung untuk dijadikan prioritas utama mereka. Tidak apa. Saya tidak keberatan akan hal itu.

Memikirkan waktu yang begitu sulit ditemukan untuk dibagi bersama, menjadikan diri saya lebih menghargai sedikit waktu yang saya miliki untuk dihabiskan bersama mereka, sedikit waktu yang terkadang membuat hati saya terenyuh ketika waktu itu habis dan kami harus menyudahi pertemuan yang terjadi dalam waktu hanya beberapa jam saja.

Seolah-olah di otak saya tertanam satu kalimat : "Kapan lagi bisa ketemu seperti ini?"

Ya, saya paham betul bagaimana rasanya berada di antara orang-orang sibuk yang memiliki waktu hanya satu dua jam, atau bahkan hanya setengah jam untuk saling sapa atau sekedar bertukar salam. Tidak apa. Saya berusaha belajar menerimanya. Karena menurut saya, ketika kalian sudah memutuskan untuk memiliki keterkaitan hubungan dengan seseorang, ketika itu juga kalian memutuskan untuk rela (bagaimana pun caranya) menyesuaikan diri kalian dengan mereka, tanpa merasa terbebani sedikit pun.



by Dita Oktamaya

Wednesday, September 12, 2012

Kejutan (?)

Hari ini cukup banyak kejutan yang saya dapatkan, setelah beberapa hari sebelumnya saya merasa terpuruk dan merasa tidak berguna karena tidak melakukan hal berarti yang membuat saya jadi belajar tentang sesuatu.

Kejutan pertama adalah pengumuman bahwa para mahasiswa tingkat akhir yang bermaksud menyusun skripsi pada semester ini, akan dikumpulkan dan diberikan pengarahan pada tanggal 17 September 2012 depan. Ah, akhirnya kami diberi kepastian setelah beberapa hari digantungkan hidupnya karena tidak ada pengumuman tentang kelanjutan studi kami. Dan ya, Saya berharap saya bisa memanfaatkan waktu sebelum pengarahan skripsi tersebut untuk mematangkan proposal skripsi yang menjadi penentu tema skripsi yang akan saya tulis.

Kejutan kedua adalah saya mendapati teman saya yang menceritakan tentang kehidupannya yang belakangan disadari sedikit (atau banyak, entahlah, dia yang merasakan) terkekang dengan sang pacar yang agak lebih suka mendominasi hidup manusia yang pada dasarnya belum menjadi istrinya.

Begini, saya akui saya adalah orang yang cuek (meskipun beberapa orang sering bilang, jika saya sudah memberi perhatian kepada seseorang, orang lain yang melihat akan merasa luluh dan iri secara bersamaan, entahlah, saya tidak terlalu mengerti maksud mereka itu bagaimana, ya kira-kira seperti itu), tetapi jika saya merasa saya berteman baik dengan seorang teman (karena ketika kita berteman dan merasa dekat dengan seorang teman, tidak menutup kemungkinan bahwa teman tersebut memiliki rasa kedekatan yang sama, tetapi bisa jadi malah sebaliknya, tidak merasa dekat sama sekali) apa yang dia rasakan, menjadi apa yang saya rasakan (meskipun saya tahu saya tidak berada pada posisinya).

Maksudnya begini, ambil satu contoh beberapa waktu lalu ketika teman dekat saya semasa KKN (sampai saat ini saya harap kami akan terus berteman dekat) kemarin, Arin, diberi kuasa oleh koordinator mahasiswa unit, untuk mengurusi ini-itu mengenai laporan program kegiatan KKN, saya merasa khawatir. Bukan, bukan karena saya merasa bahwa Arin tidak bisa diandalkan (justru dia sangat bisa diandalkan), tetapi karena saya merasa itu akan sangat merepotkan Arin yang hanya tinggal seorang diri di Jogja, sementara teman-teman yang lain sudah berada di kampung halaman masing-masing untuk merayakan hari raya idul fitri. Padahal, jika dilihat dari ekspresi wajah Arin, dia terlihat tidak keberatan diberi tugas yang sedemikian menjengkelkannya. Namun, saya masih merasa tidak rela, masih merasa bahwa tidak seharusnya Arin direpotkan. Dia sudah terlalu banyak membantu dalam banyak hal, dia terlalu baik.

Lalu seperti hari ini yang tiba-tiba saya bertemu dengan teman saya, yang mulai menyadari hidupnya terkekang dengan segala macam bentuk peraturan yang dibuat oleh pacarnya. Saya tahu, saya tidak akan pernah menjadi dia, tetapi saat dia menceritakan perasaan yang sesungguhnya (setelah sekian banyak tekanan yang pada akhirnya membuat pertahanan dirinya roboh) saya ingin sekali memeluknya dan mengatakan bahwa saya ada untuk dia.

Saya ingin sekali mengatakan bahwa segalanya akan baik-baik saja, tetapi saya tidak bisa karena saya tahu saya akan sulit menjamin hal itu menjadi nyata. Saya hanya berpikir bahwa saya ingin membuat dirinya tenang, ingin mengusap bahunya untuk mengatakan bahwa dia tidak sendirian. Saya hanya ingin dia tahu bahwa ada teman yang bersedia mengangkatnya kembali ketika dirinya roboh oleh tekanan dari sana-sini, sehingga dia tidak takut untuk berjalan tegak kembali.

Masalah komitmen, bertahan pada satu hal yang justru hal itu yang membuatnya makin terpuruk. Saya tidak akan pernah berhak untuk mengatakan padanya agar menyerah saja dan mengatakan di ujung sana ada seseorang yang lebih baik. Tidak. Saya tidak pernah punya hak untuk mengatakan itu. Saya tahu siapa diri saya, saya hanya seorang teman, seorang pendengar yang hatinya tertampar karena salah satu teman dekatnya diperlakukan sebegitu tertekannya, hingga bahkan sulit untuk bernapas.

Masalah cinta, jika berpikiran untuk mencari cinta yang lebih baik sesungguhnya tidak akan pernah selesai, tidak akan berujung. Saya tidak pernah berani membicarakan soal cinta. Hanya berani membicarakan suka dan sayang yang bahkan kedua hal itu adalah hal tersulit yang saya ceritakan kepada orang. Saya mengatakan padanya, saya tidak tahu apa-apa masalah cinta, tidak pernah memiliki pengalaman yang cukup baik mengenai kata yang terdiri dari lima huruf itu. Namun, sejauh ini, dari beberapa hal yang saya yakini adalah ketika kamu memilih untuk mencintai seseorang adalah ketika kamu tidak merasa terganggu untuk berbagi dengan orang itu. Apapun itu. Seberapa buruknya keadaanmu, keadaannya, keadaan kalian berdua. Ketika kamu sudah memilih untuk mencintai seseorang adalah ketika kamu sudah bisa menerima kenyataan bahwa di dunia ini kamu tidak hanya hidup untuk dirimu sendiri. Hanya hal itu yang saya tahu, yang saya yakini kebenarannya. Saya tidak tahu apa yang dia pikirkan sekarang, saya hanya ingin nanti dia memiliki keputusan yang tepat untuk melanjutkan hidupnya dan bebas dari kekangan. Saya tidak ingin hal buruk terjadi padanya dan saya harap dia dapat menyelesaikan masalahnya dengan (sangat) baik.

Hari ini saya juga banyak bercerita dengan junior-junior dan senior-senior saya di kampus. Banyak hal yang saya respon hanya dengan satu dua kata, tetapi beberapa hal masuk ke dalam pikiran saya dan saya pelajari baik-baik. Saya bukan orang yang mudah mengungkapkan berbagai macam hal melalui lisan. Melalui tutur kata karena terkadang banyak hal yang terlupa untuk diucapkan sehingga banyak orang menjadi salah paham. Menyadari hal itu saya merasa bahwa saya sering menjadi orang yang sangat amat merepotkan, menjadi orang yang sangat amat egois karena ingin didengar, tetapi apa yang saya maksudkan sulit terungkap dari kata yang terucapkan.

Dulu, sebelum saya disadarkan oleh seorang teman yang tidak cocok dengan cara saya berteman, saya tidak pernah berpikir tentang cara saya, cara dia, atau cara-cara orang lain yang digunakan dalam berteman. Hal yang saya pikirkan, ketika saya ingin melakukan suatu hal kepada seorang teman adalah saya melakukannya apa adanya saya, dengan bekal 'karena saya ingin melakukan hal itu'. Ya, terkadang ketika kita merasa nyaman berteman dengan seorang teman, kita jadi sulit untuk memikirkan kenyamanan teman tersebut terhadap kita.

Saya tidak marah jika orang lain merasa tidak cocok dengan cara saya berteman, saya malah menjadi merasa amat bersalah dan merasa amat egois karena menyadari bahwa sebelum dia mengatakan tidak cocok berteman dengan saya, pastinya dia berusaha mati-matian untuk menyeimbangkan cara saya. Dia mati-matian melakukan apa yang saya mau. Dia mati-matian membuang rasa ketidaknyamanannya karena tahu saya melakukan hal yang justru malah membuat dia tidak nyaman. Saya merasa menjadi teman yang amat tidak berguna.

Banyak hal yang saya pelajari dari semua hal yang belakangan ini terjadi dalam hidup saya. Saya jadi menyadari bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa dipaksakan seberapa pun besar ketulusan yang saya tawarkan. Saya jadi mengingatkan diri saya sendiri bahwa setiap saya bertemu dengan satu teman baru maka ada satu pemikiran baru yang memiliki cara berbeda meskipun sama-sama berujung kebaikan. Saya tahu dan sadar bahwa semua orang pada dasarnya adalah baik, hanya kadarnya saja yang berbeda.

Ya, begitulah, semua orang memang memiliki cara masing-masing dalam melakukan sesuatu, saya tidak perlu menyukai semuanya, saya hanya perlu menghargainya. Sesederhana itu.




by Dita Oktamaya

Wednesday, July 4, 2012

Bagi Saya #3

ini bukan masalah suka atau tidak, ini masalah pembuktianmu berkata sanggup berada beberapa langkah di depan mereka.

by Dita Oktamaya

#7

Banyak sekali bakat yang hilang di dunia ini karena tak adanya keberanian untuk memulainya.

by Dita Oktamaya

#6

Tidak selalu hubungan berjalan dua arah, kadang hubungan satu arah pun harus ada sebagai bukti kita berteman dengan tulus. Apapun itu, jadilah orang baik dan hidup dengan baik.


by Dita Oktamaya

Bagi Saya #2

Saya bisa saja lupa, tidak ingat beberapa hal yang tidak menyenangkan, tetapi saya tidak mau. Kenapa harus lupa?


by Dita Oktamaya

#5

Semua orang punya porsi masing-masing di bidang masing-masing. Tidak bisa disamakan. Tidak bisa dibandingkan.


by Dita Oktamaya

Jika Kamu #1

Jika kamu ingin dikenal dunia, maka luangkan waktu untuk mengenalnya.


by Dita Oktamaya

Friday, May 11, 2012

Bagi Kamu #1

Saya terlihat, kemudian tidak terlihat lagi. Terlihat, tidak terlihat. Terlihat lagi, tidak terlihat lagi. Saya ini seperti sinyal ponsel.

Thursday, May 10, 2012

Bagi Saya #1

Menulis adalah berbicara tanpa bersuara, bercerita tanpa berisik, bersama tanpa bertemu.


by Dita Oktamaya

Friday, May 4, 2012

Sederhana. Bisa tidak?

Jangan menunggu waktu luang, tetapi luangkanlah waktu.


by Dita Oktamaya

Monday, January 16, 2012

#Teruntuk Hujan

Teruntuk hujan,
langit adalah teman yang baik
Namun, kamu tidak bisa selamanya terus-menerus menguras energinya untuk mengeluarkanmu
langit tidak punya sabar, langit hanya membuatmu nyaman untuk membuatmu turun terus hingga kamu bosan


By Dita Oktamaya

#Teruntuk Langit

Teruntuk langit,
sering kali kamu menangis belakangan ini
ada apa?
apa ada yang menyakitimu?

By Dita Oktamaya

Thursday, July 22, 2010

#4

Manusia datang dan pergi. Jika mereka sudah datang, maka bersiaplah untuk kehilangan. Tetapi percayalah jika mereka sudah pergi, meninggalkanmu dalam sepi dan nanti lama setelah sekian banyak hal yang kau lalui dengan kehilanganmu akan mereka, tanpa kehadiran mereka dalam hari-harimu, maka percayalah. Entah kapan waktunya, mereka akan kembali, lagi. -Dita Oktamaya


By Dita Oktamaya

#3

Bermimpilah untuk tetap bertahan hidup, bukan hidup untuk bermimpi. -Dita Oktamaya
By Dita Oktamaya

Monday, September 14, 2009

Word #2

Jika kau menyerah atas mimpimu berarti kau menyerah atas kehidupanmu. Dan semua pelajaran hidup yang kau miliki akan menjadi sia-sia. -Dita Oktamaya


By Dita Oktamaya

Saturday, August 29, 2009

Word #1

Sayangi sesama dengan menjadi dirimu apa adanya dan saling menghargai dengan menjadi dunia baginya. -Dita Oktamaya


By Dita Oktamaya