Showing posts with label Dunia Dalam Perspektifku. Show all posts
Showing posts with label Dunia Dalam Perspektifku. Show all posts

Tuesday, January 1, 2013

Selamat Tahun Baru 2013

Selamat tahun baru 2013!

Semoga tahun 2013 menjadi tahun yang dipenuhi dengan karya-karya yang dihasilkan atas dasar kebaikan.

Mulailah belajar untuk menghargai apa dan siapa yang kalian miliki.

Ingatlah, manusia bisa lelah dan menyerah kapan saja, jadi jangan biarkan orang-orang di sekitar kalian yang menyayangi kalian dengan tulus dan tanpa syarat, pergi meninggalkan kalian hanya karena merasa lelah dengan perilaku kalian.

Berusahalah pelan-pelan untuk menekan ego masing-masing, jika kalian saling menghargai dan menyayangi satu sama lain, hal itu bukanlah kesulitan terbesar dalam hidup. Jadi, berusahalah dengan baik untuk mempertahankan apa yang telah kalian miliki, jangan menyia-nyiakan mereka karena dari beribu hal yang menyebalkan yang terjadi, rasa sayang tidak akan pernah menimbulkan hasrat untuk menyia-nyiakan. Percayalah.

Begitulah, semoga tahun ini adalah tahun penuh keberkahan dan kebahagiaan. Semoga.



by Dita Oktamaya

Friday, December 7, 2012

I Do This For You, Sis

Mungkin belakangan ini orang-orang sering melihat saya tergopoh-gopoh berjalan sambil membawa komputer jinjing dan mondar-mandir keluar-masuk perpustakaan kampus. Melihat saya terbengong tiba-tiba sambil memeluk gitar dan sesekali memainkannya dengan tidak sabar. Melihat saya duduk terdiam seperti tidak memiliki daya untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ya, saya belakangan ini seperti itu. 

Teman-teman mengatakan saya seperti anak ayam yang kehilangan induknya, seperti tubuh yang dipasang mesin kemudian dikendalikan oleh remote kontrol yang bergerak, tetapi tidak berekspresi. Saya menolak beberapa pekerjaan sukarela yang saya sukai untuk satu kewajiban saya. Kewajiban terakhir saya di Jogjakarta sebelum akhirnya saya kembali pulang ke Jakarta. Saya menolak, menolak beberapa hal yang menjadikan diri saya terkurung dengan berbagai macam pikiran membuat saya tidak tenang, menolak dengan berbagai macam pikiran bahwa saya tidak akan mendapat kesempatan yang sama untuk kedua kalinya. Ya, saya menolak hal yang saya sukai untuk kewajiban yang harus saya penuhi. Saya tidak menyesal, tetapi menolak sesuatu selalu membuat perasaan saya tidak baik, apalagi hal itu adalah hal yang saya sukai.

Bukan tanpa alasan.

Saya melakukan semua ini demi kamu, demi membuktikan bahwa apa yang kamu harapkan dari saya, bisa saya penuhi dengan baik. Saya melakukan semua ini demi membuat kamu merasa tidak sendirian lagi di kota metropolitan yang menyebalkan karena tahu saya akan kembali pulang ke sana. Saya melakukan semua ini demi kamu, demi memelukmu ketika kelelahan dan rasa ingin menyerah menghadangmu, demi menjadi samsak ketika kemarahan dan rasa gemas menghantuimu, demi menjadi pendengarmu ketika kebosanan dan kegundahan menyelimutimu. Saya melakukan semua ini demi kamu yang menginginkan saya cepat kembali pulang ke Jakarta. Ya, saya akan segera pulang, tidak lama lagi.

Kamu tidak banyak menghubungi saya belakangan ini karena begitu banyak hal yang harus kamu lakukan untuk kelulusan bidang profesimu. Saya pun begitu. Kita sama-sama tidak saling menghubungi. Sampai tiba beberapa hari yang lalu, saya membaca berita tentang seorang wanita yang mengalami kecelakaan di daerah dekat kampusmu. Saya panik, saya tidak bisa tidur karena khawatir, takut bahwa wanita itu adalah kamu. Saya mengirimkan sebuah pesan ke tempat obrolan online tempat kita sering bercerita dari jauh. Namun, itu sudah malam dan kamu tidak membalasnya. Saya berusaha menenangkan diri saya, mencoba menutup mata saya dan berharap pagi nanti kamu membalas pesan saya. 

Paginya kamu membalas pesan saya, saya lega. Kamu bertanya kenapa saya menghubungimu selarut itu, saya hanya berkata iseng karena tidak mungkin saya mengatakan alasan konyol yang membuat tidur saya tidak tenang. Kamu menggoda saya, mengatakan bahwa saya merindukanmu, saya berkelit dengan gengsi untuk tidak mengiyakan itu.

Mungkin iya. Saya rindu kamu.

Kamu adalah satu-satunya orang yang saya punya untuk berbagi berbagai macam hal, ketika saya tahu mama dan papa kesulitan untuk menyeimbangkan pikiran saya yang sering keluar dari jalur yang seharusnya. Kamu adalah satu-satunya orang yang saya punya untuk mejadi semangat saya agar dapat menyelesaikan kewajiban saya dengan baik. Kamu adalah satu-satunya orang yang saya punya ketika saya merasa tidak ada orang yang bisa saya ajak susah atas kekurangan saya. 

Kamu adalah orang tercerewet dan menyebalkan yang pernah saya temui di dunia ini, orang yang selalu banyak mau tahu tentang kehidupan pribadi saya, orang yang selalu banyak menyalahkan saya ketika ada beberapa hal tidak bisa kamu tangani dengan baik sendirian. Kamu adalah orang terjahil yang sering menggoda saya ketika saya sedang ingin banyak marah-marah. Kamu adalah orang yang selalu balik marah dengan lebih besar ketika saya memarahi kamu. Kamu adalah orang dengan segudang ketidaknyamanan yang anehnya selalu membuat saya nyaman berada di samping kamu.

Kamu adalah satu-satunya kakak yang saya punya. 

Saya tahu, kita harus banyak berkorban untuk menyelesaikan berbagai macam hal yang menjadi kewajiban kita, untuk membuktikan bahwa kita layak disebut sebagai manusia yang baik. Kamu selalu berkata saya bisa, kamu bisa, kita bisa. Kamu sering mengatakan bangga terhadap saya, terhadap karya-karya saya, terhadap apapun hal yang saya lakukan dan ya bagi saya, kamu adalah orang yang perkataannya selalu mempengaruhi jalan pikiran saya, kamu adalah acuan saya.

Di sini saya sedang berjuang untuk menyelesaikan tugas akhir saya dengan baik dan secepat yang saya bisa. Saya lakukan ini karena saya tahu kamu melakukan hal yang sama di sana. Maaf selama tiga tahun ini saya meninggalkanmu untuk menempuh pendidikan tinggi saya di Jogjakata, maaf tiga tahun lalu saya memutuskan semangatmu untuk berkuliah di tempat yang sama dengan saya, maaf jika banyak harapanmu akan saya belum saya penuhi dengan baik. Sekarang saya sedang berusaha keras untuk bisa sesegera mungkin kembali berkumpul bersama-sama lagi. 

I do this for you, Sis.
 
Sekarang tunggulah dengan manis, saya tidak akan pergi kemana-mana, karena seberapa jauh pun saya pergi, saya akan tetap kembali, saya akan pulang. Sesegera yang saya bisa.


by Dita Oktamaya

Tuesday, November 27, 2012

Atau....


-----

I'm not looking for someone to talk to
I've got my friend, I'm more than O.K.
I've got more than a girl could wish for
I live my dreams but it's not all they say

------

Akhirnya saya menemukan lagu yang sejak dulu saya cari. Saya tidak tahu judulnya, hanya tahu penyanyinya dan tahu nada lagunya dengan mengganti liriknya menjadi na na na. Lagu The Corrs yang berjudul All The Love In The World. Awalnya saya tidak terlalu paham dengan lirik lagunya, saya hanya suka dengan melodinya yang membuat tenang ketika mendengarnya, tetapi semakin lama mendengar lagu ini saya semakin  tahu makna lagu ini.

Saya jadi teringat beberapa pertanyaan orang-orang yang dengan sangat baik hati menyempatkan diri untuk membaca blog saya. Banyak yang menanyakan mengapa saya lebih banyak menulis postingan tentang mimpi-mimpi saya, tentang kejenuhan-kejenuhan saya, tentang prespektif-prespektif saya, tentang teman-teman saya, tetapi tidak menulis tentang cinta (seseorang) dalam hidup saya.

Ah, cinta. Saya paling susah ditanyakan soal kata dengan lima huruf ini. Bukan mau menghindar, tetapi saya masih kesulitan untuk bicara masalah hati yang diiyakan oleh pikiran, tetapi tidak sejalan dengan logika. Hati saya cuma satu, tetapi memilki bagian-bagian yang bersekat untuk menempatkan segala hal yang berada di hidup saya dan cinta adalah hal tersulit bagi saya karena saya selalu bingung untuk menempatkannya di hati bagian mana.

Saya terbiasa menjadi 'tong sampah' untuk teman-teman saya, mendengar mereka bercerita tentang pasangan mereka yang begini, pasangan mereka yang begitu, saya suka mendengarnya. Saya tidak mempermasalahkan cerita mereka tentang kehidupan cinta mereka, hingga suatu ketika saya disadarkan oleh kakak saya sendiri.

"Aku susah cerita tentang cinta sama kamu secara mendetail yang benar-benar detail. Karena ketika aku bercerita tentang masalah percintaanku, aku pasti mengharapkan respon, bukan responmu jelek, Dek. Bukan. Hanya saja ketika aku membutuhkan sudut pandang lain tentang cinta, aku butuh orang yang benar-benar pernah merasakan itu. Kalau aku cerita sama kamu ketika aku emosi karena cinta dan menanyakan responmu, aku takut malah jadi kita yang berantem karena menurutku bagaimana kamu bisa kasih respon seperti apa yang aku inginkan, pacar aja belum ada."

Ya, saya memang belum punya seseorang untuk saya cintai. Saya mengerti perkataan kakak saya. Ketika teman-teman saya bercerita tentang pasangannya, saya tahu mereka hanya ingin mengungkapkan apa yang berada di benak dan hati mereka, bukan meminta respon dari saya, tetapi membutuhkan teman untuk sekedar menjadi pendengar karena mereka sedang dibahagiakan atau bahkan dijenuhkan dengan pasangan mereka. 

Saya jadi ingat perkataan salah satu teman saya yang dahulu punya masalah dengan pasangannya, dia menceritakan masalahnya kepada saya ketika masalah itu sudah selesai. Ya, saya tidak pernah keberatan karena saya tahu yang dia butuhkan adalah pendengar untuk mendengarkan seberapa jauh dia bisa bertahan ketika keterpurukan menghampiri hubungannya dengan pasangannya.

Saya tidak pernah keberatan mendengar cerita macam apapun dari siapapun di sekitar saya. Banyak yang mengkhawatirkan saya tidak bisa merespon dengan baik tentang beberapa hal, terutama masalah cinta, ya saya memang tidak punya bayangan tentang hal itu. Saya mungkin juga tidak dapat dipercaya karena respon yang saya keluarkan pasti bukanlah pelajaran dari pengalaman cinta yang saya dapatkan, tetapi jika mereka ingin mendengarkan pandangan saya tentang cinta atau apapun itu, saya rasa saya sanggup untuk mengusahakannya.

Dulu, saya punya hubungan dengan seseorang. Orang yang baik, tetapi mungkin sayanya saja yang belum mengerti apa itu menjaga perasaan seseorang dan menjaga hubungan yang telah dibentuk, jadi kami berpisah. Saya meminta maaf kepadanya yang pernah saya sakiti dan beberapa orang yang hatinya masih enggan untuk saya masuki. 

-----

Love's for a lifetime not for a moment
So how could I throw it away
Yeah I'm only human

-----

Pada saat itu saya sedang berusaha meyakinkan diri saya untuk tidak menyakiti perasaan orang lain lagi,  saya tahu saya adalah orang yang egois dan pasti akan banyak membuat kalian lelah, jadi ketika saya berkata 'tidak' bukan berarti untuk selamanya saya tidak ingin masuk ke dalam salah satu sekat yang berada di hati kalian. Saya hanya sedang ingin berusaha menata hati saya, mempelajari diri saya, mengontrol emosi saya, sehingga jika pun saya harus menyakit perasaan kalian suatu saat nanti, saya tahu dimana saya harus memperbaikinya dan bisa mempertahankan hubungan yang telah dibentuk.

Saya bukan takut memulai, saya hanya butuh waktu untuk tidak terus menerus menjadi anak kecil yang egois. Saya tahu saya bukan orang baik, saya masih sulit untuk mencari tahu apa itu cinta, masih sulit untuk berbagi hal yang saya punya, masih sulit berkata rindu lebih dulu, masih terpaku dengan 'keakuan' bukan 'kekitaan' seperti seharusnya hubungan berjalan. Saya hanya sedang butuh waktu untuk memangkas beberapa hal buruk yang saya miliki, sehingga meskipun kalian tersakiti oleh hubungan yang terjalin dengan saya nanti, setidaknya sakit kalian tidak terlalu dalam.


-----

(Still...) Still I believe
(I'm missing) I'm missing something real
I need someone who really sees me...

-----


Atau...

Mungkin sekarang bukan tentang saya yang membutuhkan waktu untuk memangkas hal buruk yang berada di dalam diri saya, tetapi tentang hati saya yang belum terketuk untuk dibuka.



by Dita Oktamaya

Wednesday, November 7, 2012

Saya Tidak Mau Berjalan Sendirian

"I used to think the worst thing in life was end up all alone. It's not. The worst thing in life is ending up with people who make you feel all alone." -World's Greatest Dad


Itu sebuah monolog dalam film. 

Saya jadi memutar otak saya. Menapak tilas. Bayang-bayang masa lalu jadi (kembali) muncul. Ketika (entah mengapa) saya pernah merasa sangat sendirian di antara banyak orang yang mengelilingi saya.

Saya cinta damai. Sebaik apapun (nanti) saya, secemerlang apapun (nanti) saya, seberhasil apapun (nanti) saya,  saya tidak mau berjalan sendirian.

Saya suka sunyi, suka sepi, suka menyendiri dan berpikir. Tapi saya tidak suka menjadi sendirian. Mungkin orang berpikir bahwa manusia membutuhkan "me time" untuk menghabiskan waktu buat dirinya sendiri. Ya, saya juga butuh itu, tetapi saya tidak mau menjadi sendirian. Sendirian membuat saya tidak menemukan apa yang saya cari dalam hidup saya. Sendirian membuat saya payah karena tidak bisa membuat orang lain tertawa dan bahagia. Sendirian membuat saya merasa tidak berguna. Bukan sendirian yang kemana-mana melakukan kegiatan sendiri. Bukan, melainkan sendirian yang merasa sendiri. Sendirian yang benar-benar sendirian.


by Dita Oktamaya

Friday, September 21, 2012

Itu Saja

Kita bertemu lagi dalam sapa hangat seperti dulu.

Banyak tawa terbagi karena butuh kuungkapkan semua cerita seperti janji.

Tidak ada kata yang tidak terucap, semua meluap seolah menuturkan kata menjadi ahliku.

Aku tidak ingin diam, menjadikan pertemuan sia-sia.

Membiarkanmu bosan karena sama-sama kehabisan kata.

Aku bercerita, dengan dirimu yang mengangguk dan mengiyakan kata demi kata agar leluasa aku tertawa.

Bukan ego yang merajai masing-masing kita.

Namun, paham untuk saling berinteraksi bertukar cerita.

Begitulah kita dengan berbagai cara.

Aku dengan bercerita, kamu dengan tertawa.

Interaksi yang begitu sulit ditentukan karena imajinasi kata tidak merata.

Namun, kita tetap nyaman. Itu cara kita.

Cara kita untuk mempertahankan kita.

Cara kita untuk tidak kehilangan kita.

Menyesuaikanmu adalah hal tersulit bagiku.

Tentu tak kuungkapkan karena kutahu sulit bagimu menyesuaikanku.

Namun, Kuleluasakan dirimu untuk menjadi apa adanya saat bersamaku.

Itu caraku.

Karena inginku semua berjalan dengan kenyamanan yang apa adanya.

Tanpa dirimu yang menjadi orang lain.

Itu saja.


by Dita Oktamaya

Friday, September 14, 2012

Mungkin Saya Belum Beruntung

Hari ini banyak janji yang harus sedikit ditunda karena berbagai kesibukan masing-masing beberapa orang di sekitar saya. Padahal saya sudah menunggu waktu untuk berbincang-bincang dan menghabiskan waktu bersama mereka dengan sangat bersemangat. Salah satu janji bahkan hingga sampai terbawa mimpi karena terlalu kangennya saya terhadap salah satu teman saya itu.

Namun, semua hal harus dijalani sesuai dengan prioritas masing-masing. Mereka memiliki kewajiban yang sudah sangat sepantasnya dijadikan prioritas utama demi kelangsungan kegiatan mereka yang jauh dari urusan saya. Saya tidak boleh menyalahkan, tidak boleh protes, dan tidak akan pernah punya hak untuk mengeluhkannya kepada mereka karena mereka pun pada dasarnya sudah ingin berusaha meluangkan waktu untuk bertemu saya, meskipun ada sedikit kecewa karena merasa janji itu terbengkalai begitu saja.

Semua orang memiliki skala prioritas dalam melakukan kegiatannya. Mungkin kali ini saya saja yang masih belum beruntung untuk dijadikan prioritas utama mereka. Tidak apa. Saya tidak keberatan akan hal itu.

Memikirkan waktu yang begitu sulit ditemukan untuk dibagi bersama, menjadikan diri saya lebih menghargai sedikit waktu yang saya miliki untuk dihabiskan bersama mereka, sedikit waktu yang terkadang membuat hati saya terenyuh ketika waktu itu habis dan kami harus menyudahi pertemuan yang terjadi dalam waktu hanya beberapa jam saja.

Seolah-olah di otak saya tertanam satu kalimat : "Kapan lagi bisa ketemu seperti ini?"

Ya, saya paham betul bagaimana rasanya berada di antara orang-orang sibuk yang memiliki waktu hanya satu dua jam, atau bahkan hanya setengah jam untuk saling sapa atau sekedar bertukar salam. Tidak apa. Saya berusaha belajar menerimanya. Karena menurut saya, ketika kalian sudah memutuskan untuk memiliki keterkaitan hubungan dengan seseorang, ketika itu juga kalian memutuskan untuk rela (bagaimana pun caranya) menyesuaikan diri kalian dengan mereka, tanpa merasa terbebani sedikit pun.



by Dita Oktamaya

Wednesday, September 12, 2012

Kejutan (?)

Hari ini cukup banyak kejutan yang saya dapatkan, setelah beberapa hari sebelumnya saya merasa terpuruk dan merasa tidak berguna karena tidak melakukan hal berarti yang membuat saya jadi belajar tentang sesuatu.

Kejutan pertama adalah pengumuman bahwa para mahasiswa tingkat akhir yang bermaksud menyusun skripsi pada semester ini, akan dikumpulkan dan diberikan pengarahan pada tanggal 17 September 2012 depan. Ah, akhirnya kami diberi kepastian setelah beberapa hari digantungkan hidupnya karena tidak ada pengumuman tentang kelanjutan studi kami. Dan ya, Saya berharap saya bisa memanfaatkan waktu sebelum pengarahan skripsi tersebut untuk mematangkan proposal skripsi yang menjadi penentu tema skripsi yang akan saya tulis.

Kejutan kedua adalah saya mendapati teman saya yang menceritakan tentang kehidupannya yang belakangan disadari sedikit (atau banyak, entahlah, dia yang merasakan) terkekang dengan sang pacar yang agak lebih suka mendominasi hidup manusia yang pada dasarnya belum menjadi istrinya.

Begini, saya akui saya adalah orang yang cuek (meskipun beberapa orang sering bilang, jika saya sudah memberi perhatian kepada seseorang, orang lain yang melihat akan merasa luluh dan iri secara bersamaan, entahlah, saya tidak terlalu mengerti maksud mereka itu bagaimana, ya kira-kira seperti itu), tetapi jika saya merasa saya berteman baik dengan seorang teman (karena ketika kita berteman dan merasa dekat dengan seorang teman, tidak menutup kemungkinan bahwa teman tersebut memiliki rasa kedekatan yang sama, tetapi bisa jadi malah sebaliknya, tidak merasa dekat sama sekali) apa yang dia rasakan, menjadi apa yang saya rasakan (meskipun saya tahu saya tidak berada pada posisinya).

Maksudnya begini, ambil satu contoh beberapa waktu lalu ketika teman dekat saya semasa KKN (sampai saat ini saya harap kami akan terus berteman dekat) kemarin, Arin, diberi kuasa oleh koordinator mahasiswa unit, untuk mengurusi ini-itu mengenai laporan program kegiatan KKN, saya merasa khawatir. Bukan, bukan karena saya merasa bahwa Arin tidak bisa diandalkan (justru dia sangat bisa diandalkan), tetapi karena saya merasa itu akan sangat merepotkan Arin yang hanya tinggal seorang diri di Jogja, sementara teman-teman yang lain sudah berada di kampung halaman masing-masing untuk merayakan hari raya idul fitri. Padahal, jika dilihat dari ekspresi wajah Arin, dia terlihat tidak keberatan diberi tugas yang sedemikian menjengkelkannya. Namun, saya masih merasa tidak rela, masih merasa bahwa tidak seharusnya Arin direpotkan. Dia sudah terlalu banyak membantu dalam banyak hal, dia terlalu baik.

Lalu seperti hari ini yang tiba-tiba saya bertemu dengan teman saya, yang mulai menyadari hidupnya terkekang dengan segala macam bentuk peraturan yang dibuat oleh pacarnya. Saya tahu, saya tidak akan pernah menjadi dia, tetapi saat dia menceritakan perasaan yang sesungguhnya (setelah sekian banyak tekanan yang pada akhirnya membuat pertahanan dirinya roboh) saya ingin sekali memeluknya dan mengatakan bahwa saya ada untuk dia.

Saya ingin sekali mengatakan bahwa segalanya akan baik-baik saja, tetapi saya tidak bisa karena saya tahu saya akan sulit menjamin hal itu menjadi nyata. Saya hanya berpikir bahwa saya ingin membuat dirinya tenang, ingin mengusap bahunya untuk mengatakan bahwa dia tidak sendirian. Saya hanya ingin dia tahu bahwa ada teman yang bersedia mengangkatnya kembali ketika dirinya roboh oleh tekanan dari sana-sini, sehingga dia tidak takut untuk berjalan tegak kembali.

Masalah komitmen, bertahan pada satu hal yang justru hal itu yang membuatnya makin terpuruk. Saya tidak akan pernah berhak untuk mengatakan padanya agar menyerah saja dan mengatakan di ujung sana ada seseorang yang lebih baik. Tidak. Saya tidak pernah punya hak untuk mengatakan itu. Saya tahu siapa diri saya, saya hanya seorang teman, seorang pendengar yang hatinya tertampar karena salah satu teman dekatnya diperlakukan sebegitu tertekannya, hingga bahkan sulit untuk bernapas.

Masalah cinta, jika berpikiran untuk mencari cinta yang lebih baik sesungguhnya tidak akan pernah selesai, tidak akan berujung. Saya tidak pernah berani membicarakan soal cinta. Hanya berani membicarakan suka dan sayang yang bahkan kedua hal itu adalah hal tersulit yang saya ceritakan kepada orang. Saya mengatakan padanya, saya tidak tahu apa-apa masalah cinta, tidak pernah memiliki pengalaman yang cukup baik mengenai kata yang terdiri dari lima huruf itu. Namun, sejauh ini, dari beberapa hal yang saya yakini adalah ketika kamu memilih untuk mencintai seseorang adalah ketika kamu tidak merasa terganggu untuk berbagi dengan orang itu. Apapun itu. Seberapa buruknya keadaanmu, keadaannya, keadaan kalian berdua. Ketika kamu sudah memilih untuk mencintai seseorang adalah ketika kamu sudah bisa menerima kenyataan bahwa di dunia ini kamu tidak hanya hidup untuk dirimu sendiri. Hanya hal itu yang saya tahu, yang saya yakini kebenarannya. Saya tidak tahu apa yang dia pikirkan sekarang, saya hanya ingin nanti dia memiliki keputusan yang tepat untuk melanjutkan hidupnya dan bebas dari kekangan. Saya tidak ingin hal buruk terjadi padanya dan saya harap dia dapat menyelesaikan masalahnya dengan (sangat) baik.

Hari ini saya juga banyak bercerita dengan junior-junior dan senior-senior saya di kampus. Banyak hal yang saya respon hanya dengan satu dua kata, tetapi beberapa hal masuk ke dalam pikiran saya dan saya pelajari baik-baik. Saya bukan orang yang mudah mengungkapkan berbagai macam hal melalui lisan. Melalui tutur kata karena terkadang banyak hal yang terlupa untuk diucapkan sehingga banyak orang menjadi salah paham. Menyadari hal itu saya merasa bahwa saya sering menjadi orang yang sangat amat merepotkan, menjadi orang yang sangat amat egois karena ingin didengar, tetapi apa yang saya maksudkan sulit terungkap dari kata yang terucapkan.

Dulu, sebelum saya disadarkan oleh seorang teman yang tidak cocok dengan cara saya berteman, saya tidak pernah berpikir tentang cara saya, cara dia, atau cara-cara orang lain yang digunakan dalam berteman. Hal yang saya pikirkan, ketika saya ingin melakukan suatu hal kepada seorang teman adalah saya melakukannya apa adanya saya, dengan bekal 'karena saya ingin melakukan hal itu'. Ya, terkadang ketika kita merasa nyaman berteman dengan seorang teman, kita jadi sulit untuk memikirkan kenyamanan teman tersebut terhadap kita.

Saya tidak marah jika orang lain merasa tidak cocok dengan cara saya berteman, saya malah menjadi merasa amat bersalah dan merasa amat egois karena menyadari bahwa sebelum dia mengatakan tidak cocok berteman dengan saya, pastinya dia berusaha mati-matian untuk menyeimbangkan cara saya. Dia mati-matian melakukan apa yang saya mau. Dia mati-matian membuang rasa ketidaknyamanannya karena tahu saya melakukan hal yang justru malah membuat dia tidak nyaman. Saya merasa menjadi teman yang amat tidak berguna.

Banyak hal yang saya pelajari dari semua hal yang belakangan ini terjadi dalam hidup saya. Saya jadi menyadari bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa dipaksakan seberapa pun besar ketulusan yang saya tawarkan. Saya jadi mengingatkan diri saya sendiri bahwa setiap saya bertemu dengan satu teman baru maka ada satu pemikiran baru yang memiliki cara berbeda meskipun sama-sama berujung kebaikan. Saya tahu dan sadar bahwa semua orang pada dasarnya adalah baik, hanya kadarnya saja yang berbeda.

Ya, begitulah, semua orang memang memiliki cara masing-masing dalam melakukan sesuatu, saya tidak perlu menyukai semuanya, saya hanya perlu menghargainya. Sesederhana itu.




by Dita Oktamaya

Wednesday, September 5, 2012

Yang Ini... Tidak Bisa Kamu Perbaiki

Hari ini saya menghabiskan hampir sepanjang hari dengan teman saya yang sudah sangat lama menghilang dari kehidupan kampus. Ya, Namanya Tita. Pratita Hening Pusparanti.

Dulu, ketika awal masuk kuliah, saya takut berkenalan dengan dia. Alasannya? Karena wajahnya yang terlihat antagonis dan sorot matanya yang tajam. Namun, memang saya yang tidak bisa jika tidak berkenalan dengan orang yang nantinya akan merasa nasib yang sama dengan duduk di dalam ruang kelas yang sama, maka saya pun berkenalan dengan dia. Pada akhirnya pun kami menjadi teman dekat. Kami sering menghabiskan waktu bersama, saya, dia, dan Jessica (saya pernah menulis tentang Jessica di postingan yang lalu).

Saat pertama kali kuliah, karena rumah yang berjarak cukup jauh dari kampus, kamar kos saya pun dijadikan rumah kedua bagi mereka. Jika saya dan Tita hanya tidur, makan, menggosip, tertawa tanpa membenahi kamar, maka Jessica yang membenahi kamar saya, bergumam sambil sesekali tertawa melemparkan lelucon bahwa saya dan Tita seperti anak-anak yang merepotkan ibunya (jessica). Begitu seterusnya, keseharian yang dilakukan secara berkala hingga saya terbiasa dengan kebersamaan yang menyenangkan bersama mereka.

Hingga pada semester berikutnya kami disibukkan dengan kesibukan kami masing-masing, Jessica yang melakukan pertukaran pelajar di Korea Selatan, Tita yang diterima kerja di sebuah Wedding Organizer, dan saya yang (tanpa ada perubahan sama sekali) ditinggalkan oleh mereka.

Kesendirian yang saya lalui tanpa mereka membuat saya banyak merindukan rumah di Jakarta. Kerinduan saya akan Jakarta tidak serta merta menjadikan saya anak rantau yang cengeng yang melulu minta pulang ke kampung halaman, tidak. Kesendirian itu membuat saya mencari berbagai macam kesibukan yang saya harapkan bisa membuat otak saya sibuk. Menjadi relawan penerjemah kegiatan sukarela orang-orang Korea, menjadi penulis paruh waktu di sebuah distributor naskah, mengikuti kegiatan kesenian perkusi tradisional Korea Selatan, dan mengikuti perkumpulan tari tradisional Indonesia. Cukup banyak kegiatan, memang, karena yang berada di pikiran saya pada saat itu adalah bagaimana saya menyibukkan diri saya agar saya tidak menjadikan diri saya manusia cengeng yang setiap hari berharap bisa dipeluk oleh mama. Ya, Pada saat itu saya menjadi cukup sibuk, tetapi saya tetap saja masih memikirkan mereka, saya masih merindukan mereka.

Saya rindu kebersamaan saya dengan mereka. Rindu dengan lelucon-lelucon ringan yang sering kami lontarkan. Rindu kenakalan kami yang menyebrang rel kereta api dan memanjat pagar rel kereta api hanya demi Tita yang ingin berburu foto di Festival ulang tahun Jogja. Rindu bermain di sekolah Tita dan Jessica yang dulu berasal dari satu sekolah yang sama. Rindu kebrutalan kami makan nasi dengan lauk banyak karena kami tahu harganya sangat murah. Rindu makan es krim bersama ketika perasaan kami sama-sama tidak baik. Rindu belajar masak sayur dengan teman kos saya yang adalah vegetarian. Rindu memberantaki kamar saya dengan remah cemilan yang tidak pernah sanggup saya habiskan sendirian. Saya rindu waktu yang saya habiskan dengan mereka.

Hari ini saya banyak bercerita dengan Tita. Sepertinya beberapa jam menghabiskan waktu bersama, tidak cukup jika hanya untuk bercerita tentang perubahan yang saya dan Tita rasakan.

"Kayaknya cuma kamu yang enggak berubah ya, Dit."

Pernyataan Tita yang sedemikian itu membuat saya banyak bertanya-tanya. Apa iya?

"Iya ya?"

"Iya. Masih dengan cara dandan yang sama, cara bicara yang sama, cara ketawa yang sama. Masih sama seperti Dita yang pada tahun 2009 itu pertama kali aku temuin, atau mungkin perubahannya enggak kelihatan ya?"

"Enggak tahu juga sih aku, Tit."

Jika saya boleh memberitahu, Tita dan Jessica adalah teman yang mengerti saya ketika mood saya sedang tidak stabil. Ketika saya sedang ngambek, ketika saya sedang kesal (yang kebanyakan saya sebabkan oleh diri saya sendiri). Mereka lah yang memandang saya tanpa protes dengan sikap saya yang tiba-tiba menghebuskan napas berat karena sedang menahan kesal. Jika Jessica menenangkan saya dengan menggoda saya dengan canda ketika saya sedang kesal, maka Tita akan melengos pergi dengan senyum yang seolah-olah berkata 'cari aku lagi nanti ketika kamu sudah tenang'.

Jujur, semua kesal dan marah saya tidak pernah disebabkan oleh mereka, maka dari itu terkadang saya suka terharu ketika mereka masih dengan begitu rela berada di samping saya yang wajahnya ditekuk seperti kertas yang memiliki bekas lipatan, lecek.

"Tidak seharusnya kamu terus yang menyesuaikan, orang lain juga seharusnya nerima kamu, apa adanya kamu kalau mau temenan sama kamu."

Dulu, Tita pernah mengatakan itu, ketika saya mengatakan saya ingin memperbaiki apa yang tidak disukai atau hal apa yang dari saya yang tidak cocok dengan seseorang.

"Kalau dia enggak mau temenan sama kamu, kamu masih punya aku, masih punya Tita."

Dulu, Jessica pernah mengatakan itu, ketika saya mengatakan apa salah saya sehingga saya dijauhkan dengan seseorang yang merasa tidak cocok dengan cara saya berteman.

Mereka yang menenangkan saya ketika saya tidak bisa mengontrol perasaan saya yang tidak stabil. Dulu saya adalah orang yang banyak memikirkan bagaimana saya harus bersikap, sehingga banyak hal yang membuat saya down akibat memikirkan masalah yang tidak penting. Sekarang, berkat mereka saya menjadi pribadi yang lebih rileks, lebih banyak menggunakan logika yang tidak serta merta menjatuhkan diri saya akibat kekesalan terhadap diri saya sendiri karena telah membuat orang lain tidak nyaman.

"Sekali-sekali pikirkan tentang diri kamu, Dit. Tidak semua hal bisa kamu perbaiki sendiri, ada saatnya orang yang harus nerima kamu."

Tita dulu pernah menekankan hal itu pada saya. Saya jadi banyak berpikir sebenarnya cara macam apa yang saya lakukan sehingga mereka menjadi begitu amat sayang terhadap saya, tetapi di sisi lain ada orang yang meninggalkan saya karena enggan berteman dekat dengan saya. Entahlah. Saya juga tidak tahu.

"Banyak hal yang udah berubah di kampus, Dit. Kadang aku jadi semakin enggak nyaman karena sadar aku enggak nerima apa-apa, enggak dapet apa-apa di sini. Aku senang kok, kita balik lagi kayak dulu, cerita-cerita kayak gini. Karena selama beberapa semester kita jarang ketemu karena sibuk masing-masing, aku jadi ngerasa kesepian, kayak enggak ada teman yang benar-benar cocok."

Pernyataan Tita tentang tidak adanya perubahan dalam diri saya perlahan mulai saya mengerti, ya itu bisa jadi harapannya karena terlalu banyak perubahan yang terjadi hingga kami semua dipaksa untuk keluar dari zona nyaman. Jika sudah sama-sama merasa tidak nyaman, biasanya saya sering bertanya kepada mereka apa yang seharusnya saya lakukan untuk membuat mereka merasa lebih baik dan biasanya mereka akan menjawab, "Jajanin es krim, Dit." atau "Makan yuk, tapi maunya dibayarin sama kamu."

Namun, sekarang berbeda, kini mereka hanya tersenyum kecil dengan ketulusan yang masih sama seperti dulu, bedanya senyum itu seolah mengatakan "Tidak, Dit.Yang ini... tidak bisa kamu perbaiki." dan saya pun akan mengangguk tanda mengerti. Ya, saya paham, tidak semua hal bisa saya perbaiki sendiri. Apalagi perubahan yang terjadi secara signifikan.

Saya jadi teringat tulisan Djenar Maesa Ayu, yang membuat saya tergelitik setiap membacanya :

"Ketika tidak ada keabadian, perubahan menjadi proses yang amat membosankan."

Perubahan. Ah, setidaknya saya tahu satu-satunya hal yang tidak akan berubah adalah perubahan itu sendiri. Well, semoga kalian selalu dalam keadaan baik-baik saja dan apapun perubahan itu, semoga menjadi perubahan yang membawa kalian menjadi orang yang lebih baik dan lebih kuat dari sebelumnya.



by Dita Oktamaya

Thursday, August 16, 2012

Jangan Bersedih Karena Berpisah


Mereka yang telah membuat saya mengerti keindahan dalam berbagi

-----

Aku mengenal dikau
Tak cukup lama…separuh usia ku
Namun begitu banyak..pelajaran
Yang aku terima

(Padi - Harmoni)

-----
Hai apa kabar? Apa kalian sedang dalam keadaan baik-baik saja? Saya rindu bercengkrama dan bercerita ini-itu dengan kalian. Masih menyimpan banyak hal untuk diceritakan kepada saya? Kalau saya, banyak. Maaf sebelumnya karena sebulan ini saya tiba-tiba menghilang. Saya harus mengabdikan diri kepada masyarkat, membangun desa demi pembangunan negara. Agak berlebihan memang, tetapi sepertinya hal itulah yang menjadi tujuan kegiatan yang saya ikuti ini. Semoga saja benar-benar bermanfaat, saya sangat berharap untuk itu.

Seperti yang sudah pernah saya ceritakan di postingan sebelum-sebelumnya. Mengenai KKN, Kuliah Kerja Nyata yang harus saya lakukan sebagai salah satu syarat kelulusan di kampus saya. Awalnya saya tidak terlalu minat untuk memfokuskan diri untuk menjalani KKN ini, tidak ada hasrat karena pada masa mengurusi ini-itu mengenai KKN, saya juga masih harus mengurusi perkuliahan saya yang tingkat keabsurdannya terlalu berlebihan.

Saya tidak banyak mengenal teman-teman satu unit saya yang keseluruhan ada 23 orang, yang saya tahu adalah mereka semua orang yang baik, tetapi tidak semuanya bisa saya kenal dengan dekat. Kami dibagi per subunit, pada tim saya terdapat 3 subunit, masing-masing subunit ada 8 atau 7 orang.

Sejujurnya saya adalah orang yang sangat terbuka menghadapi sesuatu yang baru, tetapi terkadang saya takut, takut saya tidak sanggup melebur dengan mereka dan takut mereka sulit untuk bisa menerima saya menjadi bagian dari mereka. Hanya sekedar takut, saya tidak mengumbarnya apalagi menunjukkan dengan jelas ketakutan saya itu. Saya bukan tipe pengeluh seperti itu. Hanya dirasakan, cukup saya saja.

Banyak teman bilang saya adalah orang yang cuek dan tidak peka, yang merespon dengan hanya satu dan dua kata. Namun, setelahnya mereka akan bingung ketika saya menyebutkan hal-hal apa yang mereka suka dan tidak suka, cerita apa saja yang pernah mereka katakan kepada saya, yang tetap mereka ceritakan, meskipun mereka mendapat respon hanya satu dua kata. Well, cuek dan tidak peka bukan berarti saya tidak peduli, kan? :)

Saya adalah tipe orang yang sering tebak-tebak tidak pasti mengenai watak seseorang dan anehnya tebakan itu sebagian besar lebih sering terbukti benar daripada terbukti salah.

Tibalah saya ditempatkan di salah satu subunit dengan 7 orang lainnya yang tidak secara keseluruhan saya kenal dengan baik. Selama satu setengah bulan saya hidup dengan mereka dan di sinilah semua bermula...

ini kami berdelapan (kiri-kanan : Reno, Eviyan, Ajeng, Dita, Mba Anggun, Arin, Reza, Seno)

Awalnya saya hanya berpikir bagaimana bisa menyelesaikan tugas saya di KKN ini dengan baik dan cepat agar bisa dengan cepat pula saya pulang ke rumah dan liburan. Namun, lama kelamaan karena keterbiasaan satu sama lain, mereka pun memiliki peran tersendiri dalam keseharian saya. Saya merasa senang mengenal mereka yang pada dasarnya memang orang-orang yang menyenangkan.

Oh ya, apa saya sudah bilang KKN saya dilaksanakan di lereng semeru? Ya, di sana dingin sekali. Saya sampai harus menjerit-jerit kedinginan setiap kali harus mandi dengan air yang diambil langsung dari mata air pegunungan (kenapa terbaca seperti iklan suatu produk minuman ya? =.=).

Dinginnya udara di lereng semeru bisa begitu mudah ditutupi oleh kehangatan sebuah keluarga kecil subunit yang saya huni. Mereka teman-teman yang baik, ah apa saya perlu memperkenalkan mereka satu-satu? Baiklah jika begitu...


kami yang baru saja memberi surprise untuk Mba Anggun yang berulang tahun

Arindya, meskipun seumuran, saya menemukan sosok seorang kakak pada diri Arin. Rasanya nyaman setiap kali bercerita banyak hal dengan dia. Saya sering memanggil dia dengan sebutan Arinski atau Rinski. Dia adalah orang yang fokusnya sering terpecah dan orang yang mudah bosan jika melakukan sesuatu, hingga saya sering menemukan dia tertidur atau terbengong tiba-tiba. Teman-teman subunit sering mengatakan bahwa dia orang yang judes dan antagonis, tetapi menurut saya tidak, dia orang yang menyenangkan dan membuat nyaman. Arin pernah bilang bahwa manusia yang hidup di dunia ini seperti lolipop besar yang berbentuk bundar, warna dalam lolipop itu ibarat manusia yang memiliki warna tersendiri dalam dirinya dan lolipop yang bundar itu ibarat bumi yang bulat. Manusia dengan berbagai warna menjadi satu di dunia dan bersatunya manusia dengan berbagai warna dapat membawa keselarasan yang indah di bumi, sehingga jadi terasa manis seperti permen lolipop. Analogi yang unik, saya suka.


Ajeng, jika buat saya Arin adalah sosok seorang kakak, kali ini ajeng adalah sosok seorang ibu. Saya lebih sering memanggil dia Jengski atau Momski. Dia adalah teman yang sangat pandai memasak. Dia bisa tiba-tiba membuka kulkas dan memandanginya sangat lama sampai terduduk di depannya. Dia adalah orang yang banyak mengalami kepanikan tersendiri terhadap sesuatu dan jika sudah begitu saya bingung harus meninggalkannya dalam keadaan panik atau harus menenangkan dirinya yang sangat sulit untuk ditenangkan.


Anggun, saya lebih sering memanggil dia Mba Anggunski, dia adalah korban pem-bully-an saya dengan Arin. Sebenarnya dia adalah senior satu tingkat di atas kami, tetapi mengambil KKN di tahun yang sama dengan kami. Karena senior satu tingkat, maka kami semua memanggil dia dengan sebutan Mba. Dia sering menyebut saya dan Arin adalah partner in crime tukang mem-bully orang-orang yang lemah seperti dia. Kalau boleh jujur, Mba Anggun ini adalah orang yang sangat sabar karena di-bully seperti apapun dia akan tetap dengan lapang dada membiarkan kami melanjutkannya. Kalau kata Arin, Mba Anggun memiliki selera humor yang rendah, analoginya : bahkan melihat pulpen yang jatuh tidak sengaja pun dia bisa tertawa.


Reno, semua orang di subunit ini bilang saya dan dia seperti bapak dengan anak. Panggilan saya terhadap dia adalah papski. Namun, kalau boleh mengkonfirmasi lebih jelas, jika bersama Arin saya menemukan sosok seorang kakak perempuan, jika bersama Reno saya bisa menemukan sosok seorang kakak laki-laki. Bila sudah berbincang dengan Reno, banyak hal yang dengan sendirinya keluar, tertumpahkan, terceritakan, hampir sama ketika saya menghabiskan waktu bersama Arin. Kalau kata Ajeng, di subunit ini hanya ada 2 orang yang sangat menjadi perhatian saya, yang pertama selalu Arin dan yang kedua Reno. Saya tidak pernah tahu seperti apa perhatian yang saya berikan kepada mereka, tetapi ketika saya peduli dan memberikan perhatian kepada seseorang, itu karena saya benar-benar ingin melakukannya dan benar-benar peduli akan orang itu, bukan sekedar basa-basi atau pura-pura.


Eviyan, saya memanggilnya dengan sebutan omski, dia adalah sosok teman yang sangat mudah diajak bercanda. tingkah laku yang unik dan suka melakukan berbagai kegiatan di luar hal yang sewajarnya dapat menimbulkan berbagai kebingungan tersendiri bagi orang-orang yang tidak terbiasa bersamanya. Dia memiliki panggilan sebenarnya Eep dan sering digoda oleh teman-teman satu subunit menjadi Eep di celana, Eep di sarung, atau hal-hal absurd lainnya. Namun, meskipun unik dan suka bercanda, Eep adalah sosok teman dengan tingkat kepedulian yang tinggi dan ya, dia teman yang menyenangkan.


Seno, dia adalah sosok tetua, sering saya menyebutnya pakdhe, tapi teman-teman sering menyebutnya mbah karena memang fisiknya yang tidak terlalu leluasa untuk mengerjakan pekerjaan yang agak berat. Meskipun begitu dia adalah orang pintar dengan berbagai prestasi dan pengalaman yang baik. Saya banyak mendengar ceritanya dan banyak belajar darinya. Dia pernah mengaku memiliki trauma tersendiri terhadap orang judes dan orang cerewet, sehingga dia meminta maaf kepada Arin karena tidak berani untuk memulai pembicaraan lebih dulu karena merasa bahwa Arin adalah orang yang judes. Kata-kata andalannya ketika terjadi hal tidak baik menimpanya adalah 'aseng' dan orang yang paling bisa menirukan cara bicaranya dengan sangat baik adalah Arin.


Reza, dia adalah orang yang mungkin bisa tidur lebih dari 24 jam dan sepertinya dia bisa tidur dimana saja. Saya memanggilnya Paklek. Dia adalah seorang gitaris yang baik, saya banyak belajar darinya mengenai musik. Saat melaksanakan kegiatan KKN, dia berkenalan dengan seorang gadis, anak dari pemilik toko depan homestay saya. Entah hanya bercanda atau memang perasaannya sudah berkata iya. Saya berharap yang baik untuk dia dan si mba warung depan rumah pondokan itu. Semoga langgeng :D
Saya mengenal mereka tidak cukup lama, tetapi 1,5 bulan berada di atap yang sama dengan mereka dan rutinitas yang membuat saya terbiasa menghadapi perilaku mereka (yang terkadang berada di luar akal sehat saya) membuat saya banyak belajar tentang perbedaan.
Seperti yang sering saya katakan, semua orang punya cara masing-masing dalam melakukan sesuatu, saya tidak pernah punya hak untuk marah, untuk menyalahkan, untuk meremehkan karena saya juga punya cara tersendiri.
Saya bukan tipe orang pemaksa agar orang lain bersedia menerima cara saya, yang terpenting bagi saya adalah ketika orang lain berteman dengan saya, orang tersebut merasa nyaman berinteraksi dengan saya dan tidak merasa terganggu dengan keberadaan saya di sekitarnya.


Jika diberi pilihan saya lebih memilih meleburkan diri untuk mengikuti cara mereka, tetapi itu bukan berarti saya tidak punya cara tersendiri, justru itulah cara saya, melebur dengan mereka, membiarkan mereka masuk dengan cara mereka ke dalam diri saya.


Sekarang kegiatan KKN sudah berakhir, saya tidak tahu harus bagaimana saya ungkapkan perasaan saya karena tahu saya telah berpisah dengan mereka. Keluarga kecil yang membuat saya lebih bisa menata apa yang berada di dalam diri saya. Keluarga kecil yang membuat saya bisa menekan rasa ego saya, sehingga saya menyadari tidak semua hal bisa berjalan sesuai dengan keinginan saya. Keluarga kecil yang membuat saya hangat di tengah dinginnya angin semeru yang menusuk kulit hingga saya malas mandi. Keluarga kecil yang membuat saya tidak pernah berpikiran untuk meninggalkan sholat satu kali pun. Keluarga kecil yang menambahkan banyak tawa di kosongnya hati saya ketika saya merindukan orang-orang rumah di Jakarta.


Saya suka sekali berada di antara kalian. Saya suka makan bersama kalian, menggelar sajadah bersama dan sholat berjamaah dengan kalian, saya suka nonton tv dan mengomentari setiap hal yang ditayangkan di tv bersama kalian. Saya suka ketika saya membuka mata di pagi hari saya menemukan kalian sedang asik bercengkrama satu sama lain membicarakan agenda yang harus dijalani hari itu, saya suka berwisata dengan kalian, saya suka bersenda gurau dengan kalian, saya suka cara kalian memperlakukan saya dan membuat saya tertawa senang.


Kalian orang-orang baik yang menyenangkan. Maaf jika selama 1,5 bulan kalian berada di atap yang sama dengan saya, saya merupakan orang yang susah diatur, orang yang masih kekanak-kanakan, orang yang tidak memiliki keahlian apa-apa, orang yang sering membuat masalah, orang yang menyebalkan, orang yang manja, dan orang yang merepotkan.


Maaf saya hanya bisa menjadi saya yang seperti ini dengan berbagai kecerobohan dan ketidakpastian pemikiran. Terima kasih karena kalian telah bersedia menerima saya yang seperti ini, terima kasih karena kalian begitu baik meninggalkan kenangan yang baik untuk saya.


Nanti, setelah kalian tidak sibuk, saya tidak sibuk, kita sama-sama tidak sibuk, saya ingin kembali bertemu dengan kalian. Saya ingin ketika bertemu dengan kalian, saya masih bisa melihat senyum yang sama menyenangkannya, cerita yang masih sama serunya, dan tawa yang masih sama cerianya.


Sehat terus ya kalian, kalian adalah orang yang baik, jadi seperti hal yang saya pesankan kepada kalian, orang baik harus hidup dengan baik.

Sampai bertemu di waktu yang berbeda dengan pemikiran yang lebih dewasa. Tetaplah seperti kalian yang semenyenangkan seperti sekarang ini, saya mohon jangan berganti. Jika memang harus berganti, jadilah kalian yang beberapa langkah lebih maju dan kalian yang beberapa tingkat lebih baik. Sampai tiba waktunya kita bertemu lagi, selama itu saya akan banyak sekali merindukan kalian.


-----


NB : Dedicated to Subunit 1 Wonorejo, terima kasih kalian sudah menjadi teman sekaligus keluarga yang begitu baik terhadap saya. Maaf jika begitu banyak kesalahan yang telah saya lakukan, jika ada hal yang tidak berkenan di hati kalian, katakanlah. Jangan tiba-tiba pergi meninggalkan saya. Apapun kesalahan itu, please let me know, because i'll try my best to fix it.

by Dita Oktamaya

Wednesday, July 4, 2012

Seharusnya Kau Bisa

Seharusnya kau bisa tidak lelah belajar, karena belajar adalah mencari tahu selama kau hidup, berkarya selama kau sanggup. Sesederhana itu.

by Dita Oktamaya

Bagi Saya #3

ini bukan masalah suka atau tidak, ini masalah pembuktianmu berkata sanggup berada beberapa langkah di depan mereka.

by Dita Oktamaya

#7

Banyak sekali bakat yang hilang di dunia ini karena tak adanya keberanian untuk memulainya.

by Dita Oktamaya

#6

Tidak selalu hubungan berjalan dua arah, kadang hubungan satu arah pun harus ada sebagai bukti kita berteman dengan tulus. Apapun itu, jadilah orang baik dan hidup dengan baik.


by Dita Oktamaya

Bagi Saya #2

Saya bisa saja lupa, tidak ingat beberapa hal yang tidak menyenangkan, tetapi saya tidak mau. Kenapa harus lupa?


by Dita Oktamaya

Tetap Saja

Kamu benar, kita memang masih melihat langit yang sama dan berpijak pada bumi yang sama. Namun, kamu harus tahu, seberapa besar kamu membujuk saya tentang kesamaan yang kita alami, tetap saja jarak yang terbentang nyata di depan mata, membuatmu tidak bisa saya raih dari sini.

by Dita Oktamaya

Saturday, June 30, 2012

Lelah

Bisa minta waktu sebentar?
Kenapa?
Aku ingin meluruskan hal yang belum terselesaikan
Baiklah. Apa yang ingin kamu tahu?
Alasan kepergianmu yang terlalu tiba-tiba
Kamu tahu alasan utama aku meninggalkanmu?
Hmm... bosan?
Bukan. Aku lelah karena kamu terlalu mengandalkanku



Kita terdiam. Saya sibuk dengan pikiran saya dan kamu sibuk dengan pikiranmu. Saya tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Kamu lelah karena terlalu seringnya saya mengandalkanmu. Ya, kamu pergi dengan alasan yang membuat saya begitu merasa amat bersalah. Saya tidak pernah berpikir bahwa saya terlalu mengandalkanmu. Saya hanya berpikir kamu tidak akan keberatan untuk selalu berada di samping saya. Saya tidak pernah bermaksud memanfaatkanmu atau bahkan membuatmu lelah karena menghabiskan waktu dengan saya. Kita masih terdiam. Hati saya sakit mendengar alasan mengapa kamu meninggalkan saya. Lelah. Kamu lelah dengan saya. Alasan yang bahkan tidak pernah saya duga. Airmata saya mengalir tanpa henti. Bukan, bukan karena saya terlalu lemah menyikapi perpisahan. Bukan karena saya yang terlalu rindu dengan kehadiranmu setelah sekian lama kamu menghilang. Namun, lebih karena alasan mengapa kamu pergi. Kamu lelah dengan saya. Seharusnya saya dapat memahaminya. Saya bingung harus bagaimana menyikapinya. Lelahmu. Lelahmu akan saya. Kamu lelah karena saya terlalu mengandalkanmu. Kamu lelah karena kemana pun saya pergi saya pasti akan kembali padamu. Kamu lelah dengan semua hal yang kita jalani. Kamu lelah dengan saya. Saya berpikir banyak dalam diam. Jika kamu lelah dengan saya, seharusnya saya juga bisa dengan mudah lelah karena kamu. Saya melakukan hal yang sama denganmu. Menghabiskan waktu bersama denganmu. Kemana pun kamu pergi, kamu akan kembali kepada saya. Jika dilihat seperti itu, seharusnya saya juga bisa lelah padamu. Saya seharusnya juga bisa mengatakan bahwa kamu terlalu mengandalkan saya untuk terus berada di sampingmu. Namun, saya berpikir kembali. Mungkin saya lelah denganmu. Mungkin saya merasa terlalu diandalkan olehmu, tetapi saya tidak peduli. Hal yang saya tahu adalah hal itu lah yang seharusnya saya lakukan untukmu. Sudah sejak awal saya katakan padamu. Saya tidak memiliki apa-apa untuk saya banggakan. Saya bukan orang yang baik. Bukan orang yang dapat sepenuhnya bisa menolongmu dengan ini-itu. Saya hanya saya. Saya tidak pernah memintamu untuk selalu berada di samping saya, tetapi kamu yang melakukannya lebih dulu. Saya hanya berpikir itulah yang ingin kamu lakukan. Itulah yang ingin kamu tunjukkan kepada saya. Kamu ada untuk saya dan saya ada untuk kamu. Saya berpikir seperti itu. Saya pikir kamu juga berpikir seperti itu. Hal yang sederhana dan seharusnya dapat sesederhana itu kamu pahami. Hal sederhana yang kemudian menjadi rumit karena setelah sekian banyak hal yang kita lewati bersama, kamu berkata lelah akan hal itu. lLelah akan segala hal mengenai saya. Lelah karena saya.


by Dita Oktamaya

Friday, June 29, 2012

Formalitas

Apa kamu baik-baik saja?
Iya, aku baik-baik saja. Kamu?
Baik-baik juga.


Selesai. Perbincangan kita terhenti di situ. Satu sama lain bingung ingin membicarakan apa. Satu sama lain bingung memulai pembicaraan darimana. Entah terlalu banyak yang harus diceritakan atau terlalu sulit mencari bahan pembicaraan. Hanya formalitas. Kamu teman saya dan saya temanmu. Satu sama lain hanya bisa bertanya kabar. Itu sudah. Tidak ada cerita macam-macam yang membuat suasana menjadi nyaman. Bukan kita tidak mau berusaha membuat nyaman satu sama lain. Ya, kita bingung. Seperti tidak ada kepentingan untuk dibicarakan. Hanya formalitas untuk saling mengingatkan bahwa satu sama lain masih berteman. Formalitas. Tidak lebih. Seharusnya bisa lebih karena pertemanan lebih dari itu. Namun, salah satu di antara kita belum ada yang sanggup. Mungkin nanti akan sanggup atau mungkin tidak karena yang kita jalani hanya formalitas. Hanya suatu keharusan, bukan keinginan. Semoga ketika kamu berbicara kamu baik-baik saja itu benar adanya. Saya? Tidak tahu. Saya tidak sempat berpikir saya baik-baik saja atau tidak baik-baik saja, tetapi saya ingin kamu tahu bahwa saya dalam keadaan baik-baik saja. Saya penasaran bagaimana saya membuat otakmu berpikir bahwa saya adalah benar-benar temanmu, bukan sekedar formalitas. Sudahlah. Saya tidak akan bisa mengubah otakmu. Saya menerimamu yang seperti itu untuk menjadi teman saya. Ini bukan formalitas. Ini kesungguhan saya karena ingin terus berteman baik denganmu. Semoga kamu benar-benar dalam keadaan baik karena harapan saya tentang dirimu yang dalam keadaan baik bukan sekedar formalitas. Saya peduli padamu. Peduli yang kamu anggap hanya formalitas. Tidak. Saya benar-benar peduli padamu. Ini ketulusan saya untuk berteman dengan siapapun. Hanya kadar peduli saya padamu saja yang berbeda. Ini bukan formalitas. Kamu seharusnya tahu dan saya tahu bahwa kamu sudah tahu. Kita berteman. Berteman dekat dengan kadar kedekatan yang hanya kita dan Tuhan yang tahu. Seharusnya bisa sesederhana itu kamu pahami yang kemudian menjadi begitu rumit karena apa yang kita jalani selama ini, bagimu hanya sekedar formalitas.

by Dita Oktamaya

Friday, June 22, 2012

Kamu Sudah Besar, Jaga Mereka Baik-baik

"Selamat ulang tahun, Jakarta. Kamu adalah kota yang (jika bisa) ingin saya hindari, tetapi kenangan yang kamu punya dan orang-orang penting dalam hidup saya yang terlanjur terbiasa denganmu, membuat saya selalu kembali."



Itu benar Jakarta, kamu adalah kota yang 'menakutkan' bagi saya, entah apanya.

Luasnya? Macetnya? Ketidakramahannya? Polusinya? Entahlah. Saya terkadang bingung apa yang bisa saya banggakan darimu, mall? Jangan bercanda, saya bahkan lelah dengan bangunan super megah yang hiruk pikuk itu. Dalam otak saya, kamu adalah seburuk-buruknya kota. Rasanya ingin memakimu yang lebih terkenal oleh kesombongannya daripada kesuksesannya.

Kamu tahu geger budaya macam apa yang saya alami selama saya tinggal di Jogja? Saya lebih banyak mendapat senyum, lebih tepat memperhitungkan waktu kepergian dan waktu kedatangan karena tidak ada macet di kota ini, menjadi lebih mengerti arah mata angin, lebih mengenal budaya Indonesia karena keragaman yang ditawari Jogja adalah budaya dalam wujud sesungguhnya, bukan wujud abstrak yang ditawari olehmu dengan keragaman dalam individualitas metropolitan.

Kamu semakin jauh untuk saya gapai, Jakarta. Semakin jauh dan semakin menakutkan.

Saya lahir, tumbuh, dan berkembang di kotamu. Saya akui, berbagai macam kenangan telah saya lewati. Dari saya yang terlalu pengecut untuk keluar rumah, menjadi saya yang bisa menjadi begitu galak dengan orang-orang iseng yang mengganggu kenyamanan saya setiap saya berjalan kaki. Dari saya yang berjalan menunduk, menjadi saya yang berjalan dengan satu jengkal meninggikan dagu. Dari saya yang sering menatap teduh, menjadi saya yang menatap tajam kepada siapapun.

Kamu tidak ramah, makanya saya kesulitan untuk bersikap ramah kepadamu.

Tapi apa kamu tahu? Saya tidak bisa menghindar darimu, meskipun saya mau. Saya tidak bisa terlepas darimu, meskipun saya ingin. Saya butuh kamu karena di tempatmu lah orang-orang penting dalam hidup saya berkumpul. Orang-orang penting dalam hidup saya tersebut sudah terbiasa dan sudah cukup kebal dengan ketidakramahanmu, Jakarta.

Mereka adalah orang yang paling baik dalam hidup saya, tidak bisa kah kamu ramah sedikit kepada mereka?

Saya benci mengatakan ini padamu, tetapi tolong jaga mereka. Kamu sudah besar, sudah 485 tahun, bersikap baiklah kepada mereka. Jangan buat mereka terlalu lelah dan jenuh terhadap keadaan yang kamu tawarkan. Jangan terlalu menyebalkan dengan waktu yang terasa selalu berjalan terlalu cepat setiap mereka melakukan kegiatan.

Pikirkan ini baik-baik, Jakarta. Jika bukan mereka yang membuat saya tertawa dan merasa dibutuhkan, saya pasti akan meninggalkanmu. Jika bukan mereka yang mengajarkan saya mengendarai sepeda agar ramah terhadap alammu, saya pasti tidak akan peduli denganmu. Jika bukan mereka yang menawarkan saya untuk mencoba jajanan pasar yang menarik perhatian saya dengan nama unik seperti kue pancong, kue cubit, kue apem, dan kue-kue lainnya, saya pasti akan mengolok-olokmu. Tanpa mereka di kotamu, saya dapat pastikan saya sulit merindukanmu, Jakarta. Jadi, tolong jaga mereka baik-baik.

Saya tahu, terlalu susah untuk dikaitkan dengan logika jika saya berharap keterlepasanmu akan macet dapat terwujud, tetapi saya sangat berharap kehidupanmu dapat lebih baik dari itu. Kamu tahu kamu nyaris kehilangan simpati saya karena keangkuhanmu, kan? Tapi ingatlah, Jakarta, sampai kapanpun saya tidak akan bisa terlepas darimu. Meskipun sekarang saya bilang saya benci kamu dan kamu adalah seburuk-buruknya kota yang ada, saya tetap tidak akan terlepas darimu karena 18 tahun dari 485 tahunmu adalah milik saya yang saya habiskan dengan orang-orang penting dalam hidup saya.

Saya sangat berterima kasih karena kamu tidak pernah mengeluh atas keberadaan saya di kotamu selama 18 tahun. Saya harap kamu selalu dapat menjaga orang-orang penting dalam hidup saya itu. Kamu sudah besar, jadi pasti sudah bisa menjaga mereka dengan baik. Jangan marah atas perkataan saya yang banyak mencelamu dan mengatakan betapa saya menganggapmu sebagai seburuk-buruknya kota karena satu hal yang terlupa untuk saya katakan kepadamu adalah saya benci mengatakan benci padamu, Jakarta.


by Dita Oktamaya