Showing posts with label Birthday Wishes. Show all posts
Showing posts with label Birthday Wishes. Show all posts

Sunday, February 3, 2013

Selamat Bertambah Umur, Black Giraffe :)


"Aku hanya ingin memberikan sebuah kenangan, karena kenangan yang terkumpul bersamamu selama 365 hari adalah inspirasi untukku dan aku tidak akan pernah bisa melupakanmu. Bagiku, mengenalmu adalah titik gemar yang menjadi candu untuk menjalani hidup lebih baik lagi, selamat ulang tahun, Sahabatku."



Maaf saya lupa membeli lilin, hingga kamu tidak bisa meniup lilin ulang tahun seperti seharusnya manusia berulang tahun lainnya. Maaf saya merepotkanmu dengan tiba-tiba hadir di rumahmu dan membuat kegaduhan yang tidak seharusnya seorang manusia lakukan di rumah manusia yang lain. Maaf saya tidak bisa memberimu banyak kebaikan, hingga (sepertinya) kamu merasa begitu sengsara bersahabat dengan saya. Maaf karena terlalu banyak kesalahan dan kerepotan yang saya timbulkan, hingga kamu merasa gemas kepada saya. Maaf atas waktu yang terlalu sedikit, hingga kita tidak punya cukup ruang untuk menghabiskannya bersama. Maafkan atas segala kekonyolan, kebodohan, dan ketidakpekaan saya terhadap hal yang kamu inginkan.

Selamat ulang tahun, Sahabat yang tiada duanya, semoga di ulang tahunmu yang kesekian tahun ini membuatmu lebih bahagia dan bisa membahagiakan orang-orang yang berada di sampingmu dengan setia, membuatmu lebih menjadi pribadi yang selalu berhati nyaman seperti Jogjakarta, membuatmu lebih pandai merasa, membuatmu lebih banyak bersyukur atas apa yang ada. Sehat terus ya kamu, jadi nanti setelah berbagai hal yang memaksa kita untuk tidak bertemu dalam waktu yang lama terlalui, saya masih bisa melihatmu tersenyum bahagia dan tertawa bersama yang selalu membuat saya nyaman bersahabat denganmu *peluk erat*


by Dita Oktamaya

Monday, October 15, 2012

Selamat Ulang Tahun!

Selamat ulang tahun! 

Iya, hari ini ulang tahun saya. Iya, saya tambah tua. Iya, saya seharusnya berpenampilan sesuai dengan usia saya. Iya, saya masih kaget ternyata saya sudah berumur sedemikian adanya. Iya, tanggung jawab semakin banyak di depan mata. Iya, saya takut menyadari hal itu. Iya, saya belum siap jadi orang yang dianggap 'dewasa' karena usia yang semakin bertambah. Iya, saya banyak mengiyakan tetapi sesungguhnya itu beban untuk saya. 

Hari ini saya dibangunkan oleh telepon dari mama saya yang berada di Jakarta. Mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya dengan nada yang ceria, sedangkan saya dengan malas-malasan menerima telepon dari mama karena pada jam sedemikian paginya, saya masih tertidur. 

Setelah mama menelepon, beberapa menit kemudian papa juga menelepon. Sama seperti mama, papa menelepon mengucapkan selamat ulang tahun, tetapi papa dengan nada sedih kemudian terdengar sedikit terisak. Saya bingung hal apa yang membuat papa sedemikian sedih hingga menangis saat mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya. Saya hanya mampu menenangkan sekedarnya karena pikiran saya masih kacau antara bingung dan mengantuk, memang bukan anak yang baik. 

Kemudian kakak saya menelepon saya, dengan nada suara yang ceria tanpa beban, seperti biasa. Mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya, mengatakan ini-itu. Untungnya saya sudah benar-benar terjaga dari tidur saya, jadi saya dapat merespon kakak saya dengan baik dan benar.

Selanjutnya teman-teman yang datang menghampiri saya yang berantakan (meskipun sudah mandi), memberikan kue ulang tahun, menyanyikan lagu ulang tahun, berbincang bersama, tertawa bersama, dan menentukan hari kapan makan bersama padahal yang berulang tahun adalah saya.

Berikutnya teman kesayangan saya yang sampai detik ini saya juga heran mengapa dia bisa menjadi teman kesayangan saya, Damar, seorang perempuan bernama laki-laki. Dia mengirimkan pesan singkat, menanyakan keberadaan saya dan meminta saya untuk mengambil hadiah ulang tahun darinya. Sungguh, saya bingung mengapa Damar bisa menjadi teman kesayangan saya, padahal dia dengan sebegitu cueknya malah meminta saya menghampirinya untuk mengambil hadiah ulang tahun, bukan dia yang datang menghampiri saya dan mengucapkan selamat ulang tahun dengan baik dan benar, persahabatan yang unik. Memang pada akhirnya dia singgah ke kos saya, seperti biasa, mengacaukan kamar saya yang sudah kacau. (Hampir) makan kue ulang tahun di atas kasur saya, mencoret-coret time table saya, mempermainkan ukulele saya, dan membuat video untuk saya (yang ini tidak bisa dipublikasi karena merupakan konsumsi pribadi :D)

Lalu teman lelaki saya, manajer WEBG (saya pernah menulis tentang WEBG di postingan sebelum-sebelumnya) dia datang, kemudian hujan turun. Kami terjebak hujan. Dia memberikan hadiah ulang tahun kepada saya, kemudian kami menghabiskan bensin motor dengan cuma-cuma karena berkeliling kota Jogja tanpa arah dan tujuan.

Yang terakhir, teman saya, Alin. Dia menelepon saya, menyanyikan lagu ulang tahun dengan sangat baik. Dia bernyanyi, lewat telepon, karena sekarang dia berkuliah di Solo.

Ada banyak hal yang ingin saya katakan kepada mereka, terima kasih yang banyak banyak banyak banyak tak terhingga sampai saya bingung bingung bingung bingung bagaimana mengungkapkannya. 

Untuk mama dan papa : Terima kasih untuk dukungan dan doa yang selalu diberikan kepada saya dan selalu menyerahkan pilihan kepada saya dengan alasan yang penting saya suka menjalankannya, sampai akhirnya saya selalu ikhlas menjalani apapun karena saya menyukainya. Terima kasih karena kalian tidak pernah menuntut saya untuk jadi ini atau jadi itu. Saya akan berusaha untuk selalu membuat kalian bangga dengan apa yang saya lakukan. Dengan karya-karya saya, dengan cita-cita saya. Tolong jangan pernah berhenti mendoakan saya karena doa kalian selalu jadi semangat yang tidak pernah buat saya merasa sendirian di tempat jauh ini.

Untuk Kakak (Kak Tami) : Terima kasih untuk dukungan dan doa yang tidak pernah habis untuk saya. Terima kasih karena ketika banyak orang tidak percaya dengan kemampuan saya, kamu masih percaya. Terima kasih sudah menjadi teladan yang paling baik untuk adik macam saya. Saya tahu, menjadi anak pertama adalah hal yang tersulit dan membebankan karena harus menjadi contoh yang baik untuk adiknya, tapi sesulit apapun itu kamu selalu berhasil jadi contoh yang baik untuk saya. dan selalu bisa jadi penyemangat terbaik saya. Terima kasih untuk doa-doa baik yang kamu kasih untuk saya, karena doa-doa itu lah saya mampu bertahan sendirian di 512 km jauhnya dari rumah.

Untuk teman-teman (Tiara, Jessica, Febi, Fitri, Ayi) : Terima kasih sudah jadi teman yang suka tertawa, hal itu yang selalu berhasil menghibur saya ketika saya berada di sekitar kalian. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk memberikan kejutan untuk saya, kalian teman yang baik.

Untuk Damar : Kamu adalah satu-satunya teman yang selalu ingin saya ceritakan apapun itu. Maafkan saya jika saya selalu banyak merepotkanmu dengan segala bentuk permintaan ini-itu. Terima kasih karena kamu selalu bersedia menyediakan rumah untuk saya berteduh ketika saya merasa haus akan keberadaan saya di rumah saya yang sesungguhnya. Terima kasih telah memperkenalkan saya dengan hal-hal baru yang sebelumnya tidak pernah saya kira saya menyukainya. Terima kasih karena kamu telah menjadi teman yang menyenangkan. Saya tahu saya bukan teman yang baik, yang selalu ditunggu kedatangannya, yang selalu diharapkan keberadaannya, tetapi saya suka sekali karena seperti apapun saya, kamu masih bersedia menjadi teman saya, sahabat saya, soul sister saya, partner bermusik dan segala bentuk kesenian saya, teman diskusi saya, teman tertawa saya, teman menangis saya, teman menggila saya, teman melakukan hal konyol dengan imajinasi yang berlebih. Terima kasih, Dam, kamu telah berusaha memahami saya dan menutupi segala kekurangan saya sebagai temanmu. Maafkan saya jika banyak hal yang saya lakukan menyakitimu dan membuat dirimu merasa tidak baik, maafkan saya teramat sangat. Jika kamu masih mempertanyakan mengapa saya menjadikanmu teman kesayangan saya, sampai saat ini pun saya tidak tahu pasti kenapa saya begitu menyayangimu, yang saya tahu sangat jelas adalah saya senang berteman denganmu karena kamu membuat saya membuat sesuatu.

Untuk Herry : Terima kasih sudah menjadi teman (dan manajer) yang baik dengan tingkat baik berlebihan sampai kamu rela meluangkan waktu untuk menemani saya ini-itu. Maaf jika saya banyak merepotkanmu, semoga kamu selalu diberi keberkahan karena telah menjadi orang baik.

Untuk Alin : Terima kasih nyanyian selamat ulang tahunnya. Kamu selalu bisa mengingatkan saya bahwa jarak bukanlah halangan seseorang untuk terus berteman, menjalin tali silaturahmi. Terima kasih kamu telah mengajari saya banyak hal tentang pandangan-pandanganmu tentang masa depan. Terima kasih kamu selalu berusaha meluangkan waktu untuk menemui saya ketika kamu mampu. Kamu teman yang baik.

Dan untuk teman-teman lain yang memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada saya, terima kasih banyak  karena kalian telah bersedia meluangkan waktu untuk itu. Semoga hari kalian selalu menyenangkan, semoga keberkahan hadir di antara kalian. Semoga di usia saya yang bertambah ini, saya masih bisa terus berada di hati kalian. Semoga kita selalu diberi kesehatan dan kemudahan dalam menjalani berbagai macam hal dalam hidup kita. Semoga Allah selalu memberkahi setiap langkah kita. Semoga.


by Dita Oktamaya

Friday, June 22, 2012

Kamu Sudah Besar, Jaga Mereka Baik-baik

"Selamat ulang tahun, Jakarta. Kamu adalah kota yang (jika bisa) ingin saya hindari, tetapi kenangan yang kamu punya dan orang-orang penting dalam hidup saya yang terlanjur terbiasa denganmu, membuat saya selalu kembali."



Itu benar Jakarta, kamu adalah kota yang 'menakutkan' bagi saya, entah apanya.

Luasnya? Macetnya? Ketidakramahannya? Polusinya? Entahlah. Saya terkadang bingung apa yang bisa saya banggakan darimu, mall? Jangan bercanda, saya bahkan lelah dengan bangunan super megah yang hiruk pikuk itu. Dalam otak saya, kamu adalah seburuk-buruknya kota. Rasanya ingin memakimu yang lebih terkenal oleh kesombongannya daripada kesuksesannya.

Kamu tahu geger budaya macam apa yang saya alami selama saya tinggal di Jogja? Saya lebih banyak mendapat senyum, lebih tepat memperhitungkan waktu kepergian dan waktu kedatangan karena tidak ada macet di kota ini, menjadi lebih mengerti arah mata angin, lebih mengenal budaya Indonesia karena keragaman yang ditawari Jogja adalah budaya dalam wujud sesungguhnya, bukan wujud abstrak yang ditawari olehmu dengan keragaman dalam individualitas metropolitan.

Kamu semakin jauh untuk saya gapai, Jakarta. Semakin jauh dan semakin menakutkan.

Saya lahir, tumbuh, dan berkembang di kotamu. Saya akui, berbagai macam kenangan telah saya lewati. Dari saya yang terlalu pengecut untuk keluar rumah, menjadi saya yang bisa menjadi begitu galak dengan orang-orang iseng yang mengganggu kenyamanan saya setiap saya berjalan kaki. Dari saya yang berjalan menunduk, menjadi saya yang berjalan dengan satu jengkal meninggikan dagu. Dari saya yang sering menatap teduh, menjadi saya yang menatap tajam kepada siapapun.

Kamu tidak ramah, makanya saya kesulitan untuk bersikap ramah kepadamu.

Tapi apa kamu tahu? Saya tidak bisa menghindar darimu, meskipun saya mau. Saya tidak bisa terlepas darimu, meskipun saya ingin. Saya butuh kamu karena di tempatmu lah orang-orang penting dalam hidup saya berkumpul. Orang-orang penting dalam hidup saya tersebut sudah terbiasa dan sudah cukup kebal dengan ketidakramahanmu, Jakarta.

Mereka adalah orang yang paling baik dalam hidup saya, tidak bisa kah kamu ramah sedikit kepada mereka?

Saya benci mengatakan ini padamu, tetapi tolong jaga mereka. Kamu sudah besar, sudah 485 tahun, bersikap baiklah kepada mereka. Jangan buat mereka terlalu lelah dan jenuh terhadap keadaan yang kamu tawarkan. Jangan terlalu menyebalkan dengan waktu yang terasa selalu berjalan terlalu cepat setiap mereka melakukan kegiatan.

Pikirkan ini baik-baik, Jakarta. Jika bukan mereka yang membuat saya tertawa dan merasa dibutuhkan, saya pasti akan meninggalkanmu. Jika bukan mereka yang mengajarkan saya mengendarai sepeda agar ramah terhadap alammu, saya pasti tidak akan peduli denganmu. Jika bukan mereka yang menawarkan saya untuk mencoba jajanan pasar yang menarik perhatian saya dengan nama unik seperti kue pancong, kue cubit, kue apem, dan kue-kue lainnya, saya pasti akan mengolok-olokmu. Tanpa mereka di kotamu, saya dapat pastikan saya sulit merindukanmu, Jakarta. Jadi, tolong jaga mereka baik-baik.

Saya tahu, terlalu susah untuk dikaitkan dengan logika jika saya berharap keterlepasanmu akan macet dapat terwujud, tetapi saya sangat berharap kehidupanmu dapat lebih baik dari itu. Kamu tahu kamu nyaris kehilangan simpati saya karena keangkuhanmu, kan? Tapi ingatlah, Jakarta, sampai kapanpun saya tidak akan bisa terlepas darimu. Meskipun sekarang saya bilang saya benci kamu dan kamu adalah seburuk-buruknya kota yang ada, saya tetap tidak akan terlepas darimu karena 18 tahun dari 485 tahunmu adalah milik saya yang saya habiskan dengan orang-orang penting dalam hidup saya.

Saya sangat berterima kasih karena kamu tidak pernah mengeluh atas keberadaan saya di kotamu selama 18 tahun. Saya harap kamu selalu dapat menjaga orang-orang penting dalam hidup saya itu. Kamu sudah besar, jadi pasti sudah bisa menjaga mereka dengan baik. Jangan marah atas perkataan saya yang banyak mencelamu dan mengatakan betapa saya menganggapmu sebagai seburuk-buruknya kota karena satu hal yang terlupa untuk saya katakan kepadamu adalah saya benci mengatakan benci padamu, Jakarta.


by Dita Oktamaya

Friday, February 3, 2012

Dariku Yang Tak Sempat Terucap

Selamat pagi, Teman
masih tertidur? Pasti.
Maaf aku membangunkan dirimu saat semua orang seharusnya mulai terlelap.

Kau baik-baik saja kan? Aku tahu.
Karena pasti pada jam ini kau sedang tertidur di samping kakak kesayanganmu.

Mimpi apa kamu?
Kuharap bukan mimpi menyebalkan yang dapat membuatmu menjadi galak seharian.

Banyak hal yang aku ingin katakan saat membangunkanmu pagi ini,
tetapi sepertinya kau sangat lelah dengan semua hal yang telah kau lalui kemarin.

Hari ini adalah hari di mana 20 tahun yang lalu kau terlahir ke dunia ini.
Bagaimana rasanya?

Aku menyanyikan lagu sumbang dengan bahasa Korea kepadamu pagi tadi.
Bagaimana menurutmu? Apa aku layak mendapat penghargaan penyanyi terbaik?

Ah, tak apalah jika kau bilang suaraku jelek. Memang.

Namun, aku senang masih sempat kunyanyikan lagu itu untukmu.

Dan kau bahkan tidak merespon dengan baik karena kantuk yang membuatmu menjadi orang yang pendiam. Sudahlah. Salahku membangunkanmu pagi tadi. Maaf.

Selamat ulang tahun, Teman.

Ingin rasanya aku memelukmu sambil mengucapkan itu,
tetapi kau sibuk dan aku bukan teman yang baik yang dapat sukses merencanakan kejutan ulang tahun untukmu di tengah malam. Maaf.

Ah, aku juga bukan orang yang kreatif yang dapat membuatkanmu sebuah lagu ulang tahun atau karya lain yang dapat membuatmu menangis terharu. Maaf.

Aku bukan teman seniman andalanmu yang dapat membuatmu tersentuh dengan karya-karyanya. Aku hanya temanmu yang bahkan untuk menemukan dirimu mengandalkanku pun aku tidak bisa. Maaf.

Ah, aku juga bahkan tidak pandai membuatmu tertawa dan bahkan sering kali membuatmu repot dengan segala macam bentuk pertolongan yang aku minta. Maaf.

Meskipun begitu, kau tahu aku, Teman. Kau dapat merepotkanku bahkan di saat aku sedang tertidur lelap pun. Kapan saja.

Kau tahu aku, Teman. Ah, atau mungkin kau tidak tahu aku?

Baiklah, aku memang belum bisa menjadi teman yang (sangat) baik untukmu, tetapi kau tahu aku, Teman. Aku berusaha mati-matian untuk itu.

Oh ya, perjalananku saat di Jakarta kemarin, menyenangkan. Akan bagus sepertinya jika kau ikut pergi bersamaku ke Jakarta, tetapi kau sibuk dengan kewajibanmu dan aku bukan teman yang baik yang dapat ikut sibuk bersamamu dan teman yang begitu patuh saat kau menyuruhku pulang ke Jakarta. Maaf.

Aku bertemu banyak teman di Jakarta, Teman. Teman yang bagimu asing dan bagi mereka pun kau asing.

Ah, kau mungkin berpikir bahwa aku gila? Memang.

Kuminta mereka mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu dan mereka pun bersedia meskipun sering terdengar dari mereka bahwa mereka tidak mengenalmu, kau pun demikian, bukan?

Ah, menurutku tidak masalah. Karena nanti ketika kau sedang berkunjung ke Jakarta, mereka lah yang akan kau temui bersamaku. Mereka orang baik, Teman. Dan aku tahu kau pun demikian.












Letter for Baobao
(Maaf meniru gayamu menulis postingan blog untuk aku :D)



Aku bukan teman yang kreatif yang bisa buatin kamu video keren yang bisa buat kamu terharu sampe nggak bisa tidur seharian karena terlalu senang atau bahagia.

Aku cuma bisa cerita tentang kamu yang ulang tahun di setiap tanggal 3 Februari, kamu yang teman aku, kamu yang memiliki nama seperti nama cowok, kamu yang jadi teman baikku di Jogja, kamu yang jadi semangat aku untuk bertahan di Jogja saat aku kangen rumah, kamu yang lucu dan konyol yang ngenalin aku dengan hal yang tadinya aku nggak tahu kalau itu menarik (terutama ukulele dan jerapah), aku cuma bisa cerita itu kepada teman-teman yang ngucapin selamat ulang tahun untuk kamu di video di atas. Hanya itu yang aku bisa.

Kamu tahu nggak? Ulang tahunmu adalah hari yang menyenangkan untuk aku karena di hari itulah kamu lahir dan akhirnya sekarang aku bisa mengenal kamu. Senang sekali rasanya bisa mengenal kamu, ngabisin waktu bareng-bareng sama teman seperti kamu.

Kita pernah terjebak hujan bareng (sampe bingung dan marah-marah berdua karena kita jadi nggak bisa pulang cepet dari kampus), bercanda dan ngobrol berisik di motor (sampe kamu ngomelin aku untuk diam soalnya kamu susah nyetir kalau aku terus berisik dan buat kamu ketawa), kita pernah nonton film lawas kesukaan kita sambil ketawa-ketawa di setiap adegan-adegan yang kita sering lakuin muncul di film itu (padahal itu udah lewat tengah malam banget). Kita pernah pergi ke pameran lukisan bareng dan saat itu aku membuat kamu membonceng aku dengan motor matic yang belum pernah kamu kendarain sama sekali (itu adalah hari pertama kamu ngendarain motor matic, pertama kalinya kamu membonceng aku, dan saat itu kamu nggak ada henti-hentinya manggil aku berisik karena takut kamu salah narik rem), kita pernah nggak sengaja ketemu di festival komik dan saat itu kita senang banget karena kita nggak nyangka kita bisa ketemu tanpa janjian di acara itu (sampai akhirnya aku minta kamu untuk beliin aku takoyaki dan kamu nyuruh aku untuk ngerayu penjual es teh untuk dapetin es teh gratis, meskipun gagal juga =.=").

Kita juga pernah buat kamar kosku berantakan dan berisik karena main pianika dan ukulele yang sedikit tidak terkontrol karena kamu meniup pianika dengan sekuat tenaga yang kamu punya setelah aku bilang nggak apa-apa buat keributan di kosku (dan untungnya saat itu siang hari), kita pernah sarapan sambil kepanasan karena tempat duduk yang kita pilih tempatnya langsung kena terik matahari Jogja yang bisa buat kulit jadi belang hanya dalam beberapa menit (kita sarapan sambil merem-melek karena masih ngantuk dan karena memang matahari yang terlalu silau untuk kita yang nyawa dan pikirannya masih melayang-layang). Kita pernah kerja bareng. Kita pernah ngoreksi kertas ujian mahasiswa-mahasiswi fakultas lain yang saat itu kertasnya sangat banyak dan kita sampe hafal kunci jawaban ujian itu (kita bahkan nggak rela kalau ada orang yang kunci jawabannya salah atau nggak ada jawaban mereka yang sama sekali benar). Dan banyak hal lainnya yang kita lakukan, hal konyol lainnya yang sampai aku menulis ini pun aku tersenyum sendiri karena ingat ada beberapa hal yang pernah kita lakukan itu bukan hal biasa yang mungkin dilakukan oleh orang biasa.

Aku senang menghabiskan waktu dengan teman seperti kamu.

Kuliah hanya tinggal beberapa semester lagi dan kita nggak pernah tahu ke depannya kita akan seperti apa dan akan tinggal di mana. Kalau aku mikirin itu aku jadi sedih sendiri.

Kamu tahu? Ah, mungkin kamu nggak percaya, tetapi aku ingin kamu tahu kalau aku sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat senang mengenal kamu, jangan lupa aku ya. Aku tahu manusia nantinya akan punya kehidupannya masing-masing, tetapi aku mohon, jangan lupa aku, jangan pernah berganti, jangan pernah seperti itu ya. Meskipun nantinya kamu memiliki kesibukanmu yang susah menemukan titik habisnya, tetapi tolong, jangan lupa aku.

Kamu mungkin bilang aku egois, tetapi aku mohon jangan lupa aku. Aku sangat senang mengenal kamu, Damar. Aku sangat senang menjadi teman kamu, sangat senang sampai ketika aku menulis ini atau sampai kamu membaca postingan ini pun aku bingung bagaimana aku nunjukin rasa senang dan syukur aku karena aku bisa mengenal teman seperti kamu.

Terima kasih untuk semuanya, Damar.

Meskipun lahir di dunia ini bukanlah pilihan yang bisa kamu pilih, tetapi aku berterima kasih kepada Tuhan karena dia telah membuat kamu terlahir di dunia ini. Terima kasih untuk semuanya ya, dan lagi-lagi sampai aku menulis ini atau sampai kamu membaca postingan ini pun aku nggak tahu kenapa aku berterima kasih sedemikian rupa seperti ini, aku hanya merasa begitu bersyukur kamu terlahir di dunia ini dan aku bersyukur karena aku diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bisa mengenal teman seperti kamu. Selamat ulang tahun... Baobao :)


Your Noisy Friend,


Dita

Wednesday, December 30, 2009

Happy Birthday!

Happy Birthday to Alin Maharani, my friend in UGM Yogyakarta. Hope all the things in this year could gives you lesson about the wisdom and kindness. Allah always be with you, girl! Keep smile because i know you are nice within' :)



Jakarta,
30-12-2009
With Love, Dita Oktamaya



By Dita Oktamaya

Wednesday, August 5, 2009

Happy Birthday!

Happy Birthday to Anitia Fani, my senior at Bahasa Korea 2008 UGM (Sarenni) Yogyakarta.
Hope you always be a great person with a great experiences. Allah always bless you. Thanks for always looking after of myself in here, Yogyakarta.


Yogyakarta,
03-08-09

With Love, Dita Oktamaya



By Dita Oktamaya

Saturday, May 16, 2009

Happy Birthday!

Happy birthday to Charity Anggraeni, my Junior High School's classmate since grade IX.
Hope you have great birthday and the best things in life.


Jakarta,
14-05-09
With love, Dita Oktamaya



By Dita Oktamaya

Sunday, April 12, 2009

Happy Birthday!

Happy birthday to Hong Hee Jung, Hong Young Gi's youngest sister.
Hope you growing up wisely... 생일 축하합니다...!!

Jakarta,
12-04-09
With love, Dita Oktamaya (Hong Ha Neul)



By Dita Oktamaya