Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Wednesday, March 11, 2009

Pacarku... Double!?

“Anti!” teriak Danu tepat di wajahku. Aku terhenyak, lalu memukulnya pelan.


“Sialan lo! Kaget tau!” seruku. Danu duduk di sebelahku sambil membenahi rambut jabriknya.


“Kenapa sih lo?” ujar Danu yang memandangku dengan tatapan sok imut. Aku diam. “Lo nggak tau, apa nggak mau kasih tau?” lanjutnya. Aku tetap diam. Danu terlihat pucat.


“Lo kenapa, Nu?” Aku bertanya khawatir. Sekarang gantian Danu yang diam. “Lo nggak tau, apa nggak mau kasih tau?” godaku, dengan pertanyaan yang sama dengan pertanyaannya. Danu nyengir kuda.


“Gue laper, Ti.” jawab Danu akhirnya. Aku menggelengkan kepala.


"Dasar lo! Ya udah pesen makanan aja, banyak pilihan di sini.” jawabku sambil mempromosikan café keluargaku. Danu beranjak dari tempat duduk, terlihat dia sedang memilah - milih makanan yang pantas dimakannya hari ini.


“Yang ini, Ti?” Danu berteriak padaku sambil menunjukkan sebuah cheese cake. Aku tersenyum sambil mengangkat jempol tanganku. “Ya pastinya lo bilang enaklah, orang ini café lo.” Danu kembali duduk di sebelahku sambil menikmati cheese cakenya.


“Pelan - pelan makannya, kalo pelanggan dateng langsung lo lahap semuanya, biar mereka nggak curiga makanannya terkena racun karena lo.” godaku lagi. Danu hanya nyengir kuda dengan makanan yang memenuhi mulutnya.


* * *


Panas matahari siang menyengat kulitku, Aku duduk di bawah pohon rindang belakang kampusku untuk menghidari sengatan matahari itu. Dari kejauhan ku lihat Danu datang menghampiriku dengan senyum yang sumringah.


“Baru dapet makanan gratisan, Nu?” tanyaku asal. Danu tetap tersenyum.


“Bukan.” jawabnya singkat. Aku mengerutkan dahi.


“Terus?”


“Ya nggak ada terus, pokonya hari ini gue lagi seneng aja.” jawabnya lagi. Aku meletakkan telapak tanganku di dahinya.


“Nu, lo nggak…”


“Ya nggak lah!” potong Danu langsung menepis tanganku. Aku tertawa.


“Maaf sayang aku telat.” Ryan tiba - tiba berada di antara kami berdua.


“Nggak apa - apa kok.” ujarku sambil menggandeng manja lengan Ryan, “Lagi pula Danu dari tadi nemenin, gue pergi dulu ya, Nu.” lanjutku, sambil beranjak pergi bersama Ryan.


* * *


Aku menyelesaikan catatanku dengan cepat, dengan cepat pula Danu datang menghampiriku dengan sorot mata yang tak seperti biasanya.


“Nu, lo kenapa lagi sekarang?” tanyaku, khawatir. Danu menatapku, angkuh.


“Gue nggak suka lo tadi ninggalin gue gitu aja, lo anggep gue apa sih?” tanya Danu geram.


“Lo marah?” tanyaku.


“Marah?!” mata Danu terbelalak, “Masih nanya gue marah atau nggak?!” Danu membanting buku dan duduk dua baris di seberangku. Aku menghampirinya.


“Nunu sayang, maaf ya… tadi gue nggak bermaksud ninggalin lo, tapi lo kan tau sendiri, gue sama Ryan udah jarang ketemu, tadi itu moment - moment yang udah gue tunggu - tunggu dari kemaren - kemaren.”


“Iya! tapi tadi gue dibuang gitu aja!”


“Lho gue bener - bener nggak bermaksud begitu… aha! gue tau… lo pasti cemburu kan sama gue?” Danu terlihat tersentak saat Aku menanyakan hal itu padanya, ku kira… Aku langsung menepisnya. Sahabat saling suka? Bukankah rasanya akan aneh?


“Gue nggak cemburu!” seru Danu. Aku segera memeluknya.


“Maaf, nggak lagi - lagi deh… lain kali, you one. Ok?” rayuku. Danu akhirnya tersenyum membalas pelukkanku seperti anak kecil.


* * *



Aku berpikir keras. Apa mungkin Danu menyukaiku? Lalu bagaimana dengan Ryan? Apa Aku mencintai Ryan? ataukah Danu? Aku memutar otakku, pusing banget!


“Kamu lagi apa sih, sayang?” tiba - tiba Ryan memelukku dari belakang. Aku terkejut.


“Lho, kok kamu ada di sini?” tanyaku, salah tingkah. Ryan menatapku bingung.


“Kamu kok pucat? Mau aku beliin obat?” tanyanya tanpa peduli dengan pertanyaanku. Aku menggeleng.


“Kamu kok ada di sini?” Aku mengulang pertanyaanku. Ryan mengangkat satu alisnya.


“Keluarga kamu buka café untuk umum kan?” tanyanya. Aku baru sadar bahwa ternyata kami berdua berada di café keluargaku.


“Aku lupa.” jawabku. Ryan tersenyum.


“Kamu kurang istirahat tuh, makanya jangan capek - capek.” Ryan memberiku nasehat. Aku mengangguk.


“Tapi aku ada tugas, dikumpulinnya minggu depan, boleh aku ngerjain sekarang?” tanyaku manja. Ryan menggeleng.


“Istirahat dulu lah, babe… kamu tuh udah bener - bener capek. Nanti aku bantuin bikin tugasnya deh, kalo perlu aku yang kerjain.” ujarnya. Aku tersenyum. “Kamu kalo lagi senyum manis deh.” tiba - tiba Ryan mencium keningku, Aku terhenyak, ini memang bukan kali pertama Ryan menciumku. Setiap kali Ryan menciumku pasti ada sesuatu yang membuatku senang, Tapi… kenapa getaran itu sekarang hilang?


* * *



“Ti, tebak sekarang gue lagi bawa apa?” Danu bertanya dengan ceria, sambil menyembunyikan tangannya di belakang. Hari ini dia cukup… keren! Ups!


“Apa?” tanyaku penasaran.


“Tebak dulu dong!” suruhnya. Aku pura - pura berpikir.


“Gue nyerah.” jawabku. Danu tertawa.


“Lo kan belom nebak tau! nih…” Danu menunjukkan blackforest kecil dengan lilin di atasnya bertuliskan 19 kepadaku.


“Buat siapa?” tanyaku, heran.


“Ya buat siapa lagi? Buat lo lah.” ujarnya, “Selamat hari burung!” serunya. Aku tertegun.


“Gila ya, gue lupa ultah gue sendiri.” ujarku. Danu memelukku.


“Ya wajarlah. Lo kan emang suka gitu.” Getaran ini… saat Danu memelukku, sama seperti pertama kali Ryan menciumku! Apa ini berarti…


“Happy birthday, honey!” ujar Ryan yang selalu datang tiba - tiba di antara kami berdua.


“Ryan?” Aku bertanya heran, entah kenapa Aku merasa kesal dengan kehadiran Ryan pada saat Aku sedang berdua dengan Danu. Ryan memelukku, pelukkannya masih hangat terasa. Tak sengaja tatapanku tertubruk pada Danu. Danu sedang menatap Aku dan Ryan dengan tatapan dingin yang penuh keangkuhan seperti saat dia marah padaku saat itu. Asyik dia cemburu!


“Aku mau traktir kamu sama Danu bareng - bareng, mau ya?” tanyaku sembari melepaskan pelukkannya. Ryan mengangkat satu alisnya.


“I have something to do. I’m so sorry, honey.” ujarnya seperti biasanya. Tapi entah kenapa Aku amat senang mendengarnya.


“Jadi, cuma aku sama Danu aja? Nggak apa -apa?” tanyaku pura - pura khawatir.


“Lho, bukan biasanya kayak gitu, kenapa harus apa - apa?” Ryan balik bertanya. Aku tersenyum. Ryan mencium pipiku, Aku langsung melepasnya. Aku takut Danu cemburu.


“Aku nggak enak sama Danu.” ujarku. Ryan tersenyum.


“I know. Aku pergi dulu ya sayang.” Ryan berlalu dari hadapan Aku dan Danu.


“So… Lo mau traktir gue apa?” tanya Danu ketika Ryan menghilang dari kejauhan.


“Yang jelas, gue nggak mau nraktir lo di café gue. Rugi.” jawabku. Danu tertawa sambil mengacak - acak rambutku.


“Yup! kita pergi sekarang?” tanya Danu.


“Gue ganti baju dulu yah.” ujarku. Danu mengangguk.


“Don’t be late!” serunya.


“Awas lo, jangan maling di rumah gue!” seruku sambil beranjak menuju kamar.

* * *


Suasananya romantis juga, sayang ini masih agak kesorean, kalau malam hari pasti banyak lilin - lilin dinyalain.


“Hello! gue nggak lagi jalan sama patung kan? Lo kenapa sih dari tadi diem aja?” Danu memecah kesunyian.


“Tempatnya bagus, Nu.” jawabku. Danu berhenti berjalan dan menggenggam tubuhku. Aduh Danu mau ngapain ya? jangan - jangan dia mau nembak gue! Aduh… gue harus jawab apa nih? Hatiku terus bertanya - tanya


“Ti, lo nggak apa - apa kan, Ti? Lo nggak inget ya? Kita kan sering ke sini, terakhir kali kita ke sini juga baru seminggu yang lalu.” ujar Danu. Fuh… ku kira dia ingin ngomong apa.


“Oh… Ya ampun! gue lupa Nu!” seruku mencoba menutupi kebodohanku.


“Yaelah, masa tempat bagus gini juga lo lupain sih.” seru Danu. Aku tertawa.


Aku dan Danu melewati hari dengan indah. Entah apa yang di rasakan Danu, tapi saat ini Aku merasa amat bahagia. Kami duduk di antara obor - obor tua, ada satu obor yang membuatku bingung, kenapa masih sore begini, obor itu sudah menyala ya? tetapi kemudian Aku berteriak, obor itu meledak hampir mengenai Danu, Aku langsung menghalangi api itu dengan tangan kananku, Danu terlihat panik ketika menemukanku dengan keadaan telapak tangan terbakar. Aku menjerit kesakitan.


“Nu sakit banget Nu!” ku lihat Danu kebingungan, dan terdengar jelas orang - orang di sekitarku berteriak histeris, Aku tidak ingat lagi, tubuhku lemas, dan…

* * *


“Are you ok?” tanya Danu. Aku merasa kepala dan telapak tangan kananku sangatlah sakit.


“Gue di mana, Nu?” tanyaku.


“Di rumah sakit, tadi lo pingsan, mungkin karena kesakitan, sakit banget ya?” tanya Danu. Aku mengangguk.


“Ya lumayanlah, Nu.” jawabku. Danu mengangguk.


“Makasih ya, Ti. Udah nolongin gue.” ujar Danu. Aku tersenyum. That’s what girlfriend are for, ups… that’s what friends are for! hehehehehe…


“Kamu nggak apa - apa?” Ryan seketika itu datang langsung memelukku.


“Nggak apa - apa.” jawabku.


“Tadi aku udah telfon mama sama papa kamu.” ujar Ryan. Aku terkejut.


“Mereka bisa panik! Kamu tuh kalo nelfon orang yang kira - kira dong, mereka tuh ada di Aussie, kerjaan mereka belom tentu juga udah selesai, aku nggak mau tau pokoknya kamu harus nenangin mereka.” ujarku, kesal. Ryan mengangguk.


“Iya, iya. Yang penting kan kamu sekarang nggak apa - apa, tadi waktu aku tanya dokter, aku telfon mereka lagi.” Ryan mencoba menenangkanku. Aku manyun, “Jangan merengut gitu dong sayang, maaf ya.” lanjutnya.


“Aku mau tidur.” jawabku. Ryan mengangguk. Aku langsung memejamkan mata, pura - pura tidur.


“Ya udah gue pulang dulu ya.” ujar Danu.


“Tunggu Nu, ada yang mau gue omongin.” ujar Ryan. Aku terkejut, aduh… apa mereka akan bertengkar gara - gara Aku?


Mereka berdua keluar dari kamarku dan berdiri di ruang tunggu yang suasananya sudah sepi itu. Diam - diam Aku mengintip mereka, suara mereka tidak terdengar! Aku pun membuka pintu supaya ada sedikit celah sehingga Aku bisa mendengar percakapan mereka berdua.


“Aku khawatir banget sama kamu. Kamu nggak apa - apa kan?” Aku mendengar Ryan membuka pembicaraan.


“Aku nggak apa - apa, untung ada Anti.” jawab Danu. Wait a Minute, kok mereka ngomongnya pake aku - kamu?!


“Aku nggak tau apa yang terjadi sama aku kalo kamu sampe celaka.” ujar Ryan sambil membelai bahu Danu. Wait, wait! mereka tuh nggak lagi berantem gara - gara Aku ya?


“Yang penting kan sekarang kamu bisa liat aku di sini.” Danu berbicara sambil tersenyum, senyum itu di balas dengan Ryan. Mereka berpelukkan! Oh God! Aku benar - benar nggak ngerti, bukankah mereka seharusnya bertengkar karena mengkhawatirkan keselamatanku?


“Aku seneng bisa kayak gini sama kamu.” ku lihat Ryan mencium pipi Danu dengan mesra. Wait, wait, wait! Aku tuh nggak mimpi kan? Mereka berdua kan… cowok! KOK?!?! Aku merasakan mataku membesar, membesar dan membesar saat menyaksikan adegan aneh itu. Jadi selama ini… kecemburuan Danu, sorot keangkuhan dari mata Danu, semuanya... ditujukan karena Ryan, bukan karena Aku!


GUBRRAAKK!! Aku terjatuh karena tersandung keset kamar rawat milik rumah sakit.


“ANTI!” seru Ryan sambil melepaskan pelukkannya dari Danu. Ketahuan deh!


“Aku nggak bisa tidur.” ujarku, mengelak, takut dicap tukang nguping. Ryan terlihat salah tingkah begitu pula Danu. Udah nggak usah ditutup - tutupin, gue udah tau semuanya! seruku dalam hati.


“Kamu sejak kapan di situ?” tanya Ryan. Aku pura - pura santai.


“Udah lumayan lama sih.” jawabku. Ryan dan Danu terlihat pucat.


“Ti, Lo nggak… maksud gue, lo…” Danu berbicara dengan gugupnya. Aku tersenyum.


“Lo ngomong yang jelas kenapa sih, Nu.” ujarku. Mereka berdua terdiam. “Fine, mungkin aku emang harus jujur. Yan, tadi aku liat semuanya. Aku nggak nyangka ternyata kamu sama Danu…” Aku menghela napas dengan berat, ternyata masih ada rasa sakit di hatiku, ku kira kejenuhanku pada Ryan menjadikan alasan kenapa Aku tidak menangis melihat ini, tapi kasih sayang dan perhatian Ryan, membuat hatiku merasa tidak rela, “Aku nggak percaya kalo ternyata kamu ‘double’, Yan. Lo juga, Nu… gue kira, lo cemburu karena suka sama gue, ternyata…” Aku tersenyum.


“Ti, Aku…” Ryan mencoba menjelaskan. Aku menggeleng.


“Yan, Aku sayang sama kamu, sama Danu juga. Tapi, Yan… Aku nggak bisa terus.” ujarku, tegas. Ryan mengangguk tanda mengerti.


“Maafin gue ya, Ti. Lo… masih mau jadi sahabat gue kan?” tanya Danu. Aku mengangguk.


“Why Not?” ujarku sambil tersenyum. Di balas dengan senyuman Danu dan Ryan.


Ada kelegaan di antara rasa sakit ini ketika ku lihat mereka berdua menatapku sambil tersenyum. Rasa sakit dan ketidakrelaanku memang hanya Tuhan yang tahu kapan rasa ini akan berakhir. Aku tidak tahu apa - apa, yang Aku tahu, Aku masih dapat menerima mereka menjadi ‘seseorang’ dalam hidupku.



Story By Dita Oktamaya

Friday, March 6, 2009

Sebening Cermin di Kamar Kos-mu

Aku menatap sosok tubuh mungil di foto berbingkai itu pada dinding kamar tidurku. Ia tersenyum, hingga beranjak dewasa sekarang ini pun, sosok itu masih suka untuk dipotret atau hanya sekedar mematut diri di depan cermin.


Hubungan kami memang sangat dekat, saat ini pun sanak saudara selalu mengerutkan dahinya bila menyadari kedekatan kami yang tidak dapat ditebak sebelumnya. Aku dan dia adalah dua gadis bersaudara, Dulu kami adalah dua individu yang berbeda yang sengaja disamakan karena mama menginginkan anak kembar meskipun jarak umur kami berbeda tiga tahun.


Kebiasaan mama menyamakan kebutuhan kami, mulai sepatu, baju dan aksesoris anak perempuan lainnya membuat kami iri satu sama lain jika salah satu dari kami dibelikan sesuatu yang lebih bagus atau berbeda. Tak jarang kami pun memaki dan menjambak satu sama lain, menangis iri layaknya anak kecil. Biasanya aku lah yang selalu menjadi pemenang, karena tubuhku lebih besar dan kuat mekipun aku lebih muda darinya, tetapi aku juga lah yang lebih sering menangis karena ulahnya yang sangat suka menjahiliku. Seiring berjalannya waktu, kami pun menyadari bahwa kami adalah individu yang memang benar-benar berbeda. Kini aku menemukan apa yang menjadi kesukaanku, begitu pun dirinya.


Dan kini kecerdasannya pun membawanya untuk menuntut ilmu lebih banyak lagi di universitas negeri terkemuka di Indonesia, Universitas Indonesia. Dengan staminanya yang kurang kuat, jarak antara Depok dan Jakarta pun dihilangkannya, ia pun memutuskan untuk tinggal terpisah dari rumah dan tinggal di salah satu rumah kos dekat kampus kesayangannya.


Setiap akhir pekan ia kembali ke rumah. Meskipun begitu, di hari-hari sebelumnya tanpa kehadirannya di rumah terasa hampa bagiku. Pertengkaran kami saat masih kecil dulu berubah seiring beranjak dewasanya kami berdua, tatapan iri untuk dapat memiliki sesuatu yang lebih bagus, mengubah kami untuk saling memberi yang terbaik satu sama lain. Makian dan jambakan yang sering kami lakukan dulu, kini pun berubah menjadi kecupan dan pelukan kasih sayang penyalur kerinduan selama beberapa hari tak bertemu. Semua hal yang terjadi di antara persaudaraan yang sederhana ini merupakan kedekatan yang berarti bagiku.


Terpisah darinya membuatku lebih sering terdiam di kamar, mengerjakan tugas sekolah atau sekedar menghabiskan waktu mendengarkan musik dan menenggelamkan diri dalam bacaan yang mengantarkanku ke dalam fantasi khayal yang menyenangkan.


Rindu itu menyakitkan?


Begitulah, sering aku menatap foto berbingkai itu, sosok kecil yang dulu dengan giat memaki, manjambak rambutku dan menjahiliku hingga menangis tersedu-sedu, kini berada ribuan mill jauhnya dariku, meskipun hanya untuk beberapa saat. Mungkin inilah proses pendewasaanku, seperti katanya dulu, menjadi mandiri tanpa bergantung pada orang lain dan kini aku mengerti maksudnya.


Tapi tetap saja, ketidakhadirannya membuatku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat amarah menyelimuti diri ini ketika mendapat perlakuan yang tidak adil dari teman-temanku, aku tidak tahu apa yang dapat aku lakukan saat menyadari kebodohan apa yang membuatku hingga tidak mengerti pekerjaan rumahku, aku merindukannya bahkan hanya untuk sedikit mendapat cubitan sayang darinya.


Kerinduanku padanya membuatku selalu mencari tahu apa yang sering dilakukannya di sana, sendiri di kamar kosan. Kadang aku iri dengan cermin yang sering digunakannya untuk mematut diri. Cermin itu dapat menatapnya atau bahkan menertawakannya saat ia tidak cocok mengenakan busana yang akan dipakainya untuk kuliah, cermin yang senantiasa menyaksikannya menangis saat tak kuat dengan mata kuliah yang tidak dikuasainya, cermin yang setia tanpa ragu meskipun hanya sekedar menerima senyumannya saat ia melalui hari yang menyenangkan. Aku ingin menjadi sebening cermin di kamar kos-mu, sedia menerima seperti apapun ekspresi dari raut wajahmu, apa adanya dirimu.




---------------

dedicated to my beloved elder sister, success for you, dear!



story by Dita Oktamaya

Friday, February 6, 2009

Senandung Hujan di Halte Bus

Aku menutup telepon dari Radith, sempat mengumpat kesal kepada benda mati yang kini masih berada di genggamanku. Mataku berkeliling mencari seorang tukang es atau pedagang keliling lainnya yang dapat menghilangkan rasa dahagaku.

"Mau?" tanya seorang bocah laki-laki itu padaku. Aku menggeleng tapi tatapan mataku tak lekang dari sosok kecil yang sedang menikmati asiknya es potong dalam genggamannya itu.

Dia balik menatapku dengan tatapan curiga, sempat terpikir olehku, jangan-jangan dia curiga aku akan merebut paksa es yang sedang dinikmatinya itu, perasaan haus kadang membuatku berimajinasi berlebihan.

"Abangnya ada di sana!" tunjuknya ke sebrang jalan. Aku menurut, tapi seakan kakiku malas untuk melangkah, panasnya terik matahari enggan membuatku berjalan melalui kemacetan yang berada di jalan raya itu.

"Ayo, Neng!"

"Mau kemana, Bang?" tanyaku, bingung menatap supir bajaj yang sudah tersenyum lebar di hadapanku.

"Sepuluh ribu aja."

Supir bajaj (kendaraan yang dapat membuat dirimu bergetar hebat seperti getaran ponsel) dengan kaos oblong dan handuk lusuh melingkari lehernya, menaikan kedua alisnya, menggodaku.

"Nggak, Bang." jawabku.

Dalam hati aku memaki, kesal dengan keterlambatan Radith menjemputku siang ini.

"Tadi itu dibeliin Tante Vera, Mama." suara lantang dari gadis kecil yang berjalan menghampiriku, membuatku mengalihkan kekesalanku.

"Tante Vera yang anaknya namanya Matthew?"

"Iya Matthew."

"Bukan. Oma tahu kok, Matthew itu anaknya Randa."

"Aduh Mama, iya emang Randa itu Vera, Veranda."

"Oma, tulalit nih."

"Kamu sama oma gitu ya?"

"Sudah-sudah, masa di tempat seperti ini masih aja kalian ini. Dek, kamu ada PR nih. PR Bahasa Inggris, sama mewarnai, coba lihat. Mana ada orang hitam seperti ini, Kamu terlalu banyak mewarnai orang ini dengan warna hitam."

"Biarin dong Mama, kan orang itu banyak rambutnya."

"Ya, tapi nggak sampai seluruh badan begini kan, Sayang. Pantes ibu guru tadi bilang sama mama, Kamu berlebihan."

"Oh, iya. Aku lupa. Tadi aku salah warnain warna hitam itu ke wajahnya, karena udah terlanjur aku warnain aja semuanya."

"Banyak-banyak belajar!"

"Iya Oma, cerewet banget sih. Nih Aaa." gadis kecil itu tertawa mungil sambil menyuapi sang nenek dengan makanan ringan kemasan yang berada di tangannya.

Aku tersenyum ke arah gadis mungil berambut panjang itu, berumur lima tahun ku rasa. Ia menatapku dan tersenyum genit, hanya sesaat, kemudian duduk di pangkuan sang nenek yang sudah lebih dahulu duduk di tempat duduk berwarna biru. Kemudian aku kembali terdiam, menunggu Radith.

Hujan!

Sempurna sudah hari ini. Berbondong-bondong satu per satu orang datang menghampiriku, bukan karena mengagumi pesonaku, bukan! Tapi berteduh dari sibuknya hujan yang turun tanpa peduli dengan aktivitas manusia yang takut basah. Aku menghela napas kesal, awas Radith!

"Iya, saya lagi di jalan, Pak, terjebak hujan. Bukan, bukan karena macet. Tapi hujan. Apa? Tidak, bukan, bukan hujannya yang macet tapi hujan lebat, jadi saya terjebak. Apa? Tidak... Halo? Halo? Halo... Ah... habis baterai!" seorang pria berkemeja biru itu memaki kesal ke arah ponselnya, sama seperti yang sempat aku lakukan beberapa menit yang lalu. Dengan rambutnya yang sudah terlanjur basah karena hujan dan tubuh yang bergetar karena dingin, pria berkemeja biru itu lebih terlihat seperti seorang yang sedang demam tinggi dan berkeringat.

"Ma, aku pulang telat ya. Hujan. Bukan, aku nggak keluyuran lagi kok, beneran. Apa? Iya Mama, aku lagi berteduh di halte. Hah? Iya, tapi kan aku naik motor, susah buat menghindari hujan. Apa? Takut sama hujan? Si Mama ini, udah ya, dah." Pelajar laki-laki berseragam putih abu-abu itu tersenyum ke arahku dan melambaikan tangannya. Aku mengalihkan pandanganku.

Aku menghela napas untuk yang kesekian kalinya, Halte bus ini penuh sesak. Untuk hari ini saja, izinkan aku membenci abang kandungku Tuhan, Radith awas saja dia!

"Kamu nyuruh aku dateng ke sana, nggak mau jemput. Di sini hujan tahu! Apa? Putus? Bukan putus, tapi hujan! Aku lagi di halte bus, kalo Kamu mau putus ke halte bus aja sekarang juga, jemput aku biar nggak kehujanan. Hah? Apa? Nggak nyambung? Ogah? Jadi Kamu nggak mau putus? Hah? Oh, jadi Kamu mau putus tapi nggak mau kehujanan demi aku, lagian siapa yang nyuruh Kamu kehujanan, aku bilang kan jemput aku di halte bus. Udah ah, males ngomong sama Kamu!" Gadis berseragam putih biru itu menatap ke arahku, kesal. Aku meringis, menyadari kesalahanku yang mendengar percakapannya tanpa sengaja.

"Dini!" suara yang sangat ku kenal memanggilku, Radith!

"Kemana aja sih lo?" seruku sembari menutup kepalaku dengan map dan masuk ke dalam mobil.

"Maaf, tadi lagi banyak klien. Lagian udah jadi editor majalah terkenal, masih aja manja sama gue!" Radith menggodaku dan mencubit pipiku, aku menepis tangannya.

"Udah buruan cabut!" perintahku. Radith tersenyum kemudian dengan segera ditancapnya gas mobil yang kami tumpangi.

"Hujan." Radith buka suara. Aku terdiam, "Halte Bus." Radith menatapku. Aku balas menatapnya dan menunjukkan rasa ketidakpedulianku atas ucapannya.

"Lihat apa aja tadi di halte bus?" Radith tetap bertanya. Aku menghela napas, malas menjawab. Tapi pikiranku tertuju kepada bocah laki-laki yang sedang makan es potong, supir bajaj yang sempat menggodaku, gadis kecil bersama ibu dan neneknya, pria sibuk yang ditelepon atasannya, pelajar lelaki SMA yang ditelepon ibunya, dan gadis SMP yang bertengkar dengan pacarnya, melalui telepon juga.

"Sudah mikirnya?" tanya Radith. Aku menatap Radith tak percaya, ia seolah tahu isi kepalaku, selain otak tentunya.

"Halte bus, tempat yang seharusnya menjadi sebuah pemberhentian bus, tetapi justru menjadi awal dari kehidupan dan aktivitas seseorang. Dan jika tadi nggak hujan, lo akan sendirian terus menunggu gue. Bosan. Tanpa mendengar keluh kesah orang lain di sekitar lo yang aktivitasnya terpaksa berhenti karena hujan." Radith tersenyum.

"Itulah kenapa gue suka hujan." Radith mengerlingkan sebelah matanya ke arahku, "Karena dengan hujan, meskipun untuk sesaat, gue bisa menikmati jeda diri gue sendiri untuk berhenti beraktivitas atas kesibukan ibukota yang terlampau padat ini."

Radith mengusap kepalaku dengan sebelah tangannya, "Jangan marah ya." ucap Radith, "Dan kalaupun tadi nggak hujan, gue nggak akan pernah ngerti dan bener-bener ngerasa bahwa gue adalah abang yang sangat dibutuhkan oleh adik kesayangannya."

Aku terdiam, menatap keluar jendela mobil. Radith selalu bisa memberikan sudut pandang yang berbeda dalam setiap kesempatan, dalam butir kehidupan, bahkan ia dapat mewarnai hujan tanpa berharap pelangi muncul setelahnya. Dia abang kesayanganku.

"Kali ini lo gue maafin." ujarku. Tawa Radith terpecah. "Dan makasih karena lo selalu siap menjadi abang yang gue butuhkan kapan aja."

Kemudian Radith tersenyum, aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, kami terdiam. Hanya sedikit kata yang terucap dari kalimatnya yang masih terngiang di telingaku. Hujan dan halte bus, aku rasa aku tahu konsep apa yang akan aku tulis untuk menjadi deadline majalah bulan depan nanti.



Story by Dita Oktamaya

Thursday, December 4, 2008

Secret Admirer

Sehabis pulang sekolah dengan santai Fasha membanting tasnya ke sofa ruang keluarga.

“Dee, tadi ada telfon buat gue ga?” tanyanya pada Deedee, adiknya (yang udah pulang duluan dari sekolah karena nggak suka keluyuran kayak kakaknya) sembari menghampiri Deedee di ruang tv.

“Nggak ada tuh…..tapi tadi ada bingkisan super gede buat lo,tuh gue taro di atas meja makan…” ujar Deedee sambil menunjuk ke arah meja makan.

“Apaan nih?” tanya Fasha sembari mendekati dan memperhatikan bingkisan yang memang super-super gede itu.

“Tau…buka aja,buat lo ini kan.” kata Deedee santai.

Mendengar kata-kata Deedee, Fasha jadi berfikir, Apaan nih? Serius nih buat gue? Ya ampun…ada gitu orang yang mau buang-buang duit buat beliin gue beginian, udah gedenya segede bajaj lagi…ujarnya dalam hati.

Akhirnya Fasha pun membuka bingkisan itu, dengan tarikan nafas yang terlihat ketakutan.duh…apaan sih nih?? Susah banget di bukanya! Apa mungkin bom? Duh…jangan sampe deh! Gue belom siap mati muda, kawin aja masih lama, lagi pula sadis banget sih kalo emang ada orang yang ngirimin gue bom, emangnya gue salah a…pa…

“HAH…!!!! Bikini?! Ga salah nih?!” ujar Fasha ketika berhasil membuka bingkisan itu, sambil mengangkat atasan bikini itu dengan suara nyaring nyaingin suara petir.

“Hahahahahahaha….” tawa Deedee seketika meledak, sambil menghampiri Fasha Deedee mencoba meraih atasan bikini itu, “Coba liat…!” seru Deedee sambil meraih atasan bikini itu dari tangan Fasha yang masih tercengang, “Sejak kapan lo punya secret admirer yang ga nyadar sama postur tubuh lo yang kurus kering minta makan itu?” tanya Deedee jahil.

“Ga lucu lo!!” jawab Fasha jutek, sambil merebut atasan bikini itu dari tangan Deedee, “Siapa sih yang ngirimin ini?! Bikin BT aja! Pelecehan nih!!” lanjutnya sembari melempar atasan bikini kembali ke kotak.

“Tau… Dhika kali, dia kan ngefans berat sama lo!!” seru Deedee asal.

Ga mungkin Dhika, kalau pun itu bener, Fasha ga bakalan 100% percaya, bahkan ga akan percaya. Masalahnya dia yang ngefans berat sama Dhika, bukan Dhika yang ngefans berat sama dia.

* * *

Malemnya…..

Tulit, tulit, tulit, handphone Fasha berbunyi, nomer siapa nih? Pikir Fasha ketika menyadari telfon itu dari nomer yang tak di kenalnya,namun segera aja dia mengangkatnya.

“Halo?” suara Fasha terdengar lembut.

“Halo…Fasha ini gue Toby, lo udah terima kado dari gue? Suka ga? Muat? Sori ya kalo ga muat, abisnya gue ga tau ukuran lo, tapi khusus gue mesennya yang warna pink nyala, ukurannya juga yang ‘XS’ga ada yang lebih kecil dari itu. Sori kalo gue…” belom sempet Toby nyelesain kalimatnya tiba-tiba…

“STOP!!!” bentak Fasha seketika, “Jangan macem-macem lo By!! Lo pikir gue cewek apaan?! Biasanya nih, orang yang jadi secret admirer gue, ngirimin gue boneka, cokelat, pokoknya makanan ringan atau pernak-pernik yang lucu-lucu gitu deh… eh,ini malah bikini!!! Udah gue ga muat, warnanya pink nyala lagi, ga banget deh!!” ujar Fasha narsis, tanpa menyadari bahwa Toby adalah secret admirernya yang nomer wahid, “Lagian ngapain sih secret admirer pake nelfon-nelfon segala? Aneh..!! Gue kira fans gue bener-bener cakep… taunya Toby lagi Toby lagi…”lanjut Fasha sambil membayangi wajah Toby yang ‘Indonesia’banget, alias jawa rek… lucu juga sih, hitam-hitam manis gitu.

“Gitu ya? Para Fans lo yang laen kurang kerjaan amat sih... ngirimin lo permen, cokelat, atau apalah yang lo sebutin tadi, emang mereka mau buka warung ya? Atau apa mereka itu sales?” tanya Toby, polos.

“Bodo ah!!” teriak Fasha sambil mematikan handphonenya.

Ia pun berfikir,ternyata hidup itu unik ya? Mungkin secara kasat mata kita ga menyadari hal itu, tapi makin lama kita jalanin hidup, makin banyak pula pelajaran yang kita dapat, contohnya kejadian hari ini,ga pernah gue duga kalo ternyata gue juga punya fans, hehehe…meskipun ragu juga sih gue.

Tok, tok, tok… suara pintu kamar Fasha di ketuk, membuyarkan semua lamunan Fasha, dengan cepat kepala Deedee nongol tanpa di minta.

“Toby telfon tuh…” ujar Deedee sambil menarik kepalanya kembali keluar dari kamar Fasha.

“ARRGGHHH…!!! Kenapa sih harus ada 3T itu?!!” seru Fasha sambil manyun.

* * *

Dengan malasnya Fasha menghampiri telepon di ruang tv.

“Ngapain lo nelfon-nelfon gue lagi?! Ga puas kena omelan gue tadi?!” seru Fasha ketus ketika mengangkat gagang telfon itu.

“Lo marah ya Sha?? Sori deh…tapi ngomong-ngomong lo marah sama gue gara-gara ga suka warna bikininya atau gara-gara ga muat pakenya?” tanya Toby, bingung.

“Bodo ah!! Emang susah ngomong sama orang susah, lagi pula lo lugu banget sih! Alias luar biasa guoblok…!!” seru Fasha sambil mematikan telfonnya.

“Marah-marah mulu sih lo?! Kenapa sih? Mau tuh mulut gue plester biar ga berkicau terus? Gue lagi konsen nih…!!!” kata Deedee kesal.

“Siapa suruh belajar di ruang tv?? Lagian lo konsennya ma buku apa sama tv sih? Dari tadi mata lo ngeliatnya ke tv mulu…” lanjut Fasha sambil mendekati dan duduk di sebelah Deedee.

“SSG dong…” jawab Deedee singkat.

“Apaan tuh?” tanya Fasha bingung.

“Suka-suka gue dong…” lanjut Deedee sambil ngeloyor pergi.

“Yee….jelek lo!!” ledek Fasha jahil.

* * *

Paginya di sekolah….

“Sha, lo ga marah sama gue kan?” tanya Toby sambil berlutut di hadapan Fasha ketika Fasha baru aja datang.

“Apa-apaan sih lo?! Udah deh... gue lagi males becanda nih…” ujar Fasha yang ga peduli sama perbuatan Toby.

“Jadi lo udah ga marah sama gue kan Sha?” tanya Toby berkaca-kaca.

“Masih sih… tapi gue lagi males marahan, jadi… di tunda dulu deh marahannya, sekarang gue liat PR fisika lo dulu dong!!” pinta Fasha cuek.

“PR fisika? Yang mana? Oh…yang itu…alamak!!!! gue juga belom ngerjain!” seru Toby panik.

Alhasil, mereka pun mondar-mandir kayak setrikaan untuk nyari seseorang yang PRnya bias dijadiin contekan, karena bentar lagi masuk.

Akhirnya bel masuk pun berbunyi,anak-anak masuk dengan ‘agak’ tertib.

“Akhirnya jam kosong pun tiba…”celetuk salah seorang murid di kelas Fasha.

What???? Jam kosong? Uhh… BT deh, padahal udah capek-capek nyontek, ujar Fasha dalam hati.

Beberapa jam telah berlalu,akhirnya istirahat pun tiba.

Uhh…cakepnya!!!!!!! Kapan sih dia dia nembak gue?? Oh iya, kenal aja belom, udah maen tembak-tembakan, kalo gue mati belom tentu dia mau tulungin gue, Dhika….!! Lo kok jadi cowok perfect banget sih??? ujar Fasha dalam hati. Ketika ia melihat Dhika melintas di hadapannya sembari tersenyum ramah padanya.

Bel masuk pun berbunyi, eh salah bel pulang pun berbunyi, soalnya guru-guru pada rapat, jadi di pulangin deh…

“Ini punya siapa?” tanya Fasha yang sedang memperhatikan sebuah kotak bingkisan di atas mejanya, tapi tak ada satu pun yang memedulikannya.

“Buat lo kali Sha, abisnya dari tadi nemplok di situ…” ujar Doni sang ketua kelas tiba-tiba,” buka aja… gue juga penasaran” lanjutnya lagi.

Apa bener ini buat gue? Jangan-jangan Toby lagi, tapi…eh apaan tuh? ujar Fasha dalam hati, ketika ia melihat secarik kertas bertengger manis di atas kotak itu, Fasha pun membukanya dengan hati-hati, di situ tertulis:

Dear Fasha…

Mungkin gue terlalu pengecut,

karena minta kenalan dengan cara kayak gini,

jadi sori kalo lo ga suka dengan cara gue

Tertanda

Kapten Cinta

Siapa lagi nih? Kapten cinta? Ga salah? Secantik itu kah gue, sampe-sampe orang-orang jadi pada berebutan buat jadi secret admirer gue? Hehehe…narsis gue jadinya, kira-kira apa ya isinya? Jangan-jangan bikini lagi, wuah…ilfeel deh gue…tapi kotaknya lebih kecil kok, gue harap bukan bikini.

Ketika Fasha membuka kotak itu,ia pun menjerit,

“WUAAAAAAAA!!!!! TOLONG!!! ADA ULER DI MEJA GUE!!!!” serunya lantang sembari naik ke kursi di samping mejanya dan menjinjit-jinjitkan kedua kakinya.

* * *

Uhh…sebel, BT, benci, kesel…God kenapa sih hambaMu ini ngalamin hal kayak gitu..? Serem kan..? Gimana kalo tuh uler nyatok gue? Atau gue keracunan bisanya? Kan bisa mati gue…lagi pula tuh orang ga punya pikiran banget sih!! Jadi secret admirer kan biasanya ngasih-ngasih sesuatu yang nyenengin bukannya nyeremin… kurang kerjaan, cowok ga bermoral, rese, sinting, gila, miring!!!!!!! I hate Friday!!!! Uhhh… sebel, sebel, sebel…!!!! Gerutu Fasha dalam hati.

* * *

Sesampenya di rumah…

Sepi amat sih???? Ada orang di rumah ga ya??? Si Deedee kemana sih? Kok ga nongol-nongol… jangan-jangan ga bawa kunci nih gue?? Alhamdulilah…ada.

JEGREK…pintu rumah terbuka…

“Assalamu’alaikum…” terdengar Fasha memberi salam.

Bener-bener tuh anak!!! Kemana sih??? Ga biasanya dia keluyuran… ups, lupa… SMA sama SMP kan gurunya terpisah, jadi dia…HAHH..!!! Apaan tuh?? Ujar Fasha dalam hati. Saat ia melihat ke arah jendela kamarnya, dia melihat sebuah kotak kardus (yang jelas sebuah bingkisan) yang dibawa masuk oleh kurir ke teras rumahnya. Ia segera turun dan membukakan pintu.

“Bingkisan dari mana ya pak?” tanya Fasha sopan.

“Ga di cantumin nama pengirimnya, tapi alamat yang dituju ya di sini, rumah Nn.Fasha Jl.Biru no.15,” ujar sang kurir.

“Itu memang alamat rumah saya pak, saya sendiri Fasha, tapi…” belom sempat Fasha menyelesaikan kata-katanya, kurir itu langsung memotong.

“Kalo begitu, tolong tanda tangani ini non…” kata kurir itu sembari memberikan surat tanda terima,Fasha tak dapat berbuat banyak, segera ia menandatangani surat tanda terima itu.

“Terima kasih non..” kata kurir itu sopan.

“Sama-sama pak…” jawab Fasha pelan.

Setelah kurir itu pergi, Fasha mencoba mengangkat kotak itu.

“BUSETTT dah!!!! Berat amat nih kotak!!! Apaan sih isinya???” seru Fasha.

Akhirnya dengan susah payah Fasha berhasil mengangkat kotak itu masuk ke dalam rumahnya.

“Fiuhhhhhh, capeknya….” keluh Fasha sambil menggerak-gerakan pergelangan tangannya ke atas dan ke bawah.

“Eh, ada kartu ucapannya, apaan ya isinya???”ucap Fasha bertanya-tanya.

Dear Fasha,

‘SEMOGA LO SUKA….’

Apa maksudnya ya? Singkat amat…

karena penasaran akhirnya Fasha pun membuka bingkisan itu.

“Apa-apaan nih?! Ban mobil?! Dia pikir gue ini apa?! Tukang bengkel?!” seru Fasha tak terima.

Cukup sudah!!!!! Fasha lelah dengan yang di lakukan para secret admirernya.

Mereka pikir mereka siapa bisa mainin gue?! Boneka?! Dasar!!!! Dengan langkah tertatih Fasha menaiki tangga menuju kamarnya, tapi belum sempat ia menaiki seluruh anak tangga, tiba-tiba…

tok, tok, tok, suara pintu di ketuk, Fasha hanya bisa pasrah dan berbalik menuruni anak tangga untuk membukakan pintu.

“Siapa?” tanya Fasha kepada orang di luar sana, sebelum ia membukakan pintunya, tak ada jawaban, tapi karena Fasha penasaran akhirnya ia membukakan pintu.

Ga ada siapa-siapa…dasar orang iseng..!! Kayak ga pernah liat pintu aja, sekali ngeliat bawaannya pengen ngetok terus... heran!!! Ketika Fasha ingin menutup pintu, ia melihat kotak berwarna merah muda persegi panjang (kali ini ukurannya lebih kecil) tepat di lantai depan pintu.

Apaan lagi nih? Aduh… ga lagi deh, ga! Ampun, ampun, gue kapok! Huh, bisa mati nih gue kalo tiap hari kayak gini… eh, tunggu - tunggu… kan ga lucu kalo nanti di koran ada berita: Telah di temukan Fasha Astari, gadis berumur 16 tahun, bertubuh mungil, yang imut, yang lucu, meninggal dunia karena dikirimi barang yang aneh-aneh oleh secret admirernya... huh… jangan sampe deh!!

Tanpa pikir panjang, Fasha membawa masuk kotak itu.

Sesampenya di meja makan.

“Bismillahi Rahman ni Rahim..” ucap Fasha ketika membuka kotak itu.

“WAW…!!!!” seru Fasha, “Setangkai mawar putih..” lanjutnya.

Kali ini orang yang mengirimnya memang bener-bener waras, buktinya dia mengirimkan Fasha setangkai mawar putih dengan taburan mawar merah di sisi-sisinya, indah banget...!! Bukan bikini, uler atau ban mobil seperti yang lainnya.

“Syukur deh… akhirnya ada juga orang waras yang ngirimin gue beginian, tapi… kenapa mesti bunga sih? Setangkai lagi…” ujar Fasha asal. Bukannya berterima kasih dikirimin bunga, untung bunga…kalo tuh orang ga waras dan ngirimin harimau ke rumahnya Fasha gimana?

“Siapa yang ngirimin ini ya?”tanya Fasha sambil mengambil secarik kertas di dalam kotak itu.

Hai…

Gue emang ga bisa ngerangkai kata-kata,

sebagus yang lo ingin,

Tapi…gue berusaha ngerangkai bunga-bunga ini,

sebagus yang lo ingin,

semoga lo suka…

Dhika

“Ya ampyun..!!!! Gue ga mimpi kan? Dhika? Kakak kelas gue itu? Ngirimin gue beginian? Dhika yang itu bukan ya? Mudah-mudahan aja dia, seneng banget..!!!!” ucap Fasha sambil menari-nari membawa kotak itu masuk ke dalam kamarnya.

* * *

“Buseet dah nih PR… susah amat ya!!!” keluh Deedee yang sedang berada di ruang tv sambil ngerjain PR.

“Kapan lo balik?? Kok ga kedengeran? Kayak maling aja.” ujar Fasha,asal.

“Jelas aja lo ga denger, abisnya lo ngerem di kamar mulu… untung ga ne’tes…” jawab Deedee yang sama asal kayak kakaknya.

“Dasar lo!” ucap Fasha sambil mendorong sayang punggung Deedee.

“Jangan genit deh lo! Pasti ada apa-apanya deh, kenapa siih? Dhika nyapa lo? Dhika senyumin lo? Atau…”

“Dhika ngirimin bunga buat gue… romantis ga tuh??” potong Fasha kemudian.

“Ga mungkin…!!” seru Deedee dengan nada mengejek.

“Sueerr deh…” ujar Fasha sambil mengacungkan jarinya membentuk huruf V, “Perlu bukti?” lanjutnya kemudian.

“He-eh…abisnya lo ga bisa di percaya, Dhika yang secakep itu bisa ngelirik lo? Unbeliveble.” kata Deedee sambil mengangguk dan menggelengkan kepalanya.

“Oke gue ambilin..!!” seru Fasha bersemangat.

“Bener ini dari Dhika yang lo maksud? Atau malah Dhika sang ‘CUPAUW’ temen sekelas lo itu lagi…?” tanya Deedee penasaran ketika ia tengah melihat isi kotak yang di bawa Fasha dari dalam kamar.

“Tau…bisa iya, bisa juga ga…” kata Fasha datar, “Tapi lo jangan nakut-nakutin gue gitu dong!!! Masa Dhika temen sekelas gue itu…duh ga banget deh…!!” seru Fasha panik.

“Ngomong-ngomong, itu ban mobil buat apaan sih? Punya siapa? Perasaan mobil kita ga ada yang pake ban segede itu kan?” tanya Deedee bingung sambil menunjuk ban mobil yang berada di sudut teras belakang.

“Tau tuh..!!! Ada orang yang ngirimin gue begituan.” ujar Fasha malas.

“Hahahahahahahahaha……!!!!!! Kurang kerjaan banget tuh orang..!!!! Dia minta tolong sama lo, buat gantiin ban mobilnya kaleee…?!!!!” seru Deedee dengan tawa yang tak tertahankan.

“Tau ah..!!! Udah deh…!! Kayaknya ga penting banget sih ngomongin itu..!!!!” seru Fasha BT.

“Yoo-wiss…up-to-you-lah…” ucap Deedee terbata-bata saking gelinya.

“By the way…ayah sama bunda pada kemana sih??? Kok kita di tinggalin gitu aja? Kayak anak terlantar.” tanya Deedee asal.

“Katanya lagi ngurusin kafe yang baru di bangun deket sekolah kita itu… kapan-kapan ke sana yuk..!!!” seru Fasha tak sabaran.

“Jangan kan kapan-kapan… tiap hari juga gue bakalan ke sana... hehehehe… maklum asisten bunda…” ucap Deedeee membanggakan diri.

“Kalo lo asisten bunda, kafe bakalan bangkrut duluan sebelum di buka..!!!” seru Fasha jahil.

* * *

Malamnya….

“Fasha… ada telfon nih… cepet turun..!!” seru bunda lembut, “Sebentar ya,” sapa bunda lembut kepada seorang cowok di sebrang sana.

“Iya tante...” jawab cowok itu lembut juga.

“Sebentar bunda…!!! Tanggung nih… tinggal sedikit lagi…!!!” seru Fasha ketika ia baru saja menyelesaikan soal terakhir yang terdapat di PRnya.

Ga lama Fasha pun turun dari kamarnya…

“Halo..?” sapa Fasha lembut,ketika ia baru aja mengangkat gagang telfonnya.

“Halo…Fasha?” tanya seorang cowok itu lembut.

“Iya… ini siapa..?” tanya Fasha kemudian.

“Ini Dhika…” jawab cowok itu lembut.

Mendengar itu ,Fasha hanya bisa diam seperti patung, ga cuma itu, wajahnya pucat bagaikan mayat! Berlebihan ya? Lanjut deh…

Ya ampyun..!!!!! Dhika nelfon gue???? Dhika yang selama ini gue tunggu-tunggu…oh God…I don’t belive it…!!!! Seru Fasha dalam hati.

“Halo? Fasha? Lo masih di situ kan?” tanya Dhika panik, setelah ia menyadari ga ada jawaban dari Fasha.

“Eh… i… i... iya… iya… gue masih di sini kok...!! Emang lo pikir gue diem aja gitu kayak patung?! Muka gue sampe pucet kayak mayat, gara - gara lo telfon doang?! Lagian lo ngapain sih, nelfon-nelfon gue segala?! Ga ada kerjaan amat...!!! Emangnya gue kenal gitu sama lo?!!!!” tanya Fasha tak terkendali, yang telah menanyakan semua kenyataan yang ia alami karena di telfon Dhika.

“Jadi lo ga suka?” tanya Dhika.

Duh…!!! Mampus deh gue!!! Kayaknya Dhika marah nih..!!! Kenapa sih gue nanya yang engga-engga…?!!! Uhh…bego, bego, bego…!!!! Seru Fasha dalam hati.

“Fas, jawab dong!!! Jadi lo ga suka gue telfon -telfon…?!!” tanya Dhika dengan suara tak tertahankan.

“Engga kok… gue… mmm… gue cuma… mmm… gue.. ” ujar Fasha bingung.

“Ga usah boong dah lo!!! Bilang kalo lo ga suka?!!!ayo bilang?!!!” tanya Dhika galak.

Buseet dah nih cowok..!!! Galak amat siiiihhhh!!!!!bikin ilfeel aja!!!!sebenernya dia nanya atau ngancem siihh..?nadanya serem amat…!!!seru Fasha dalam hati,kesal.

“Gue bukannya ga suka kok…!!gue cuma kaget aja..!!!kok bisa tiba-tiba lo telfon-telfon gue…?!!gue kan ga kenal sama lo,lo juga ga kenal sama gue kan…?!!!”seru Fasha akhirnya.

“Fiuuhhhh…!!!!!!!syukur deh…gue kira lo marah gue telfon-telfon..!!!abisnya gue ga tau dengan cara apa gue bisa kenalan sama lo…???gue bingung..!!!meskipun gue tau,kenalan lewat telfon itu ciri-ciri cowok yang pengecut,tapi ya gimana lagi????ngeliat muka lo aja gue udah deg-degan setengah mampus,apalagi minta kenalan sama lo…mampus beneran kali gue…”ujar Dhika akhirnya.

“Bi..bi..bisa…aja-deh-lo..!!!”seru Fasha terbata-bata,karena masih setengah takut.

“Lo takut ya Fas..????? ga usah takut gitu dong honey…tadi gue cuma gugup doang…sekalian tes mental gitu…”ujar Dhika nyantai.

WHAT??!!!!TES MENTAL??!!!GA SALAH TUH??!!!JELAS-JELAS DIA BUAT GUE MATI SEJENAK..!!!!MASIH BERANI NGERAYU GUE LAGI..!!!DASAR COWOK..!!!!SUKA ANEH GITU DEH..!!!!!seru Fasha dalam hati,kesal,dongkol,marah,pokoknya campur aduk deh.

“Fas?”tanya Dhika bingung setelah ia menyadari ga ada tanggapan dari Fasha.

“Iya gue masih di sini..!!!dan masih setia menemanimu bernyanyi..!!!oh salah ya?sori,di luar skenario..”ujar Fasha asal,meskipun masih setengah hati.

“Bisa aja lo..”ujar Dhika tersipu.

“Ngomong-ngomong….lo itu,Dhika yang anak 3-IPA-1 itu bukan siih..????”tanya Fasha penasaran,waktunya untuk kejelasan siapa yang membuat dirinya mati sejenak tadi.

“Iya…kok lo tau???ternyata lo merhatiin gue juga ya..????senengnya diperhatiin orang cantik….”ujar Dhika merayu,gombal.

What????Dhika yang itu????bener-bener Dhika yang itu????dia seneng gue perhatiin????dia bilang gue cantik?????Dhika..!!!!love you,love you,love you….muachhh….!!!!!eh,tapi tunggu dulu!!!ga segampang itu kenalan sama gue..!!!apalagi udah buat gue mati sejenak…!!!awas lo..!!!!seru Fasha dalam hati,sambil tersenyum misterius gitu deh.

“Fas?”bingung Dhika.

“Iya…iya…gue masih hidup kok…masih seger buger malah…tapi lo jangan nyingkat-nyingkat nama gue ‘Fas’ dong..!!!kedengerannya kayak ‘Vas’bunga aja…”ujar Fasha kocak,kali ini dia sudah merasa tak takut lagi.

“Oke deh boss…tapi kan ‘Vas’bunga itu pake V,bukan pake F…jadi boleh dong..??????”tanya Dhika jahil.

“Terserah lo deh…kalo lo mau telfonnya gue tutup…!!!”seru Fasha kesal.

“Oke,oke,oke…jangan gitu dong say…kan cuma becanda…”rayu Dhika ngegemesin.

“Apa-apaan sih lo…!!!!!ngomong-ngomong…lo dapet nomor telfon gue dari mana????”tanya Fasha penasaran.

“Dari Tata Usaha…”jawab Dhika polos.

“HAH..?!!!!GA SALAH TUH???!!!NAKED BANGET LOH…!!!EH SALAH NEKAD BANGET LO…!!!!!!!”seru Fasha lantang,sampe-sampe Dhika harus menjauhkan gagang telfon dari telinganya.

“Apapun gue lakuin biar gue bisa deket sama lo..”ucap Dhika jujur.

“Lo ngumpet-ngumpet gitu???!!!!”tanya Fasha masih terkaget-kaget,dan tidak menyadari apa yang baru saja di katakan Dhika tadi.

“Iyalah…masa gue terang-terangan….bisa diskors gue kalo ketauan…kenapa?terharu atas perjuangan gue..????”tanya Dhika menggoda.

“Ah elo..!!!tapi thank’s ya…salut deh buat kegigihan lo untuk ngambil hati gue…pake ngirim-ngirimin gue bunga segala lagi..”ujar Fasha tersipu malu.

“Oh….itu…gimana???”tanya Dhika penasaran.

“Gimana apanya??sok romantis banget sih lo..”ujar Fasha terang-terangan.

“Tapi suka kan????jujur aja deh lo….setiap cewek pasti seneng kalo di kirimin bunga sama pujaan hatinya…”tanya Dhika menggoda lagi.

“Kecuali gue….ngapain sih ngirimin gue bunga????mendingan mentahnya aja…kan sayang,buang-buang duit cuma buat beli bunga doang…cepet layu lagi…and sejak kapan lo jadi pujaan hati gue..?????”tanya Fasha muna,padahal Dhika bener-bener pujaan hatinya,hehehehehehehehehe…

“Jangan gitu dong…gue jadi ga enak nih…”ujar Dhika segan.

“Yaelah….bercanda doang kali…gue seneng kok….”jawab Fasha meyakinkan.

“Kalo lo seneng….gue juga seneng…”lanjut Dhika dengan penuh kelegaan.

Mereka berdua pun ngobrol dengan penuh keakraban,dari mulai masalah hobi,sekolah,keluarga dan masih banyak lainnya.pokoknya komplet banget deh…ga terasa malam semakin larut,dan ga terasa juga kalo ternyata diantara mereka telah timbul sesuatu,ya..sesuatu…yang mereka sendiri ga tau apa itu,yang jelas karena sesuatu itulah mereka merasa saling cocok satu sama lainnya.

***

Paginya di sekolah…

“Hai…”sapa Dhika ramah,kepada Fasha yang baru aja nyampe.

“Hai juga…”jawab Fasha salah tingkah gitu deh…

“Baru dateng…????kok lama banget..???udah gue tungguin dari tadi…”lanjut Dhika dengan pipi yang agak memerah sedikit,bukan karena pake make up,tapi karena malu.

“Oh….i..i..iya…emangnya ngapain lo nungguin gue…???perasaan,kita ga pernah janjian untuk ketemuan di depan pintu kelas gue kan..???”tanya Fasha polos.

“Bukan gitu Fas…eh sha…eh Fasha….gue cuma kangen aja ngeliat tampang lo…”jawab Dhika salah tingkah.

“Ada yang salah sama tampang gue ya…????sampe-sampe lo kangen ngeliat tampang gue..????lo mau nonjok gue ya..???jangan dong Dhik…gue kan masih sayang sama muka gue…”lanjut Fasha panik,yang sama sekali ga nalar sama apa yang Dhika barusan omongin.

“Maksudnya bukan gitu….gue cuma…ah udahlah….percuma gue omongin…”lanjut Dhika sambil beranjak pergi.

Kenapa kayak gini sih..???kemaren kan gue sama dia udah mulai akrab,kok sekarang kaku sih…????pokoknya gue harus mencairkan suasana,ga boleh kayak gini terus,ga boleh..!!!!seru Dhika dalam hati.

namun belum sempet Dhika hilang dari pandangan mata Fasha,Dhika pun berbalik menghampiri Fasha.

“Mmm….mmm…..m..mmm….Fas…eh sha….eh Fasha….ng..ng…nanti pulang sekolah…ngg….gue…gue…mo ngomong sesuatu sama lo…mm….nanti…kita…mm…bareng-bareng…ke taman belakang sekolah….oke..???”dengan susah payah,kata-kata itu pun akhirnya keluar dari mulut Dhika.

“Oke….gue boleh masuk sekarang..?udah bel nih…”kata Fasha sok jual mahal.padahal sih…OH MY GOD…!!!!!!!!

“Oh tentu aja boleh…”ujar Dhika kemudian dengan senyum mautnya, ga tahan deh.

“Thank’s..”ujar Fasha dengan muka merah membalas senyum cowok di hadapannya itu.

***

“Hai…”pulang sekolah Dhika tiba-tiba sudah berada di hadapan Fasha, hal ini membuat Fasha salah tingkah.

“Hai juga..”sapa Fasha.

“Yuukkkk…”ajak Dhika sambil mengenggam lembut tangan Fasha, pipi kedua manusia itu pun bersemu.

Sesampainya di taman belakang sekolah.

Nih orang kok diem aja sih…katanya mau ngomong sesuatu??whoyyy…ngomong dong…nggak lucu deh tiba-tiba kehilangan suara gitu…gerutu Fasha dalam hati.

Kok gue jadi gugup gini yah???Aduh…si Fasha sadar nggak ya kalo gue gugup???Dhika pun menggerutu dalam hati.

“E..e…eee….Fas…eh sha…eh..Fasha…hmmmm…pegang dada gue deh…”Dhika meletakkan tangan Fasha ke dadanya, jantungnya begitu cepat berdetak.

Lhoooo…nih orang kenapa sih?bukannya ngomong malah nyuruh gue megang dadanya, niat ngomong nggak sih nih orang????bikin bingung aja…cuapeekkk dehhh…

“Hmmm…Dhik..gue pulang aja ya…”pinta Fasha, sepertinya dia sudah mulai bosan.

“Eitt…jangan dong…jangan…gue kan belom ngomong sesuatu…jangan ya…please…”rengek Dhika.

“Ya udah kalo mau ngomong ya ngomong aja…susah banget sih..emangnya apa sih yang mau lo omongin?”tanya Fasha penasaran, mampus gue..kalo dia nembak gue, gue harus jawab apa dong?

“Hmmm….Udah setahun ini…Dhika merhatiin Fasha..kalo Dhika di depan Fasha..Dhika gugup…banget..Dhika nggak tahu apa yang terjadi pada diri Dhika…sampe beberapa hari ini Dhika sadar kalo ternyata Dhika tuh suka sama Fasha dan untuk memperjelasnya, sekarang Dhika udah..sayang sama Fasha..Fasha..mau nggak jadi istri..eh salah maksudnya..cewek Dhika..?”jelas Dhika panjang lebar, Fasha terkejut, sesaat dia mematung.

“Fas?”bingung Dhika.

“Fasha nggak tahu harus ngomong apa..Fasha bingung tiba-tiba Dhika ngomong gitu..Fasha ngga bisa bohong kalo sejujurnya Fasha juga suka sama Dhika…”jujur Fasha.

“Jadi..?”tanya Dhika bersemangat.

“Fasha mau coba pacaran sama Dhika..”jawab Fasha, Dhika tersenyum senang, Dhika memandang Fasha, makasih ya..Dhika janji bakal jagain Fasha, ujar Dhika dalam hati, lalu Dhika mencium kening Fasha.

“Yuukkk..sekarang Fasha boleh pulang…Dhika anterin..”ajak Dhika, Fasha mengangguk.

Aduhhh…sekian banyak yang udah gue alamin…seneng banget rasanya…dari bikini aneh, uler berbisa, ban mobil segede bajaj..sampe rangkaian bunga mawar..sebenernya sih bukan salah mereka juga…nggak salah untuk jadi secret admirer..mereka hanya nggak bisa mengutarakan isi hati mereka yang sebenernya dengan bener..thank’s God atas semua yang hambaMu alamin ini..Fasha berkata dalam hati, lalu memandang Dhika dengan penuh arti, Fasha tersenyum berjalan menuju rumah bersama Dhika yang menggenggam hangat jari jemarinya, baru kali ini ia merasakan kalo dunia ini benar-benar indah.

Tamat

Story by Dita Oktamaya