Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Friday, March 22, 2013

Melalui Pesan Singkat Itu

Pagiku kusuguhkan untukmu
Aku tahu banyak rindu yang sulit kau ungkapkan padaku
Entahlah, mungkin karena malu?
Atau mungkin ada alasan lain yang membuatmu ingin agar aku tak tahu?
Sudah. Sudah. Itu bukan masalah yang harus semua orang tahu

Pagi ini aku menyapamu
Melalui pesan singkat dengan jarak beberapa kilometer yang jauh dari jangkauanku
Sudah lama sekali tak kulihat parasmu
Apa pagi ini nasi goreng lezat mengenyangkanmu?
Aku berpikir banyak tentangmu
Maka aku menyuguhkan pagi ini untukmu
dengan menyapamu
melalui pesan singkat itu


poem by Dita Oktamaya

Sunday, February 24, 2013

Entah Bagaimana Caranya

Aku lupa bagaimana cara menyapamu,
setelah begitu banyak peristiwa memaksamu menghilang dariku

Aku lupa bagaimana cara kita berinteraksi,
tersenyum manis dengan canda hangat di setiap sisi

Tidak!

Kupikir selesailah aku ketika tak jua kuterima kabarmu,
begitu banyak pesan ingin kusampaikan, entah bagaimana caranya

Hari ini kau hadir mengusik mimpi yang terbiasa kulalui tanpamu,
hingga seharian ini kupikir bagaimana cara mengusirmu dari benakku

Kau menyita banyak waktuku, puas?
Kurasa tidak, karena dengan betah kau membelah diri
Memasuki rongga pernapasan hingga bahkan tak bisa kukuasai

Banyak pesan yang ingin kusampaikan, entah bagaimana caranya
entah bagaimana caranya, aku ingin menyampaikan banyak pesan


Aku sesak napas
Terlalu banyak pesan untukmu yang tak di sini

Seharusnya kusampaikan pesan ini, tetapi aku lupa

lupa bagaimana reaksimu, lupa balasan pesan darimu
Namun, aku ingin mengingatnya

Begini saja...

Bantu aku mengingat reaksimu,
jadi nanti aku mendapat balasan pesan kembali darimu
Setuju?

Baiklah...

Pesan ini bernama rindu, rinduku banyak untukmu
Bagaimana menurutmu?


Puisi by Dita Oktamaya

Friday, February 8, 2013

Bukan Yang Kreatif

Mungkin...

Aku adalah makhluk paling tidak kreatif di dunia
Makhluk yang lemah dalam imajinasi visual

Aku hanya punya kata
Punya pesan dalam cerita

Aku tidak dapat menciptakan indah
Yang kutahu hanya rima berbait-bait kata untuk dibaca

Aku tidak mengenal desain
Tidak mengenal objek untuk ditumpahkan dalam warna

Yang kutahu hanya pena
Lembaran putih yang siap digoreskan dengan kata

Namun...

Aku pun tak sehebat pujangga
Pembuat kata beribu makna

Yang kutahu hanya bagaimana kuungkapkan celah
Ketika hati mulai merasa,
tetapi lisan sulit berkata


poem by Dita Oktamaya

Wednesday, November 7, 2012

Tahu Apa Kamu

Aku yang duduk di belakangmu,
menatap bahumu penuh harap agak ragu

Tahu apa kamu tentang hatiku?
Berkata yakin aku sanggup menjalani semua tanpamu

Tahu apa kamu tentang pikirku?
Berkata bisa aku sanggup melalui semua tanpa tawamu

Kamu tidak tahu aku,
begitu pun mereka

Mengumpulkan serpihan kenangan pembentuk angan,
kata siapa akan berakhir?
Karena terbiasa yang akan berubah,
terkurung rindu yang terus lupa

Tahu apa kamu tentang diriku?
Kamu tidak tahu,
tidak pernah ingin tahu,
tidak akan mencari tahu

Karena itu jangan katakan apa-apa padaku,
jangan sok tahu.
Karena kamu tidak tahu.


Puisi by Dita Oktamaya

Thursday, September 20, 2012

Aku Ingin Pergi Ke Sana Ke Mari Bersamamu

Aku ingin pergi,
mengunjungi tempat,
ke sana ke mari bersamamu

Namun, inginku kututupi begitu saja,
karena kau terlalu sibuk dengan duniamu

Siapa aku?
Yang kau tahu hanya sebuah pemanis dalam cerita masa lalu

Kemudian kau pun bercumbu dengan waktumu,
yang enggan melepasmu dari belenggu

Sedang apa dirimu?
Melepaskan penat melalui hari tanpa ucapan dalam bisu

Aku yang ingin pergi ke sana ke mari bersamamu,
meninggalkan waktu karena kutahu aku akan senang bersamamu

Dimana dirimu?
Begitu banyak egomu membiarkanku larut dalam sepi,
menunggumu yang bahkan kutahu tak ada setitik juangmu untuk menemui

Aku sendiri di sini,
pergi ke sana ke mari yang kuingin singgahi bersamamu

Namun, kemudian dengan paksa kutahan inginku,
karena menghabiskan waktu bersamaku,
tidak akan pernah menjadi inginmu

Puisi by Dita Oktamaya

Friday, September 14, 2012

Di Ujung Jalan Itu

Di ujung jalan itu,
kenangan terhapus tanpa sisa
satu per satu kembali berjuang untuk hidupnya
tanpa kenal iba

Aku tak menyalahkan,
tak mengeluhkan juga

Di ujung jalan itu,
ada kenangan yang terenggut
terbawa hembusan angin, entah kemana
bersedih pun susah,
karena indah menutupi segala

Ada kenangan yang harus dipuja,
diingat karena indah, dibuang karena luka
aku tak ingin lupa, mengingat kenangan yang dulu
menghabiskan waktu bersamamu, atas nama kita

Ada kenangan yang terbawa karena suka,
yang kemudian disentuh waktu hingga menjadi hampa

Di ujung jalan itu,
hujan telah menghapus semua
hingga luput, tanpa sisa
termasuk kenangan yang direnggut paksa
termasuk kita


puisi by Dita Oktamaya

Friday, September 7, 2012

Aku Menunggumu Di Depan Jendela

Aku menunggumu di depan jendela
menunggu bertatap mata dengan wajah penuh tawa

Aku merindumu banyak
hingga logika berkata bosan
hingga hati berontak tak sanggup berkata

Aku menunggumu di depan jendela
dengan berbagai kebodohan yang tak sanggup tercerita
dengan berbagai kekonyolan yang kulalui tanpa setitik tanda kau ada

Aku merindumu banyak
hingga bosan aku berkata
hingga bosan aku menatap ke jendela

Mungkin bukan saatnya kau tahu aku yang menunggumu,
menanti untuk bertemu dengan sejuta tawa yang buatku bahagia

Mungkin bukan saatnya kau sadar bahwa ada aku di depan jendela,
menantimu dengan beribu pengharapan untuk disapa

Aku menunggumu di depan jendela
kata orang rindu itu indah, rindu itu menyakitkan
Namun, bagiku mati rasa

Aku menunggumu di depan jendela dengan kematian rasa
menantimu untuk hadir membangkitkan rasa

Aku menunggumu di depan jendela
rindu itu tidak membuat buta,
tak bisakah kau melihatku yang memendam rasa?


Poem by Dita Oktamaya

Thursday, June 7, 2012

Ketika Kamu Tidak Bisa Menemukanku

Nanti ketika tiba masa kamu tidak bisa menemukanku
tidak bisa meraihku
tidak bisa menyapaku

Kamu memiliki kesimpulan sendiri bagaimana semua terjadi
aku tidak peduli
tidak ingin ambil andil lagi
tidak ingin mengulang semua lagi

Kamu pikir mudah jadi aku?
Kamu tidak akan tahu
tidak akan mencari tahu
tidak akan berminat untuk tahu

Karena itu,

Ketika kamu tidak bisa menemukanku
tidak dipedulikan olehku
tidak menjadi utamaku
tidak menjadi pikiranku

Ketahuilah,
Di antara semua yang pernah dilalui
aku juga bisa jadi tidak peduli


Poem by Dita Oktamaya

Thursday, May 3, 2012

Hujannya Menghapus Kita

Basah.

Hujannya menghapus ukiran kecil di atas tanah kering
membawanya larut dan kembali ke bentuk semula, lenyap
Hujannya kurang santai. Menghujam. Bergemuruh
memekikan telinga dengan petir yang berbincang rindu satu sama lain, bingar

Pintu terketuk. Masih hujan di luar. Hujan deras. Dingin
Bercermin menatap mata yang basah. Bukan karena hujan, menangis

Hujannya terdengar tegas.
Seolah berkata bahwa setelah mereka datang, tidak akan ada kita
Apa maksudnya?

Pintu kembali terketuk. Hujan pergi. Gerimis datang. Di Luar masih dingin
Sekali lagi bercermin menatap mata yang membengkak. Bukan karena tinju, tangis semalaman

Awan gelap mengubah langit menjadi campuran warna hitam putih. Hening. Dingin.
Angin seolah tidak mengerti kata sakit karena dihempas
Petir seolah berburu telinga untuk didengar

Aku yang membuka pintu terketuk. Hujan pergi. Gerimis pergi.
Berdamai dengan rasa dingin dan hempasan angin yang bekejaran, Aku
Siapa yang mengetuk? Tidak ada. Kosong. Langit terlihat gelap. Masih terasa dingin
Hujannya menghapus kita. Di sini tersisa aku. Hanya aku, tanpa kamu


Puisi by Dita Oktamaya

Tuesday, May 1, 2012

Jadi?

Semua berkata sibuk, tak ada waktu.
Berkata lelah dalam bisu.

Aku pun tahu sibuk itu, tahu rasa lelah itu.
tapi jika terus berkata dalam bisu tanpa ingarmu,
harus diletakkan dimana usahaku meluangkan waktu?


Puisi by Dita Oktamaya

Saturday, April 7, 2012

Lalu Mau Apa?

Mengharapkan kebaikan datang adalah aku
Mencoba menolak waktu yang akan berakhir cepat itu pun aku
Ya, aku butuh kamu

Butuh kamu seperti komputer butuh stabilizer
Butuh kamu seperti gitar butuh senar

Berakhir adalah kata yang paling kutakuti
Ketika kenangan dapat dengan sengaja dilucuti

Ya, aku menyukaimu
Menyukaimu seperti lebah menyukai madu
Menyukaimu seperti aku padamu

Mengertilah untuk beberapa saat, mengerti
Pahamilah secara keseluruhan, pahami
Jangan biarkan semuanya menghilang terlewati
Karena ketika semua menghilang, aku tidak akan kembali



Puisi by Dita Oktamaya

Thursday, March 29, 2012

Itu Ruangku, Kembalikan Padaku!

Aku ingin ruangku yang dulu
bergelak tertawa terbahak hingga tersedak membisu
ruang yang menyatukanku denganmu

Beri aku ruangku
lupakan saja usulmu
aku tidak ingin lupa, kenapa harus lupa?

Berdiam di sampingmu
bermain dengan hati untuk meraba pikiranmu
aku ingin ruangku yang dulu, kenapa harus aku tidak punya itu?

Beri aku ruangku
butuh waktu katamu
aku tidak ingin menunggu, kenapa harus menunggu?
ruang itu milikku, kenapa tidak kau tahu?

Aku hanya ingin ruangku, berikan aku itu
berikan aku itu, aku ingin ruangku yang dulu

seharusnya kau tahu itu punyaku
itu ruangku, kembalikan padaku!


Puisi by Dita Oktamaya

Wednesday, March 14, 2012

Seharusnya Aku

Seharusnya aku
menatap sombong berkata mampu
memamerkan ribuan emas pertanda borju

Seharusnya aku
merangkai derajat menjadi tahta
menatap angkuh berkata bisa

Seharusnya aku....

Bukan kamu...

Bukan mereka....

Tetapi aku!

Bukan terurai tanda terhina
menjadi arang berakhir rapuh
menatap lemah berkata lesu

Seharusnya aku
seutuh itu

Bukan terbakar ego menjadi tiada
anggun terhapus mengundang hina
menjadi terlupa tak kasat mata

Seharusnya bukan aku
terpecah tanpa rindu


Puisi by Dita Oktamaya

Tuesday, February 7, 2012

Hingga Hilang Waktu Nanti. Bagaimana Denganku?

Untukmu yang membuatku ceria
Ingin kutorehkan beribu kata ucapan rasa
Bagaimana denganmu?

Aku yang terbiasa duduk sendiri menatap langit, terjaga
Ingin kutorehkan tinta ungkapan cerita
Bagaimana denganmu?

Kamu yang duduk acuh meski kadang hilang lekat tatapmu
Ingin kutorehkan berbagai kata pertanda kenangan kita

Berbagai mimpi terukir dalam senda dan rima
Kamu teman segala
Bagaimana denganku?

Memaki waktu yang tersisa tak lama
Kebersamaan menyenangkan dengan gelak tawa pengharu rasa
Ingin kutorehkan nada dalam imajinasi kita
Tertawa lepas tanpa kekang
Bagaimana denganmu?

Kamu yang berdiri menjulang langit
Menyejukan saat mentari menerikan sinarnya
Merengkuh ketika dingin disapu angin dengan sengaja
Kamu teman selamanya
Bagaimana denganku?

Hingga hilang waktu nanti
Kamu teman segala
Teman berbagi cerita suka
Teman menangis berbagi duka

Hingga hilang waktu nanti
Kamu teman sepanjang masa
Yang kukunjungi dengan ribuan peluh pertanda tua
Yang kusandarkan dengan ribuan nyeri pertanda baya

Kamu teman selamanya
Hingga hilang waktu nanti
Hingga hilang daya mengingat rasa
Kamu tetap di hati
Bagaimana denganku?


Poem By Dita Oktamaya

Friday, January 6, 2012

Ah, Teman...

Ah, Teman...
sudah berapa banyak langkah yang kita tempuh bersama?
Jangan katakan kosong karena aku tidak akan percaya

Boleh aku lihat daftar milikmu?

1. Menemaniku saat aku sedih
2. Menemaniku saat aku senang
3. Meneleponku ketika jarak memisahkan
4. Mengirim pesan singkat ketika tiba-tiba kamu jadi pengangguran

Ah, Teman...
apa hanya ini daftar yang kamu punya?

Oh tunggu sebentar, Teman...

Ini daftar milikku, bisa kita baca bersama?
Maaf tulisanku tidak seindah guru Bahasa Indonesia

Ah, Teman...
melihat daftarku kenapa membuatmu menangis?
Apa aku harus memasukannya ke dalam daftar saat melihatmu menangis?

Oh tunggu sebentar, Teman...

Nah, sekarang sudah bisa kamu baca semuanya

1. Menangis dalam hati saat melihatmu menangis
2. Tersenyum senang ketika kamu bahagia
3. Memikirkan cara menjaga kenyamananmu ketika mengenalkan teman-teman baru kepadamu
4. Mengirim pesan singkat dan meneleponmu kapan saja
5. Menjadi temanmu sampai kita tua
6. Ah, apa aku harus menghapus semua daftar ini karena membuatmu menangis?

Jangan tanya kepadaku mengapa aku menangis dalam hati ketika melihatmu menangis, Teman...

Ini rasanya seperti, harus menempuh ribuan kilometer memenangkan marathon, rasanya lelah sekali melhatmu menangis

Jangan tanya kepadaku mengapa aku tersenyum senang saat melihatmu bahagia, Teman...

Ini rasanya seperti, lulus ujian, rasanya lega teramat sangat hingga aku bingung harus menangis senang atau tertawa sepanjang hari

Jangan tanya kepadaku mengapa aku ingin menjaga kenyamananmu ketika mengenalkan teman-teman baru kepadamu, Teman...

Ini rasanya seperti, bertahan di udara dingin pada musim dingin di Korea, rasanya tidak terbiasa dan sulit hingga rasanya aku telah membeku di dalam

Jangan tanya kepadaku mengapa aku terus mengirim pesan singkat atau meneleponmu kapan saja, Teman...

Ini rasanya seperti, orang Indonesia yang tidak makan nasi, rasanya aneh jika aku tidak melakukan itu sekali saja, seperti ada yang hilang

Jangan tanya kepadaku mengapa aku akan menjadi temanmu sampai kita berdua tua nanti, Teman...

Ini rasanya seperti, menunggu tanaman yang dirawat dan terus tumbuh, kamu tahu perubahan akan terjadi, tapi hatimu senang karena kamu terus berada di sampingnya meskipun kesibukan dalam kehidupanmu sebenarnya tetap tidak bisa dihindarkan

jangan tanya kepadaku mengapa aku berpikiran untuk menghapus daftar ini karena telah membuatmu menangis, Teman...

Ini rasanya seperti, menghitung jumlah totol pada Jerapah yang sangat kau sukai, kau tahu Jerapah punya totol tetapi kau tidak tahu apakah setiap jerapah memiliki totol yang sama, kau tahu aku senang menjadi temanmu, tetapi melihatmu menangis adalah sebuah pantangan untukku, apalagi jika itu dikarenakan olehku

Ah, Teman...
sudah jangan manangis lagi, tuk!

Baiklah aku tidak akan menghapus daftar ini, tetapi kamu harus janji untuk menambah satu daftar untukku

Oh, kamu bertanya apa?

Sederhana saja, ingat keberadaanku di setiap cerita kehidupanmu


Poem by Dita Oktamaya

Saturday, April 30, 2011

Menunggumu

Apakah memikirkanku menyakitimu?
Katakanlah...
Aku yang membaca pesan darimu yang dulu,
kini tak berdaya menimbun ragu

Kamu harus tahu mengapa aku termangu,
dengan ribuan tanya mengelilingiku
dan semuanya tentang kamu

Kamu harus tahu mengapa aku merasa terbelenggu
Menagih janji untuk bertemu,
dengan beribu nyanyian sendu yang kudendangkan untukmu

Kamu tahu?
Aku merelakan waktuku habis untuk memikirkanmu,
tentang dirimu,
tentang waktu yang kulewati tanpamu

Kamu tahu? Seharusnya kamu tahu
Aku melakukan itu...
karena aku menunggumu





Poem by Dita Oktamaya

Thursday, July 1, 2010

Terima Kasih Aku Menemukanmu

Matahari menyilaukan pandangan mataku
Menghangatkan perjalanan ini meski lelah menghampiriku
Aku menghitung langkah kaki yang tersisa di belakang
Sebentar lagi aku dapat menemuimu

Ribuan peluh membanjiriku
Mengalir melalui keceriaan yang akan menyapaku
Di sana, di tempat aku bersamamu
Di waktu yang akan kuhabiskan denganmu
Nanti, setelah aku menemukanmu

Aku menghentikan langkah, kutatap kaki penopang langkahku
Perih! Aku terluka! Aku menangis!
Di tengah kepedihan diri aku masih mengingatmu
Kau di mana? Aku mencarimu, selalu
Aku melanjutkan langkahku, sebentar lagi aku dapat menemuimu

Kawan,
Jika belum kutemukan dirimu maka bertahanlah
Bertahanlah di sana untuk menungguku datang

Kawan,
Jika pudar jejak yang berada di belakang maka ukirlah
Demi waktu yang terlalu sedikit untuk dihabiskan bersama

Kawan,
Jika belum dengan baik aku menjagamu maka jagalah dirimu
Demi keinginan hatiku yang selalu kalah oleh ketegaranmu

Kawan,
Jika belum ada rindu di hatimu untukku maka biarlah aku merindumu
Biarlah aku merindumu demi perih yang telah kulalui tanpamu

Dan Kawan,
Jika belum ada hal yang ingin kau sampaikan maka perkenankanlah aku lebih dulu
Demi duniaku yang indah karena kehadiranmu dan aku berterima kasih untuk itu


Poem by Dita Oktamaya

Monday, February 22, 2010

Percayakah Dirimu?

Percayakah dirimu tentang persahabatan tanpa akhir?
Persahabatan yang tercipta tanpa syarat,
Berjalan tanpa terikat, apa adanya

Bukan tentang saling mengisi ketidaksempurnaan yang kita miliki,
tetapi mengukir ketidaksempurnaan itu agar menjadi sesuatu yang berarti

Percayakah dirimu tentang cinta sampai mati?
Cinta yang tidak berwujud, tetapi nyata
Berjalan seperti awan yang kapanpun dapat hilang disapu angin

Bukan tentang membangkitkan kesetiaan dan berjanji akan kejujuran,
tetapi menyapu angin agar tidak menghilangkan awan

Percayakah dirimu tentang perpisahan dan pertemuan?
Pertemuan yang berawal indah lalu sedih menghias ketika perpisahan itu ada

Bukan tentang merasa kehilangan dan kesedihan,
tetapi rasa terima kasih karena telah dipertemukan

Percayakah dirimu tentang semua itu?
Aku percaya.

Bukan tentang kebencian atas kenyataan yang dihadapi,
tetapi cara bagaimana menghadapi hidup dengan lebih berani

Bukan tentang melihat kesedihan itu menghampiri,
tetapi bagaimana keindahan itu menyelimuti

Percaya padaku

Bukan tentang seberkas kata yang tertulis di sini,
tetapi tentang bagaimana kau melihat segala hal dari beberapa sisi

Maka kau akan percaya

Bukan karena aku, bukan karena apa yang telah kau baca di sini
tetapi karena dirimu menyadari satu hal,
dunia terlalu sempit untuk dilihat hanya dalam satu sisi


Poem by Dita Oktamaya

Monday, December 28, 2009

Waktuku Untukmu

Aku membawa waktuku bersamamu
Menjadikannya bagian-bagian dalam kepingan hari
Satu per satu

Aku ingin waktuku bersamamu
Menjadikannya yang pertama membangunkanmu di kala pagi
dan kau putar kembali saat mentari bersembunyi

Aku membawa waktuku bersamamu
Menjadikannya kenangan dalam gelak tawa
Menegarkan hati dalam duka hingga merengkuh suka

Aku ingin memberikan waktuku untukmu
menjadikannya teman saat sepi membayangimu
Menjadikannya saksi saat bahagia itu menyapamu

Aku ingin memberikan waktuku untukmu
Untuk selalu bersamamu karena aku akan selalu ada untukmu



Poem by Dita Oktamaya

Sudah Mengerti Sekarang?

Cinta,
apa kau mendengarku?
Mendengar rindu yang terlanjur mengalir untukmu?
Yang di setiap detik waktunya berdetak karena memikirkanmu

Cinta,
aku bertahan di tengah luasnya jarak yang memisahkan
Menghiasi hati dengan jutaan kesetiaan, hanya untukmu

Cinta,
aku menunggumu di dalam hempasan badai kecurigaan tentangmu
tentang cintamu,
dengan segala gundah yang ku habiskan tanpa kehadiranmu

Mengertikah kamu?
Bukanlah sebuah ketiadaan aku bersamamu
Dengan waktu yang begitu pelit, hingga memberi kita hanya sedikit

Mengertikah kamu?
Bukanlah sebuah omong kosong antara kita
Meski tak sering wajah ini saling bertatap
Tapi hati tak ingin meratap

Mengertikah kamu?
Bukan dalam kebohongan peduli itu datang dalam kekhawatiran
Mengingat ketidakadaan kabar darimu yang kurindukan

Mengertikah kamu?
Aku mengerti,
semua itu ada karena dirimu,
yang dengannya aku bertahan untuk terus menantikan kehadiranmu,
karena aku mencintaimu

Sudah mengerti sekarang?
Baguslah!
Dengan begitu kamu tahu bagaimana aku memilihmu, untuk mencintaiku




Poem by Dita Oktamaya