Friday, June 29, 2012

Formalitas

Apa kamu baik-baik saja?
Iya, aku baik-baik saja. Kamu?
Baik-baik juga.


Selesai. Perbincangan kita terhenti di situ. Satu sama lain bingung ingin membicarakan apa. Satu sama lain bingung memulai pembicaraan darimana. Entah terlalu banyak yang harus diceritakan atau terlalu sulit mencari bahan pembicaraan. Hanya formalitas. Kamu teman saya dan saya temanmu. Satu sama lain hanya bisa bertanya kabar. Itu sudah. Tidak ada cerita macam-macam yang membuat suasana menjadi nyaman. Bukan kita tidak mau berusaha membuat nyaman satu sama lain. Ya, kita bingung. Seperti tidak ada kepentingan untuk dibicarakan. Hanya formalitas untuk saling mengingatkan bahwa satu sama lain masih berteman. Formalitas. Tidak lebih. Seharusnya bisa lebih karena pertemanan lebih dari itu. Namun, salah satu di antara kita belum ada yang sanggup. Mungkin nanti akan sanggup atau mungkin tidak karena yang kita jalani hanya formalitas. Hanya suatu keharusan, bukan keinginan. Semoga ketika kamu berbicara kamu baik-baik saja itu benar adanya. Saya? Tidak tahu. Saya tidak sempat berpikir saya baik-baik saja atau tidak baik-baik saja, tetapi saya ingin kamu tahu bahwa saya dalam keadaan baik-baik saja. Saya penasaran bagaimana saya membuat otakmu berpikir bahwa saya adalah benar-benar temanmu, bukan sekedar formalitas. Sudahlah. Saya tidak akan bisa mengubah otakmu. Saya menerimamu yang seperti itu untuk menjadi teman saya. Ini bukan formalitas. Ini kesungguhan saya karena ingin terus berteman baik denganmu. Semoga kamu benar-benar dalam keadaan baik karena harapan saya tentang dirimu yang dalam keadaan baik bukan sekedar formalitas. Saya peduli padamu. Peduli yang kamu anggap hanya formalitas. Tidak. Saya benar-benar peduli padamu. Ini ketulusan saya untuk berteman dengan siapapun. Hanya kadar peduli saya padamu saja yang berbeda. Ini bukan formalitas. Kamu seharusnya tahu dan saya tahu bahwa kamu sudah tahu. Kita berteman. Berteman dekat dengan kadar kedekatan yang hanya kita dan Tuhan yang tahu. Seharusnya bisa sesederhana itu kamu pahami yang kemudian menjadi begitu rumit karena apa yang kita jalani selama ini, bagimu hanya sekedar formalitas.

by Dita Oktamaya

No comments: