Friday, January 29, 2010
Untuk Kita
Friday, January 1, 2010
Selamat Tahun Baru!


Hai apa kabar? Sebelumnya, Selamat Tahun Baru!!!!!!!!!!! :)
Bagaimana malam pergantian tahun kalian? Menyenangkan? Jika kalian bertanya kepada saya, saya akan menjawab : Tidak tahu.
Kenapa?
Jujur saja, saya tidak pernah menghabiskan malam tahun baru di luar rumah (selama di Jakarta), tidak karena saya yang menginginkannya dan juga tidak karena saya tidak memiliki teman untuk menghabiskan waktu bersama saat itu. Saya selalu tertidur, entah kenapa.
Aneh ya? Saya rasa juga seperti itu.
Saya juga merasa tidak ada yang perlu dirayakan saat malam pergantian tahun tiba, tidak ada yang terlalu spesial selain kembang api yang selalu terdengar seperti suara orang-orang yang sedang melakukan peperangan jika kalian tidak berada di luar rumah saat malam pergantian tahun.
Malam pergantian tahun adalah sesederhana itu sehingga kalian dapat mendengar gaduhnya suara trompet ditiup, menemui para penjaja makanan berkeliaran saat tengah malam, dan mendapati bundaran HI (khusus untuk yang bertempat tinggal di Jakarta) terasa sangat ramai, bahkan penuh sesak.
Malam pergantian tahun adalah sesederhana itu!
Begitu sederhana malam pergantian tahun baru, tetapi begitu istimewa karena kalian tidak akan menemukan hal semacam itu ketika malam-malam pergantian hari setelahnya.
Tidak, jangan bercanda.
Saya benarkan? Bukankah kalian tidak ingin meniup trompet dan menyalakan kembang api saat malam biasa? Atau membawa rombongan keluarga dan teman-teman kalian ke bundaran HI atau Alun-alun kota kalian masing-masing (kecuali jika kalian berniat untuk berorasi), tidakkah kalian tidak ingin melakukan itu?
Malam pergantian tahun ini bagi saya adalah (sekali lagi) malam yang saat saya menyambutnya dengan hal yang biasa (kelelahan dan kelelapan saya dalam tidur), yaitu bermimpi indah saat malam pergantian tahun.
Kalian pikir saya bercanda?
Tidak, saya memang tidur, tetapi kedua orangtua saya selalu membangunkan saya ketika pesta kembang api dimulai, mungkin menurut mereka setidaknya anak bungsu tukang tidur mereka bisa merasakan meriahnya malam pergantian tahun dengan melihat tarian api yang tersaji di gelapnya malam yang penuh dengan harapan baru.
Meskipun demikian, saya memiliki keinginan begitu besar untuk tahun 2010 ini. Impian saya.
Dengan meninggalkan 2009 yang sekarang dapat kita sebut sebagai tahun lalu, bukan berarti kita meninggalkan segala apa yang belum kita raih dan kita impikan, bukan? Dan saya melakukan hal itu.
Saya akan meraihnya, mimpi saya. Dan begitu pun kalian, setuju ya?
Kalian tahu? Malam pergantian tahun saya adalah sesederhana itu dan karena itulah saya membaginya dengan kalian, bukan karena kalian terlalu sederhana, tetapi karena saya ingin membuatnya menjadi begitu istimewa, sama seperti kalian di hati saya :)
Selamat tahun baru semua! Sesuatu yang baru bukan berarti ada keusangan di dalam kenangan lama! Keep smile and keep unique! :)
--pic : google.com
Wednesday, December 30, 2009
Happy Birthday!
Jakarta,
30-12-2009
With Love, Dita Oktamaya
Monday, December 28, 2009
Waktuku Untukmu
Menjadikannya bagian-bagian dalam kepingan hari
Satu per satu
Aku ingin waktuku bersamamu
Menjadikannya yang pertama membangunkanmu di kala pagi
dan kau putar kembali saat mentari bersembunyi
Aku membawa waktuku bersamamu
Menjadikannya kenangan dalam gelak tawa
Menegarkan hati dalam duka hingga merengkuh suka
Aku ingin memberikan waktuku untukmu
menjadikannya teman saat sepi membayangimu
Menjadikannya saksi saat bahagia itu menyapamu
Aku ingin memberikan waktuku untukmu
Untuk selalu bersamamu karena aku akan selalu ada untukmu
Sudah Mengerti Sekarang?
apa kau mendengarku?
Mendengar rindu yang terlanjur mengalir untukmu?
Yang di setiap detik waktunya berdetak karena memikirkanmu
Cinta,
aku bertahan di tengah luasnya jarak yang memisahkan
Menghiasi hati dengan jutaan kesetiaan, hanya untukmu
Cinta,
aku menunggumu di dalam hempasan badai kecurigaan tentangmu
tentang cintamu,
dengan segala gundah yang ku habiskan tanpa kehadiranmu
Mengertikah kamu?
Bukanlah sebuah ketiadaan aku bersamamu
Dengan waktu yang begitu pelit, hingga memberi kita hanya sedikit
Mengertikah kamu?
Bukanlah sebuah omong kosong antara kita
Meski tak sering wajah ini saling bertatap
Tapi hati tak ingin meratap
Mengertikah kamu?
Bukan dalam kebohongan peduli itu datang dalam kekhawatiran
Mengingat ketidakadaan kabar darimu yang kurindukan
Mengertikah kamu?
Aku mengerti,
semua itu ada karena dirimu,
yang dengannya aku bertahan untuk terus menantikan kehadiranmu,
karena aku mencintaimu
Sudah mengerti sekarang?
Baguslah!
Dengan begitu kamu tahu bagaimana aku memilihmu, untuk mencintaiku
Monday, December 14, 2009
Korean Days In Yogyakarta
Hai apa kabar?? Baik-baikkah kalian? Maaf saya telah cukup lama ber-hibernasi dari dunia blog belakangan ini, sinyal internet di Yogyakarta (kamar kos saya) tidak terlalu baik :(
Ada yang ingin disampaikan?? Kalau saya ada, saya rindu kalian :)
Beberapa bulan yang lalu saya tiba di Yogyakarta, memulai kehidupan baru sebagai seorang mahasiswi. Saya ingat sebelum berangkat ke Yogyakarta ada seorang teman yang meminta saya untuk menulis tentang malioboro pada malam hari.
Sejujurnya, saya bingung ingin mengatakan apa, hari pertama di Yogyakarta, seorang teman mengajak saya untuk pergi mencari es degan (kelapa) untuk kakaknya yang sedang hamil, tetapi hasilnya nihil! Kami tidak menemukan es degan sama sekali, pada akhirnya kami pun berkunjung ke malioboro pada malam hari.
Ya, saat itu kondisi saya tidak sedang dalam keadaan baik, maka dari itu teman saya mengajak saya ke suatu warung lesehan yang cukup nyaman sebenarnya, jika tidak bertubi-tubi pengamen datang menyanyikan lagu yang sebenarnya tidak dapat disebut lagu (kalian pasti mengerti maksud saya). Saat itu kami banyak bercerita, menceritakan tentang Yogyakarta pada malam hari. Kehidupan yang berjalan perlahan namun pasti.
Kalian tahu?
Setelah beberapa bulan tinggal di Yogyakarta, saya merasakan bahwa waktu berjalan begitu lambat. Tidak ada sesuatu dalam keadaan terburu-buru, semuanya terasa berjalan perlahan. Bagi kalian yang tinggal di Yogyakarta, apa juga merasa demikian? Atau semuanya hanya perasaan saya saja?
Anyway, tiga hari yang lalu, kampus saya (jurusan lebih tepatnya) mengadakan sebuah acara bernama : Korean Days.
Ya, seperti namanya, kami membuat acara berdasarkan apa yang menjadi hal-hal yang kami pelajari.
Kami memperkenalkan budaya Korea kepada masyarakat di dalam atau pun luar kampus. Hal yang terpenting adalah bagaimana kalian memperkenalkan apa yang telah kalian pelajari dengan cara yang menyenangkan. That's a point, dude!
Acara ini dilaksanakan pada tanggal 9-10 Desember 2009 yang lalu. Tidak hanya memperkenalkan budaya, tetapi kami pun juga memperkenalkan makanan-makanan khas Korea. Banyak pengunjung yang terlihat puas (menurut saya) karena mengetahui lebih banyak tentang budaya Korea yang akhir-akhir ini banyak menarik perhatian mereka.
Acara puncak dilaksanakan pada malam hari tanggal 10 Desember kemarin. Dalam puncak acara ini, kami mempersembahkan pentas seni dengan berbagai macam hal bernuansa Korea.
Jujur, acara puncak malam itu sungguh membuat saya waswas. Bagaimana tidak? Saya ditunjuk sebagai koordinator dalam pertunjukkan drama dari angkatan saya. Selain sebagai penulis naskah, saya juga berperan sebagai sutradara dan music director dalam drama ini.
Menurut saya, waktu latihan tidaklah begitu banyak untuk mempersiapkan ini semua, saya mencoba untuk tetap berpikir positif bahwa saya dan teman-teman yang menjadi aktor dan aktris saya pasti bisa melakukan itu semua meskipun kami selalu khawatir akan melanggar jam malam kos untuk berlatih drama ini. Dan pada akhirnya, ya kami berhasil!
Para penonton merasa puas dengan pementasan yang kami lakukan, tepuk tangan dan canda tawa kesenangan terdengar di telinga saya, ya kami berhasil! Setidaknya untuk malam ini. Thanks to God :)
Well, selain sebagai Koordinator Drama, saya juga menjadi salah satu pemain dalam sebuah grup alat musik tradisional korea atau lebih dikenal sebagai 사물놀이 (Samulnori). Samulnori adalah permainan empat alat musik tradisional yang dimainkan dengan cara dipukul, yang terdiri atas 장구 (Janggu), 쇄 (Swae), 북 (Buk), dan 징 (Jing). Saya memainkan Janggu yang dimainkan menggunakan dua buah pemukul seperti drum dalam sebuah band.
Malam itu adalah malam yang sangat berkesan bagi saya. Ya, katakanlah saya adalah gadis yang cengeng. Hari itu saya menangis, tersedu-sedu, melihat segalanya telah dilalui dengan lancar, mendengar tepuk tangan para penonton, tepuk tangan yang mengirimkan kelegaan karena merasa beban telah hilang. Satu pelajaran yang membuat saya tidak dapat berhenti berpikir bahkan hingga saya mengetik postingan ini : Bahagia bukan hanya saat kalian merasa senang tanpa kesedihan, tetapi bahagia adalah saat di mana kalian membuat orang lain bahagia dengan apa yang telah kalian usahakan bahkan orang yang tidak kalian kenal sekali pun.
Tahukah kalian? Mempelajari budaya Korea seperti ini tidaklah membuat saya lupa akan budaya Indonesia, tidak seperti itu! Saya makin mencintai budaya Indonesia bahkan jauh lebih besar dari sebelumnya. Tetap semangat, teman! Karena hanya kalian yang mengerti bahwa mimpi kalian sudah berada di depan mata untuk kalian raih :)
Saya bermain 장구 (Janggu)
징 (Jing)














