Tuesday, October 16, 2012

Semoga

Hari ini saya sudah mendapatkan kelanjutan kabar mengenai skripsi saya yang mulai semester ini harus (mau tidak mau, suka tidak suka) saya kerjakan dan selesaikan. Akhirnya, hari ini saya mengetahui siapa dosen pembimbing skripsi saya. Bapak yang sangat baik dan sangat sangat berkharisma. Beliau bersedia membantu saya mencapai target untuk lulus sesuai pada waktu yang saya inginkan.

Semoga apa yang saya jalani dengan dosen pembimbing skripsi saya ini diberi kelancaran dan keberkahan oleh Allah.

Semoga segalanya selalu baik-baik saja sesuai dengan rencana yang seharusnya.

Semoga saya tidak tiba-tiba menjadi orang tanpa tulang yang tidak bisa bangkit dari kasur (malas).

Semoga kalian semua diberi kesehatan dan kebaikan sehingga senantiasa dapat mendoakan saya yang berjuang untuk tugas akhir saya di sini.

Semoga orang tua saya selalu diberi sehat dan rezeki yang cukup oleh Allah, sehingga mereka tidak kekurangan satu apapun ketika masih menyekolahkan saya di sini.

Semoga kakak saya dimudahkan jalannya untuk menjadi apoteker terbaik di Indonesia dan mendapat pekerjaan yang sangat layak atas perjuangan kerasnya selama ini.

Semoga sahabat saya, Damar Rakhmayastri, dimudahkan presentasi seminarnya tanggal 17 Oktober 2012 nanti dan dilancarkan skripsinya, penelitiannya, penyelenggaraan pamerannya, dan segala bentuk macam hal yang dia lakukan, sehingga saya jarang bisa sering-sering menghabiskan waktu tertawa, bergosip, melakukan hal konyol karena imajinasi berlebih, diskusi, dan lain sebagainya (kecuali hari ini, saya senang karena hari ini saya seharian banyak tertawa dengan anak konyol ini).

Semoga jodoh (yang paling baik) saya datang di waktu yang tepat, sehingga saya dapat berani membuat komitmen bahwa dia adalah orang yang tepat untuk teman hidup saya.

Semoga semua teman-teman saya yang sedang menyusun skripsi maupun tidak sedang menyusun skripsi senantiasa diberi kebahagiaan, sehingga stress tidak menjangkiti mereka.

Semoga orang baik tetap menjadi orang baik.

Semoga orang yang tadinya jahat, menjadi orang yang baik.

Semoga kehidupan selalu seimbang.

Semoga dunia damai.

Semoga bumi terus berputar.

Semoga Allah selalu bersama saya.

Amin.


by Dita Oktamaya

Monday, October 15, 2012

Selamat Ulang Tahun!

Selamat ulang tahun! 

Iya, hari ini ulang tahun saya. Iya, saya tambah tua. Iya, saya seharusnya berpenampilan sesuai dengan usia saya. Iya, saya masih kaget ternyata saya sudah berumur sedemikian adanya. Iya, tanggung jawab semakin banyak di depan mata. Iya, saya takut menyadari hal itu. Iya, saya belum siap jadi orang yang dianggap 'dewasa' karena usia yang semakin bertambah. Iya, saya banyak mengiyakan tetapi sesungguhnya itu beban untuk saya. 

Hari ini saya dibangunkan oleh telepon dari mama saya yang berada di Jakarta. Mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya dengan nada yang ceria, sedangkan saya dengan malas-malasan menerima telepon dari mama karena pada jam sedemikian paginya, saya masih tertidur. 

Setelah mama menelepon, beberapa menit kemudian papa juga menelepon. Sama seperti mama, papa menelepon mengucapkan selamat ulang tahun, tetapi papa dengan nada sedih kemudian terdengar sedikit terisak. Saya bingung hal apa yang membuat papa sedemikian sedih hingga menangis saat mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya. Saya hanya mampu menenangkan sekedarnya karena pikiran saya masih kacau antara bingung dan mengantuk, memang bukan anak yang baik. 

Kemudian kakak saya menelepon saya, dengan nada suara yang ceria tanpa beban, seperti biasa. Mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya, mengatakan ini-itu. Untungnya saya sudah benar-benar terjaga dari tidur saya, jadi saya dapat merespon kakak saya dengan baik dan benar.

Selanjutnya teman-teman yang datang menghampiri saya yang berantakan (meskipun sudah mandi), memberikan kue ulang tahun, menyanyikan lagu ulang tahun, berbincang bersama, tertawa bersama, dan menentukan hari kapan makan bersama padahal yang berulang tahun adalah saya.

Berikutnya teman kesayangan saya yang sampai detik ini saya juga heran mengapa dia bisa menjadi teman kesayangan saya, Damar, seorang perempuan bernama laki-laki. Dia mengirimkan pesan singkat, menanyakan keberadaan saya dan meminta saya untuk mengambil hadiah ulang tahun darinya. Sungguh, saya bingung mengapa Damar bisa menjadi teman kesayangan saya, padahal dia dengan sebegitu cueknya malah meminta saya menghampirinya untuk mengambil hadiah ulang tahun, bukan dia yang datang menghampiri saya dan mengucapkan selamat ulang tahun dengan baik dan benar, persahabatan yang unik. Memang pada akhirnya dia singgah ke kos saya, seperti biasa, mengacaukan kamar saya yang sudah kacau. (Hampir) makan kue ulang tahun di atas kasur saya, mencoret-coret time table saya, mempermainkan ukulele saya, dan membuat video untuk saya (yang ini tidak bisa dipublikasi karena merupakan konsumsi pribadi :D)

Lalu teman lelaki saya, manajer WEBG (saya pernah menulis tentang WEBG di postingan sebelum-sebelumnya) dia datang, kemudian hujan turun. Kami terjebak hujan. Dia memberikan hadiah ulang tahun kepada saya, kemudian kami menghabiskan bensin motor dengan cuma-cuma karena berkeliling kota Jogja tanpa arah dan tujuan.

Yang terakhir, teman saya, Alin. Dia menelepon saya, menyanyikan lagu ulang tahun dengan sangat baik. Dia bernyanyi, lewat telepon, karena sekarang dia berkuliah di Solo.

Ada banyak hal yang ingin saya katakan kepada mereka, terima kasih yang banyak banyak banyak banyak tak terhingga sampai saya bingung bingung bingung bingung bagaimana mengungkapkannya. 

Untuk mama dan papa : Terima kasih untuk dukungan dan doa yang selalu diberikan kepada saya dan selalu menyerahkan pilihan kepada saya dengan alasan yang penting saya suka menjalankannya, sampai akhirnya saya selalu ikhlas menjalani apapun karena saya menyukainya. Terima kasih karena kalian tidak pernah menuntut saya untuk jadi ini atau jadi itu. Saya akan berusaha untuk selalu membuat kalian bangga dengan apa yang saya lakukan. Dengan karya-karya saya, dengan cita-cita saya. Tolong jangan pernah berhenti mendoakan saya karena doa kalian selalu jadi semangat yang tidak pernah buat saya merasa sendirian di tempat jauh ini.

Untuk Kakak (Kak Tami) : Terima kasih untuk dukungan dan doa yang tidak pernah habis untuk saya. Terima kasih karena ketika banyak orang tidak percaya dengan kemampuan saya, kamu masih percaya. Terima kasih sudah menjadi teladan yang paling baik untuk adik macam saya. Saya tahu, menjadi anak pertama adalah hal yang tersulit dan membebankan karena harus menjadi contoh yang baik untuk adiknya, tapi sesulit apapun itu kamu selalu berhasil jadi contoh yang baik untuk saya. dan selalu bisa jadi penyemangat terbaik saya. Terima kasih untuk doa-doa baik yang kamu kasih untuk saya, karena doa-doa itu lah saya mampu bertahan sendirian di 512 km jauhnya dari rumah.

Untuk teman-teman (Tiara, Jessica, Febi, Fitri, Ayi) : Terima kasih sudah jadi teman yang suka tertawa, hal itu yang selalu berhasil menghibur saya ketika saya berada di sekitar kalian. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk memberikan kejutan untuk saya, kalian teman yang baik.

Untuk Damar : Kamu adalah satu-satunya teman yang selalu ingin saya ceritakan apapun itu. Maafkan saya jika saya selalu banyak merepotkanmu dengan segala bentuk permintaan ini-itu. Terima kasih karena kamu selalu bersedia menyediakan rumah untuk saya berteduh ketika saya merasa haus akan keberadaan saya di rumah saya yang sesungguhnya. Terima kasih telah memperkenalkan saya dengan hal-hal baru yang sebelumnya tidak pernah saya kira saya menyukainya. Terima kasih karena kamu telah menjadi teman yang menyenangkan. Saya tahu saya bukan teman yang baik, yang selalu ditunggu kedatangannya, yang selalu diharapkan keberadaannya, tetapi saya suka sekali karena seperti apapun saya, kamu masih bersedia menjadi teman saya, sahabat saya, soul sister saya, partner bermusik dan segala bentuk kesenian saya, teman diskusi saya, teman tertawa saya, teman menangis saya, teman menggila saya, teman melakukan hal konyol dengan imajinasi yang berlebih. Terima kasih, Dam, kamu telah berusaha memahami saya dan menutupi segala kekurangan saya sebagai temanmu. Maafkan saya jika banyak hal yang saya lakukan menyakitimu dan membuat dirimu merasa tidak baik, maafkan saya teramat sangat. Jika kamu masih mempertanyakan mengapa saya menjadikanmu teman kesayangan saya, sampai saat ini pun saya tidak tahu pasti kenapa saya begitu menyayangimu, yang saya tahu sangat jelas adalah saya senang berteman denganmu karena kamu membuat saya membuat sesuatu.

Untuk Herry : Terima kasih sudah menjadi teman (dan manajer) yang baik dengan tingkat baik berlebihan sampai kamu rela meluangkan waktu untuk menemani saya ini-itu. Maaf jika saya banyak merepotkanmu, semoga kamu selalu diberi keberkahan karena telah menjadi orang baik.

Untuk Alin : Terima kasih nyanyian selamat ulang tahunnya. Kamu selalu bisa mengingatkan saya bahwa jarak bukanlah halangan seseorang untuk terus berteman, menjalin tali silaturahmi. Terima kasih kamu telah mengajari saya banyak hal tentang pandangan-pandanganmu tentang masa depan. Terima kasih kamu selalu berusaha meluangkan waktu untuk menemui saya ketika kamu mampu. Kamu teman yang baik.

Dan untuk teman-teman lain yang memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada saya, terima kasih banyak  karena kalian telah bersedia meluangkan waktu untuk itu. Semoga hari kalian selalu menyenangkan, semoga keberkahan hadir di antara kalian. Semoga di usia saya yang bertambah ini, saya masih bisa terus berada di hati kalian. Semoga kita selalu diberi kesehatan dan kemudahan dalam menjalani berbagai macam hal dalam hidup kita. Semoga Allah selalu memberkahi setiap langkah kita. Semoga.


by Dita Oktamaya

Monday, October 1, 2012

Cerpen itu...

Hari ini saya (sengaja) mengunjungi pusat studi korea demi keberlangsungan hidup skripsi saya. Ah, berlebihan memang. Mana ada skripsi hidup? Di sana saya bertemu dengan beberapa teman kuliah saya yang (pada dasarnya, selalu) tingkat kerajinan dan kepintarannya dalam menerima ilmu (jauh) di atas saya. 

Kami saling membantu mencari buku yang kami butuhkan. Melihat wajah-wajah tegang seperti mereka saya jadi ingin membuat suasana terasa menyenangkan, sehingga sesekali saya melontarkan lelucon kepada mereka. Untung saja mereka tertawa. Hal yang harus diketahui bahwa membuat orang yang tingkat kepintarannya (jauh) di atas kita tertawa adalah hal yang (terlalu) sulit untuk dilakukan. Karena lelucon kita akan (terasa) seperti lelucon tidak cerdas, tak bermakna. Banyak tidak nyambungnya.

Namun, mereka tertawa dan (sangat) cukup menyenangkan berbincang dengan mereka. Hal yang tidak dapat dilupakan hari ini adalah ketika salah seorang dari mereka tiba-tiba (curhat colongan) mengatakan bahwa dia hampir tidak berdaya menerjemahkan cerpen berbahasa korea yang menjadi bahan skripsinya.

Dia : "Kalau dalam kamus bahasa Indonesia, definisi cerpen kan cerita yang selesai dibaca dengan sekali duduk ya, Dit?"
Saya : "He eh. Trus?"
Dia : "Meskipun aku udah duduk berkali-kali nih ya, tetap aja cerpen berbahasa Korea ini enggak selesai-selesai juga aku baca."

Entah perasaan saya saja atau kalian juga merasakan hal yang sama. Saya agak tergelitik (karena lucu) dengan pernyataan cerdas teman saya itu. 


by Dita Oktamaya

Sunday, September 30, 2012

Substistusti (?)

Hari ini saya menghabiskan waktu dengan seorang teman yang saya kenal dari teman lain. Seorang teman perempuan, teman perempuan yang enerjik yang tingkat ketidakpeduliannya lebih parah dari saya. Cueknya di atas rata-rata orang biasa, tetapi tetap semenyenangkan orang yang paling menyenangkan di dunia. Namanya Mutia atau saya lebih sering memanggilnya Mumut.

Dia adalah seorang gadis yang selalu kesulitan melafalkan huruf R. Mendengarnya bercerita dengan aksen sundanya yang khas dan ketidaksanggupannya melafalkan huruf R adalah sesuatu yang selalu menarik perhatian saya. Unik. Dan itulah saya, saya selalu menyukai aksen setiap teman saya yang berasal dari daerah mana pun. Saya suka cara mereka bercerita yang selalu terdengar unik di telinga saya. Bukankah semua orang memiliki keunikan masing-masing?

Satu hal juga yang tidak bisa saya lupakan dari Mumut adalah ketidaksanggupannya melafalkan kata subtitusi. Ya, baginya kata itu terlalu sulit dilafalkan, hingga ia pun melafalkannya menjadi substistusti. Saya tergelitik mendengarnya yang kewalahan melafalkan kata itu, hingga hasrat saya untuk menggodanya pun semakin tinggi. Namun, melihat tatapannya yang seolah berkata 'Aku beneran enggak bisa melafalkan itu' membuat saya akhirnya memutuskan untuk mengajarinya.

Saya : "Yoo, Mut. Subtitusi. Coba bilang."
Mumut : "Substistusti."
Saya : "Subtitusi, Mut. Bukan substistusti."
Mumut : "Enggak bisa, Dit. Enggak bisa."
Saya : "Coba ya, Sub..."
Mumut : "Sub..."
Saya : "Ti..."
Mumut : "Ti..."
Saya : "Tu..."
Mumut : "Tu..."
Saya : "Si..."
Mumut : "Si..."
Saya : "Subtitusi."
Mumut : "Substistusti."
Saya : "Arrgggghhhh!"

Dan akhirnya saya pun menyerah. Dia memang benar-benar tidak bisa melafalkan kata itu -..-


by Dita Oktamaya

Tuesday, September 25, 2012

Sangat Baik

Hari ini mama saya menelepon saya. Bertanya apa saya berada dalam keadaan baik-baik saja karena beliau tahu keadaan saya di Jogja sudah menjadi manusia setengah pengangguran karena sibuk berkutat dengan skripsi, tetapi tidak melakukan hal lain yang membuat seluruh badan saya bergerak.

Saya menceritakan kepada mama saya, mengenai salah seorang dosen yang pada hari ini mengajak saya bertemu dengan seorang sutradara film. Dunia yang sejak dulu saya minati, tetapi sulit untuk saya raih karena keseganan saya dalam memulai.

Saya suka dunia perfilman, suka menjadi bagian dari mereka (jika saya bisa). Saya suka berada di belakang layar, sibuk berjalan ke sana ke mari, menjadi crew yang bertanggung jawab ini itu. Saya suka pekerjaan yang membuat seluruh badan saya bergerak. 

Saya pernah mendengar cerita salah seorang teman SMP saya yang terjun langsung menjadi asisten sutradara. Dulu sekali, ketika kami sama-sama berada di bangku kelas 2 SMP (atau sekarang kelas 8). Hal itu yang menarik minat saya, berada di belakang layar, bergerak, sibuk, dan hal-hal lainnya yang membuat saya jadi manusia berguna. Penghasil karya. Penghibur orang lain. Bertemu banyak orang baru. Saya berterima kasih dengan dosen saya karena beliau mengajak dan memperkenalkan dunia baru kepada saya. Saya menjadi menemukan dunia yang sejak dulu saya cari. Semua jadi (agak) lebih terlihat jelas, apa yang ingin saya lakukan kelak, setelah saya menyelesaikan skripsi saya. 

Saya menceritakan rencana-rencana saya, bagaimana selanjutnya hal yang saya inginkan ketika saya sudah lulus strata 1 nanti kepada mama saya. Mama terasa mendengarkan dengan baik kata demi kata yang saya ucapkan. Setelah saya menyudahi cerita saya, mama pun memberikan respon yang jauh dari apa yang saya bayangkan.

"Pokoknya yang kamu percaya baik untuk kamu dan kamu suka menjalaninya, ya lakukan saja. Asal ingat satu hal, jangan lupa Tuhan."

Respon mama yang begitu sederhananya membuat saya tersadar bahwa sejak dahulu, orang tua saya tidak pernah menekan saya untuk menjadi ini, menjadi itu. Mereka selalu membiarkan saya memilih apa yang saya suka, apa yang membuat saya nyaman menjalaninya. Orang tua saya membiarkan saya masuk ke jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial ketika SMA karena mereka tahu saya menyukainya, padahal pada saat itu Ilmu Pengetahuan Alam menjadi jurusan favorit di sekolah saya, hingga terjadi penambahan kelas.

Orang tua saya membiarkan saya memilih jurusan bahasa Korea karena mereka tahu saya menyukainya, padahal pada saat itu bisa saja mereka menyuruh (memaksa) saya memilih untuk masuk ke jurusan ekonomi atau jurusan yang dapat dikatakan lebih memiliki ketenaran yang lebih baik lainnya, tetapi mereka tidak melakukannya. Bahkan sampai sejauh 512 km saya berada jauh dari mereka hanya untuk menyelesaikan hal yang saya sukai, mereka membiarkan saya memilih pilihan untuk berdiri sendiri di sini, di Jogja. 

Orang tua saya memberikan saya gitar, memberikan saya keyboard, memberikan saya ukulele, dan  memberikan alat musik lainnya kepada saya hanya karena saya menyukainya, padahal bisa saja mereka menolak permintaan saya yang tidak pernah becus memainkan alat musik macam apapun. Bahkan sampai detik ini.

Saya jadi membenahi kembali rencana-rencana apa yang akan saya lakukan nanti, setelah saya lulus dari strata 1. Saya ingin memberi pembuktian kepada mereka bahwa mereka tidak akan kecewa dengan menaruh kepercayaan mereka sepenuhnya kepada saya. Saya ingin membuktikan kepada mereka bahwa saya bisa dipercaya, bahwa yang mereka lakukan dengan mengembalikan semua pilihan kepada saya itu benar. Saya ingin melihat mereka tersenyum bangga kepada saya yang selalu bisa menikmati apa yang dilakukan karena saya menyukainya. 

Izinkan saya berterima kasih karena saya selalu merasa bisa diandalkan karena kalian selalu memberi kepercayaan kepada saya. Izinkan saya berterima kasih, meskipun saya tahu rasa terima kasih ini tidak akan pernah bisa menggantikan apa yang telah kalian lakukan untuk saya. Kalian orang tua terbaik, sangat baik. Kalian orang tua yang selalu menjadi semangat saya melakukan berbagai macam hal. Terima kasih karena kalian selalu menerima saya seperti apa pun cara yang saya lakukan dalam menjalani hidup saya. Saya beruntung memiliki kalian. Beruntung sekali. 


-----


NB : Dedicated to lovely mom and dad, you're always be a part of me. Semoga kalian selalu sehat dan berada dalam keadaan baik-baik saja ya. Jangan bersedih karena saya berada di sekian banyak kilometer untuk meraih cita-cita saya. Ingatlah seberapa jauhnya saya, saya akan selalu kembali kepada kalian. Jadi, bersabarlah dan tunggu saya pulang :)

by Dita Oktamaya

Sunday, September 23, 2012

Saya dan Hujan

Belakangan ini banyak hal yang saya pikirkan tentang Jogja. Ah, ya! Salah satunya adalah Jogja butuh hujan! Tolong Tuhan, cuaca Jogja makin hari makin panas dan gersang, saya bahkan selalu menyipitkan mata saya pada siang hari ketika matahari bersinar dengan titik paling teriknya. 

Sebenarnya beberapa hari yang lalu hujan sempat turun di Jogja, hanya sebentar, sangat sebentar sekali teramat sangat! Padahal saya sudah tersenyum sambil mengendarai motor menuju kampus, celana saya juga sebagian sudah basah karena hujan. Namun, ketika saya memarkirkan motor saya. Hujan berhenti bersamaan dengan berhentinya mesin motor saya di parkiran. Saya jadi manyun.

Ada cerita tentang saya dengan hujan, dulu ketika saya masih sekolah menengah atas di Jakarta, salah seorang teman pernah dengan murung menatap saya tanpa daya. Saya yang pada dasarnya suka sekali membuat orang tertawa tidak suka melihatnya seperti itu. Kemudian saya mencoba mencari lelucon agar dia tidak merasa bosan. 

"Hujan nih, lo enggak ngasih selamat ke gue?"

"Ngapain?"

"Gue kan ulang tahun setiap hujan turun."

"Nyahahaha. Kalau lo ulang tahun tiap hujan, gue ulang tahun tiap napas."

Begitulah, dia balik melontarkan lelucon kepada saya. Kami jadi bercerita panjang lebar dan akhirnya saya melihat semangatnya kembali lagi. Syukurlah, saya tidak suka melihat teman saya terduduk lemah atas alasan mengenai beberapa hal (kecuali jika mereka memang sedang lelah), saya mungkin hanya bertanya ada apa dengan mereka. Tidak, saya tidak berharap mereka menceritakan masalah yang dihadapi, saya hanya ingin menegaskan kalau-kalau mereka memang sedang memikirkan sesuatu yang membuat bibir mereka manyun, jadi saya ingin menawarkan tawa untuk mereka. Ya, setidaknya imajinasi saya yang terkadang orang bilang suka di luar akal sehat orang biasa bisa membuat mereka terhibur, setidaknya, saya harap seperti itu.

Saya suka sekali dengan hujan, saya bahkan bisa menatap hujan turun di depan jendela dalam waktu yang cukup lama. Melankolis? Tidak. Menatap hujan seperti itu membuat saya menjadi lebih tenang. Saya suka bau tanah yang terkena air hujan, baunya mendamaikan hati. Sejuk.

Ada satu cerita lagi tentang saya dan hujan. Ya, dulu ketika ada beberapa hal yang membuat saya tidak nyaman dengan lingkungan sekitar, saya sempat menangis di depan teman kesayangan saya. For your information, saya akui saya adalah orang dengan gengsi yang cukup tinggi. Jadi, jika saya tidak yakin dengan orang tersebut, saya tidak akan sembarangan mengeluarkan airmata saya karena saya merupakan orang yang berkeyakinan bahwa titik terlemah seseorang adalah ketika dia mengeluarkan airmata (dalam kondisi tertentu) dan saya bukan tipe orang yang dengan mudah mengumbar airmata atau lebih tepatnya kesedihan saya. 

Saya mengatakan pada teman saya, ketika saya menangis, hujan dapat sewaktu-waktu turun. Entah kebetulan atau memang langit yang ikut bersedih. Setiap saya menangis, langit seolah-olah merasakan kesedihan yang sama, hingga pada akhirnya menurunkan hujan (menangis). Ya, mungkin imajinasi saya yang agak berlebihan, tetapi itulah yang terjadi. Hingga teman saya pun akhirnya melarang saya menangis karena dia lupa membawa jas hujan ketika dia ingin pulang ke rumahnya. Kebetulan yang membingungkan? Ya, nama korea (haneul = langit) yang diberikan kepada saya, seolah-olah menyatu sekali dengan diri saya. Begitulah. Saya juga tidak terlalu mengerti mengapa bisa terjadi seperti itu.

Saya suka sekali hujan, meskipun terkadang ketika hujan turun banyak agenda atau janji yang tertunda atau bahkan batal begitu saja. Tidak apa. Saya tetap suka hujan. Hujan yang membasahi tanah, hujan yang memberikan aroma tanah menjadi lebih terasa sejuk. Hujan yang membuat saya tidak perlu berpikir seberapa rapinya saya karena sudah terlanjur terkena basah. Hujan yang membuat saya memakai payung (saya suka sekali memakai payung saat hujan). Saya suka hujan karena hujan bisa dengan sekejap memberikan istirahat yang terkadang tidak dapat diraih orang sibuk seperti beberapa teman kesayangan saya. Semoga mereka selalu sehat dan tidak marah ketika kesibukannya diganggu dengan turunnya hujan. Semoga saja. Saya harap seperti itu.


by Dita Oktamaya

Friday, September 21, 2012

Itu Saja

Kita bertemu lagi dalam sapa hangat seperti dulu.

Banyak tawa terbagi karena butuh kuungkapkan semua cerita seperti janji.

Tidak ada kata yang tidak terucap, semua meluap seolah menuturkan kata menjadi ahliku.

Aku tidak ingin diam, menjadikan pertemuan sia-sia.

Membiarkanmu bosan karena sama-sama kehabisan kata.

Aku bercerita, dengan dirimu yang mengangguk dan mengiyakan kata demi kata agar leluasa aku tertawa.

Bukan ego yang merajai masing-masing kita.

Namun, paham untuk saling berinteraksi bertukar cerita.

Begitulah kita dengan berbagai cara.

Aku dengan bercerita, kamu dengan tertawa.

Interaksi yang begitu sulit ditentukan karena imajinasi kata tidak merata.

Namun, kita tetap nyaman. Itu cara kita.

Cara kita untuk mempertahankan kita.

Cara kita untuk tidak kehilangan kita.

Menyesuaikanmu adalah hal tersulit bagiku.

Tentu tak kuungkapkan karena kutahu sulit bagimu menyesuaikanku.

Namun, Kuleluasakan dirimu untuk menjadi apa adanya saat bersamaku.

Itu caraku.

Karena inginku semua berjalan dengan kenyamanan yang apa adanya.

Tanpa dirimu yang menjadi orang lain.

Itu saja.


by Dita Oktamaya