Sunday, March 29, 2009

Annyeonghaseyo!

Mereka melengkapi saya, ini benar-benar terjadi. Dengan segala minat saya terhadap negeri ginseng di belahan Asia Timur sana, membawa saya untuk mempelajari lebih dalam bahasa ibu dari negara tersebut, tak terkecuali juga budayanya.

Saya pun pada akhirnya mengikuti kelas bahasa korea yang diadakan oleh sebuah yayasan sekolah bahasa yang dapat membuat siapapun (yang mengikuti pelajaran bahasa asing) dapat dengan lancar mengikuti bahasa yang dipelajari, dan hal itulah yang membuat saya mengenal mereka, keluarga kecil di sudut ruang sederhana yang tergabung dalam kategori yang menyenangkan pada setiap akhir pekannya.

Mereka dengan berbagai macam karakter unik membentuk suatu keluarga baru bagi saya, dengan minat dan kegemaran yang sama, kami menyatu meski tujuan tetap berbeda. Dan yang paling mengherankan adalah jarak umur kami yang berbeda jauh, tidak pernah menyurutkan langkah kami untuk saling mengenal satu sama lain dan karena inilah mereka menjadi keluarga baru yang memberikan saya banyak pelajaran, tidak hanya tentang negri ginseng yang sangat saya gemari, tapi juga tentang pelajaran dan pengalaman hidup yang membuat saya kaya akan elemen-elemen kehidupan yang bergabung dan membentuk keunikan tersendiri untuk saya nikmati.

Dan inilah karakter mereka yang tidak pernah lepas dalam ingatan saya :

1. Andaya Seonsaengnim (seonsaengnim, guru dalam bahasa korea) : Beliaulah yang mengajarkan saya berbahasa korea dengan baik dan benar. Beliaulah yang dengan rela menunggu ketidakhadiran kami yang melebihi tepat waktu saat istirahat kelas berakhir. Beliaulah orang pertama yang sering tertawa ketika saya mengatakan hal-hal aneh dalam bahasa korea. Beliaulah yang sering memanggil saya untuk sekedar berbincang karena saya haksaeng (haksaeng, murid dalam bahasa korea) yang paling tepat waktu (datang terlalu cepat) saat pelajaran baru akan dimulai. Beliaulah orang yang paling sabar ketika saya meminta pengulangan percakapan saat pelajaran listening dimulai, saya sangat menghormati beliau.

2. Hastuti-ssi (-ssi, akhiran sapaan dalam bahasa korea) : Dia adalah seorang perempuan yang sebaya dengan saya, perempuan yang pertama kali saya kenal saat mengikuti kelas bahasa korea tersebut. Seorang perempuan yang dengan suksesnya selalu membuat saya ingin melindunginya. Seorang perempuan yang dengan ringannya selalu menjadikan saya tempat untuk berbagi tawa ataupun sekedar berbagi cerita tentang Dong Bang Sin Gi (grup vokal pria asal korea kesukaan kami berdua). Dia adalah seorang perempuan yang memiliki kecerdasan yang mengesankan, she's great! Dan kekaguman saya terhadap dia membawa saya untuk selalu memujinya dan hal itu membuat dia selalu mencubit pipi saya dan menarik hidung saya hingga merah, di atas semua itu dia adalah orang yang sering kali menggoda tentang betapa konyol dan cerobohnya saya.

3. Jessica eonni (eonni, kakak perempuan dalam bahasa korea) : Dia adalah seorang perempuan yang selalu tersenyum, selalu ceria dan ramah terhadap semua orang. Dia merupakan saudara sepupu dari Hastuti-ssi dan di mata saya, mereka berdua selalu terlihat kompak. Dia adalah seorang perempuan yang selalu mengajak saya untuk membuat kata-kata spesial (atau aneh?) dari berbagai kosakata korea. Jessica bermata kecil (sipit) dan dia selalu tertawa geli dan memukul bahu saya pelan ketika saya menggoda betapa lucunya dia saat sedang tertawa, dia adalah gadis yang manis dan cantik, sangat dewasa, dan merupakan calon psikolog handal lulusan universitas terkemuka di Indonesia, Universitas Indonesia.

4. Meisita eonni : Dia adalah seorang perempuan yang sangat dekat dengan saya, jarak umur kami tidak terlalu jauh (dua tahun). Dia adalah seorang perempuan yang sangat bersemangat dan senantiasa membuat saya memiliki semangat, alasannya mengikuti kelas bahasa korea adalah karena pria kesayangannya adalah seorang pria korea, dia sempat memberi kesempatan kepada saya untuk berbicara kepada kekasihnya melalui telepon dan hasilnya... kami tertawa (silakan tebak apa yang terjadi). Saya sangat menyayangi gadis manis ini, kepribadiannya yang hangat membuat saya merasa sudah mengenalnya jauh melebihi fakta yang ada dan bagi saya, dia adalah kakak kedua saya. Dia pernah memeluk saya begitu erat saat jam pelajaran berakhir, merasa bersalah karena kami tidak dapat pulang bersama hari itu dan bagi saya berat rasanya untuk berpisah darinya, entah kenapa. Jika ditanya bagaimana rupa gadis manis ini, saya akan menjawab : "Bayangkan saja wajah Jjang Nara."
Dan dengan segera saya akan mendapat cubitan kecil darinya karena menyamakannya dengan artis imut asal Korea Selatan itu.

5. Mira eonni : Dia adalah teman beribadah saya saat jam istirahat. Jika sedang malas makan siang, kami menghabiskan waktu berbincang-bincang setelah beribadah. Dia adalah seorang mahasiswi sastra inggris yang tertarik untuk belajar bahasa korea, alasannya :
"Karena telat untuk daftar bahasa Jepang!"
Ironis, dan kami berdua tertawa.

6. Dwi eonni : Dia adalah wanita yang sangat anggun, alasannya belajar bahasa korea sama seperti Meisita eonni. Dia bekerja di salah satu restoran korea di Jakarta dan selalu mengingatkan saya untuk mampir ke rumahnya jika saya berada di mall di daerah sekitar rumahnya, dengan tawaran yang menggiurkan : makanan korea siap disantap bersama.

7. Dewi eonni : Dia adalah wanita yang paling dekat dengan Dwi eonni, mungkin seperti layaknya saya dengan Meisita eonni. Jarak umur saya dan dia sangat jauh (saya tidak tahu tepatnya) dan begitu juga jarak usia saya dengan Dwi eonni. Dewi eonni adalah wanita lulusan sastra Prancis, universitas negri di Bandung.
Alasannya ikut belajar bahasa Korea : "Heran, saya lulus sastra Prancis, relasi saya banyak orang Korea!"

8. Retorika-ssi : Dia adalah haksaeng termuda di kelas bahasa korea ini, berbeda beberapa bulan dari saya. Tetapi, dia jarang sekali masuk karena masih aktif mengikuti kegiatan organisasi di sekolahnya. Dia adalah orang yang selalu tertawa ketika bersama saya (apa saya begitu lucu?) dan dengan rela ikut naik bus (saat tahu saya akan pulang sendiri) untuk mencapai rumahnya dengan alasan : "Untuk nemenin lo, Dit! Dan jujur ini kali kedua gue naik bus."
Dan saya terpaku sambil membuka mulut saya lebar-lebar. Mom's Girl ;p

9. Tika eonni : Perempuan ini adalah perempuan yang paling pendiam di kelas bahasa korea, dia tidak akan berbicara jika tidak disapa, kepribadian yang unik. Dan sampai sekarang saya tidak tahu alasannya mengikuti kelas ini. Maaf, saya agak emosi karena saya bukanlah tipe orang yang suka dengan keheningan jika sedang berinteraksi sosial. Hahaha.

10. Dian eonni : Dia adalah seorang apoteker, sangat ceria dan bersemangat. Dengan rela dia akan begadang hanya untuk menyaksikan pertandingan bola, wanita yang perkasa! Itu komentar saya padanya ;p
Dan alasan dia mengikuti kelas bahasa korea : "Saya akan ke korea! Kapan ya?"

11. Jean eonni : Saya hanya beberapa kali bertemu dengan dia (kesibukannya tidak memungkinkan dia mengikuti kelas bahasa korea secara intensif), dia adalah gadis keturunan china. Wajah yang unik dan cantik. Saya bahkan sempat belajar bahasa china dengannya. Alasan dia mengikuti kelas bahasa korea : "Relasi."
Dan dia tertawa.

12. Yudith eonni : Saya hanya beberapa kali bertemu dengan dia, karena sibuk, ya pasti! Orang dewasa banyak sekali sibuk. Dan ini membuat saya tidak dapat mengetahui mengapa dia mengikuti kelas bahasa korea ini.

13. Malay Oppa (Oppa, kakak laki-laki dalam bahasa korea) : Dia adalah pria satu-satunya yang mengikuti kelas bahasa korea ini, haksaeng paling tampan diantara haksaeng wanita (jelas sekali!) sikapnya yang cuek dan santai membuat dia selalu ketinggalan pelajaran. Dialah orang yang selalu mengerutkan dahi saat pelajaran bahasa korea di mulai, dan dengan lucu dia pernah bertanya : "Harus ada bola-bolanya, ya? Kenapa bulat-bulat gitu sih hurufnya?"
Dan dia adalah satu-satunya haksaeng yang mendapat keringanan untuk tidak mengikuti listening, alasannya : "Nulisnya aja gue nggak ngerti, apalagi denger orang ngomong korea!"
jawabannya sukses membuat kami tertawa. Dan alasan dia mengikuti kelas bahasa korea ini :
"Gue mau nyusul abang gue kerja di sana!"
Dan dengan kemampuannya berbahasa korea hingga level pertama berakhir, kami ragu atas keinginannya itu.

Selesai. Banyak sekali bukan? Tapi mereka sangatlah berarti. Merekalah yang membuat hidup saya semakin mengasyikan untuk dijalani. Jika ditanya alasan saya mengikuti kelas bahasa korea tersebut, saya akan menjawab, tidak tahu. Yang saya tahu adalah saya menyukai kebudayaan dan bahasa negri ginseng itu, tapi selain itu saya tidak tahu. Mungkin dengan pertemuan saya dengan mereka, menjadikan hal itu salah satu alasan saya menyukai kelas bahasa korea ini dan di atas keunikan karakter diri mereka yang telah saya sebutkan di atas, saya sangat merindukan mereka.


by Dita Oktamaya

Thursday, March 26, 2009

Subhanallah.....







by Dita Oktamaya

Karena Aku Wanita

Bermain dengan segala senyum dan keharuan atas perilakumu

Tersiksa dengan rasa dalam hati yang memaksa untuk keluar

Bukan!

Bukan hanya aku yang takut untuk mengakuinya

Bukan hanya karena kehilangan sebagai faktor utama

Tapi karena satu kata yang tidak mungkin kukatakan karena aku wanita,

Cinta.

poem by Dita Oktamaya

Menyapa dalam Hati

Aku menyapamu dalam hati
Merangkai indahnya kisah dalam peti sanubari
Menawarkan sejuta hangat sang mentari kala itu terbit kembali
Mencari celah menuju titik diam menghilangkan mimpi yang tak pasti

Aku menyapamu dalam hati
Membendung egomu yang merajai diri
Merajuk bermain dengan rintihan sakit setiap hari
Belajar bertaruh sakit ini tak akan ada lagi

Aku menyapamu dalam hati
Sambil bermain dengan curahan tawamu bersenang hati
Membalut luka dari tikaman ucap dan laku yang menghempaskan asamu untuk berdiri

Aku menyapamu dalam hati
Katakan padaku apa yang dapat kulakukan selain ini?
Saat melihatmu bahagia dengan segala peluh yang membanjiri
Saat menyadari tak ada lagi sakit yang tersisa untuk kau nikmati

Aku hanya dapat berdiri di sini,
Menatapmu dari jauhnya jarak yang membatasi
Apa yang dapat kulakukan selain ini?

Aku selalu tersenyum di sini untuk semua hal yang kau jalani
Hanya untukmu, aku menyapa dalam hati...


poem by Dita Oktamaya

Monday, March 23, 2009

We Have Memories, See?

Untuk yang tersayang,
Ingat saat pertama kali kita bertemu? Dengan segala ketidaktahuan kami, kamu datang, memakai kemeja dan rok, kecantikanmu yang membuat para lelaki remaja itu tersenyum genit kepadamu.

Sudah ingat sekarang?

Coba tebak, khususnya aku, menyukai setiap hal yang kamu berikan. Persahabatan hangat, bimbingan kedewasaan, canda tawa, pelajaran hidup ataupun pengalaman berharga yang sudah cukup banyak kamu alami dalam perjalanan hidupmu yang panjang.

Sudah ingat sekarang?

Kami mengagumimu, bahkan jauh dari yang kamu bayangkan sebelumnya. Kamu dengan begitu apa adanya menghilangkan "ruang" dan "jarak" yang memungkinkan kami terpisah darimu, dengan kesederhanaanmu kamu memupuk rasa percaya dan takut kehilangan kami terhadapmu.


Ingat sekarang? Kami mulai menyayangimu...

Tahukah kamu?
Dengan begitu banyaknya hal yang terjadi menimbulkan keluhan akan apa yang kami lakukan, tentang rasa penat akan tuntutan pekerjaan yang kami lakukan. Belajar!

Dan kamu...

dengan leluasa membiarkan kami bercermin terhadapmu, kamu membiarkan kami melihatmu. Melihat betapa beraninya dirimu memecah gelap saat menuju istanamu untuk melepas lelah saat harimu telah berakhir, melihat betapa semangatnya dirimu ketika menyapa kami di sudut ruang sederhana yang pintu utamanya harus digeser berulang kali agar dapat terbuka lebar, melihat betapa sedihnya dirimu saat tahu kehadiran kami hanya dapat dihitung oleh jari. Kamu membiarkan kami bercermin terhadapmu. Bercermin tentang betapa semua yang kami lakukan begitu berarti tanpa harus dihiasi oleh rintihan penat setiap harinya.


Tahukah kamu? Kami makin menyayangimu...

Hingga tiba saat ini, pilihan dalam hidupmu memaksamu untuk berpisah dengan kami.

Bukan!

Bukan perpisahan yang menyakitkan, tapi perpisahan yang membuat kami tidak dapat melihat keberanianmu untuk memecah gelap saat menuju istanamu, perpisahan yang membuat kami tidak dapat melihat sorot mata ceriamu di sudut ruang sederhana itu, perpisahan yang membuat kami tidak dapat melihat kekecewaanmu atas ketidakhadiran kami.

Sedih? Pasti!

Jika kamu bertanya tentang seberapa besar kasih sayang kami terhadapmu, kami akan menjawab, kami tidak ingin kehilanganmu.

Tidak ada alasan.

Kami hanya menyayangimu dan kasih sayang ini adalah satu-satunya alasan mengapa kami membiarkanmu pergi, memilih pilihan hidup yang dapat membawamu mendapatkan lebih banyak lagi pengalaman hidup yang dapat kamu bagi kepada kami, nanti saat kita bertemu kembali.


Tahukah kamu? Semua kenangan yang mengundang canda tawa, kekaguman, dan kasih sayang ini adalah alasan utama aku menulis ini untukmu.

We have memories, see?

Dan saat sesuatu yang terlalu tiba-tiba, selalu ada hal yang tertinggal yang tak sempat aku ucapkan, terima kasih. Terima kasih untuk semua hal yang telah kamu berikan karena hanya itu yang membuat kami menyadari ada sosok luar biasa yang sangat kami sayangi, kamu.


NB : dedicated to my lovely young teacher, kak dini. Good luck untuk semuanya kak! Semoga ada banyak hal yang bisa kakak dapatkan di luar sana. Sayonara!







---pic : koleksi pribadi


by Dita Oktamaya

Friday, March 20, 2009

Thursday, March 19, 2009

Am I Thinker?


Hai, apa kabar? Masih dengan keunikan kalian setiap harinya? Senang bila mendengar itu masih berjalan dengan lancar... ;p

Coba tebak, belakangan ini saya sedang gencar-gencarnya belajar MATEMATIKA dan GEOGRAFI! Dua mata pelajaran itu adalah musuh besar saya di Ujian Nasional nanti, well, setidaknya untuk saat ini (Mohon maklum jika saya berbicara soal pelajaran karena sekarang saya duduk di tahun ke tiga sekolah menengah atas ;p).

Kalian tahu? Beberapa hari ini saya dilanda penyakit yang sangat saya benci (saya benci semua penyakit, tentu saja) sehingga saya tidak dapat beraktivitas dengan baik, terlalu, saya benci jika menjadi tidak berguna seperti ini.

Tahukah kalian?
Tadi siang di sekolah, seorang teman perempuan saya, Fazza (masih ingat tentang dia? ;p) memperlihatkan sebuah buku kepada saya, sedikit terkejut karena dia memperlihatkan saya buku berisi kumpulan soal-soal latihan matematika untuk menghadapi UAN nanti, Astaga!
Saya pikir itu hanya gurauannya semata atau hanya sekedar ingin menggoda saya karena nilai ujicoba ujian matematika saya sangat jauh dari prediksi awal? Saya juga tidak tahu...

Dia meletakkan buku itu di atas meja saya dan berkata seolah saya adalah guru yang pantas untuk mengerjakan soal-soal itu :

"Ayo, Dit!"

Saya berpikir sebentar untuk merealisasikan arti dari perkataannya barusan

"Ayo dong!"

Saya menatapnya yang sedang asik mengerjakan soal matematika pada buku itu

"Kerjainlah!"

Saya hampir pingsan mendengarnya,
Hello! Haruskah saya mengacak-acak rambutnya untuk membuatnya mengerti seberapa pusingnya saya menatap angka-angka itu? Sudahlah...

Tak lepas dari itu semua, dia membuka lembar demi lembar buku-buku kumpulan soalnya dan berkata dengan nada sok tahu :

"Nih, Dit. Bacaan ini pasti cocok banget buat lo!"

Saya terdiam, kali ini bukan mencoba untuk merealisasikannya, tapi untuk mengerti mengapa tiba-tiba dia berkata demikian.


Keberanian adalah kesadaran bahwa kau tidak bisa menang dan mencoba ketika tahu kau bisa kalah.


kata-kata sederhana itu menggelitik pikiran saya, saya terdiam. Cukup lama. Dia menatap saya, kemudian tertawa :

"Cocok kan buat lo?"

Cocok? Saya terdiam, entahlah...

"Iya, itu cocok untuk tipe orang pemikir, kayak lo!"

Saya tertawa, belum sempat saya berkata-kata, dia meraih buku yang daritadi berada di atas meja saya :

"Nanti kalo gue curhat, lo pasti mengeluarkan kata-kata itu, ya kan?"

Tawa saya makin kencang mendengar pernyataan sok tahu darinya, ingin rasanya saya mengacak-acak rambutnya, tapi kali ini bukan untuk membuat dia mengerti kepusingan saya terhadap matematika, tapi karena pernyataannya menyadarkan saya tentang siapa diri saya di matanya dan teman-teman saya dalam arti yang sebenarnya.

Bagi semua orang yang senantiasa percaya pada saya untuk berdiskusi ataupun sekedar bertukar pikiran tentang mozaik kehidupan yang tidak dapat ditebak alur ceritanya, terima kasih. Satu hal yang dapat saya katakan (lagi, ini menurut buku yang diperlihatkan teman kepada saya) :

"Jika kalian tidak mau mengambil risiko kehilangan sesuatu yang kalian inginkan, berarti kalian tidak terlalu menginginkannya."

Good luck everyone!
Stay Unique and keep health!



--- pic : http://ananta.files.wordpress.com/2007/08/thinker.thumbnail.gif


by Dita Oktamaya