Monday, March 16, 2009

My 1st Award

Neno's Award



The aims of this award:

• As a dedication for those who love blogging activity and love to encourage friendships through blogging.
• To seek the reasons why we all love blogging!

Wednesday, March 11, 2009

Pacarku... Double!?

“Anti!” teriak Danu tepat di wajahku. Aku terhenyak, lalu memukulnya pelan.


“Sialan lo! Kaget tau!” seruku. Danu duduk di sebelahku sambil membenahi rambut jabriknya.


“Kenapa sih lo?” ujar Danu yang memandangku dengan tatapan sok imut. Aku diam. “Lo nggak tau, apa nggak mau kasih tau?” lanjutnya. Aku tetap diam. Danu terlihat pucat.


“Lo kenapa, Nu?” Aku bertanya khawatir. Sekarang gantian Danu yang diam. “Lo nggak tau, apa nggak mau kasih tau?” godaku, dengan pertanyaan yang sama dengan pertanyaannya. Danu nyengir kuda.


“Gue laper, Ti.” jawab Danu akhirnya. Aku menggelengkan kepala.


"Dasar lo! Ya udah pesen makanan aja, banyak pilihan di sini.” jawabku sambil mempromosikan café keluargaku. Danu beranjak dari tempat duduk, terlihat dia sedang memilah - milih makanan yang pantas dimakannya hari ini.


“Yang ini, Ti?” Danu berteriak padaku sambil menunjukkan sebuah cheese cake. Aku tersenyum sambil mengangkat jempol tanganku. “Ya pastinya lo bilang enaklah, orang ini café lo.” Danu kembali duduk di sebelahku sambil menikmati cheese cakenya.


“Pelan - pelan makannya, kalo pelanggan dateng langsung lo lahap semuanya, biar mereka nggak curiga makanannya terkena racun karena lo.” godaku lagi. Danu hanya nyengir kuda dengan makanan yang memenuhi mulutnya.


* * *


Panas matahari siang menyengat kulitku, Aku duduk di bawah pohon rindang belakang kampusku untuk menghidari sengatan matahari itu. Dari kejauhan ku lihat Danu datang menghampiriku dengan senyum yang sumringah.


“Baru dapet makanan gratisan, Nu?” tanyaku asal. Danu tetap tersenyum.


“Bukan.” jawabnya singkat. Aku mengerutkan dahi.


“Terus?”


“Ya nggak ada terus, pokonya hari ini gue lagi seneng aja.” jawabnya lagi. Aku meletakkan telapak tanganku di dahinya.


“Nu, lo nggak…”


“Ya nggak lah!” potong Danu langsung menepis tanganku. Aku tertawa.


“Maaf sayang aku telat.” Ryan tiba - tiba berada di antara kami berdua.


“Nggak apa - apa kok.” ujarku sambil menggandeng manja lengan Ryan, “Lagi pula Danu dari tadi nemenin, gue pergi dulu ya, Nu.” lanjutku, sambil beranjak pergi bersama Ryan.


* * *


Aku menyelesaikan catatanku dengan cepat, dengan cepat pula Danu datang menghampiriku dengan sorot mata yang tak seperti biasanya.


“Nu, lo kenapa lagi sekarang?” tanyaku, khawatir. Danu menatapku, angkuh.


“Gue nggak suka lo tadi ninggalin gue gitu aja, lo anggep gue apa sih?” tanya Danu geram.


“Lo marah?” tanyaku.


“Marah?!” mata Danu terbelalak, “Masih nanya gue marah atau nggak?!” Danu membanting buku dan duduk dua baris di seberangku. Aku menghampirinya.


“Nunu sayang, maaf ya… tadi gue nggak bermaksud ninggalin lo, tapi lo kan tau sendiri, gue sama Ryan udah jarang ketemu, tadi itu moment - moment yang udah gue tunggu - tunggu dari kemaren - kemaren.”


“Iya! tapi tadi gue dibuang gitu aja!”


“Lho gue bener - bener nggak bermaksud begitu… aha! gue tau… lo pasti cemburu kan sama gue?” Danu terlihat tersentak saat Aku menanyakan hal itu padanya, ku kira… Aku langsung menepisnya. Sahabat saling suka? Bukankah rasanya akan aneh?


“Gue nggak cemburu!” seru Danu. Aku segera memeluknya.


“Maaf, nggak lagi - lagi deh… lain kali, you one. Ok?” rayuku. Danu akhirnya tersenyum membalas pelukkanku seperti anak kecil.


* * *



Aku berpikir keras. Apa mungkin Danu menyukaiku? Lalu bagaimana dengan Ryan? Apa Aku mencintai Ryan? ataukah Danu? Aku memutar otakku, pusing banget!


“Kamu lagi apa sih, sayang?” tiba - tiba Ryan memelukku dari belakang. Aku terkejut.


“Lho, kok kamu ada di sini?” tanyaku, salah tingkah. Ryan menatapku bingung.


“Kamu kok pucat? Mau aku beliin obat?” tanyanya tanpa peduli dengan pertanyaanku. Aku menggeleng.


“Kamu kok ada di sini?” Aku mengulang pertanyaanku. Ryan mengangkat satu alisnya.


“Keluarga kamu buka café untuk umum kan?” tanyanya. Aku baru sadar bahwa ternyata kami berdua berada di café keluargaku.


“Aku lupa.” jawabku. Ryan tersenyum.


“Kamu kurang istirahat tuh, makanya jangan capek - capek.” Ryan memberiku nasehat. Aku mengangguk.


“Tapi aku ada tugas, dikumpulinnya minggu depan, boleh aku ngerjain sekarang?” tanyaku manja. Ryan menggeleng.


“Istirahat dulu lah, babe… kamu tuh udah bener - bener capek. Nanti aku bantuin bikin tugasnya deh, kalo perlu aku yang kerjain.” ujarnya. Aku tersenyum. “Kamu kalo lagi senyum manis deh.” tiba - tiba Ryan mencium keningku, Aku terhenyak, ini memang bukan kali pertama Ryan menciumku. Setiap kali Ryan menciumku pasti ada sesuatu yang membuatku senang, Tapi… kenapa getaran itu sekarang hilang?


* * *



“Ti, tebak sekarang gue lagi bawa apa?” Danu bertanya dengan ceria, sambil menyembunyikan tangannya di belakang. Hari ini dia cukup… keren! Ups!


“Apa?” tanyaku penasaran.


“Tebak dulu dong!” suruhnya. Aku pura - pura berpikir.


“Gue nyerah.” jawabku. Danu tertawa.


“Lo kan belom nebak tau! nih…” Danu menunjukkan blackforest kecil dengan lilin di atasnya bertuliskan 19 kepadaku.


“Buat siapa?” tanyaku, heran.


“Ya buat siapa lagi? Buat lo lah.” ujarnya, “Selamat hari burung!” serunya. Aku tertegun.


“Gila ya, gue lupa ultah gue sendiri.” ujarku. Danu memelukku.


“Ya wajarlah. Lo kan emang suka gitu.” Getaran ini… saat Danu memelukku, sama seperti pertama kali Ryan menciumku! Apa ini berarti…


Happy birthday, honey!” ujar Ryan yang selalu datang tiba - tiba di antara kami berdua.


“Ryan?” Aku bertanya heran, entah kenapa Aku merasa kesal dengan kehadiran Ryan pada saat Aku sedang berdua dengan Danu. Ryan memelukku, pelukkannya masih hangat terasa. Tak sengaja tatapanku tertubruk pada Danu. Danu sedang menatap Aku dan Ryan dengan tatapan dingin yang penuh keangkuhan seperti saat dia marah padaku saat itu. Asyik dia cemburu!


“Aku mau traktir kamu sama Danu bareng - bareng, mau ya?” tanyaku sembari melepaskan pelukkannya. Ryan mengangkat satu alisnya.


“I have something to do. I’m so sorry, honey.” ujarnya seperti biasanya. Tapi entah kenapa Aku amat senang mendengarnya.


“Jadi, cuma aku sama Danu aja? Nggak apa -apa?” tanyaku pura - pura khawatir.


“Lho, bukan biasanya kayak gitu, kenapa harus apa - apa?” Ryan balik bertanya. Aku tersenyum. Ryan mencium pipiku, Aku langsung melepasnya. Aku takut Danu cemburu.


“Aku nggak enak sama Danu.” ujarku. Ryan tersenyum.


I know. Aku pergi dulu ya sayang.” Ryan berlalu dari hadapan Aku dan Danu.


So… Lo mau traktir gue apa?” tanya Danu ketika Ryan menghilang dari kejauhan.


“Yang jelas, gue nggak mau nraktir lo di café gue. Rugi.” jawabku. Danu tertawa sambil mengacak - acak rambutku.


“Yup! kita pergi sekarang?” tanya Danu.


“Gue ganti baju dulu yah.” ujarku. Danu mengangguk.


Don’t be late!” serunya.


“Awas lo, jangan maling di rumah gue!” seruku sambil beranjak menuju kamar.

* * *


Suasananya romantis juga, sayang ini masih agak kesorean, kalau malam hari pasti banyak lilin - lilin dinyalain.


Hello! gue nggak lagi jalan sama patung kan? Lo kenapa sih dari tadi diem aja?” Danu memecah kesunyian.


“Tempatnya bagus, Nu.” jawabku. Danu berhenti berjalan dan menggenggam tubuhku. Aduh Danu mau ngapain ya? jangan - jangan dia mau nembak gue! Aduh… gue harus jawab apa nih? Hatiku terus bertanya - tanya


“Ti, lo nggak apa - apa kan, Ti? Lo nggak inget ya? Kita kan sering ke sini, terakhir kali kita ke sini juga baru seminggu yang lalu.” ujar Danu. Fuh… ku kira dia ingin ngomong apa.


“Oh… Ya ampun! gue lupa Nu!” seruku mencoba menutupi kebodohanku.


“Yaelah, masa tempat bagus gini juga lo lupain sih.” seru Danu. Aku tertawa.


Aku dan Danu melewati hari dengan indah. Entah apa yang di rasakan Danu, tapi saat ini Aku merasa amat bahagia. Kami duduk di antara obor - obor tua, ada satu obor yang membuatku bingung, kenapa masih sore begini, obor itu sudah menyala ya? tetapi kemudian Aku berteriak, obor itu meledak hampir mengenai Danu, Aku langsung menghalangi api itu dengan tangan kananku, Danu terlihat panik ketika menemukanku dengan keadaan telapak tangan terbakar. Aku menjerit kesakitan.


“Nu sakit banget Nu!” ku lihat Danu kebingungan, dan terdengar jelas orang - orang di sekitarku berteriak histeris, Aku tidak ingat lagi, tubuhku lemas, dan…

* * *


Are you ok?” tanya Danu. Aku merasa kepala dan telapak tangan kananku sangatlah sakit.


“Gue di mana, Nu?” tanyaku.


“Di rumah sakit, tadi lo pingsan, mungkin karena kesakitan, sakit banget ya?” tanya Danu. Aku mengangguk.


“Ya lumayanlah, Nu.” jawabku. Danu mengangguk.


“Makasih ya, Ti. Udah nolongin gue.” ujar Danu. Aku tersenyum. That’s what girlfriend are for, ups… that’s what friends are for! hehehehehe…


“Kamu nggak apa - apa?” Ryan seketika itu datang langsung memelukku.


“Nggak apa - apa.” jawabku.


“Tadi aku udah telfon mama sama papa kamu.” ujar Ryan. Aku terkejut.


“Mereka bisa panik! Kamu tuh kalo nelfon orang yang kira - kira dong, mereka tuh ada di Aussie, kerjaan mereka belom tentu juga udah selesai, aku nggak mau tau pokoknya kamu harus nenangin mereka.” ujarku, kesal. Ryan mengangguk.


“Iya, iya. Yang penting kan kamu sekarang nggak apa - apa, tadi waktu aku tanya dokter, aku telfon mereka lagi.” Ryan mencoba menenangkanku. Aku manyun, “Jangan merengut gitu dong sayang, maaf ya.” lanjutnya.


“Aku mau tidur.” jawabku. Ryan mengangguk. Aku langsung memejamkan mata, pura - pura tidur.


“Ya udah gue pulang dulu ya.” ujar Danu.


“Tunggu Nu, ada yang mau gue omongin.” ujar Ryan. Aku terkejut, aduh… apa mereka akan bertengkar gara - gara Aku?


Mereka berdua keluar dari kamarku dan berdiri di ruang tunggu yang suasananya sudah sepi itu. Diam - diam Aku mengintip mereka, suara mereka tidak terdengar! Aku pun membuka pintu supaya ada sedikit celah sehingga Aku bisa mendengar percakapan mereka berdua.


“Aku khawatir banget sama kamu. Kamu nggak apa - apa kan?” Aku mendengar Ryan membuka pembicaraan.


“Aku nggak apa - apa, untung ada Anti.” jawab Danu. Wait a Minute, kok mereka ngomongnya pake aku - kamu?!


“Aku nggak tau apa yang terjadi sama aku kalo kamu sampe celaka.” ujar Ryan sambil membelai bahu Danu. Wait, wait! mereka tuh nggak lagi berantem gara - gara Aku ya?


“Yang penting kan sekarang kamu bisa liat aku di sini.” Danu berbicara sambil tersenyum, senyum itu di balas dengan Ryan. Mereka berpelukkan! Oh God! Aku benar - benar nggak ngerti, bukankah mereka seharusnya bertengkar karena mengkhawatirkan keselamatanku?


“Aku seneng bisa kayak gini sama kamu.” ku lihat Ryan mencium pipi Danu dengan mesra. Wait, wait, wait! Aku tuh nggak mimpi kan? Mereka berdua kan… cowok! KOK?!?! Aku merasakan mataku membesar, membesar dan membesar saat menyaksikan adegan aneh itu. Jadi selama ini… kecemburuan Danu, sorot keangkuhan dari mata Danu, semuanya... ditujukan karena Ryan, bukan karena Aku!


GUBRRAAKK!! Aku terjatuh karena tersandung keset kamar rawat milik rumah sakit.


“ANTI!” seru Ryan sambil melepaskan pelukkannya dari Danu. Ketahuan deh!


“Aku nggak bisa tidur.” ujarku, mengelak, takut dicap tukang nguping. Ryan terlihat salah tingkah begitu pula Danu. Udah nggak usah ditutup - tutupin, gue udah tau semuanya! seruku dalam hati.


“Kamu sejak kapan di situ?” tanya Ryan. Aku pura - pura santai.


“Udah lumayan lama sih.” jawabku. Ryan dan Danu terlihat pucat.


“Ti, Lo nggak… maksud gue, lo…” Danu berbicara dengan gugupnya. Aku tersenyum.


“Lo ngomong yang jelas kenapa sih, Nu.” ujarku. Mereka berdua terdiam. “Fine, mungkin aku emang harus jujur. Yan, tadi aku liat semuanya. Aku nggak nyangka ternyata kamu sama Danu…” Aku menghela napas dengan berat, ternyata masih ada rasa sakit di hatiku, ku kira kejenuhanku pada Ryan menjadikan alasan kenapa Aku tidak menangis melihat ini, tapi kasih sayang dan perhatian Ryan, membuat hatiku merasa tidak rela, “Aku nggak percaya kalo ternyata kamu ‘double’, Yan. Lo juga, Nu… gue kira, lo cemburu karena suka sama gue, ternyata…” Aku tersenyum.


“Ti, Aku…” Ryan mencoba menjelaskan. Aku menggeleng.


“Yan, Aku sayang sama kamu, sama Danu juga. Tapi, Yan… Aku nggak bisa terus.” ujarku, tegas. Ryan mengangguk tanda mengerti.


“Maafin gue ya, Ti. Lo… masih mau jadi sahabat gue kan?” tanya Danu. Aku mengangguk.


Why Not?” ujarku sambil tersenyum. Di balas dengan senyuman Danu dan Ryan.


Ada kelegaan di antara rasa sakit ini ketika ku lihat mereka berdua menatapku sambil tersenyum. Rasa sakit dan ketidakrelaanku memang hanya Tuhan yang tahu kapan rasa ini akan berakhir. Aku tidak tahu apa - apa, yang Aku tahu, Aku masih dapat menerima mereka menjadi ‘seseorang’ dalam hidupku.



Story By Dita Oktamaya

Friday, March 6, 2009

Sebening Cermin di Kamar Kos-mu

Aku menatap sosok tubuh mungil di foto berbingkai itu pada dinding kamar tidurku. Ia tersenyum, hingga beranjak dewasa sekarang ini pun, sosok itu masih suka untuk dipotret atau hanya sekedar mematut diri di depan cermin.


Hubungan kami memang sangat dekat, saat ini pun sanak saudara selalu mengerutkan dahinya bila menyadari kedekatan kami yang tidak dapat ditebak sebelumnya. Aku dan dia adalah dua gadis bersaudara, Dulu kami adalah dua individu yang berbeda yang sengaja disamakan karena mama menginginkan anak kembar meskipun jarak umur kami berbeda tiga tahun.


Kebiasaan mama menyamakan kebutuhan kami, mulai sepatu, baju dan aksesoris anak perempuan lainnya membuat kami iri satu sama lain jika salah satu dari kami dibelikan sesuatu yang lebih bagus atau berbeda. Tak jarang kami pun memaki dan menjambak satu sama lain, menangis iri layaknya anak kecil. Biasanya aku lah yang selalu menjadi pemenang, karena tubuhku lebih besar dan kuat mekipun aku lebih muda darinya, tetapi aku juga lah yang lebih sering menangis karena ulahnya yang sangat suka menjahiliku. Seiring berjalannya waktu, kami pun menyadari bahwa kami adalah individu yang memang benar-benar berbeda. Kini aku menemukan apa yang menjadi kesukaanku, begitu pun dirinya.


Dan kini kecerdasannya pun membawanya untuk menuntut ilmu lebih banyak lagi di universitas negeri terkemuka di Indonesia, Universitas Indonesia. Dengan staminanya yang kurang kuat, jarak antara Depok dan Jakarta pun dihilangkannya, ia pun memutuskan untuk tinggal terpisah dari rumah dan tinggal di salah satu rumah kos dekat kampus kesayangannya.


Setiap akhir pekan ia kembali ke rumah. Meskipun begitu, di hari-hari sebelumnya tanpa kehadirannya di rumah terasa hampa bagiku. Pertengkaran kami saat masih kecil dulu berubah seiring beranjak dewasanya kami berdua, tatapan iri untuk dapat memiliki sesuatu yang lebih bagus, mengubah kami untuk saling memberi yang terbaik satu sama lain. Makian dan jambakan yang sering kami lakukan dulu, kini pun berubah menjadi kecupan dan pelukan kasih sayang penyalur kerinduan selama beberapa hari tak bertemu. Semua hal yang terjadi di antara persaudaraan yang sederhana ini merupakan kedekatan yang berarti bagiku.


Terpisah darinya membuatku lebih sering terdiam di kamar, mengerjakan tugas sekolah atau sekedar menghabiskan waktu mendengarkan musik dan menenggelamkan diri dalam bacaan yang mengantarkanku ke dalam fantasi khayal yang menyenangkan.


Rindu itu menyakitkan?


Begitulah, sering aku menatap foto berbingkai itu, sosok kecil yang dulu dengan giat memaki, manjambak rambutku dan menjahiliku hingga menangis tersedu-sedu, kini berada ribuan mill jauhnya dariku, meskipun hanya untuk beberapa saat. Mungkin inilah proses pendewasaanku, seperti katanya dulu, menjadi mandiri tanpa bergantung pada orang lain dan kini aku mengerti maksudnya.


Tapi tetap saja, ketidakhadirannya membuatku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat amarah menyelimuti diri ini ketika mendapat perlakuan yang tidak adil dari teman-temanku, aku tidak tahu apa yang dapat aku lakukan saat menyadari kebodohan apa yang membuatku hingga tidak mengerti pekerjaan rumahku, aku merindukannya bahkan hanya untuk sedikit mendapat cubitan sayang darinya.


Kerinduanku padanya membuatku selalu mencari tahu apa yang sering dilakukannya di sana, sendiri di kamar kosan. Kadang aku iri dengan cermin yang sering digunakannya untuk mematut diri. Cermin itu dapat menatapnya atau bahkan menertawakannya saat ia tidak cocok mengenakan busana yang akan dipakainya untuk kuliah, cermin yang senantiasa menyaksikannya menangis saat tak kuat dengan mata kuliah yang tidak dikuasainya, cermin yang setia tanpa ragu meskipun hanya sekedar menerima senyumannya saat ia melalui hari yang menyenangkan. Aku ingin menjadi sebening cermin di kamar kos-mu, sedia menerima seperti apapun ekspresi dari raut wajahmu, apa adanya dirimu.




---------------

dedicated to my beloved elder sister, success for you, dear!



story by Dita Oktamaya

Tuesday, March 3, 2009

Balada Peraih Mimpi

Hujan menghampiri kita di sini,
canda tawa menghiasi riak bahagia dalam lembaran lelah buku wajah kita

Pulang, hendak kaki melangkah
menerobos basah hempaan tetes yang turun
menyeringai di balik awan mendung, kembali tertawa

Apa yang kita cari? Hanya Mimpi?
Dalam khidmat yang terpekur dalam doa
Berenang hingga ke tepi, bernapas dalam air, ironi

Belum jua mimpi ini tercapai,
dengan asas asa yang tak boleh terputus
Berada di balik tulisan biru pada dinding keras papan putih, awal perjalanan

Apa yang kita temukan?
beribu pasang wajah dan sejuta ilmu,
pandangan mata dan rintihan penat yang setia membelai lembut pikiran kita, bosan

Ini sungguh berarti, perlahan namun pasti
langkah ini pulih dengan ucapan suci,
meraih dan menggenggam, berlari untuk menjadi bagiannya, mimpi


poem by Dita Oktamaya

Friday, February 27, 2009

Mohon Doanya...

Semuanya...

Saya minta maaf belum banyak dapat berbagi cerita lagi belakangan ini. Tentang dunia yang indah, tentang pejalan kaki di trotoar, tentang persahabatan saya dengan lingkungan yang membuat saya tetap mencari tahu kenapa manusia diciptakan berbeda.

Mohon maaf juga karena saya jarang menyapa kalian di sini akhir-akhir ini, percayalah saya pasti kembali, seperti lagunya pasto yang selalu jadi lagu favorit saya =)

Dan saya juga memohon maaf karena saya memohon doa kepada kalian semua, doakan semoga saya menjadi orang yang beruntung di antara orang-orang pintar dan semoga apa yang saya lakukan ditempatkan bersama dengan segala sesuatu yang berhasil.

Sekarang saya sedang berusaha untuk berpikir cerdas bukan berpikir keras.

Sekian dari saya, sungguh saya benar-benar merindukan kalian. Sampai bertemu kembali.

NB : SIMAK UI (Universitas Indonesia Tes) diadakan hari minggu tanggal 1 Maret 2009, doakan saya diterima di pilihan pertama saya (Sastra Korea) tahun ini. Amin.



by Dita Oktamaya

Saturday, February 7, 2009

Syair Untuknya

Syair ini kutulis untuknya yang mulia
yang darinya kupelajari makna kehidupan
yang memancarkan pesona meski enggan hati terpana

Syair ini kuserahkan untuknya yang setia
senantiasa ada ketika hati bergetar karena duka
teman berbagi ketika bahagia menyapa

Syair ini kutujukan untuknya yang duduk lelah di sudut ruang sederhana
menungguku tiba meski lelap ingin dirajuknya
menyeduh air meski enggan melarangnya

Syair ini kupersembahkan yang padanya akan selalu kutitipkan rindu
meski beda dalam kata, rindu ini akan selalu ada untuknya

Syair ini kupeluk erat hanya untuknya
yang selalu tersenyum bangga dan bermain dengan keharuan atas usaha
yang selalu berjalan beriringan dengan langkah gontai yang sesekali mencipta luka

Syair ini selalu untuknya
yang setiap hari bertegur sapa dengan subuh
bermain dengan dinginnya air pembasuh muka
senantiasa berdoa untuk selalu bahagia

Syair ini kudendangkan untukmu
yang selalu membuatku tegar menatap dunia
yang selalu merajuk ketika kesalahan itu menyapa
hanya untukmu, Mama.


poem by Dita Oktamaya

Friday, February 6, 2009

Senandung Hujan di Halte Bus

Aku menutup telepon dari Radith, sempat mengumpat kesal kepada benda mati yang kini masih berada di genggamanku. Mataku berkeliling mencari seorang tukang es atau pedagang keliling lainnya yang dapat menghilangkan rasa dahagaku.

"Mau?" tanya seorang bocah laki-laki itu padaku. Aku menggeleng tapi tatapan mataku tak lekang dari sosok kecil yang sedang menikmati asiknya es potong dalam genggamannya itu.

Dia balik menatapku dengan tatapan curiga, sempat terpikir olehku, jangan-jangan dia curiga aku akan merebut paksa es yang sedang dinikmatinya itu, perasaan haus kadang membuatku berimajinasi berlebihan.

"Abangnya ada di sana!" tunjuknya ke sebrang jalan. Aku menurut, tapi seakan kakiku malas untuk melangkah, panasnya terik matahari enggan membuatku berjalan melalui kemacetan yang berada di jalan raya itu.

"Ayo, Neng!"

"Mau kemana, Bang?" tanyaku, bingung menatap supir bajaj yang sudah tersenyum lebar di hadapanku.

"Sepuluh ribu aja."

Supir bajaj (kendaraan yang dapat membuat dirimu bergetar hebat seperti getaran ponsel) dengan kaos oblong dan handuk lusuh melingkari lehernya, menaikan kedua alisnya, menggodaku.

"Nggak, Bang." jawabku.

Dalam hati aku memaki, kesal dengan keterlambatan Radith menjemputku siang ini.

"Tadi itu dibeliin Tante Vera, Mama." suara lantang dari gadis kecil yang berjalan menghampiriku, membuatku mengalihkan kekesalanku.

"Tante Vera yang anaknya namanya Matthew?"

"Iya Matthew."

"Bukan. Oma tahu kok, Matthew itu anaknya Randa."

"Aduh Mama, iya emang Randa itu Vera, Veranda."

"Oma, tulalit nih."

"Kamu sama oma gitu ya?"

"Sudah-sudah, masa di tempat seperti ini masih aja kalian ini. Dek, kamu ada PR nih. PR Bahasa Inggris, sama mewarnai, coba lihat. Mana ada orang hitam seperti ini, Kamu terlalu banyak mewarnai orang ini dengan warna hitam."

"Biarin dong Mama, kan orang itu banyak rambutnya."

"Ya, tapi nggak sampai seluruh badan begini kan, Sayang. Pantes ibu guru tadi bilang sama mama, Kamu berlebihan."

"Oh, iya. Aku lupa. Tadi aku salah warnain warna hitam itu ke wajahnya, karena udah terlanjur aku warnain aja semuanya."

"Banyak-banyak belajar!"

"Iya Oma, cerewet banget sih. Nih Aaa." gadis kecil itu tertawa mungil sambil menyuapi sang nenek dengan makanan ringan kemasan yang berada di tangannya.

Aku tersenyum ke arah gadis mungil berambut panjang itu, berumur lima tahun ku rasa. Ia menatapku dan tersenyum genit, hanya sesaat, kemudian duduk di pangkuan sang nenek yang sudah lebih dahulu duduk di tempat duduk berwarna biru. Kemudian aku kembali terdiam, menunggu Radith.

Hujan!

Sempurna sudah hari ini. Berbondong-bondong satu per satu orang datang menghampiriku, bukan karena mengagumi pesonaku, bukan! Tapi berteduh dari sibuknya hujan yang turun tanpa peduli dengan aktivitas manusia yang takut basah. Aku menghela napas kesal, awas Radith!

"Iya, saya lagi di jalan, Pak, terjebak hujan. Bukan, bukan karena macet. Tapi hujan. Apa? Tidak, bukan, bukan hujannya yang macet tapi hujan lebat, jadi saya terjebak. Apa? Tidak... Halo? Halo? Halo... Ah... habis baterai!" seorang pria berkemeja biru itu memaki kesal ke arah ponselnya, sama seperti yang sempat aku lakukan beberapa menit yang lalu. Dengan rambutnya yang sudah terlanjur basah karena hujan dan tubuh yang bergetar karena dingin, pria berkemeja biru itu lebih terlihat seperti seorang yang sedang demam tinggi dan berkeringat.

"Ma, aku pulang telat ya. Hujan. Bukan, aku nggak keluyuran lagi kok, beneran. Apa? Iya Mama, aku lagi berteduh di halte. Hah? Iya, tapi kan aku naik motor, susah buat menghindari hujan. Apa? Takut sama hujan? Si Mama ini, udah ya, dah." Pelajar laki-laki berseragam putih abu-abu itu tersenyum ke arahku dan melambaikan tangannya. Aku mengalihkan pandanganku.

Aku menghela napas untuk yang kesekian kalinya, Halte bus ini penuh sesak. Untuk hari ini saja, izinkan aku membenci abang kandungku Tuhan, Radith awas saja dia!

"Kamu nyuruh aku dateng ke sana, nggak mau jemput. Di sini hujan tahu! Apa? Putus? Bukan putus, tapi hujan! Aku lagi di halte bus, kalo Kamu mau putus ke halte bus aja sekarang juga, jemput aku biar nggak kehujanan. Hah? Apa? Nggak nyambung? Ogah? Jadi Kamu nggak mau putus? Hah? Oh, jadi Kamu mau putus tapi nggak mau kehujanan demi aku, lagian siapa yang nyuruh Kamu kehujanan, aku bilang kan jemput aku di halte bus. Udah ah, males ngomong sama Kamu!" Gadis berseragam putih biru itu menatap ke arahku, kesal. Aku meringis, menyadari kesalahanku yang mendengar percakapannya tanpa sengaja.

"Dini!" suara yang sangat ku kenal memanggilku, Radith!

"Kemana aja sih lo?" seruku sembari menutup kepalaku dengan map dan masuk ke dalam mobil.

"Maaf, tadi lagi banyak klien. Lagian udah jadi editor majalah terkenal, masih aja manja sama gue!" Radith menggodaku dan mencubit pipiku, aku menepis tangannya.

"Udah buruan cabut!" perintahku. Radith tersenyum kemudian dengan segera ditancapnya gas mobil yang kami tumpangi.

"Hujan." Radith buka suara. Aku terdiam, "Halte Bus." Radith menatapku. Aku balas menatapnya dan menunjukkan rasa ketidakpedulianku atas ucapannya.

"Lihat apa aja tadi di halte bus?" Radith tetap bertanya. Aku menghela napas, malas menjawab. Tapi pikiranku tertuju kepada bocah laki-laki yang sedang makan es potong, supir bajaj yang sempat menggodaku, gadis kecil bersama ibu dan neneknya, pria sibuk yang ditelepon atasannya, pelajar lelaki SMA yang ditelepon ibunya, dan gadis SMP yang bertengkar dengan pacarnya, melalui telepon juga.

"Sudah mikirnya?" tanya Radith. Aku menatap Radith tak percaya, ia seolah tahu isi kepalaku, selain otak tentunya.

"Halte bus, tempat yang seharusnya menjadi sebuah pemberhentian bus, tetapi justru menjadi awal dari kehidupan dan aktivitas seseorang. Dan jika tadi nggak hujan, lo akan sendirian terus menunggu gue. Bosan. Tanpa mendengar keluh kesah orang lain di sekitar lo yang aktivitasnya terpaksa berhenti karena hujan." Radith tersenyum.

"Itulah kenapa gue suka hujan." Radith mengerlingkan sebelah matanya ke arahku, "Karena dengan hujan, meskipun untuk sesaat, gue bisa menikmati jeda diri gue sendiri untuk berhenti beraktivitas atas kesibukan ibukota yang terlampau padat ini."

Radith mengusap kepalaku dengan sebelah tangannya, "Jangan marah ya." ucap Radith, "Dan kalaupun tadi nggak hujan, gue nggak akan pernah ngerti dan bener-bener ngerasa bahwa gue adalah abang yang sangat dibutuhkan oleh adik kesayangannya."

Aku terdiam, menatap keluar jendela mobil. Radith selalu bisa memberikan sudut pandang yang berbeda dalam setiap kesempatan, dalam butir kehidupan, bahkan ia dapat mewarnai hujan tanpa berharap pelangi muncul setelahnya. Dia abang kesayanganku.

"Kali ini lo gue maafin." ujarku. Tawa Radith terpecah. "Dan makasih karena lo selalu siap menjadi abang yang gue butuhkan kapan aja."

Kemudian Radith tersenyum, aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, kami terdiam. Hanya sedikit kata yang terucap dari kalimatnya yang masih terngiang di telingaku. Hujan dan halte bus, aku rasa aku tahu konsep apa yang akan aku tulis untuk menjadi deadline majalah bulan depan nanti.



Story by Dita Oktamaya