Tuesday, January 27, 2009

오늘의 노래 : 어제보다 오늘 더 (Today More Than Yesterday)



I Do) 영원히 단 한사람만 바라볼수있나요
(I Do) 나 자신보다 아낄수 있나요
(I Do) 그 누가 내게 물어도 대답할수있어요
(I Do) 나의 사랑 그대죠

약속하지 않을꺼에요
행여 잠시라도 흔들릴꺼라면
시작하지 않아요
심장보다 먼저 멈출 사랑이면

어제보다 오늘 더 많이 사랑합니다
아프도록 소중한 사람 처음입니다
그댈 만나려고 이렇게 행복하려고
많이도 아팠나 봅니다

힘든 날도 슬퍼해요
눈물 멎지않는 그 어떤 아픔도
언젠가는 끝나죠
끝이 없는것은 우리 사랑뿐

어제보다 오늘더 많이 사랑합니다
아프도록 소중한 사람 처음입니다
그댈 만나려고 이렇게 행복하려고
많이도 아팠나 봅니다

두번 다시는 하고 싶지 않아요 헤어지는 일
그댈 만나길 위한 헤어짐 아니라면
언제까지나

벅차오는 가슴이 터질 것만 같아서
내 눈앞에 그대가 꿈인 것만 같아서
달려가 숨쉬는 그대를 품에 안아야
마음을 놓는 바보입니다

어제보다 오늘 더 많이 사랑합니다
아프도록 소중한 사람 처음입니다
그댈 만나려고 이렇게 행복하려고
많이도 아팠나 봅니다



--pic : 개인 소장품 (private collection)




Today More Than Yesterday - Kim Jong Kook





by Dita Oktamaya

Saturday, January 24, 2009

Pramuka = Merepotkan dan Menyenangkan!

Apa kabar semuanya? Masih merindukan saya? ;p

Hari ini cukup melelahkan.
Tidak, tidak terlalu melelahkan, siapa bilang? Saya hanya bilang cukup melelahkan dan membosankan.

well, pada awal hari saya membuka mata, saya menyadari ada yang tidak beres dengan kondisi badan saya (lemah, demam, pusing. Gelaja apa ya?) tapi hari ini saya memiliki tanggung jawab untuk ikut serta dalam suatu acara (bimbingan alumni) di sekolah saya. Sebenarnya sama saja dengan bimbingan lain yang saya ikuti, tapi tak apalah, cari kegiatan di akhir pekan tidak ada salahnya bukan? ;p

Bimbingan itu memakai sistem :

"Pilih yang kalian suka!"

Saya menyeringai, melihat ada kesempatan yang jarang saya dapatkan sebagai seorang pelajar Indonesia, maka segera saja saya memilih pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris! (pelajaran yang saya sukai), tapi sayangnya pelajaran Ekonomi belum ada hari ini ;(

Bukannya menghindari metematika (bahkan saya tidak akan pernah mungkin dapat menghindari matematika dalam hidup saya), saya hanya ingin mendalami pelajaran yang saya suka sebagai kunci saya di tes universitas nanti. Doakan saja ;p

Pulang dari bimbingan alumni itu, saya menuju tempat bimbingan lainnya, kali ini sekolah tidak ikut serta. Di perjalanan menuju halte bus, mata saya tertuju kepada murid-murid mungil suatu sekolah dasar (dekat sekolah saya), mereka latihan pramuka!

Pikiran saya menerawang, kembali ke masa lampau, saat saya masih sekolah dasar dulu.

Dulu, saya benci menjadi pramuka!
Setiap hari sabtu datang, ingin rasanya saya menghilang secara tiba-tiba. Sayangnya, karena saya tidak memiliki sayap seperti burung, jubah merah seperti superman, jaring seperti spiderman dan kekuatan magic seperti jinny oh jinny (tontonan lokal ;p) saya jadi tidak dapat menghilang secara tiba-tiba.

Dengan berat hati, saya jadi ikut latihan pramuka (yang selalu diadakan setiap hari sabtu).

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan pramuka di sekolah dasar saya dulu, mungkin karena rasa malas untuk berada di bawah terik matahari yang selalu membakar kaki saya yang bersembunyi di dalam sepatu (ini benar-benar terjadi, dan bekas luka bakar matahari itu masih ada hingga sekarang!)

Saya akui, saya memang tidak memiliki jiwa petualang dan keberanian yang sangat besar seperti seorang pramuka sejati yang hebat.

Saya benci dan takut berjalan-jalan di tengah malam (jurit malam), saya tidak suka persami (perkemahan sabtu minggu), saya kesal saat dituntut untuk menghafal dasa dharma pramuka yang membuat saya selalu dinasehati kakak-kakak pembina karena tidak pernah dapat menghafal semua itu dengan jelas, saya bingung untuk dapat melakukan baris berbaris saat latihan pramuka, saya kerepotan untuk mempelajari sandi morse, simpul tali, bendera semapur, dan pertolongan pertama saat kecelakaan, semua itu merepotkan, sungguh!

Tapi jika boleh jujur, saya suka dengan kebersamaan yang tercipta karena pramuka itu, saya suka memakai seragam pramuka, saya suka membuat simpul untuk dasi pramuka, saya suka dengan topi pramuka, saya suka saat dituntut untuk menghias tongkat pramuka, saya suka tepuk pramuka, saya suka gelak tawa saat latihan pramuka, semua itu menyenangkan, sungguh!

Saya diam, menghentikan langkah kaki dan setia menatap murid-murid mungil pelajar sekolah dasar yang sedang seru-serunya berlatih pramuka itu dengan seksama, mereka tertawa dan bernyanyi dengan riang gembira. Nindy, teman sekolah yang belajar di tempat bimbingan yang sama dengan saya, menarik tangan saya untuk tetap berjalan menuju halte bus.

"Ih pramuka!" seru saya, bersemangat di tengah kelelahan siang yang merajai diri. Nindy tertawa.

"Aduh Dita, nggak penting deh, cepetan dong jalannya." Nindy menyadarkan saya.

Saya tersenyum melanjutkan perjalanan saya, tapi mata saya tak lekang dari halaman sekolah dasar kecil yang mengingatkan saya tentang sesuatu yang telah saya lalui, jauh di belakang.

Saya menghela napas dan kembali tersenyum :

"Gue kangen masa-masa pramuka, Nin. Waktu SD dulu."

Nindy yang berada di depan saya menoleh ke belakang, tersenyum tipis kemudian menggelengkan kepala dan melanjutkan langkah kakinya menuju halte, dia tidak peduli.

Saya tersenyum kecil (lagi) dan untuk ke terakhir kalinya saya menatap ke arah sekolah dasar itu. Sungguh, saya benar-benar rindu masa-masa itu...


-----


NB : Saat mengetik postingan ini, hati saya terasa kosong. Saya rindu kakak-kakak pembina pramuka saya yang senantiasa menasehati saya tentang dasa dharma pramuka yang harus diingat di luar kepala, apa kabar kalian? Lama tidak bertemu, jaga diri kalian dan kalau kalian senang hati, tepuk tangan ;p



-- pic : http://farm1.static.flickr.com/60/196997672_ca52a53063.jpg



by Dita Oktamaya

Tuesday, January 20, 2009

Air Yang Mengalir


Bila menatap ke luar jendela, kadang saya suka terdiam sendiri. Kemana hujan itu?
Well, saya memang tidak pernah berharap hujan datang terus-menerus tanpa mengenal waktu, tidak!
Tapi sepertinya, tanpa hujan saya merasa kehampaan yang luar biasa.
Saya kangen hujan, itu saja.

Biasanya hujan selalu mewarnai hari-hari saya di awal januari ini, tapi sekarang hujan datang sesekali, seolah menyadari kepadatan aktivitas saya untuk melakukan pekerjaan yang harus dikerjakan tiap waktu (di luar ruangan yang tentunya membutuhkan tempat kering untuk melakukannya).

Bicara tentang hujan, saya jadi teringat tentang air, elemen 'kuat' di dunia ini yang paling saya gemari setelah udara. Pernahkah kalian mendengar kata-kata bijak tentang air?

"Biarkanlah saja hidup kita mengalir seperti air."

Suatu hari saya sempat tergelitik dengan perkataan seorang kakak kelas dari Sekolah Menengah Pertama saya dulu :

"Orang yang paling bodoh adalah orang yang membiarkan hidupnya begitu saja, mengalir seperti air. Hello! Emang lo semua mau, kehidupan lo mengalir seperti air, mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah dan pada akhirnya kembali ke comberan?"

Saya berpikir kembali, ada benarnya juga.

Sebenarnya saat itu ada banyak ingkaran yang ingin saya utarakan padanya, sebagai pandangan lain tentang hidup dan air, tapi anehnya ingkaran itu hanya berputar di hati saya. Sebaliknya, penalaran otak saya mengatakan bahwa saya setuju dengan gadis keras kepala itu. Bagaimana menurut kalian?

Well, agak rumit memang. Secara logika dan fakta yang ada, air memang mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah. Semua orang juga sudah tahu bahwa pada akhirnya air akan kembali ke tanah atau sesuatu yang lebih rendah bahkan dari kaki kita (istilah kasarnya, comberan!)

Tapi kembali lagi dengan penalaran hati yang mengingkari pendapat ini. Air mengalir seolah menunjukkan proses kehidupan manusia yang apa adanya, selalu kembali ke tanah (melihat ke bawah) untuk mempelajari setiap kesalahan yang ada, dan menatap hujan turun (menengadah ke atas) untuk merancang masa depan demi kehidupan yang lebih baik.

Sungguh, kata-kata seperti ini lah yang sejujurnya ingin saya utarakan pada gadis yang memberikan asumsi tentang kehidupan dan air tersebut, tapi sulit bagi saya ketika logika dan hati menginginkan hal yang berbeda. Kalian sependapat dengan saya, bukan?

Well, bicara tentang logika dan hati agak sulit untuk mengatakan bahwa saya akan jarang meng-update blog ini, karena rutinitas yang padat dan melelahkan ini menuntut saya untuk tetap fokus. Jujur saya benar-benar merindukan kalian (seperti saya merindukan hujan ;p). Rindu untuk menumpahkan rasa, bersenda gurau, merancang impian, dan lainnya.

Saya rasa cukup untuk hari ini, maaf jika banyak hal yang membuat kalian rindu dengan saya (mohon izin bila terjadi gede rasa di blog ini ;p). Saya akan merindukan kalian dan akan berusaha untuk meng-update blog ini semampu yang saya bisa. Terima kasih untuk semuanya, kalian memang benar-benar hebat karena selalu menjadi inspirasi saya di setiap kesempatan.

Live your own life, don't allow people to mess on it!
Karena hanya kalian yang mengerti kehidupan kalian sendiri. Keep health and take care all ;p


-----


NB : Ujian masuk universitas dan ujian nasional tinggal hitungan minggu, mohon doanya.


--pic : http://img132.imageshack.us/img132/3166/rainydj8.jpg


by Dita Oktamaya

Thursday, January 15, 2009

My Lovely Tour Guide

Sudah hampir setahun kita tidak bertemu, baik-baikkah kamu disana?

Sungguh, aku benar-benar menikmati perjalanan kita. Berbagi tawa di setiap suasana, meskipun awal yang buruk hadir di antara kita. Tidak apa lah, jadikan pengalaman, itu katamu.
Well, mungkin kamu memang tidak mengatakan apa-apa, tapi aku tahu kamu ingin sekali mengatakan hal itu padaku, pada kami.

Bagaimana dengan hidupmu? Apakah semuanya berjalan dengan lancar?

Perjalanan kemarin, aku tahu itu merupakan pengalaman pertamamu membimbing kami. Duduk semalaman di dalam bus yang membosankan, menonton film lama yang volume suaranya harus bersaing dengan deru mesin bus yang berjalan. Aku lelah dengan semua itu, kami lelah! Tapi aku tahu kamu lah orang yang lebih lelah.

Saat jadwal perjalanan berantakan, saat kami mulai susah diatur karena barang bawaan kami yang terlampau banyak, saat kami meminta untuk difoto di sela kelelahan hari, saat kami terlambat menaiki bus karena kecerobohan kami hingga terpisah satu dengan yang lain, saat kami akan check in hotel. Saat semua itu terjadi, aku tahu bahwa dirimu lah orang yang paling lelah di antara kami.

Ingat saat aku menunggang kuda di hadapanmu?

Saat itu kamu berada di hadapanku. Tersenyum, seolah telah lama kamu menantiku di sana. Aku jadi teringat suatu cerita dongeng tentang sang putri yang bertemu dengan pangeran penunggang kuda, konyol memang, karena aku bukanlah seorang pangeran penunggang kuda, dan kamu bukanlah seorang putri.

Tapi jika boleh jujur, aku menyukai senyummu saat itu, senyum diantara kelelahan yang tersirat dari wajahmu. Boleh aku melihat senyummu lagi suatu hari nanti?

Senyummu memang sangat manis, manis dan tulus. Dan seketika saja senyum itu berubah menjadi tawa saat aku meminjam beberapa rupiah untuk membayar kuda yang aku tunggangi. Tidak usah diganti, katamu saat itu.

My Lovely Tour Guide, aku tahu kamu sibuk dengan kehidupanmu, dengan semua aktifitas ibu kota yang membosankan, membuat jenuh, dan muak. Tapi bersamamu tidaklah pernah terasa membosankan. Bersenda gurau , tertawa, melewati hari yang melelahkan, itu semua sangat menyenangkan. Bukankah kamu juga merasa demikian?

Tahukah kamu?
Aku masih mengingat warna topi yang kamu kenakan saat perjalanan kita di mulai, warnanya putih (benar kan?). Saat itu kamu mengambil foto kami semua, foto kami yang tertawa riang menikmati kebersamaan yang terjalin indah, foto kami yang terpesona dengan indahnya matahari terbenam, foto kami di Tanah Lot, Bali.

Aku berharap kamu menjalani hidup dengan baik, raih mimpimu untuk dapat menjadi yang terbaik di antara yang baik. Tetap berjuang dengan bahasa-bahasa indah yang kamu pelajari untuk meleburkan setiap perbedaan yang ada di dunia ini. Tetap berjuang untuk menghilangkan rasa lelah saat mengawali perjalanan yang jauh, untuk mengakhiri setiap perjalanan dengan senyuman, berjuanglah! Karena aku tahu kamu mampu melakukannya.

Dan...
terima kasih telah menemaniku, menemani kami semua dalam perjalanan itu, terima kasih atas kebersamaan yang menyenangkan, terima kasih untuk senyum dan ketulusanmu menghadapi kami, terima kasih untuk semuanya.


Sekarang izinkan aku mengatakan hal yang saat ini aku rasakan terhadapmu, Aku benar-benar merindukanmu, sungguh...


-----


NB : Aku suka merenung menatap langit dan kadang teringat tentang perjalanan indah kita bersama-sama dulu, apakah kamu melihat langit yang sama dengan apa yang aku lihat? Jika iya, lambaikan tanganmu dan tersenyumlah, karena aku merindukanmu, My Lovely Tour Guide...


dedicated to My Lovely Tour Guide : Marcell (Sudah putihkah kamu, hitam manisku? ;p)


--pic : koleksi pribadi


by Dita Oktamaya

Tuesday, January 13, 2009

Tumpukan Tugas dan Lelucon Hujan


TUGAS!
satu kata lima huruf itu saat ini sedang gemar sekali mewarnai hari saya.
Well, mungkinkah karena begitu banyak hal yang tidak semestinya saya lakukan, sehingga banyak guru-guru menyadari jiwa 'penganguran terselubung' yang saya miliki? Entahlah...

Pusing. Menyadari bahwa saya hampir tidak punya hari libur akhir-akhir ini, mengapa?
Dapatkah saya berbagi jadwal kegiatan saya di sini? Jika kalian tidak keberatan, baiklah...

Senin : Rumah - Sekolah - Tempat Les - Rumah
Selasa : Rumah - Sekolah - Rumah (Mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk)
Rabu : Rumah - Sekolah - Rumah - Tempat Les - Rumah
Kamis : Rumah - Sekolah - Rumah (Mengerjakan tugas-tugas baru!)
Jumat : Rumah - Sekolah - Rumah - Tempat Les - Rumah
Sabtu : Rumah - Sekolah (Bimbingan tes universitas) - Rumah - Tempat Les
Minggu : Mengerjakan tugas-tugas lama+tugas-tugas baru, mengikuti try out yang ada, mengajar teman belajar Ekonomi-Akuntansi

Tidak, saya tidak mengeluh, siapa bilang? Saya justru (mungkin) mulai menikmati rutinitas padat tak beraturan ini. Tapi mungkin saya tidak dapat membohongi diri saya sendiri, terkadang juga ada rasa iri terhadap pipi gembul, lucu serta wajah polos para penghuni taman kanak-kanak. Iri melihat mereka berlarian tanpa beban, tertawa renyah saling berbisik lelucon satu sama lain.

Saya iri, iri sekali! Mendengar pertanyaan-pertanyaan polos yang keluar dari bibir mereka, dan lagi-lagi pertanyaan (sama) ini lah yang selalu membuat para orangtua kerepotan :

"Ma, bayi asalnya darimana?"

pertanyaan itu pula lah yang dulu sempat membuat mama saya kelimpungan mencari jawaban yang cocok untuk saya. Dulu, bibir mungil saya sewaktu taman kanak-kanak tak pernah berhenti bertanya tentang itu, tiap ada kesempatan, tiap kali melihat bayi yang berukuran lebih kecil dari ukuran tubuh saya dahulu, saya pasti bertanya tentang itu. Dan mama saya pun hanya tersenyum, beliau tidak menjawab apa-apa. Bukan bingung atau gelisah, tapi karena beliau tahu saya pasti akan mendapatkan jawabannya nanti, setelah saya besar.

Aneh memang, saya pun merasa begitu. Tidak ada salahnya jika menjawab pertanyaan seperti itu disaat yang bersamaan, tapi tahukah kalian? Setelah saya mengamati pertanyaan itu, sungguh sulit untuk menjawabnya, apalagi jika si penanya adalah anak kecil yang masih memiliki kadar ingatan yang sangat tinggi, salah ucap bisa repot, tidakkah kalian berpikiran yang sama? (bukan bermaksud untuk tidak berpikiran terbuka lho, bukan!)

Baiklah, kembali ke saat ini...
hari ini hujan turun cukup sering, sepertinya hujan dan tugas mewarnai saya akhir-akhir ini. Tidak apa lah, sekali-sekali Jakarta dingin ;p

Pagi ini saya diantar papa naik motor ke sekolah, hujan turun di saat yang tidak terduga! Untungnya saya masih diselimuti oleh jaket merah pemberian mama (terima kasih, mom! ;p)
saya menikmati hujan itu, meskipun sedikit membuat saya basah, tapi wangi hujan adalah wangi yang tidak dapat tergantikan oleh apapun, damai sekali. Tidakkah kalian berpikir seperti itu? ;p

Tiba di sekolah seseorang berkata dengan konotasi bercanda :

"Dit, tambah tua dong lo, ini kan hujan!"

Saya tertawa. Ternyata gadis itu masih ingat, namanya Fazza, dia teman saya dari kelas 10 (atau kelas 1 SMA) dulu, dia masuk ke sekolah saya di awal semester 2, 'anak' baru (tapi dulu). Hingga sekarang gadis itu masih sekelas dengan saya, 2,5 tahun kalau tidak salah. Persahabatan yang cukup nyeleneh jika saya katakan, Mengapa?

Jujur, awalnya saya tidak pernah menyadari kehadiran gadis itu (karena dia tergolong 'anak' baru di kelas saya, dan saya tidak punya cukup waktu untuk mengenal lebih dalam karena saya masih terdaftar dalam keanggotaan OSIS yang menuntut saya untuk memiliki waktu 'lebih' untuk berada di luar kelas) Hingga di tahun berikutnya saya masuk ke kelas yang sama dengannya.

Pernah suatu hari hujan turun cukup lebat, dengan ketidakberdayaan (karena tidak membawa payung) saya pun memilih untuk menunggu di sekolah. Fazza yang tomboy dan pengendara motor pun ikut menunggu hujan reda. Kami berbicara dan bercanda cukup banyak saat itu dan ketika menatap rintik air hujan yang turun, saya jadi teringat salah satu film korea yang pernah saya tonton, dialog yang cukup manis, saya rasa :

Goong Chan : "Kapan ulang tahunmu?"
Hyo Rin : "Aku tidak tahu."
Goong Chan : "Aneh sekali!"
Hyo Rin : "Tapi ayahku berkata, kalau ulang tahunku adalah setiap salju turun."
Goong Chan : "Berarti kau tua sekali!"

Di Indonesia memang tidak ada salju yang turun, tapi hujan selalu turun kapan saja ia mau. Dan saya mengantarkan satu lelucon kepada gadis tomboy di sebelah saya itu :

"Za, lo tau ga? Gue ultah tiap hujan turun lho!"

Dan gadis itu pun menatap saya sambil tertawa, dengan gaya khasnya dia pun bergurau :

"Kalo lo ultah tiap hujan, gue ultah tiap napas, Dit!"

Dan itu lah awal persahabatan 'nyeleneh' yang menyenangkan, hingga saat ini, tidak terasa hampir 2,5 tahun lamanya. Hubungan kami memang tidak terlalu dekat, tapi teman yang menyenangkan seperti dia selalu masuk daftar kenangan yang indah dalam hidup saya.

Hujan turun berkali-kali hari ini, saya suka hujan, tapi Tuhan tolonglah untuk membuat segalanya berjalan dengan lancar dan baik-baik saja ;p


-----



NB : Hari ini seorang teman berkata bahwa saya tambah tinggi, semoga saja begitu ;)



--pic : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/f3/Open_book_01.svg/360px-Open_book_01.svg.png


by Dita Oktamaya

Friday, January 9, 2009

Lebih Baik Lelah Sekarang!


Bukannya mengeluh, tapi hanya sekedar mengingatkan. Semua yang saya lakukan ini adalah murni untuk masa depan saya. Well, mungkin ini hanya sekedar menenangkan diri saya sendiri atas kelelahan yang saya jalani di awal tahun 2009 ini.

"Ikhlas ga sih lo, Dit?"

hmmm... entahlah, saya juga tidak tahu. Ikhlas. Kata itu sepertinya belum masuk dalam daftar pelajaran hidup saya yang sukses mendapatkan jawaban atas pikiran saya sendiri, susah!
Jika ditanya seperti itu jawaban saya adalah :

"Mau gimana lagi? Tinggal 5 bulan ini capeknya!"

dan banyak orang sukses mengerutkan dahinya saat mendengar jawaban saya, seolah berkata :

"Hello cewek dungu! 5 bulan itu ya masih lama kali, kecapekan baru tahu rasa lo!"

dan saya hanya mengangkat bahu seolah menunjukkan ketidakpedulian saya terhadap kelelahan yang saya terima. Tapi kalau boleh jujur, saya benar-benar lelah. Lelah sekali! Semua kesibukan ini dan rutinitas yang sangat padat membuat saya lelah, sangat lelah atau istilah inggris yang keren exhausted (kalau tidak salah ;p).

Saya capek! dengan rutinitas yang itu-itu saja, bertemu dengan buku-buku pelajaran yang saya bawa (atau lebih tepatnya HARUS dibawa!) yang membuat saya tidak pernah bisa lebih tinggi atau hanya sekedar mendapatkan tinggi standar dari kebanyakan cewek seumuran saya (ok, mungkin salah satunya faktor keturunan).

"Yakin lo?"

Pertanyaan konyol itu sering kali menggelitik pikiran saya. Yakin? Yakin lah, kalau tidak untuk apa saya melakukan ini semua? Rela dengan segudang pelajaran setiap harinya, rela lelah membawa tas yang membuat tubuh saya lebih pendek dan bungkuk karena menopang beratnya, rela bangun lebih pagi karena kebijakan pemerintah yang kelewat 'bijak' hingga tidak memikirkan dampak konsentrasi otak pelajar yang mengantuk. Kalau hanya menjawab yakin, tentu saja saya dengan tegas menjawab yakin, tapi untuk ikhlas, mungkin untuk lebih tepatnya saya akan menjawab, sabar. Meskipun kadang satu kata itu membuat saya kesal karena tidak pernah menyelesaikan masalah.

"Sabar aja ya!"

Perlu diingat, untuk orang-orang yang memiliki masalah dan berbagi cerita dengan seseorang dan mereka hanya menjawab seperti kata-kata yang di atas, segera berhentilah bercerita, karena mereka tidak pernah tahu apa yang kalian rasakan (atau mungkin memang tidak bersedia untuk tahu dan mendengar curahan hati kalian). Pikir kembali, sepertinya, diam itu emas terbukti bukan? ;p
Jadi untuk para listener, jika tidak memiliki kata-kata yang cocok untuk menenangkan orang lain, hindari kata-kata itu. Diam, tersenyum dan mungkin pelukan tulus seorang sahabat itu lebih baik daripada hanya sekedar kata 'sabar' (karena sabar tidak untuk dikatakan).
Hello, kalo gue nggak sabar gue bukan curhat lagi sama lo, tapi bunuh diri di depan lo!

Well, kembali ke topik awal...
Tugas dari pelajaran yang sebenarnya 'tidak penting', apa itu harus? Tergantung, jika harus dalam arti kata untuk dipelajari, haruskah? Malah tambah beban, tambah jam pelajaran, tambah menghabiskan waktu yang seharusnya dilakukan untuk mempelajari pelajaran yang memang 'penting'.
Tapi jika harus dalam arti kata untuk menambah pengetahuan, of course! pasti! Untuk apa sekolah menyediakan pelajaran itu jika tidak untuk menambah pengetahuan? ;p

Oh ya, pernah saya mengatakan sejauh mana saya belajar formal di sekolah? Ok, jika belum saya akan mulai dari awal (lagi)...

Saya berumur 17 tahun, dengan begitu semua orang pasti dapat menerka-nerka sudah di bagian mana saya belajar di sekolah. Saya terdaftar dan masih belajar sebagai seorang siswi di salah satu SMA negri di Jakarta Selatan, SMA negri yang paling doyan bertengkar dengan pihak sekolah lain (baca : murid-murid yang bandel kayak ketombe). Saya duduk di kelas 12 (dulu sebutannya kelas 3, tapi karena perubahan yang berkesinambungan terjadi dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, maka kelas 3 = kelas 12). Saya mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (baca : IPS) karena penat dengan rumus dan angka, jurusan yang mendapat pandangan sebelah mata dari semua orang yang mendengarnya.

"Lo anak IPS? Enak dong, bisa santai!"

Santai?
sekali lagi, santai?? (tanda tanyanya dua)
kurang puas, SANTAI??? (kali ini hurufnya besar semua dan tanda tanyanya tiga)

hahaha...pernyataan bodoh!
Sungguh bodoh orang-orang yang mengatakan bahwa IPS adalah ilmu pengetahuan SANTAI!
untuk ukuran manusia yang memandang dan mencintai ilmu sosial, bagi saya, IPS tidak pernah terasa santai, mengapa? Karena itulah belajar, saya berdiri di sini untuk belajar bung!
ilmu pengetahuan sosial, bukan ilmu pengetahuan santai!

Jika benar ilmu pengetahuan sosial itu santai, mengapa banyak orang yang mengambilnya saat beranjak ke dunia perkuliahan? Mengapa banyak orang berusaha mati-matian untuk mendapatkan jurusan itu? Mengapa ribuan atau bahkan jutaan orang di Indonesia mencari pekerjaan dalam bidang itu? bukankah jika sudah berhubungan dengan masa depan dan pekerjaan, sesuatu hal tidak pernah dapat dikatakan santai? Lihat masalah dari sisi yang berbeda, dude! Di dunia ini tidak pernah ada hal yang santai kecuali jika kalian sedang berSANTAI. Terdengar saya marah, kah? Mungkin, saya suka berapi-api sendiri jika membicarakan hal yang terdengar munafik untuk semua orang tetapi tetap menginginkannya juga (bagi yang merasa, sorry to say!)

Well, mungkinkah ini kesalahan struktur pendidikan di Indonesia yang membuat pembagian kelas seperti itu? Entahlah... saya tidak pernah tahu karena memang, seorang pelajar di Indonesia sepertinya tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih sesuatu yang dia inginkan untuk dipelajari lebih spesifik, lebih mendalam, lebih khusus, lebih spesial, dan mungkin karena faktor itu lah, MUNGKIN tidak pernah ada pelajar Indonesia yang merasa spesial menjadi seorang pelajar (silakan tanya yang lain ;p). Jika ditelusuri lebih lanjut tentang pentingnya 'spesial' sebagai pelajar yang kelak jadi penerus bangsa Indonesia ini, sayang sekali jika memang begitu adanya, bukan?

Baiklah, lanjut lagi...
saya sekarang tengah disibukkan dengan berbagai kegiatan untuk menghadapi Ujian Nasional, Ujian Sekolah, dan Ujian Praktek (Untuk lebih spesifiknya, saya akan menulisnya di postingan berikutnya) serta Ujian Tes Masuk Universitas. Jika diperbolehkan membuat rute perjalanan saya dalam sehari :
RUMAH -> SEKOLAH -> RUMAH -> TEMPAT LES
saya memang berada di rumah untuk dua kali, tapi tidak pernah lebih dari 20 jam!

Seperti yang sudah saya bilang di awal, ini melelahkan! Sungguh! Tapi apa boleh buat? Lebih baik lelah sekarang daripada tidak memiliki masa depan, bukan?

Well, saya rasa sudah cukup untuk hari ini. Jujur, masih banyak hal yang saya ingin sharing dengan kalian, tapi sepertinya punggung saya telah merubah saya menjadi nenek-nenek yang tidak tahan untuk berlama-lama duduk, saya harus berbaring, harus relax. Terima kasih untuk waktunya, senang dapat berbagi cerita dengan kalian, see ya!



-----



NB : Besok saya akan memulai seminar tentang tes universitas dan intensif belajar masuk universitas negri yang saya inginkan, doakan saya!


--pic : google.com


by Dita Oktamaya

Saturday, January 3, 2009

Ia Juga Merindukanku

berdiri di tepian jurang itu
aku bagaikan setitik duri tak bertuan
siapa yang ingin jadi tuanku? mawar? terlalu baik!

memandang sepanjang jalan
perlahan aku berjalan...
begitu kecilnya aku hingga takkan mampu diri ini menggapaiMu

aku berlutut, menengadahkan wajah ke langit,
berusaha mencari secercah cahaya
memaksakan kehendak di haribanNya, berdoa

sungguh Tuhan, sekali ini saja...
setelah itu aku akan kembali dengan kesederhanaan itu

sekali ini saja Tuhan, izinkan aku melihatMu...
izinkan aku menangis di hadapanMu
izinkan aku!

setitik airmata itu jatuh,
membasahi bibir yang dari tadi tak berhenti berucap

hingga ku sadari...
pemadangan indah ini,
kehidupan ini,
segala kekuatan ini,
Aku telah melihat Tuhan!

berdiri, berjalan, terseok aku di bawah kuasaMu
dan kini aku tahu itu,
aku telah melihatMu, bahkan jauh sebelum aku sadari semua itu
tapi tak ayal aku berkeras, aku masih belum puas
aku merindukanMu, Tuhan... sungguh...

Aku menutup mata, kembali tidur
Tuhan menjawab doaku, Ia pun merindukanku...

adzan Subuh berkumandang, sebagai bukti bahwa Ia juga merindukanku
Ia merindukanku untuk mengawali hari dengan kembali padaNya
Ia merindukanku untuk selalu mengingatNya dengan ayat-ayat suci dan lima panggilan dalam sehari
Ia merindukanku untuk selalu tersenyum kepada sesama
Ia merindukanku untuk senantiasa menjaga perdamaian antar saudara di dunia
Ia merindukanku untuk menjadi pemimpin bagi diriku dan orang-orang di dekatku
Ia benar-benar sangat merindukanku, sungguh...

Hatiku pun ngilu menyadarinya
karena baru ku sadari
Ia juga merindukanku hampir seumur hidupku

poem by Dita Oktamaya

Thursday, January 1, 2009

January 1st 2009 (Terima Kasih)

Terima kasih untuk kembang api yang membuatku tersenyum lega saat melihatnya di atap rumah tadi malam.

terima kasih untuk udara malam yang segar meski menusuk kulit namun membuatku larut di dalamnya

terima kasih untuk bintang yang bersinar cukup terang

terima kasih untuk kehidupan di 16 tahun yang silam

terima kasih untuk segenap manusia yang telah hadir dalam kehidupan dan mengisi lembar demi lembari kekosongan hati yang tak pernah lebih baik dari sebuah permata

terima kasih untuk Tuhan, karena masih memberiku hidup hingga sekarang
tetap memberiku hidup hingga mendapatkan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan hidup yang belum terjawab

terima kasih semuanya karena telah senantiasa menemaniku di sini, mendengarkan kegalauan hati, kepedihan luka, suara hati, pandangan hidup, omong kosong, atau hanya sekedar bertukar cerita dan bersenda gurau...

terima kasih untuk semuanya, semoga dunia menjadi lebih baik

semoga kehidupan manusia menjadi lebih baik, dan manusia dalam mempertanggungjawabkan hidupnya dapat menjadi manusia yang dapat menjadi pemimpin untuk diri sendiri, untuk masa depannya dan untuk dunia, karena kita tidak pernah mengetahui kehidupan seperti apa yang menunggu kita di depan sana.

GOOD LUCK ! :)


--pic : google.com

by Dita Oktamaya