Friday, February 6, 2009

Senandung Hujan di Halte Bus

Aku menutup telepon dari Radith, sempat mengumpat kesal kepada benda mati yang kini masih berada di genggamanku. Mataku berkeliling mencari seorang tukang es atau pedagang keliling lainnya yang dapat menghilangkan rasa dahagaku.

"Mau?" tanya seorang bocah laki-laki itu padaku. Aku menggeleng tapi tatapan mataku tak lekang dari sosok kecil yang sedang menikmati asiknya es potong dalam genggamannya itu.

Dia balik menatapku dengan tatapan curiga, sempat terpikir olehku, jangan-jangan dia curiga aku akan merebut paksa es yang sedang dinikmatinya itu, perasaan haus kadang membuatku berimajinasi berlebihan.

"Abangnya ada di sana!" tunjuknya ke sebrang jalan. Aku menurut, tapi seakan kakiku malas untuk melangkah, panasnya terik matahari enggan membuatku berjalan melalui kemacetan yang berada di jalan raya itu.

"Ayo, Neng!"

"Mau kemana, Bang?" tanyaku, bingung menatap supir bajaj yang sudah tersenyum lebar di hadapanku.

"Sepuluh ribu aja."

Supir bajaj (kendaraan yang dapat membuat dirimu bergetar hebat seperti getaran ponsel) dengan kaos oblong dan handuk lusuh melingkari lehernya, menaikan kedua alisnya, menggodaku.

"Nggak, Bang." jawabku.

Dalam hati aku memaki, kesal dengan keterlambatan Radith menjemputku siang ini.

"Tadi itu dibeliin Tante Vera, Mama." suara lantang dari gadis kecil yang berjalan menghampiriku, membuatku mengalihkan kekesalanku.

"Tante Vera yang anaknya namanya Matthew?"

"Iya Matthew."

"Bukan. Oma tahu kok, Matthew itu anaknya Randa."

"Aduh Mama, iya emang Randa itu Vera, Veranda."

"Oma, tulalit nih."

"Kamu sama oma gitu ya?"

"Sudah-sudah, masa di tempat seperti ini masih aja kalian ini. Dek, kamu ada PR nih. PR Bahasa Inggris, sama mewarnai, coba lihat. Mana ada orang hitam seperti ini, Kamu terlalu banyak mewarnai orang ini dengan warna hitam."

"Biarin dong Mama, kan orang itu banyak rambutnya."

"Ya, tapi nggak sampai seluruh badan begini kan, Sayang. Pantes ibu guru tadi bilang sama mama, Kamu berlebihan."

"Oh, iya. Aku lupa. Tadi aku salah warnain warna hitam itu ke wajahnya, karena udah terlanjur aku warnain aja semuanya."

"Banyak-banyak belajar!"

"Iya Oma, cerewet banget sih. Nih Aaa." gadis kecil itu tertawa mungil sambil menyuapi sang nenek dengan makanan ringan kemasan yang berada di tangannya.

Aku tersenyum ke arah gadis mungil berambut panjang itu, berumur lima tahun ku rasa. Ia menatapku dan tersenyum genit, hanya sesaat, kemudian duduk di pangkuan sang nenek yang sudah lebih dahulu duduk di tempat duduk berwarna biru. Kemudian aku kembali terdiam, menunggu Radith.

Hujan!

Sempurna sudah hari ini. Berbondong-bondong satu per satu orang datang menghampiriku, bukan karena mengagumi pesonaku, bukan! Tapi berteduh dari sibuknya hujan yang turun tanpa peduli dengan aktivitas manusia yang takut basah. Aku menghela napas kesal, awas Radith!

"Iya, saya lagi di jalan, Pak, terjebak hujan. Bukan, bukan karena macet. Tapi hujan. Apa? Tidak, bukan, bukan hujannya yang macet tapi hujan lebat, jadi saya terjebak. Apa? Tidak... Halo? Halo? Halo... Ah... habis baterai!" seorang pria berkemeja biru itu memaki kesal ke arah ponselnya, sama seperti yang sempat aku lakukan beberapa menit yang lalu. Dengan rambutnya yang sudah terlanjur basah karena hujan dan tubuh yang bergetar karena dingin, pria berkemeja biru itu lebih terlihat seperti seorang yang sedang demam tinggi dan berkeringat.

"Ma, aku pulang telat ya. Hujan. Bukan, aku nggak keluyuran lagi kok, beneran. Apa? Iya Mama, aku lagi berteduh di halte. Hah? Iya, tapi kan aku naik motor, susah buat menghindari hujan. Apa? Takut sama hujan? Si Mama ini, udah ya, dah." Pelajar laki-laki berseragam putih abu-abu itu tersenyum ke arahku dan melambaikan tangannya. Aku mengalihkan pandanganku.

Aku menghela napas untuk yang kesekian kalinya, Halte bus ini penuh sesak. Untuk hari ini saja, izinkan aku membenci abang kandungku Tuhan, Radith awas saja dia!

"Kamu nyuruh aku dateng ke sana, nggak mau jemput. Di sini hujan tahu! Apa? Putus? Bukan putus, tapi hujan! Aku lagi di halte bus, kalo Kamu mau putus ke halte bus aja sekarang juga, jemput aku biar nggak kehujanan. Hah? Apa? Nggak nyambung? Ogah? Jadi Kamu nggak mau putus? Hah? Oh, jadi Kamu mau putus tapi nggak mau kehujanan demi aku, lagian siapa yang nyuruh Kamu kehujanan, aku bilang kan jemput aku di halte bus. Udah ah, males ngomong sama Kamu!" Gadis berseragam putih biru itu menatap ke arahku, kesal. Aku meringis, menyadari kesalahanku yang mendengar percakapannya tanpa sengaja.

"Dini!" suara yang sangat ku kenal memanggilku, Radith!

"Kemana aja sih lo?" seruku sembari menutup kepalaku dengan map dan masuk ke dalam mobil.

"Maaf, tadi lagi banyak klien. Lagian udah jadi editor majalah terkenal, masih aja manja sama gue!" Radith menggodaku dan mencubit pipiku, aku menepis tangannya.

"Udah buruan cabut!" perintahku. Radith tersenyum kemudian dengan segera ditancapnya gas mobil yang kami tumpangi.

"Hujan." Radith buka suara. Aku terdiam, "Halte Bus." Radith menatapku. Aku balas menatapnya dan menunjukkan rasa ketidakpedulianku atas ucapannya.

"Lihat apa aja tadi di halte bus?" Radith tetap bertanya. Aku menghela napas, malas menjawab. Tapi pikiranku tertuju kepada bocah laki-laki yang sedang makan es potong, supir bajaj yang sempat menggodaku, gadis kecil bersama ibu dan neneknya, pria sibuk yang ditelepon atasannya, pelajar lelaki SMA yang ditelepon ibunya, dan gadis SMP yang bertengkar dengan pacarnya, melalui telepon juga.

"Sudah mikirnya?" tanya Radith. Aku menatap Radith tak percaya, ia seolah tahu isi kepalaku, selain otak tentunya.

"Halte bus, tempat yang seharusnya menjadi sebuah pemberhentian bus, tetapi justru menjadi awal dari kehidupan dan aktivitas seseorang. Dan jika tadi nggak hujan, lo akan sendirian terus menunggu gue. Bosan. Tanpa mendengar keluh kesah orang lain di sekitar lo yang aktivitasnya terpaksa berhenti karena hujan." Radith tersenyum.

"Itulah kenapa gue suka hujan." Radith mengerlingkan sebelah matanya ke arahku, "Karena dengan hujan, meskipun untuk sesaat, gue bisa menikmati jeda diri gue sendiri untuk berhenti beraktivitas atas kesibukan ibukota yang terlampau padat ini."

Radith mengusap kepalaku dengan sebelah tangannya, "Jangan marah ya." ucap Radith, "Dan kalaupun tadi nggak hujan, gue nggak akan pernah ngerti dan bener-bener ngerasa bahwa gue adalah abang yang sangat dibutuhkan oleh adik kesayangannya."

Aku terdiam, menatap keluar jendela mobil. Radith selalu bisa memberikan sudut pandang yang berbeda dalam setiap kesempatan, dalam butir kehidupan, bahkan ia dapat mewarnai hujan tanpa berharap pelangi muncul setelahnya. Dia abang kesayanganku.

"Kali ini lo gue maafin." ujarku. Tawa Radith terpecah. "Dan makasih karena lo selalu siap menjadi abang yang gue butuhkan kapan aja."

Kemudian Radith tersenyum, aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, kami terdiam. Hanya sedikit kata yang terucap dari kalimatnya yang masih terngiang di telingaku. Hujan dan halte bus, aku rasa aku tahu konsep apa yang akan aku tulis untuk menjadi deadline majalah bulan depan nanti.



Story by Dita Oktamaya

10 comments:

www.katobengke.com said...

wah bagus bangat kata2 mu .......
indah....bagai sebuah naskah film...
wah aq terbawa seperti aq yang sedang mengalami kejadian itu....
wah...hebat2.....

adnan said...

a nice story, mengalir, enak bacanya. saya tunggu tulisan berikutnya ya....:)

dita oktamaya said...

to : www.katobengke.com
wahh..tidak disangka..hehe..terima kasih pujiannya..^^

to : mas adnan
sipp mas, terima kasih..^^

Enno said...

hmm, nice and filmis... :)
btw emangnya mau dijadiin dedlen di majalah manaaa? :D

dita oktamaya said...

to : mbak enno
waaahhh..makasih mbak, akhirnya dibaca sama mbak enno juga..^^
bukan dimana2..cuma nantinya aku harap bisa jadi seseorang yang menulis deadline itu..^^ atau mungkin untuk deadline di majalahnya mbak??hehehehhe...

anuma said...

halo, salam kenal!
kulihat komenmu di klub sastra bentang, lalu kubuka blog-mu. boleh baca, kan? bagus ni.
apalagi d profil, kautulis ttg mencintai kata2. ah, ada seorang teman yg mengatakan sperti itu jg.
menari dg kata2 mmg mengasyikkan!

dita oktamaya said...

to : anuma
waahh..boleh2..silakan, berikan pendapat juga tentang semuanya ya..^^
terima kasih sudha berkunjung..^^
kata2 memang tiada duanya..^^

Fata Hanifa :) said...

BAGUS ! BANGET !

Erika said...

waaaaww puitis abis. dit kata2nya beneran tuh? lo ama abang lo emang ada jiwa sastra kayaknya haha.

dita oktamaya said...

to : fata hanifa
makasih yaa...^^

to : Erika
iya bener, eitsss...
gw ga punya abang rik, ini cerpen adaptasi dari kehidupan sehari2...^^